10 Wasiat Sang Ibu kepada Putrinya

Suatu ketika, ‘Amr bin Hajar melamar seorang gadis. Gadis tersebut mempunyai ibu yang bernama Umamah binti Harits. Ketika waktu pernikahan tiba, sang ibu berduaan dengan putrinya seraya memberikan nasehat kepadanya:

“Wahai putriku, sebentar lagi engkau tidak akan lagi menghirup udara yang selama ini dengannya engkau hidup. Sebentar lagi engkau akan keluar dari sangkarmu yang selama ini engkau tumbuh besar.

Jika seandainya ada seorang wanita yang tidak membutuhkan suami karena merasa cukup dengan ayah ibunya dan karena sayang mereka berdua kepadanya, niscaya engkaulah wanita yang tidak memerlukan suami itu. Akan tetapi, wanita diciptakan untuk laki-laki, dan laki-laki diciptakan untuk wanita.

Putriku, engkau akan meninggalkan rumah yang telah membesarkanmu selama ini menuju ke suatu tempat. Engkau tidak pernah mengenalnya sama sekali. Hidup dengan orang yang sama sekali engkau tidak terbiasa dengannya. Maka, jadilah engkau di kerajaannya sebagai pelayan baginya, niscaya ia akan menjadi budak bagimu. Ambillah dari ibu dan hafalkanlah 10 perkara. Mudah-mudahan hal itu menjadi bekal bagimu dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Pertama dan kedua, hendaklah engkau bergaul dengannya selalu bertemankan qonaah dan ridho, serta mematuhi segala ucapan dan perbuatannya.

Ketiga dan keempat, selalu menjaga tempat-tempat yang dia pandang dan yang biasa ia cium dengan penciumannya. Jangan sampai matanya melihat sesuatu yang buruk darimu, dan penciumannya tidak mencium darimu melainkan sesuatu yang harum.

Kelima dan keenam, menjaga waktu makan dan tidurnya, karena lapar yang sangat dapat memancing emosi, dan kurang tidur akan menyebabkan kemarahan.

Ketujuh dan kedelapan, menjaga harta dan keluarganya. Inti dari menjaga harta adalah berhemat, dan inti dari menjaga keluarga adalah pintar mengasuh dan pandai mendidik.

Adapun yang kesembilan dan kesepuluh, maka janganlah melanggar perintahnya dan jangan sekali-kali menebarkan rahasianya. Jika engkau melanggar perintahnya berarti engkau telah mengeruhkan pikirannya, dan jika engkau tebar rahasianya maka engkau tidak selamat dari makar dan tipu muslihatnya.

Kemudian wahai putriku, jangan sekali-kali engkau menampakkan wajah ceria tatkala ia berduka. Atau engkau menampakkan wajah duka tatkala ia berbahagia.” (Al-Istanbuli: 91-92—footnote)

Dikutip dari:

Al-Istanbuli, Mahmud Mahdi. 1985. Tuhfah Al-‘Aruus. Darul Fikr lin Nasyr wat Tauzi’.

Dokter Hafal Al-Quran

 

Dokter Hafal Al-Quran
Adalah dr. Raghib As-Sirjani. Beliau adalah penulis yang produktif. Beberapa buku yang beliau tulis telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Diantaranya adalah buku Cara Cerdas Hafal Al-Al-Qur’an.
Dalam “Pengantar Penerbit” buku tersebut, disebutkan bahwa beliau berhasil menghafal Al-Qur’an 30 juz di tengah-tengah situasi yang—menurut kita—tidak kondusif untuk menghafal Al-Qur’an. Kesibukan beliau untuk meraih gelar doktor dalam bidang medis di Amerika Serikat tidak menghalanginya untuk menghafal Quran (hal. vii) 
Begitu pula yang terjadi pada dr. Hana’. Beliau meraih gelar S1 dalam bidang kedokteran dan bedah. Beliau, dalam menghafal Al-Qur’an, membutuhkan waktu tujuh tahun. Silakan baca kisah beliau dan metode yang beliau tempuh dalam memotivasi kelima anaknya untuk menghafalkan kitab suci ini (Badwilan, 67-70)
Dari dua cuplikan di atas, dapatlah kita ambil pelajaran bahwa Al-Qur’an adalah mu’jizat yang agung. Buktinya adalah Al-Qur’an tidak hanya dihafal oleh para ustadz dan santri di pondok pesantren, namun dokter pun bisa. Bagaimana dengan anda wahai para dokter? 
Bacaan:
Badwilan, Ahmad Salim. 2008. Seni Menghafal Al-Qur’an. Wacana Ilmiah Press: Solo.
As-Sirjani, Raghib dan Abdul Khaliq, Abdurrahman. 2007. Cara Cerdas Hafal Al-Qur’an. Aqwam: Solo
Adalah dr. Raghib As-Sirjani. Beliau adalah penulis yang produktif. Beberapa buku yang beliau tulis telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Diantaranya adalah buku Cara Cerdas Hafal Al-Al-Qur’an.
Dalam “Pengantar Penerbit” buku tersebut, disebutkan bahwa beliau berhasil menghafal Al-Qur’an 30 juz di tengah-tengah situasi yang—menurut kita—tidak kondusif untuk menghafal Al-Qur’an. Kesibukan beliau untuk meraih gelar doktor dalam bidang medis di Amerika Serikat tidak menghalanginya untuk menghafal Quran (hal. vii) 

Sepuh, Namun Hafal Al-Qur’an

 

Sepuh, Namun Hafal Al-Qur’an
Suatu hari, Madinatul Bu’uts (Asrama Putra) mahasiswa Universitas Al-Azhar kedatangan seorang imam masjid terkenal Mesir. Beliau adalah Syaikh Muhammad Jibril. Ketika selesai shalat, diadakan dialog mengenai metode praktis menghafal Quran. Di Sela-sela dialog itu, seorang mahasiswa dari Afrika bertanya,
“Wahai Syaikh, apakah mungkin orang tua saya yang berumur 50 tahun mampu untuk menghafal Al-Qur’an?”
Beliau pun menjawab, “Setiap muslim mampu dan bisa untuk menghafal Al-Qur’an jika di mempunyai niat yang ikhlas dan ‘azzam yang kuat untuk melaksanakannya, walaupun dia itu seorang kakek yang telah lanjut usia. Akan tetapi, memang kakek itu membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan dengan usia yang jauh lebih muda.” (Syamsudin: 43-44).
Memang benar, bila anda membutuhkan contoh konkretnya bisa membacanya di Nisaa-un laa ya’rifna al-ya’s yang terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan Aqwam Solo dengan judul Seni Menghafal Al-Qur’an. Di buku itu, anda akan mendapati puluhan kisah para penghafal Al-Qur’an yang mereka secara umum adalah para ibu, sudah sepuh dan tidak bisa membaca. Sebuah kesungguhan yang menyala membara. 
Bacaan:
Badwilan, Ahmad Salim. 2008. Seni Menghafal Al-Qur’an. Wacana Ilmiah Press: Solo.
Syamsudin, Achmad Yaman. 2007. Cara Mudah Menghafal Al-Qur’an. Insan Kamil: Solo.
Suatu hari, Madinatul Bu’uts (Asrama Putra) mahasiswa Universitas Al-Azhar kedatangan seorang imam masjid terkenal Mesir. Beliau adalah Syaikh Muhammad Jibril. Ketika selesai shalat, diadakan dialog mengenai metode praktis menghafal Quran. Di Sela-sela dialog itu, seorang mahasiswa dari Afrika bertanya, Baca selebihnya »

Teladan dalam ‘Menimba’ Ilmu

Mendaftarkan diri pada perkuliahan adalah pilihan ganda yang bebas bagi kita untuk memilihnya. Ada yang memilih kuliah, ada yang kerja, atau ada yang kuliah sembari kerja. Semua itu pilihan.

Tapi tahukah kawan, ada yang memilih pilihan yang menurutku adalah lebih dari sekedar pilihan Pilihan  yang so different. Adalah sebagian hamba Allah yang memilih untuk kuliah sembari kuliah. Kuliah dobel yang kumaksud.
Adakah? Tentu saja ada. Saya juga pernah seperti itu, tapi tidak sehebat para tokoh yang cuplikan kisahnya akan saya bawakan setelah ini, Insya Allah. Tokoh-tokoh yang begitu memotivasi saya, dan Anda. semoga, untuk memacu spirit kerja cerdas dan kerja keras. Memperpanjang nafas untuk menambah rute tempuh kehidupan. Sebuah cita-cita yang tinggi.. Tentu saja J.
Cita-cita yang tinggi bisa kita pelajari dari perjalanan hidup Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir Rahimahullah. Beliau, sebagaimana disebutkan Ustadz Armen Halim Naro dalam  muhadharah (ceramah) “Bahaya Syiah”, kuliah S1 di Universitas Islam Madinah dengan dua jurusan, yaitu jurusan Syariah dan Ushuluddin; kuliah S2 dengan tujuh jurusan, dan S3 dengan tiga jurusan.
Sesampai di kampung halamannya, selepas menuntaskan pendidikan S1, beliau mencermati bahwa masyarakatnya kurang menghargai ilmu agama. Dan menurut mereka, orang yang disebut ulama tidak mempunyai kemampuan untuk meresapi apa yang mereka sebut sebagai “ilmu-ilmu modern”. Syaikh Ihsan ingin membalikkan asumsi tersebut. Dengan ketekunannya, akhirnya beliau mampu mengantongi berbagai gelar master pada ilmu-ilmu bahasa Arab, bahasa Persia, bahasa Urdu dan Inggris, dan master dalam hukum dan politik (As-Sunnah, Edisi 01/Tahun X/2006 M, hal 9, suplemen).
Demikian saya mencoba untuk mencari contoh yang lain. Ketemu. Yaitu ada yang terjadi pada Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i Rahimahullah. Beliau pun kuliah dobel di Universitas Islam Madinah. Tepatnya di Fakultas Da’wah dan Ushuluddin. Ketika dibuka Fakultas Pasca Sarjana di Universitas yang sama, beliau mendaftarkan diri dan diterima. Risalah Magister atau tesis yang beliau tulis adalah tahqiq kitab Iltizamat dan Tatabbu’ oleh Al-Imam Daruquthni.  (Al-Furqon, Edisi 1 Th V / Sya’ban 1426, hal . 50)
Maka, yang bisa kita lakukan adalah melipatgandakan ikhtiar dengan senantiasa berdoa kepada-Nya.

Mendaftarkan diri pada perkuliahan adalah pilihan ganda yang bebas bagi kita untuk memilihnya. Ada yang memilih kuliah, ada yang kerja, atau ada yang kuliah sembari kerja. Semua itu pilihan.

Tapi tahukah kawan, ada yang memilih pilihan yang menurutku adalah lebih dari sekedar pilihan Pilihan  yang so different. Adalah sebagian hamba Allah yang memilih untuk kuliah sembari kuliah. Kuliah dobel yang kumaksud.

Adakah? Tentu saja ada. Saya juga pernah seperti itu, tapi tidak sehebat para tokoh yang cuplikan kisahnya akan saya bawakan setelah ini, Insya Allah. Tokoh-tokoh yang begitu memotivasi saya, dan Anda. semoga, untuk memacu spirit kerja cerdas dan kerja keras. Memperpanjang nafas untuk menambah rute tempuh kehidupan. Sebuah cita-cita yang tinggi.. Tentu saja :-) ^_^

Cita-cita yang tinggi bisa kita pelajari dari perjalanan hidup Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir Rahimahullah. Beliau, sebagaimana disebutkan Ustadz Armen Halim Naro dalam  muhadharah (ceramah) “Bahaya Syiah”, kuliah S1 di Universitas Islam Madinah dengan dua jurusan, yaitu jurusan Syariah dan Ushuluddin; kuliah S2 dengan tujuh jurusan, dan S3 dengan tiga jurusan. Baca selebihnya »

Spesialisasi Ilmu dengan Doa

Malang, 11 September 2009

Siang itu, 9 September 2009, aku berkunjung ke salah satu buku di kotaku. Sesampai di sana, sekilas aku melihat buku tentang doa. Segeralah kubaca buku tsb, namun kurang sesuai harapanku. Lalu kukatakan kepada sang penjual buku, “Mas ada gak buku tentang doa yang terbitan Darul Haq?’

Sengaja memang kusebutkan penerbitnya, karena dulu aku pernah membacanya di toko yang sama dan aku senang dengan cara penyajiannya. Segeralah buku yang kumaksud berada di tanganku. Buku itu berjudul “Semua itu Berawal dari Doa, Menyingkap Fakta Keampuhan Doa” oleh Khalid bin Sulaiman Ar-Rib’i. Akhirnya kubeli buku itu. Baca selebihnya »

Tergesa-gesa Atau Menyegerakan Diri?

Sebuah pertanyaan singkat sebenarnya. Dan pertanyaan ini lebih banyak menjurus ke arah pernikahan. Tentunya pernikahan dini. Pertanyaan umum yang sering keluar, “Apakah keinginan saya untuk menikah ini termasuk hal yang tergesa-gesa sehingga bermadharat, ataukah termasuk menyegerakan diri seperti apa yang dititahkan oleh Rasulullah?”

Ternyata, pertanyaan tersebut tidak selalu berkaitan erat dengan pernikahan dini. seperti apa yang ditanyakan kepada saya, dan pertanyaan itulah yang menginspirasi saya untuk menulis artikel ini. Seorang teman bertanya, “Tergesa-gesa itu kan tidak boleh, tapi kalau menyegerakan dianjurkan. Apa perbedaan antara keduanya?” Baca selebihnya »

Resume Buku “12 Formula Dahsyat Merancang Masa Depan”

Oleh: mas_Abdurrahman

Judul Asli Buku: Aiqizh Qudrataka

Penulis: Dr. Ibrahim Al Fiky

Penerjemah: Abdurrahman Jufri, SS

Penerbit: Pustaka Iltizam, Solo

Tahun terbit: April 2009 (cet I)

Jumlah Hal.: 192 halaman Baca selebihnya »

Hidup Adalah…

Hidup adalah sebuah ibadah. Terdengar simpel bukan? Padahal di balik kesimpelan itu mengandung makna, pehnghayatan yang luar biasa dahsyatnya. Tentu bila kita komitmen dengan motto hidup tersebut.

Ia mengandung: birrul walidain, amar ma’ruf nahi munkar, ta’lim, pengabdian masyarakat, dll. Luas. Karena ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah. Luas, sekali lagi.

Ibadah tak selalu terkungkung di masjid, sehingga segala urusan yang lain tidak diletakkan pada porsinya. Sehingga ia banyak beralasan dengan ibadah, yang pada dasarnya ia menutupi sifatnya yang pemalas. Bolehlah bila kita sebut sebagai penyalahgunaan term “ibadah”. Baca selebihnya »

Pahlawan Nusantara, yang (Hampir) Terlupakan

Pagi itu kubuka buku muqarrar mata kuliah Tsaqafah Mustawa Tsalits (semester tiga). Dalam bab yang berjudul Al-‘Alam Al-Islamy kudapati beberapa nama orang Indonesia yang diabadikan dalam buku tersebut. Jujur, aku tersentak. Ternyata nama-nama tersebut begitu masyhur di kalangan muslimin internasional. Baca selebihnya »

Metode Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam Mendidik Para Pemuda

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah teladan dan panutan kita sebagai umat Islam, kita wajib meneladani perkataan, perbuatan dan sifat-sifat beliau. Beliau telah mengajarkan kepada kita berbagai hal yang berkaitan dengan segala aspek kehidupan, baik aspek aqidah, ruhiyah, ibadah, siyasah maupun iqtishodiyah, dll.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga sangat memperhatikan perkembangan umatnya dalam segala aspek kehidupannya, sebagaimana beliau juga sangat intens dalam membina generasi-generasi muda Islam, karena pemuda adalah penerus perjuangan dakwah Islam, jika pemudanya rusak maka buramlah masa depan Islam dan umatnya. Untuk mengantisipasi hal tersebut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkan kepada kita metode atau cara dalam mendidik dan membina para pemuda agar menjadi generasi yang memiliki Syakhshiyah (kepribadian) yang matang dan kokoh dalam segala hal.

Setidaknya terdapat enam poin penting yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam mempersiapkan dan membina generasi muda, yaitu:

Pertama, Mempersiapkan pemuda untuk iltizam (konsisten) dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala beribadah kepada-Nya dan menjauhi segala hal yang dilarang-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ وَعَدَّدَ مِنْهَا : شّابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ.

Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.. (salah satunya) pemuda yang tumbuh di dalam ketaatan kepada Allah(HR Bukhari Muslim)

Kedua, Menyeru pemuda supaya mengambil dan memanfaatkan setiap peluang dan kesempatan yang ada guna membentuk pribadi pemuda menjadi baik dan kokoh dari aspek rohani, jasmani, mental, akal dan akhlak.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: حَيَا تَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَشَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ.

Pergunakanlah (dengan baik) lima perkara sebelum datang lima perkara, hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, masa lapangmu sebelum masa sibukmu, mudamu sebelum tuamu dan kayamu sebelum miskinmu” (HR. Al Hakim)

Ketiga, Memelihara jiwa pemuda dari penyelewengan dan penyimpangan, serta menjaga kesuciannya dengan menganjurkan para pemuda untuk segera menikah jika sudah memiliki kemampuan, sebagaimana telah disyariatkan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَبَابِ مَنْ استَطَاعَ مِنْكُمْ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ.

Wahai para pemuda, siapa saja dari kamu yang mampu untuk menikah, hendaklah ia segera menikah. Karena hal tersebut lebih menjaga pandangan dan lebih memelihara kemaluan.” (HR Jama’ah)

Keempat, Membina para pemuda untuk senantiasa menginstropeksi diri (muhasabah) dan memperbaiki amalnya, karena amal-amalnya akan dimintai pertanggung jawabanya di hadapan Allah Allah Ta’ala di akhirat kelak.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لاَتَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتىَّ يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَا عَمِلَ فِيْهِ.

Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat, sehingga ditanyakan kepadanya mengenai empat perkara. Umurnya dihabiskan untuk apa, masa mudanya dipergunakan untuk apa, hartanya diperoleh dari mana dan kemana ia membelanjakannya, dan apa yang diperbuat dengan ilmunya” (HR. At-Tirmidzi)

Kelima, Membina para pemuda untuk senantiasa istiqomah di atas manhaj Islam, menjauhkan mereka dari hal-hal yang sia-sia dan mendorong pemuda untuk terus berusaha agar selalu berada dalam ketakwaan kepada Allah Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لَيَعْجَبُ مِنْ الشَبَابِ الَّذِيْ لَيْسَ لَهُ صَبْوَةٌ.

Sesungguhnya Allah ta’jub pada pemuda yang tidak ada padanya kesia-siaan” (HR. Ahmad dan Abu Ya’la)

Keenam, Rasulullah berwasiat kepada umat Islam agar menjaga para pemuda dan menjelaskan kelebihan mereka atas orang-orang tua.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أُوْصِيْكُمْ باِلشَّبَابِ خَيْرًا فَإِنـَّهُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً لَقَدْ بَعَثَنِيَ اللهُ باِلْحَنَفِيَّةِ السَّمْحَةِ فَحَالَفَنِيْ الشَبَابُ وَخَالَفَنِيْ الشُّيُوْخُ.

Aku berwasiat kepada kalian supaya berbuat baik kepada para pemuda. Sesungguhnya hati mereka adalah hati yang paling lembut. Sesungguhnya Allah telah mengutusku dengan Hanafiyyatu As-Samhah (agama Islam), lalu para pemuda bergabung denganku dan para orang tua menentangku.”

Inilah asas-asas terpenting dalam pembinaan pribadi pemuda dan masyarakat. Tidak diragukan lagi bahwa tujuan dari pembinaan dan persiapan ini adalah agar pemuda terbentuk sebagai pribadi yang sempurna, baik dari aspek rohani, akhlak, mental, jasmani dan jiwa. Serta seluruh aspek yang menyempurnakan kepribadian mereka.

Dengan pembentukan ini para pemuda akan lebih mampu untuk menghadapi berbagai tantangan, lebih kuat untuk melaksanakan tanggung jawab dan lebih kokoh dalam berpegang teguh dengan dasar-dasar Islam. Sehingga mereka tidak akan menyeleweng, merasa lemah, terhembus angin fitnah, menyerah kalah kepada tipu daya kerusakan, berputus asa dan lemah semangat, begitu juga mereka tidak akan tergelincir ke dalam lubang keruntuhan dan penyelewengan.

Demikianlah, pemuda muslim akan kekal sebagai pribadi yang sehat, teguh, beriman, berjihad menyampaikan risalah Islam, menunaikan amanah dan bekerja untuk Islam. Sehingga ia diwafatkan Allah Ta’ala dalam keadaan yang mulia atau dia menghadap Tuhannya sebagai seorang diantara para syuhada’.

(Dikutip dari kitab الشباب المسلم في مواجهة التحديات ” karya: Abdullah Nashih ‘Ulwan)