Menggapai Kebahagiaan dengan Al-Quran


‘Bahagia’ adalah kata yang menjadi obsesi setiap manusia yang bernyawa. Berbagai upaya mereka tempuh untuk mendapatkan kebahagiaan. Namun tidak semua manusia yang ingin bahagia, mengetahui apa ‘makna’ bahagia yang sebenarnya.

Lebih dari itu , ada yang salah dalam menetapkan ‘ukuran’ bahagia. Ada yang menganggap kebahagiaan itu terdapat pada materi. Ada yang menganggap bahwa jabatan adalah puncak kebahagiaan. Sebagian yang lain memandang ijazah adalah sumber kebahagiaannya. Atau yang menyangka dengan ‘polularitas’, dia akan bahagia; sehingga segala jalan dilalui untuk sampai kepada popularitas.

Allah Maha mengetahui apa yang menjadikan manusia bahagia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ  ٥٧ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ  ٥٨﴾

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. Yunus: 57-58)

Allah menegaskan bahwa al-Quran mengandung empat kebaikan:

  • Mauizhah (pelajaran)
  • Syifa fish shudur (penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada)
  • Huda (petunjuk)
  • Rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Maka seorang akan berbahagia tatkala ia berpegang dengan Al-Quran, dan itulah standar kebahagiaan yang sebenarnya. Karena hamba yang berpegang dengan Al-Quran, maka ia telah mengumpulkan empat kebaikan di atas. Allah menegaskan di ayat setelahnya, (artinya) itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Jangan Berpaling dari Al-Quran

Saudaraku, hendaknya menjadi motivasi bagi kita untuk berusaha sekuat dan semaksimal mungkin untuk berpegang dengan Al-Quran. Dan jangan pernah sekecil apapun berpaling dari Al-Quran. Allah memperingatkan bagi mereka yang berpaling dari Al-Quran:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ ١٢٤

 

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. [Ta Ha:124]

Artinya: mereka akan merasakan kehidupan yang sengsara dan sempit di dunia dan di alam kubur. Dan balasan mereka di akhirat adalah Allah menggiring mereka ke padang Mahsyar dalam keadaan buta. Tidak bisa melihat dan tidak memiliki hujjah! (Lihat, Al-Mukhtashar fit Tafsir, hlm. 320)

Orang yang berpaling dari peringatan Allah ini akan berkata,

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِيٓ أَعۡمَىٰ وَقَدۡ كُنتُ بَصِيرٗا

“Berkatalah ia: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’” [Ta Ha:125]

Allah menegur mereka di ayat setelahnya:

قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتۡكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَاۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمَ تُنسَىٰ  ١٢٦﴾

“Allah berfirman: ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan’.” [Ta Ha:126]

Artinya: “Hal seperti inilah yang dahulu engkau lakukan di dunia, ayat-ayat Kami telah datang kepadamu namun engkau berpaling darinya dan mengabaikannya. Jadi begitu pula hari ini, engkau akan diabaikan disertai dengan adzab.” (Al-Mukhtashar fit Tafsir, hlm. 320).

Berpegang atau Berpaling

Saudaraku, marilah kita berpegang dengan Al-Quran, yang berarti kita mengumpulkan banyak kebaikan, seperti yang Allah tegaskan dalam QS Yunus: 57-58. Dan ini adalah standar kebahagiaan dan kesuksesan hidup.

Dan tatkala kita berpaling dari Al-Quran, maka kita sedang merencanakan hidup yang sengsara di dunia, di alam kubur dan di akhirat kelak. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua. Allahumma amin.

 

 

 

 

Advertisements

Sifat dan Tugas Pemimpin dalam Perspektif Al-Quran


Agar mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan sukses, seorang pemimpin harus memiliki beberapa sifat, di antaranya adalah (Taufiq 2004, 37-41):

  1. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk mengendalikan perusahaannya (QS. Al-Mulk: 1)
  2. Mempunyai keistimewaan yang lebih dibanding dengan orang lain (QS. Al-Baqarah 247)
  3. Memahami kebiasaan dan bahasa orang yang menjadi tanggung jawabnya (QS. Ibrahim: 4 & Thaahaa: 27-28)
  4. Mempunyai kharisma dan wibawa di hadapan manusia (QS. Huud: 91)
  5. Konsekuen dengan kebenaran dan tidak mengikuti hawa nafsu (QS. Shaad: 26)
  6. Bermuamalah dengan lembut dan kasih sayang terhadap yang dipimpinnya, agar orang lain simpatik kepadanya (QS. Ali Imran: 159)
  7. Menyukai suasana saling memaafkan antara pemimpin dan pengikutnya, serta membantu mereka agar segera terlepas dari kesalahan  (QS. Ali Imran: 159)
  8. Bermusyawarah dengan para pengikutnya serta mintalah pendapat dan pengalaman mereka  (QS. Ali Imran: 159)
  9. Menertibkan semua urusan dan membulatkan tekad untuk kemudian bertawakal kepada Allah (QS. Ali Imran: 159)
  10. Membangun kesadaran akan adanya muraqabah (pengawasan dari Allah) hingga terbina sikap ikhlas di mana pun, walaupun tidak ada yang mengawasinya kecuali Allah (QS. Al-Hajj: 41)
  11. Memberikan takaful ijtima’i (santunan sosial) kepada para anggota, sehingga tidak terjadi kesenjangan sosial yang menimbulkan rasa dengki dan perbedaan strata sosial yang merusak (QS. Al-Hajj: 41)
  12. Mempunyai power (pengaruh) yang dapat memerintah dan mencegah karena seorang pemimpin harus melakukan control (pengawasan) atas pekerjaan anggota, meluruskan kekeliruan, serta mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran (QS. Al-Hajj: 41)
  13. Tidak membuat kerusakan di muka bumi (QS. Al-Baqarah 205)
  14. Mau mendengar nasehat dan tidak sombong karena nasehat dari orang yang ikhlas jarang sekali kita peroleh (QS. Al-Baqarah 206)

Bahan Bacaan

Taufiq, Ali Muhammad. Praktik Manajemen Berbasis Al-Quran. Dialihbahasakan oleh Abdul Hayyie Al-Kattani & Sabaruddin. Jakarta: Gema Insani, 2004.