Riya’


Disusun oleh: Abu Salman Abdurrahman

Mengenai riya’, Rasulullah r bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Maka para Sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu?” Rasulullah r pun menjawab, “(Yaitu) riya’, Allah akan berfirman ketika Allah membalas amalan-amalan manusia, ‘Pergilah kalian ke orang-orang yang kalian riya’ kepada mereka di dunia dan lihatlah apakah kalian mendapatkan pada mereka kebaikan.’” (HR. Ahmad dan selainnya. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiih at-Targhiib wat-Tarhiib no. 32)

Definisi Riya’
Riya’ adalah melakukan ibadah untuk mencari perhatian manusia sehingga mereka memuji pelakunya dan ia mengharap pengagungan dan pujian serta penghormatan dari orang yang melihatnya. (Fathul Bari, XI/336)

Macam-macam Riya’

  1. Riya’ badan, yaitu dengan memperlihatkan badan yang kurus dan pucat agar orang lain melihat bahwa dia adalah orang yang rajin di dalam beribadah, sangat takut akan akhirat, atau dengan suara yang lembut, menampakkan mata yang cekung atau dengan menampakkan kelayuan badan agar menunjukkan bahwa dia adalah orang yang selalu rajin dalam berpuasa.
  2. Riya’ dari segi perhiasan, dengan membuat bekas sujud pada muka, atau dengan memakai hiasan khusus, yang sebagian kelompok menganggapnya bahwa dia adalah seorang ulama,dia memakai pakaian tersebut agar disebut sebagai seorang  alim.
  3. Riya’ dengan ucapan, kebanyakannya adalah sikap riya’ yang dilakukan oleh ahli agama ketika memberikan nasihat, dan menghafal sebuah riwayat ketika berbicara, menampakkan keluasan ilmu, mengerakkan dua bibir dengan dzikir di hadapan orang lain, menampakkan kemarahan ketika mengingkari kemungkaran di hadapan orang lain dan memelankan suara dan melembutkannya ketika membaca Al-Qur’an agar hal tersebut menunjukkan rasa takut, sedih dan kekhusyuan.
  4. Riya’ dengan perbuatan, seperti riya’ orang yang melakukan shalat dengan lama berdiri, ruku’ dan sujud, dan dengan menampakkan kekhusyuan. Seperti riya’ dengan puasa, berperang, haji, shadaqah, juga yang lainnya.
  5. Riya’ dengan banyaknya teman dan orang-orang yang mengunjunginya, seperti orang yang berusaha untuk mengundang para ulama atau ahli ibadah ke rumahnya agar dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya si fulan telah mengunjungi si fulan, atau dengan mengundang banyak orang ke rumahnya agar dikatakan kepadanya: “Bahwa ahli agama selalu datang dan pergi kepadanya.” (Syaikh Husein al-Awayisyah menukilkan dari kitab Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin dengan sedikit perubahan)

Bahaya Riya’

  1. Riya’ lebih berbahaya bagi kaum muslimin daripada fitnah Masiih ad Dajjal.
  2. Riya’ adalah syirik khafi (tersembunyi). Dua hal ini sebagaimana sabda Rasulullah r, “Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang paling dikhawatirkan di sisiku atas kalian daripada Masih ad Dajjal? Kami berkata, “Kami mau,” maka Rasulullah r berkata, yaitu syirkul khafi; yaitu seseorang shalat, lalu menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya. (HR Ibnu Majah, no. 4204, dari hadits Abu Sa’id al Khudri, hadits ini hasan-Shahiih Ibnu Majah, no. 338
  3. Amal shalih akan hilang pengaruh baiknya dan tujuannya yang besar bila disertai riya’. Allah I berfirman, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yrang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS Al-Ma’uun: 4-7)
  4. Riya’ akan menghapus dan membatalkan amal shalih. Allah I berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS Al-Baqarah: 264).
  5. Riya’ mewariskan kehinaan dan kerendahan. Rasulullah r bersabda, “Barangsiapa memperdengarkan amalnya kepada orang lain (agar orang tahu amalnya), maka Allah akan menyiarkan aobnya di telinga-telinga hambaNya, Allah rendahkan dia dan menghinakannya.” (HR Thabrani dalam al Mu’jamul Kabiir; al Baihaqi dan Ahmad, no. 6509. Dishahihkan oleh Ahmad Muhammad Syakir. Lihat Shahiih at Targhiib wat Tarhiib, I/117, no. 25).
  6. Pelaku riya’ tidak akan mendapatkan ganjaran di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah r, “Sampaikan kabar gembira kepada umat ini dengan keluhuran, kedudukan yang tinggi (keunggulan), agam, pertolongan dan kekuasaan di muka bumi. Barangsiapa di antara mereka melakukan amal akhirat untuk tujuan dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bagian di akhirat.” (HR Ahmad, V/134; dan Hakim, IV/318.Shahih, lihat Shahih Jami’ush Shaghiir, no. 2825).
  7. Riya’ akan menambah kesesatan seseorang. Allah I berfirman, “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedangkan mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta”. (QS al Baqarah: 9-10).
  8. Riya’ merupakan sebab kekalahan ummat Islam. Rasulullah r bersabda, “Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini dengan orang-orang yang lemah, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka.“ (HSR an-Nasa-i VI/45, dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash).

Cara mengobati Riya’

  1. Harus menyadari sepenuhnya, bahwa kita manusia ini semata-mata adalah hamba. Dan tugas seorang hamba adalah mengabdi dengan sepenuh hati, dengan mengharap kucuran belas kasih dan keridhaan-Nya semata.
  2. Menyaksikan pemberian Allah, keutamaan dan taufik-Nya, sehingga segala sesuatunya diukur dengan kehendak Allah bukan kemauan diri sendiri.
  3. Selalu melihat aib dan kekurangan diri kita, merenungi seberapa banyak dari amal yang telah kita berikan  untuk hawa nafsu dan syetan. Karena ketika orang tidak mau melakukan suatu amal, atau melakukannya namun sangat minim maka berarti telah memberikan bagian (yang sebenarnya untuk Allah) kepada hawa nafsu atau syetan.
  4. Memeringatkan diri dengan perintah-perintah Allah yang bisa memperbaiki hati.
  5. Takut akan murka Allah, ketika Dia melihat hati kita selalu dalam keadaan berbuat riya’.
  6. Memperbanyak ibadah-ibadah yang tersembunyi seperti qiyamul lail, shadaqah sirri, menangis karena Allah di kala menyendiri dan sebagainya.
  7. Membuktikan pengagungan kita kepada Allah, dengan merealisasikan tauhid dan mengamalkannya.
  8. Mengingat kematian dan sakaratul maut, kubur dan kedahsyatannya, hari akhir dan huru-haranya.
  9. Mengenal riya’, pintu-pintu masuk dan kesamarannya, sehingga bisa terbebas darinya.
  10. Melihat akibat para pelaku riya’ baik di dunia maupun di akhirat.
  11. Meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah dari perbuatan riya’ dengan membaca doa:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ.
“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu, agar tidak menyekutukan kepada-Mu, sedang aku mengetahuinya dan minta ampun terhadap apa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad dan imam yang lain 4/403, lihat Shahihul Jami’ 3/233, dan Shahihut Targhrib wat Tarhib oleh Al-Albani 1/19)

Cukuplah dialog antara Fudhail bin ‘Iyadh dengan Sufyan Ats-Tsauri sebagai pelajaran yang berharga bagi kita akan bahaya riya’. Berkata Abu ‘Abdillah Al-Anthoki, “Fudhail bin ‘Iyadh bertemu dengan Sufyan Ats-Tsauri lalu mereka berdua saling mengingat (Allah) maka luluhlah hati Sufyan atau ia menangis. Kemudian Sufyan berkata kepada Fudhail, “Wahai Abu ‘Ali sesungguhnya aku sangat berharap majelis (pertemuan) kita ini dan rahmat dan berkah bagi kita”, lalu Fudhail berkata kepadanya, “Namun aku, wahai Abu Abdillah, takut jangan sampai majelis kita ini adalah majelis yang mencelakakan kita”, Sufyan berkata, “Kenapa wahai Abu Ali?”, Fudhail berkata, “Bukankah engkau telah memilih perkataan yang terbaik lalu engkau menyampaikannya kepadaku, dan akupun telah menyampaikan telah menyampaikan perkataanku yang terbaik lalu aku sampaikan kepadamu, berarti engkau telah berhias untuk aku dan akupun telah berhias untukmu”, lalu Sufyan pun menangis dengan lebih keras daripada tangisannya yang pertama dan berkata, “Engkau telah menghidupkan aku semoga Allah menghidupkanmu.”

Daftar Rujukan
Ikhlash, Syarat Diterimanya Ibadah. Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Pustaka Ibnu Katsir
Buletin An-Nur th VII no. 300
Majalah As-Sunnah edisi 9 th IX
Majalah As-Sunnah edisi 10 th IX
dll.

One thought on “Riya’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s