Sekilas tentang Buku “Adab Ad-Daris wal Mudarris” Karya Syaikh Al-Qasimi


Syaikh Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi adalah ulama yang berasal dari negeri Syam. Beliau dikenal sebagai ulama yang produktif dalam menuliskan karya ilmiah. Diantara karya beliau, terdapat sebuah risalah singkat yang berjudul Adab Ad-Daris wal Mudarris. Sebuah karya yang bertemakan tentang adab dalam belajar dan mendidik.

Bagaimana latar belakang penulisan Syaikh Al-Qasimi dalam buku tersebut? Dalam mukaddimah buku itu, pentahqiq buku, Syaikh Muhammad bin Nashir al-‘Ajmi menyebutkan secara ringkas (Al-Qasimi 2010, 5–6). Beliau dalam karya tersebut menukil dan meringkas karya Imam Muhyiddin An-Nawawi yang berjudul Mukaddimah Al-Majmu’. Syaikh Al-Qasimi memiliki ketertarikan dan perhatian besar terhadap buku Imam Nawawi tersebut, sehingga sempat merangkumnya dua kali:

Pertama: Rangkuman yang panjang, dengan judul “Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’allim wa al-Mufti wa al-Mustafti”. Syaikh Al-Qasimi menuliskan setelahnya, “Ringkasan al-Faqir Muhammad Jamaluddin dari Mukadimah Syarh al-Muhadzdzab, karya an-Nawawi.” Beliau menyelesaikannya pada bulan Sya’ban 1317 H.

Kedua: Kemudian beliau merevisinya sekali lagi di awal Sya’ban tahun 1318 H, dan meringkas kembali menjadi sepertiga dari ringkasan yang pertama. dalam ringkasan yang kedua ini, Syaikh Al-Qasimi hanya membatasi pada “Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim”.

Ada kemungkinan beliau menghadirkan dalam bentuk lebih ringkas ini karena pertimbangan dari pemilik Majalah Al-Muqtabas Ad-Dimasyqiyah, yaitu rekan beliau yang bernama Muhammad Kurdi Ali. Lalu disebarkanlah karya ini di majalah tersebut pada Jilid ketujuh, juz keempat, tahun 1330 H/1992, di halaman 283-293.

Karya ini walau singkat, namun sarat faidah dan sangat tepat dijadikan bahan pengkajian dalam forum-forum keilmuan. Semoga Allah merahmati beliau.

 

#30DWC #30DWCJilid20 #Day4

Kompetensi Pedagogik Pendidik Islam


Syaikh Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi dalam kitabnya, Adab Ad-Daaris wal Mudarris, memaparkan lima adab seorang pendidik terkait dengan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Adab-adab tersebut dalam pendidikan modern disebut dengan: kompetensi pedagogik. Berikut adalah penjelasannya: (Al-Qasimi 2010, 28–29)

Pertama: Senantiasa menyibukkan diri dengan ilmu, baik itu membaca, menelaah, mengajar, meneliti, diskusi, atau menulis ilmu.

Kebiasaan ini sudah harus ditanamkan sejak saat menjadi murid, sehingga saat menjadi pendidik, kegiatan tersebut tidak memberatkan.

Kedua: Tidak enggan belajar dari orang yang di bawahnya, baik secara usia, nasab, popularitas, agama atau ilmu yang lainnya. Bahkan hendaknya seorang pendidik bersemangat dalam mendapatkan faidah dari yang di bawahnya. Termasuk dalam kategori ini adalah tidak boleh enggan belajar kepada orang yang di bawah dalam gelar akademik. Jika memang orang itu pakar di suatu bidang, maka hal itu bukanlah halangan.

Ketiga: Tidak malu bertanya pada perkara yang tidak diketahuinya.
Amirul Mu’minin Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan, “Siapa yang tipis wajahnya, tipis pula ilmunya.”

Ibunda Aisyah Radhiyallahu’ Anha mengatakan, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk mendalami agama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Terkadang, bertanya kepada guru yang mendidik kita lebih efektif daripada mencari jawaban sendiri, sebab: lebih singkat waktunya, ada dialog dan lebih barokah.

Keempat: Hendaknya ketinggian kedudukan dan popularitas, tidak menghalangi untuk mengambil Faidah ilmu pada perkara yang tidak diketahui.

Telah banyak para Ulama Salaf yang mengambil manfaat dari murid-muridnya pada perkara yang tidak dikuasainya.

Kelima: Konsisten dalam menyibukkan diri dengan ilmu, karena memang itulah yang dicari dan modal utamanya.
Sehingga seorang pendidik tidak sibuk dengan kegiatan selain ilmu. Jika terpaksa mengerjakan kegiatan selain ilmu, hendaknya dilakukan setelah melaksanakan wazhifatul ilmi (tugas ilmu).
Apa yang dimaksud wazhifatul ilmi?  Guru kami dalam menjelaskan buku ini, Adab Ad-Daaris wal Mudarris, menjelaskan bahwa maksudnya adalah, hendaknya seorang pendidik –walau mempunyai kegiatan sampingan – dia harus (1) tetap mengajar dan (2) tetap belajar; sebagaimana disebutkan di pembahasan pertama di atas.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan kita dalam menunaikan wazhifatul ilmi, dan memberikan keberkahan dalam setiap kegiatan belajar kita. Allahumma amin.

 

#30DWC  #30DWCJilid20 #Day 3

Kompetensi Personal Pendidik Islam


Syaikh Muhammad Jamaluddin Al Qasimi dalam bukunya, Adab Ad Daris wal Mudarris, menyebutkan empat adab yang hendaknya melekat pada seorang pendidik secara kepribadian. Empat adab tersebut, dikenal dalam istilah pendidikan modern, sebagai: kompetensi kepribadian. Berikut penjelasannya: (Al-Qasimi 2010, 27-28)

Pertama: Tujuan mengajarnya adalah mengharap Wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bukan sebagai sarana untuk mencari tujuan-tujuan duniawi, seperti: harta, kedudukan, popularitas, atau memperbanyak lawan (mencari sensasi), atau alasan yang lainnya.

Rasulullah bersabda :
« ﻣَﻦْ ﺗَﻌَﻠَّﻢَ ﻋِﻠْﻤًﺎ ﻣِﻤَّﺎ ﻳُﺒْﺘَﻐَﻰ ﺑِﻪِ ﻭَﺟْﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻟَﺎ ﻳَﺘَﻌَﻠَّﻤُﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﻟِﻴُﺼِﻴﺐَ ﺑِﻪِ ﻋَﺮَﺿًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ، ﻟَﻢْ ﻳَﺠِﺪْ ﻋَﺮْﻑَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ »
“Siapa mempelajari ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mengharap wajah Allah. Lalu ternyata dia mempelajarinya tidak lain hanya untuk untuk mencari keuntungan duniawi, maka dia tidak akan mencium Surga pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah no. 252. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini Shahih)

Imam Asy-Syafi’i mengungkapkan, “Aku mengharap manusia mempelajari ilmu ini, tanpa menyandarkan kepadaku satu huruf pun!”

Beliau juga berkata, “Tidaklah aku adu argumen untuk mencari menang. Bahkan aku berharap kebenaran berada pada lawan debatku.”

Kedua: Berhias dengan akhlak mulia.
Diantaranya adalah al-hilmu (tidak mudah marah), sabar, dermawan, berwajah ceria, wara’, berwibawa, tawadhu’, dan kebersihan badan serta pakaian.

Ketiga: Menghindari penyakit-penyakit hati. Diantaranya adalah hasad, riya’, ujub, mentazkiyah diri sendiri, dan merendahkan orang lain.

Keempat: Menjauhi perkara-perkara yang mengundang fitnah.
Maksudnya, jika melakukan perbuatan mubah namun dikhawatirkan dipahami yang sebaliknya, maka hendaknya dia menjelaskannya agar: (1) diketahui hukum perbuatan tersebut, atau (2) agar diambil manfaat dari penjelasan itu, atau (3) agar yang menyaksikan tidak berdosa karena telah berprasangka buruk.

Demikianlah empat adab terkait pribadi seorang pendidik. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Allahumma amin.

 

#30DWC  #30DWCJilid20 #Day 2

Mengenal Syaikh Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi


Syaikh Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi lahir di Damaskus pada bulan Jumadil Ula 1283 H. (Al-Qasimi 2010, 10)

Beliau lahir dalam keluarga yang perhatian dengan ilmu dan ketaqwaan. Bapak beliau, Syaikh Muhammad Sa’id, adalah seorang ulama sekaligus sastrawan. Sedangkan kakeknya, Syaikh Qasim, adalah salah seorang ahli fikih negeri Syam. (Al-Qasimi 2010, 10)

Beliau berguru kepada para ulama di negerinya, seperti: Syaikh Ahmad Al-Hulwani, Syaikh Sulaim Al-Aththar, Syaikh Bakri Al-Aththar dan ulama-ulama lainnya. (Al-Qasimi 2010, 10)

Sang ayah mendidik beliau dengan penuh perhatian dan sangat berkesan bagi di benak beliau. Beliau menceritakan tentang bagaimana cara ayahnya mendidik, “Manakala bapakku, Sayyidi al-Imam melihatku tekun belajar dan menelaah, beliau meningkatkan doa-doa beliau yang shalih. Beliau mengungkapkan keridhaan beliau kepadaku dalam untaian bait-bait syair yang mendorongku untuk terus bersungguh-sungguh. Di antara doa-doa beliau yang mulia yang membekas pada jiwaku adalah ucapan beliau pada banyak kesempatan kepadaku, ‘Semoga Allah meridhaimu sebagaimana Dia meridhai ash-Shiddiq.’ Dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan beliau lainnya. Semoga Allah memberi beliau balasan terbaik. Amin.” (Al-Qasimi 2010, 11)

Walau Syaikh Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi berusia tidak melebihi lima puluh tahun, namun beliau mempunyai karya ilmiah yang sangat banyak hingga mencapai angka seratus (Al-Qasimi 2010, 16). Diantara karyanya adalah: (1) Mahasin At-Ta’wil. Karya beliau ini dalam bidang tafsir yang disusun dalam waktu 16 tahun. Syaikh Musthafa Az-Zarqa berkata kepada putra Syaikh Al-Qasimi, Al-Ustadz Zhafir, “Membaca tafsir ini membutuhkan umur hidup seluruhnya. Bagaimana beliau bisa menyusunnya sedangkan usianya tidak mencapai lima puluh tahun?” (Al-Qasimi 2010, 16); (2) Mau’izhah Al-Mu’minin min Ihya’ Ulumiddin, (3) Adab Ad-Daaris wa Al-Mudarris; dan yang selainnya.

Syaikh Al-Qasimi wafat saat pada tahun 1332 H, dalam usia belum mencapai 50 tahun (Al-Qasimi 2010, 16). Semoga Allah merahmati beliau.

#30DWC  #30DWCJilid20 #Day 1

Menggapai Kebahagiaan dengan Al-Quran


‘Bahagia’ adalah kata yang menjadi obsesi setiap manusia yang bernyawa. Berbagai upaya mereka tempuh untuk mendapatkan kebahagiaan. Namun tidak semua manusia yang ingin bahagia, mengetahui apa ‘makna’ bahagia yang sebenarnya.

Lebih dari itu , ada yang salah dalam menetapkan ‘ukuran’ bahagia. Ada yang menganggap kebahagiaan itu terdapat pada materi. Ada yang menganggap bahwa jabatan adalah puncak kebahagiaan. Sebagian yang lain memandang ijazah adalah sumber kebahagiaannya. Atau yang menyangka dengan ‘polularitas’, dia akan bahagia; sehingga segala jalan dilalui untuk sampai kepada popularitas.

Allah Maha mengetahui apa yang menjadikan manusia bahagia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ  ٥٧ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ  ٥٨﴾

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. Yunus: 57-58)

Allah menegaskan bahwa al-Quran mengandung empat kebaikan:

  • Mauizhah (pelajaran)
  • Syifa fish shudur (penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada)
  • Huda (petunjuk)
  • Rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Maka seorang akan berbahagia tatkala ia berpegang dengan Al-Quran, dan itulah standar kebahagiaan yang sebenarnya. Karena hamba yang berpegang dengan Al-Quran, maka ia telah mengumpulkan empat kebaikan di atas. Allah menegaskan di ayat setelahnya, (artinya) itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Jangan Berpaling dari Al-Quran

Saudaraku, hendaknya menjadi motivasi bagi kita untuk berusaha sekuat dan semaksimal mungkin untuk berpegang dengan Al-Quran. Dan jangan pernah sekecil apapun berpaling dari Al-Quran. Allah memperingatkan bagi mereka yang berpaling dari Al-Quran:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ ١٢٤

 

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. [Ta Ha:124]

Artinya: mereka akan merasakan kehidupan yang sengsara dan sempit di dunia dan di alam kubur. Dan balasan mereka di akhirat adalah Allah menggiring mereka ke padang Mahsyar dalam keadaan buta. Tidak bisa melihat dan tidak memiliki hujjah! (Lihat, Al-Mukhtashar fit Tafsir, hlm. 320)

Orang yang berpaling dari peringatan Allah ini akan berkata,

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِيٓ أَعۡمَىٰ وَقَدۡ كُنتُ بَصِيرٗا

“Berkatalah ia: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’” [Ta Ha:125]

Allah menegur mereka di ayat setelahnya:

قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتۡكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَاۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمَ تُنسَىٰ  ١٢٦﴾

“Allah berfirman: ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan’.” [Ta Ha:126]

Artinya: “Hal seperti inilah yang dahulu engkau lakukan di dunia, ayat-ayat Kami telah datang kepadamu namun engkau berpaling darinya dan mengabaikannya. Jadi begitu pula hari ini, engkau akan diabaikan disertai dengan adzab.” (Al-Mukhtashar fit Tafsir, hlm. 320).

Berpegang atau Berpaling

Saudaraku, marilah kita berpegang dengan Al-Quran, yang berarti kita mengumpulkan banyak kebaikan, seperti yang Allah tegaskan dalam QS Yunus: 57-58. Dan ini adalah standar kebahagiaan dan kesuksesan hidup.

Dan tatkala kita berpaling dari Al-Quran, maka kita sedang merencanakan hidup yang sengsara di dunia, di alam kubur dan di akhirat kelak. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua. Allahumma amin.

 

 

 

 

Sifat dan Tugas Pemimpin dalam Perspektif Al-Quran


Agar mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan sukses, seorang pemimpin harus memiliki beberapa sifat, di antaranya adalah (Taufiq 2004, 37-41):

  1. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk mengendalikan perusahaannya (QS. Al-Mulk: 1)
  2. Mempunyai keistimewaan yang lebih dibanding dengan orang lain (QS. Al-Baqarah 247)
  3. Memahami kebiasaan dan bahasa orang yang menjadi tanggung jawabnya (QS. Ibrahim: 4 & Thaahaa: 27-28)
  4. Mempunyai kharisma dan wibawa di hadapan manusia (QS. Huud: 91)
  5. Konsekuen dengan kebenaran dan tidak mengikuti hawa nafsu (QS. Shaad: 26)
  6. Bermuamalah dengan lembut dan kasih sayang terhadap yang dipimpinnya, agar orang lain simpatik kepadanya (QS. Ali Imran: 159)
  7. Menyukai suasana saling memaafkan antara pemimpin dan pengikutnya, serta membantu mereka agar segera terlepas dari kesalahan  (QS. Ali Imran: 159)
  8. Bermusyawarah dengan para pengikutnya serta mintalah pendapat dan pengalaman mereka  (QS. Ali Imran: 159)
  9. Menertibkan semua urusan dan membulatkan tekad untuk kemudian bertawakal kepada Allah (QS. Ali Imran: 159)
  10. Membangun kesadaran akan adanya muraqabah (pengawasan dari Allah) hingga terbina sikap ikhlas di mana pun, walaupun tidak ada yang mengawasinya kecuali Allah (QS. Al-Hajj: 41)
  11. Memberikan takaful ijtima’i (santunan sosial) kepada para anggota, sehingga tidak terjadi kesenjangan sosial yang menimbulkan rasa dengki dan perbedaan strata sosial yang merusak (QS. Al-Hajj: 41)
  12. Mempunyai power (pengaruh) yang dapat memerintah dan mencegah karena seorang pemimpin harus melakukan control (pengawasan) atas pekerjaan anggota, meluruskan kekeliruan, serta mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran (QS. Al-Hajj: 41)
  13. Tidak membuat kerusakan di muka bumi (QS. Al-Baqarah 205)
  14. Mau mendengar nasehat dan tidak sombong karena nasehat dari orang yang ikhlas jarang sekali kita peroleh (QS. Al-Baqarah 206)

Bahan Bacaan

Taufiq, Ali Muhammad. Praktik Manajemen Berbasis Al-Quran. Dialihbahasakan oleh Abdul Hayyie Al-Kattani & Sabaruddin. Jakarta: Gema Insani, 2004.