Adab Membaca Al-Quran


Disusun oleh Abdurrahman*)

Pembaca yang dirahmati Allah, berikut ini adalah beberapa adab dalam membaca Al-Quran:

1. Mengikhlaskan niat dalam membaca Al-Qur’an semata-mata karena Allah, sebagaimana juga yang dituntut dalam ibadah-ibadah yang lain.

2.    Bersuci dan bersiwak sebelum membaca Al-Qur’an.

3.    Menghadap kiblat.

4.    Duduk dengan tenang dan khusyu’.

5.    Membaca ta’awudz dan basmalah pada awal surat.

Disunnahkan bagi pembaca Al-Quran untuk membaca ta’awudz karena Allah berfirman,“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (An-Nahl 98)

Seperti halnya disunnahkan istiadzah ketika membaca Al-Quran, membaca basmalah pun disunnahkan khususnya pada awal surat.

“Hendaknya dibiasakan membaca Bismillahir rahmanir rahim, pada tiap awal surat kecuali surat Bara’ah (At-Taubah). Karena..” lanjut Imam Nawawi, “..kebanyakan ulama menganggap itu adalah ayat. Bila tidak membaca basmalah, berarti telah meninggalkan sebagian Al-Quran. Demikianlah pendapat mayoritas (ulama).” (At-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran)

Hikmahnya membaca isti’adzah dan basmalah?

Adapun hikmah membaca antara isti’adzah dan basmalah ketika memulai membaca Al-Quran yaitu; isti’adzah adalah meminta dihindarkan dari kejahatan, sedangkan basmalah untuk mendapatkan kebaikan. Seorang muslim ketika hendak membaca Al-Quran Al-Karim memiliki dua hajat. Berhajat menghindarkan keterikatan hati kepada selain Allah dan penguasaan setan terhadap dirinya, dan berhajat menghayati Al-Quran serta merenungkan ayat-ayatnya dengan meminta pertolongan kepada Allah atas hal itu. Oleh karena itu dikumpulkan antara isti’adzah dan basmalah. (Dr. Fahd ar-Rumi, Khashaisul Quran)

6.    Membaca dengan tartil.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.” (Al-Muzzammil 4)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (Al-Israa’ 106)

Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘Anha  menuturkan, diceritakan kepadanya tentang sebagian manusia yang menamatkan bacaan Al-Quran sekali atau dua kali dalam semalam. Beliau pun berkata,

“Sungguh mereka membacanya, tapi mereka tidak membacanya. Sungguh aku pernah bangun malam bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam semalam suntuk. Beliau membaca surat Al-Baqarah, Ali Imran dan An-Nisaa’ dan tidaklah beliau melewati ayat yang berisi ancaman kecuali beliau berdoa dan beristi’adzah dan tidaklah beliau melewati ayat yang member kabar gembira kecuali beliau berdoa dan memohon dengan sungguh-sungguh.” (HR. Imam Ahmad)

Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha menjelaskan bacaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam : “Bacaan beliau jelas dari huruf ke huruf.” (HR. At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits hasan shahih”)

Abu Hamzah menuturkan, “Aku berkata kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa aku dapat membaca dengan cepat dan menamatkan bacaanku dalam waktu tiga hari. Maka Ibnu Abbas berkata:

“Aku membaca surah Al-Baqarah dengan tartil dalam satu malam dengan mentadabburinya, lebih aku suka daripada membaca seperti Anda membaca.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Lebih aku sukai dari membaca cepat, tanpa mentadabburinya.”

7.    Memperindah suara pada saat membaca Al-Quran.

Suara yang bagus dapat berpengaruh pada jiwa, menambah kekhusyukan dan tadabburnya. Oleh karena itu, orang yang membaca Al-Quran disunnahkan untuk memperbagus suaranya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah tidak berkenan mendengarkan sesuatu, yang diperkenankan kepada Nabi, (kecuali) bacaan Al-Quran dengan suara yang bagus dan keras.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “Seandainya saja kamu melihat aku sedang mendengarkan bacaanmu tadi malam. Sungguh engkau telah diberi sebuah seruling dari seruling-seruling keluarga Dawud” (HR Muslim). Rasul memuji kebagusan suara dan kemanisan alunannya.

Dari Abu Lubabah bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak melagukan Al-Quran, maka bukan termasuk golongan kami.” (HR Abu Dawud 1469)

Adalah para salafush shalih sangat antusias untuk memperbagus suara dalam membaca Al-Quran karena akan menambah kekhusyukan dan tadabburnya.

Sebagai contoh, Al-Imam Al-Qari Yahya bin Watsab (w. 103 H). Al-A’masy berkomentar tentang dia, “Adalah Yahya, termasuk orang yang terbagus bacaannya. Saya ingin sekali mencium kepalanya karena sangat bagusnya bacaan dia. Bila ia membaca Al-Quran, tidak terdengar gerakan apapun di masjid, seakan-akan tidak ada seorang pun di dalamnya.” (Nuzhatul Fudhala, 1/402)

Perlu ditekankan di kesempatan ini bahwa pengucapan lafazh yang dikehendaki adalah pengucapan yang tidak sampai mengeluarkan lafzh Al-Quran dari bentuknya, dengan memasukkan harakat, memendekkan yang panjang dan memanjangkan yang pendek, sehingga lafazh menjadi kacau dan maknanya tidak jelas (Karzun, 2006: 63).

8.    Membaca Al-Qur’an dengan niat untuk mengamalkannya dan menggambarkan seolah-olah Allah sedang berfirman dengan bacaan tersebut.

9.    Tadabbur. Yakni Anda dapat mengetahui makna-makna dan ibroh saat Anda membaca Al-Qur’an, bukan hanya sekedar ingin membaca dengan cepat agar segera khatam saja.

Salafush shalih seringkali mengulang-ulang bacaan untuk menggapai tadabbur Al-Quran. An-Nasai meriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam qiyamullail, membaca suatu ayat yang beliau ulang-ulang sampai waktu Subuh, yaitu ayat:

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau…[1] (HR An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Begitu pula sahabat Tamim Ad-Dariy Radhiyallahu ‘Anhu, yang mengulang-ulang ayat ini sampai Shubuh, yaitu:

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (Al-Jatsiyah 21)

Dari ‘Ibad bin Hamzah berkata, “Saya menemui Asma’ Radhiyallahu ‘Anha  sedang membaca, “Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.” (Ath-Thuur 27)

Kemudian ia berhenti dan mengulanginya serta berdo’a dalam waktu yang lama menurut saya. Maka saya pun pergi ke pasar untuk mencari apa yang saya butuhkan. Kemudian saya pulang sedang ia masih saja mengulang-ulang ayat itu dan berdoa.”

Adh-Dhahak bila membaca ayat: “Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api).” (Az-Zumat 16). Beliau terus mengulanginya hingga waktu sahur.

10.     Khusyuk. Orang yang paling baik bacaan Al-Qur’annya adalah orang yang apabila Anda mendengar bacaannya, maka kamu akan melihatnya benar-benar takut kepada Alloh.

Disunnahkan untuk menangis ketika membaca Al-Quran Al-Karim. Imam Suyuthi Rahimahullah berkata, “Disunnahkan menangis ketika membaca Al-Quran, dan berpura-pura menangis bagi yang tidak mampu menangis, juga dengan rasa sedih dan khusyuk.”

Allah berfirman, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Al Isra’ 109) (Al-Itqan fi Ulumil Quran, As-Suyuthi)

Dan beginilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, imam para Qari’, memberikan teladan yang berkilauan dalam hal ini.

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Bacakanlah Al-Quran untukku.’

Maka saya berkata, ‘Ya Rasulullah, bagaimana saya membacakan Al-Quran yang diturunkan kepada engkau?’

Maka beliau menjawab, ‘Saya senang mendengarkan bacaan Al-Quran dari selainku.’

Maka saya bacakan surat An-Nisa’ hingga sampai ayat, ‘Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu” (An-Nisa’ 41)

Maka beliau bersabda,’Cukup sekian.’

Saya menatap beliau sedang kedua matanya meneteskan air mata.” (HR Bukhari dan Muslim)

Imam Ghazali menasehati kita, “Disunnahkan menangis ketika ada bacaan atau ketika membaca Al-Quran. Cara agar bisa menangis adalah dengan menghadirkan rasa sedih di hatinya, dengan membayangkan ancaman-ancaman dan siksaan yang pedih, tentang janji-jani, kemudian membayangkan betapa dekat dirinya dengan hal-hal itu. Jika tidak bisa menghadirkan rasa takut dan tidak bisa menangis, maka hendaklah ia menangisi dirinya, karena sesungguhnya itu termasuk musibah yang paling besar.” (At-Tibyan di Adabi Hamalatil Qur’an An-Nawawi hal. 67)

11. Tidak menoleh ke sana ke mari atau bermain-main dengan sesuatu apa pun.

12. Jika membaca ayat yang berisi tentang rahmat, maka hendaklah berdoa agar dikaruniakan kepadanya. Jika membaca ayat yang berisi tentang adzab, hendaknya ia membaca isti’adzah.

13.  Bersujud ketika melewati ayat-ayat Sajadah.

14.  Menghentikan bacaan ketika ke luar angin, menguap dan merasa ngantuk.

15.  Jangan membaca Al-Qur’an di tempat-tempat kotor, seperti kamar mandi/tempat wudhu dan jangan membacanya dalam keadaan junub.

16.  Jangan meletakkan mushaf di lantai. Hendaklah memuliakannya dengan meletakkannya di tempat yang cukup tinggi.

Wallahu a’lam

*) Penulis adalah koordinator Perpustakaan Masjid Manarul Islam, Sawojajar Malang.

 

Referensi:

  • Badwilan, Ahmad Salim. 2008. Seni Menghafal Al-Quran; Resep Manjur Menghafal Al-Quran yang Telah Terbukti Keampuhannya. Terj. Abu Hudzaifah. Judul asli “Nisaa-un laa ya’rifnal ya’s”.  Solo: Wacana Ilmiah Press.
  • Hamam, Hasan bin Ahmad bin Hasan. 2008. Menghafal Al-Quran Itu Mudah. Terj Ummu Fawwaz. Judul asli “Kaifa Tahfazh Al-Quran fi Asyri Khuthuwat”. Jakarta: Pustaka At-Tazkia.
  • Karzun, Anis Ahmad. 2006. Nasihat kepada Pembaca Al-Quran. Terj. Ahmad Nawawi & Furqonul Haq. Judul asli “Warattilil Qurana Tartila, Washaya wa Tanbihat fit Tilawah wal Hifzh wal Murajaah”. Solo: Pustaka Arafah.

[1] Al-Maa’idah 118.

crazy about books

Posted in Al-Qur'an, Tulisanku
One comment on “Adab Membaca Al-Quran
  1. Ardhia says:

    Piye dg ini mas: orang yang membaca al-quran dg perlahan=orang yang bersedekah dg sembunyi2. *sy lupa ini hadist atau ap?, dan hikmahnya mnjadikan orangnya tdk riya’, ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PLAGIAT = DOSA BESAR dalam PENULISAN
WARNING ! Apabila men-copypaste tulisan-tulisan dari PERCIKAN KEHIDUPAN, harap mencantumkan sumber tulisan dengan jelas dan cantumkan URL / link sumber tulisan.
Kalender
May 2011
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Nilai Blogku
Blog Stats
  • 48,619 hits
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 151 other followers

%d bloggers like this: