Sifat dan Tugas Pemimpin dalam Perspektif Al-Quran


Agar mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan sukses, seorang pemimpin harus memiliki beberapa sifat, di antaranya adalah (Taufiq 2004, 37-41):

  1. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk mengendalikan perusahaannya (QS. Al-Mulk: 1)
  2. Mempunyai keistimewaan yang lebih dibanding dengan orang lain (QS. Al-Baqarah 247)
  3. Memahami kebiasaan dan bahasa orang yang menjadi tanggung jawabnya (QS. Ibrahim: 4 & Thaahaa: 27-28)
  4. Mempunyai kharisma dan wibawa di hadapan manusia (QS. Huud: 91)
  5. Konsekuen dengan kebenaran dan tidak mengikuti hawa nafsu (QS. Shaad: 26)
  6. Bermuamalah dengan lembut dan kasih sayang terhadap yang dipimpinnya, agar orang lain simpatik kepadanya (QS. Ali Imran: 159)
  7. Menyukai suasana saling memaafkan antara pemimpin dan pengikutnya, serta membantu mereka agar segera terlepas dari kesalahan  (QS. Ali Imran: 159)
  8. Bermusyawarah dengan para pengikutnya serta mintalah pendapat dan pengalaman mereka  (QS. Ali Imran: 159)
  9. Menertibkan semua urusan dan membulatkan tekad untuk kemudian bertawakal kepada Allah (QS. Ali Imran: 159)
  10. Membangun kesadaran akan adanya muraqabah (pengawasan dari Allah) hingga terbina sikap ikhlas di mana pun, walaupun tidak ada yang mengawasinya kecuali Allah (QS. Al-Hajj: 41)
  11. Memberikan takaful ijtima’i (santunan sosial) kepada para anggota, sehingga tidak terjadi kesenjangan sosial yang menimbulkan rasa dengki dan perbedaan strata sosial yang merusak (QS. Al-Hajj: 41)
  12. Mempunyai power (pengaruh) yang dapat memerintah dan mencegah karena seorang pemimpin harus melakukan control (pengawasan) atas pekerjaan anggota, meluruskan kekeliruan, serta mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran (QS. Al-Hajj: 41)
  13. Tidak membuat kerusakan di muka bumi (QS. Al-Baqarah 205)
  14. Mau mendengar nasehat dan tidak sombong karena nasehat dari orang yang ikhlas jarang sekali kita peroleh (QS. Al-Baqarah 206)

Bahan Bacaan

Taufiq, Ali Muhammad. Praktik Manajemen Berbasis Al-Quran. Dialihbahasakan oleh Abdul Hayyie Al-Kattani & Sabaruddin. Jakarta: Gema Insani, 2004.

 

Advertisements

Tamimah untuk Menolak Bahaya, Bolehkah?


Jimat yang dalam bahasa Arab disebut dengan tamimah, adalah sesuatu yang dikalungkan pada anak kecil, binatang, atau kendaraan dengan maksud untuk menolak ‘ain (mata jahat) atau menolak bahaya.

Jimat atau tamimah bisa berupa kalung, cincin, sabuk atau benda-benda yang digantungkan pada tempat tertentu seperti di atas pintu rumah, di kendaraan dan lain-lain dengan maksud untuk mengusir atau menolak bahaya. Contoh jimat yang tersebar meluas di Indonesia antara lain: jimat penglaris, rajah, susuk, dan lain-lain.

Macam dan Hukum Tamimah

Ditinjau dari bentuknya, ada dua macam Tamimah, yaitu Tamimah berupa Al-Quran dan non Al-Quran.

  1. Jika Tamimah berupa Al-Quran, maka kalangan sahabat dan tabi’in berselisih pendapat tentang bolehnya menggantung jimat dari Al-Quran atau yang berupa asmaul husna. Namun pedapat yang lebih tepat adalah hukumnya tetap haram. Meskipun tidak sampai kepada derajat syirik, karena dia bersandar kepada Kalamullah dan bukan kepada makhluk.

Mengapa Tamimah dari Al-Quran (atau asmaul husna) tidak boleh? Hal tersebut berdasarkan atas beberapa alasan:

  • Keumuman dalil larangan Tamimah dan tidak ada dalil yang mengkhususkannya bolehnya hal tersebut.
  • Untuk menutup jalan-jalan menuju kesyirikan, yaitu perbuatan menggantungkan selain Al-Quran sebagai jimat.
  • Akan menyebabkan pelecehan Al-Quran karena jimat tersebuit akan tetap dipakai ketika buang air besar, dan lain sebagainya.[1]
  • Tidak adanya dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah yang membolehkan hal tersebut.[2]
  1. Jika Tamimah itu berupa selain Al-Quran, maka hukumnya haram dan merupakan kesyirikan. Besar kecilnya kesyirikan tersebut tergantung dari keyakinannya.
  • Jika Tamimah tersebut hanya diyakini sebagai sebab semata, tidak memiliki kekuatan sendiri (sebab tersebut menimbulkan pengaruh karena kehendak Allah), maka hal ini termasuk syirik ashghar. Dan termasuk syirik dalam masalah Uluhiyyah karena hatinya telah bersandar kepada selain Allah U.
  • Jika tamimah tersebut diyakini memiliki kekuatan tersendiri (sebab itu dapat terjadi tanpa kehendak Allah), maka hal ini termasuk syirik akbar, yaitu syirik dalam masalah rububiyyah karena dia telah menisbatkan (penciptaan) kepada selain Allah U. [3]

Jadi kesimpulannya seluruh bentuk jimat adalah terlarang dalam syari’at Islam, baik yang berasal dari Al-Qur’an atau selain Al-Qur’an.

Dalil Larangan Tamimah

Nabi r melihat di lengan seorang pria gelang yang dinampakkan padanya. Pria tersebut berkata bahwa gelang itu terbuat dari kuningan. Lalu beliau berkata, “Untuk apa engkau memakainya?” Pria tadi menjawab, “(Ini dipasang untuk mencegah dari) wahinah (penyakit yang ada di lengan atas). Nabi r lantas bersabda, “Gelang tadi malah membuatmu semakin lemah. Buanglah! Seandainya engkau mati dalam keadaan masih mengenakan gelang tersebut, engkau tidak akan beruntung selamanya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Rasulullah r bersabda,

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللَّهُ لَهُ

“Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada tamimah (jimat), maka Allah tidak akan menyelesaikan urusannya. Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada kerang (untuk mencegah dari ‘ain, yaitu mata hasad atau iri, pen), maka Allah tidak akan memberikan kepadanya jaminan” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan –dilihat dari jalur lain-).

Dalam riwayat lain disebutkan,

مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy atau kuat. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 492).

Rasulullah r bersabda,

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya mantera-mantera, jimat-jimat dan pelet adalah syirik” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jimat bukan sarana yang diizinkan syari’at

Pembahasan mengenai jimat sangat erat kaitannya dengan pembahasan kaidah pengambilan sebab. Orang-orang yang menggunakan jimat, mereka menjadikannya sebagai sebab agar tercapai keinginannya. Padahal tidak sembarang sarana boleh ditempuh menurut syari’at. Ada tiga kaidah yang harus dipahami dalam mengambil sebab:[4]

  1. Tidak boleh bersandar kepada sebab semata, namun wajib bergantung kepada Allah.
  2. Meyakini bahwa sebab tersebut terikat dengan ketentuan (takdir) Allah.
  3. Sebab yang diambil harus terbukti secara syar’i atau qodari (eksperimen ilmiah)

Contoh sebab yang terbukti secara syar’i adalah minum madu untuk kesembuhan (lihat QS. An-Nahl 69). Sedangkan sebab yang terbukti secara qodari adalah api merupakan penyebab kebakaran, makan merupakan sebab kenyang, dan lainnya.

Seseorang yang menggunakan jimat, berarti ia telah melanggar kaidah ketiga ini, karena jimat merupakan sebab yang tidak terbukti baik secara syar’i maupun qodari.

Semoga Allah U senantiasa menjaga kemurnian Tauhid kita hingga bertemu dengan-Nya. Allahumma Amin.

Malang, 7 Jumadil Awal 1436 H / 26 Februari 2015

Daftar Pustaka

  • Abdullah bin Ahmad Al-Hawil. At-Tauhid Al-Muyassar. Dar Athlas Al-Khodhro’: Riyadh, cet. III – 2005.
  • Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim. Hasyiyatu Kitab At-Tauhid. Cet. III – 1407 H.
  • Abu Isa Abdullah bin Salam. Mutiara Faidah Kitab Tauhid. Pustaka Muslim: Yogyakarta, cet. V.

[1] Lihat Fathul Majid, hlm. 110. Dalam Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Abu Isa Abdullah bin Salam, hal. 78.

[2] Lihat Hasyiyatu Kitab At-Tauhid, Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim, hal. 86.

[3] Lihat Al-Qaulus Sadid, hal 37-38 dan Al-Qaulul Mufid, I/162-163, dalam Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Abu Isa Abdullah bin Salam, hal. 78.

[4] Lihat At-Tauhid Al-Muyassar, Abdullah bin Ahmad Al-Hawil, hal. 72.