Ebook – Sejenak Mengenal Asma’ wa Shifat (Syaikh Shalih bin ‘Abdil ‘Aziz as-Sindi)

Judul Asli : Syarh Asma’il Husna Lis-Sa’di

Penyusun : Syaikh Shalih bin ‘Abdil ‘Aziz as-Sindi hafizhahullahu

Penerjemah : Ustadz Bisri Tujang, Lc.

Editor : Tim Portal Islam

Silakan berkunjung ke sini.

Categories: Aqidah Tauhid, Tauhid Asma' wa Shifat | Tags: , , , , | Leave a comment

Buku “Rasail fil Adyan wal Firoq wal Madzahib” karya Syaikh Muhammad Ibrahim Al-Hamd

Beberapa bulan yang lalu, aku mendownload beberapa buku karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd di website www.saaid.net.

Terdapat sebuah buku yang berjudul رسائل في الأديان والفرق والمذاهب. Buku ini berisi beberapa pembahasan berikut:

الرسالة الأولى: مقدمة في الفلسفة.

الرسالة الثانية: أديان الهند وشرق آسيا.

الرسالة الثالثة: اليهودية.

الرسالة الرابعة: الصهيونية.

الرسالة الخامسة: الماسونية.

الرسالة السادسة: النصرانية.

الرسالة السابعة: الاستشراق، والاحتلال العسكري، والتنصير.

الرسالة الثامنة:النصيرية.

الرسالة التاسعة: البابية.

الرسالة العاشرة: البهائية.

الرسالة الحادية عشرة: القاديانية.

الرسالة الثانية عشرة: الوجودية.

الرسالة الثالثة عشرة: الشيوعية.

الرسالة الرابعة عشرة: العلمانية.

Categories: Adyan - Firoq - Madzahib | Tags: , , , , , | Leave a comment

Laporan Tahunan Blog PERCIKAN KEHIDUPAN (from WordPress.Com)

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 4.400 times in 2011. If it were a NYC subway train, it would take about 4 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Categories: Blog & Me, Uncategorized | Leave a comment

Tujuan Seseorang Menulis Menurut Helvy Tiana Rosa

Pada awal Juni 2003, kubaca buku yang berjudul Segenggam Gumam (Bandung: Syamil, 2003) karya mbak Helvy Tiana Rosa (HTR). Pada halaman 13, mbak HTR menuliskan tujuan seseorang menulis:

Apa tujuan seseorang menulis? Paling tidak, ada tiga tujuan saya dalam menulis: nashrul fikrah (menyebarkan pemikiran), tanmiyatul kaffah (mengembangkan kemampuan), dan kasbu’lma’isyah (menambah penghasilan).”

Semoga menginspirasi…

Categories: Motivasi dan Tips Menulis | Tags: , | Leave a comment

Ibnu Hazm: Permulaan Mencari Ilmu dan Kecerdasan Beliau

Abu Muhammad bin Al-Arabi mengatakan, “Sesungguhnya Abu Muhammad bin Hazm dilahirkan di Kordova. Sedang kakeknya yang bernama Said dilahirkan di kota Auniah yang saat itu sedang dalam perjalanan pindah menuju Kordova.

Di kota ini, kakek Ibnu Hazm itu memegang jabatan menteri yang setelahnya dipegang oleh ayahnya. Ibnu Hazm berada di istana kementerian sejak berumur baligh sampai berumur dua puluh enam tahun. Ia berkata, “Sungguh, saat aku mencapai umur ini (26 tahun), aku tidak mengetahui bagaimana cara melakukan shalat dengan benar.”

Abu Muhammad bin Al-Arabi melanjutkan kata-katanya itu, “Aku telah diberitahu oleh Ibnu Hazm bahwa sebab ia belajar fiqh adalah setelah ia menyaksikan jenazah seorang pejabat besar rekan ayahnya, lalu ia masuk ke dalam masjid sebelum shalat Ashar. Di dalam masjid itu ia menemukan banyak orang.

Setelah masuk, ia duduk tanpa melakukan shalat terlebih dahulu. Karena itu, guru yang membimbingnya memberi isyarat kepadanya agar ia berdiri melakukan shalat Tahiyatul Masjid. Namun, Ibnu Hazm tidak paham isyarat gurunya tersebut. Orang-orang yang ada di sekitar Ibnu Hazm berkata, “Apakah kamu mencapai umur sebesar ini namun tidak mengetahui bahwa shalat Tahiyatul Masjid itu wajib? “ peristiwa itu terjadi saat Ibnu Hazm berumur 26 tahun. Ia mengatakan, “Lalu aku berdiri dan rukuk. Aku menjadi paham isyarat guruku tersebut.”

Ia mengatakan, “Ketika shalat jenazah akan dimulai, maka aku masuk ke masjid dan melakukan shalat. Namun, ada yang mengatakan kepadaku, “Duduklah, duduklah. Ini bukan waktu shalat.” Karena rasa malu dan sedih atas apa yang menimpaku, aku meninggalkan kerumunan tersebut. Aku berkata kepada guruku, “Tunjukkan kepadaku rumah ahli fikih, Syaikh Al-Musyawir Abu Abdillah bin Dahun.”

Aku pun diberitahu rumah syaikh tersebut oleh guruku itu. Aku mendatanginya dan menceritakan peristiwa yang menyedihkan itu. Aku meminta saran dan menyarankan kepadanya tentang ilmu yang pertama kali harus aku pelajari. Ia menunjukkan kepadaku kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik bin Anas Rahimahullah.

Pada hari berikutnya, aku mulai membaca kitab tersebut di hadapannya. Aku terus membacanya di bawah bimbingannya dan bimbingan ulama lainnya selama tiga tahun. Setelah itu aku mulai berdiskusi.”[1]

Adz-Dzahabi mengatakan, “Ibnu Hazm dibesarkan dalam kenikmatan dan kemewahan. Di samping itu, ia mempunyai kecerdasan yang tinggi, pikiran yang cemerlang dan kitab-kitab yang banyak dan berkualitas. Ayahnya dalah salah seorang pejabat tinggi di Kordova, yaitu menteri di bawah kekuasaan Daulah Al-Al-Amiriah. Begitu pula Abu Muhammad (Ibnu Hazm) pada masa mudanya. Pada mulanya, ia pandai dalam bidang sastra, sejarah, syair, ilmu logika dan filsafat. Semua itu berpengaruh terhadapnya.

Aduhai! Seandainya ia selamat dari ilmu-ilmu itu. Aku telah menemukan sebuah karyanya yang dalam karya tersebut ia mendorong orang untuk memperhatikan ilmu logika dan melebihkannya atas semua ilmu. Aku berpikir tentang dia lalu aku menemukan bahwa dia adalah sang pemimpin dalam ilmu-ilmu Islam, sang penguasa ilmu naqli yang tiada bandingannya dan pengikut ekstrim madzhab Zhahiriyah dalam bidang furu’ bukan ushul.

Ada yang mengatakan bahwa dia pertama kali mengikuti fikih asy-Syafi’i namun ijtihadnya mengantarkannya untuk menolak qiyas, baik yang jali (jelas) maupun yang khafi (samar), menggunakan zhahir nash dan keumuman Al-Quran maupun hadits dan menggunakan kaidah bara’ah ashliyah (suatu kaidah yang menerangkan bahwa pada dasarnya manusia adalah terbebas dari segala beban) dan istishab al-hal (suatu kaidah yang menerangkan bahwa apa yang sudah lebih dahulu masih berlangsung sampai sekarang). Ia telah mengarang banyak kitab tentang pendapat-pendapatnya itu, mendiskusikannya dan menjelaskannya dengan lisannya dan penanya.[2]

Dikutip dari kitab “Min A’lam As-Salaf” (diterjemahkan: “60 Biografi Ulama Salaf”), karya Syaikh Ahmad Farid, hal. 668-670. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Tahun 2006


[1] Mu’jam Al-Udaba’, 12/240-241 dengan sedikit perubahan.

[2] Siyar A’lam An-Nubala’ 18/186.

Categories: Biografi, Copy Paste | Tags: , | Leave a comment

Resensi Buku: Malam Pertama, Setelah itu Air Mata

Segala puji hanya bagi Allah, Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan sahabatnya yang setia sampai hari kiamat.

Kisah memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap jiwa seseorang, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa bahkan terkadang yang sudah lanjut usia. Tak heran jika sebagian ulama berkata, “Kisah merupakan salah satu tentara Allah yang Dia hembuskan ke dalam hati para kekasih-Nya.” Hal ini dikuatkan oleh firman Allah dalam Surat Huud ayat 120, “Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”.

Buku yang ditulis oleh Ahmad Salim Baduwailan ini merupakan kumpulan kisah dari berbagai sumber baik buku, majalah, situs yang dikunjunginya, dan ada pula yang disampaikan langsung oleh pelaku kejadian kepada penulis buku.

Keistimewaan buku ini adalah keragaman materinya, mulai dari kisah tentang taubat, kematian yang menimpa orang sholeh dan orang yang durhaka, kesabaran, romantika kehidupan, cinta sesama, perjuangan, serta teladan dalam kebaikan. Semua kisah itu benar-benar memuaskan dan Insya Allah menyebabkan kita berurai air mata karena ia adalah kisah-kisah nyata, terjadi di masa kini dan ditulis dengan hati yang disinari iman, sehingga mudah menembus hati dan perasaan.

Ya Allah jadikanlah kami hamba-Mu yang dapat mengambil pelajaran dari setiap pengalaman yang menimpa hamba-hamba-Mu. Jadikanlah kami meneladani jejak para pelaku kebaikan dan lindungilah diriku untuk tidak menjadi pelajaran bagi orang lain dalam keburukan.

Categories: Resensi Buku, Tazkiyatun Nufus, Tulisanku | Tags: | Leave a comment

Demikianlah Para Ulama Salaf Mengulang-ulang Hafalan

Memang, pada awalnya menghafal adalah so difficult. Sulit banget. Wa lakin, akan tetapi, bila kita pompa motivasi kita untuk selalu membaca ulang atau murajaah maka akan menjadi mudah, bi idznillah. Dengan izin Allah.

Inilah Az-Zuhri, Imam teladan yang membuktikan kepada kita untuk terus dan terus me-murajaah-i hafalan yang dimiliki, walaupun yang bersangkutan begitu sulit untuk menghafal. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya ada seseorang yang menuntut ilmu, sedang hatinya bagaikan bukit yang gersang (kemampuannya menghafal sedikit dan sangat lemah). Tetapi lama-kelaman dia menjadi lembah yang subur (dengan banyak mengulang pelajaran, maka kemampuannya untuk menghafal akan semakin cepat dan kuat). Tidak ada sesuatu yang ditaruh di atasnya kecuali ia melahapnya (menghafalnya dengan segera).” (Al-Hatstsu ‘ala Thalabil Ilmi, Abu Hilal Al-Askari, dalam Abul Qa’qa: 267)

Abu Hilal akan menjadi saksi kita yang kedua, setelah Imam Az-Zuhri. Beliau –Abu Hilal- berkata, “Pada awalnya menghafal merupakan sesuatu yang sangat sulit bagi saya. Kemudian saya membiasakan diri (dengan mengulang pelajaran berkali-kali) hingga saya bisa menghafal syarir “Ru’bah bin Al-Ajjaj” dalam satu malam yang berjumlah sekitar 200 bait.” (Al-Hatstsu ‘ala Thalabil Ilmi, Abu Hilal Al-Askari, dalam Abul Qa’qa: 267)

Dan memang, ulama Salaf begitu getolnya untuk mengulang ilmu yang telah mereka dapat. Betapa tinggi intensitas mereka dalam mengulang-ulangi bacaan. Inilah sedikit kisah mereka. Barakallahu fiikum.

Abul Arab Al-Qairawani berkata, “Ahmad bin Tamim bercerita kepada saya bahwa dia mendapati di akhir sebagian kitab Abbas bin Ali Al-Farisi tertulis kalimat, “Saya mempelajarinya (kitab ini) lebih dari 1.000 kali.” (Thabaqatul Ulama ‘Ifriqiyyah wa Tunis, Ibnul Arab Al-Qairuwani, dalam Abul Qa’qa: 268)

Ahli fiqh Ali bin Muhammad An-Naisaburi berkata, “Di madrasah ‘Sarhank’ di Naisabur terdapat anak sungai yang memiliki 70 anak tangga. Apabila saya ingin menghafal sebuah pelajaran saya mendatangi anak sungi tersebut. Saya mengulang-ulangi pelajaran sebanyak satu kali pada setiap anak tangga, dengan cara naik dan turun kemabali (berdiri dia mengulangi hafalannya 140 kali). Begitulah yang saya lakukan untuk setiap pelajaran yang telah saya hafal.” (Thabaqatusy Syafi’iyah Al-Kubra, As-Subki, 7/233, dalam Abul Qa’qa: 268)

Pernahkah anda membaca kitab Shahih Bukhari atau Shahih Muslim? Pernah meng-khatam-kannya? Berapa kali? Atau tidak pernah tahu kitabnya? Atau tak bisa membacanya, karena tidak bisa bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran dan Sunnah? Jawaban ada pada diri anda dan diri saya, tentu saja.

Bagaimana bila pertanyaan-pertanyaan itu kita tujukan kepada para Ulama Salaf? Inilah jawaban mereka.

Ibnu Basykual Al-Andalusi berkata, “Saya membaca dari tulisan sebagian teman, bahwa Abu Bakar bin Athiyah Al-Muharibi mengulang-ulangi membaca Shahih Al-Bukhari sebanyak 700 kali.” (As-Shilah, Ibnul Basykual, dalam Abul Qa’qa: 268)

Al-Hafizh Burhanuddin Al-Halabi pernah membaca Shahih Al-Bukhari lebih dari 60 kali, dan Shahih Muslim 20 kali, di luar bacaan beliau semasa masa belajar atau dari bacaan orang lain (yang beliau dengar).” (Adh-Dha’ul Lami’, As-Sakhawi 1/141, dalam Abul Qa’qa: 268)

Al-Hafizh Sulaiman bin Ibrahim Al-Alawi membaca ulang Shahih Al-Bukhari lebih dari 280 kali dengan membaca, mndengar atau dibacakan.” (Thabaqatul Khawash, Syihab Ahmad Asy-Syarji, dalam Abul Qa’qa: 268)

Al-Fairuz Abadi membaca kitab Shahih al-Bukhari lebih dari 50 kali. (Fihrizul Faharis wal Atsbat, Al-Kattani, dalam Abul Qa’qa: 268)

Imam An-Nawawi ketika menulis biografi Imam Abdul Qadir bin Muhammad Al-Farisi berkata, Al-Hafizh Al-Hasan As-Samarandi membaca Shahih Muslim lebih dari 30 kali. Dan Abu Sa’id Al-Buhairi membaca Shahih Muslim di hadapannya lebih dari 20 kali.” Syarhul Muslim, An-Nawawi, 1/8, dalam Abul Qa’qa: 268)

Buku disampingku: Abul Qa’qa Muhammad bin Shalih Alu Syaikh. 2005. 102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama Membara. Surabaya: Pustaka Elba

Categories: Copy Paste, motivasi, Mutiara Penuntut Ilmu | Tags: | Leave a comment

Mutiara Bersinar dalam kitab Himmah Aliyah-nya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd

Antarah berkata,

Aku mempunyai kemauan yang lebih keras dari batu

Dan lebih kuat daripada gunung

(Diwan Antarah 200, dalam Al-Hamd: 95)

 

Ahmad Syauqi berkata,

“Burung terbang dengan sayapnya, sementara manusia terbang dengan kemauannya.”

(Aqwal Ma’tsurah wa Kalimat Jamilah 207, dalam Al-Hamd: 95)

 

Imam Asy-Syafi’i berkata:

Hujanilah bukit Sarnadib dengan intan permata

dan genangilah pula sumur-sumur Takrura Tibra

Meskipun aku hidup tidak memiliki sesuap nasi pun

dan jika aku mati tidak memiliki kuburan

kemauanku adalah kemauan para raja

dan jiwaku adalah jiwa merdeka

yang melihat kehinaan sebagai kekufuran

(Diwan Asy-Syafi’i 44, dalam Al-Hamd: 100)

Sumber Bacaan:

Al-Hamd, Muhammad bin Ibrahim. 2002. Menumbuhkan Optimisme; Motivasi dan Hambatan. Darul Haq: Jakarta.

Categories: Copy Paste, motivasi | Leave a comment

Menulis, How?

Dalam perjalanan menuju TKP (Tempat Kejadian Pengajian), seorang sahabat bertanya:

“Gimana sich caranya menulis?” tanyanya, mengingat ia memiliki kisah yang banyak.

“Ya caranya seperti menulis SKRIPSI”, jawabku guyon. Maklum yang bersangkutan barusan berkutat dengan ruwetnya skripsi.

By the way, aku pun jadinya berfikir. Bagaimana cara menulis ya… Hmm…

Akhirnya, ketemu !!!

Ada tiga, menurutku sich:

  1. Sering-sering aja membaca. Bisa kan per hari membaca selama satu jam?

  2. Praktek langsung! Cobalah untuk menulis per hari walau satu paragraf..

  3. Membuat blog. Sekarang banyak pilihan untuk membuat blog. Ada blogspot, wordpress, dll. Jangan khawatir, gratis kok..

Hmm, STOP DREAMING START ACTION. TALK LESS DO MORE. Anti NATO, NO ACTION TALK ONLY, dst..

Intinya, PRAKTEK….

(Masih) di Malang, 3 Desember 2009

Copy paste dari note FB-ku

Categories: motivasi, Motivasi dan Tips Menulis, Tulisanku | Tags: , | 2 Comments

Tugas Makalah Kuliah MPI

Kuliah MPI hampir memasuki babak akhir dari semester 3. Berbagai tugas mulai mendekati lampu merah: DEADLINE!! Tercatat ada beberapa tugas makalah yang memohon-mohon untuk diselesaikan.. Ampun dah.. Setidaknya ada tiga tugas, kawan:

  • Makalah Pemikiran Islam Modern, Dr Nirwan Syafrin
  • Makalah Problematika Dakwah, Dr Muinudinillah Basri
  • Makalah Pemikiran Tokoh Islam Indonesia: M. Natsir, Dr Syamsul Hidayat

Hmm, semoga Allah memudahkan segala urusan hamba-hambaNya..

Categories: Magister Pemikiran Islam | Tags: , , , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com. Theme: Adventure Journal by Contexture International.