Waspada terhadap Dengki !!


Dengki adalah akhlaknya orang Yahudi dan merupakan akhlak yang paling jelek. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyebutkannya dalam Al-Qur’an: “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 109).
Dengki ibarat tumbuhan. Ia akan terus tumbuh di dalam jiwa jika senantiasa disiram, sebagaimana tumbuhan. Akan bertambah parah bila pemiliknya lalai dan tidak berusaha untuk memangkas habis dari dalam dirinya.
Setiap manusia ditimpa musibah dengan terjangkitinya penyakit ini pada dirinya. Namun orang yang berjiwa besar menyembunyikan, adapun orang yang rendahan adalah sebaliknya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Karenanya dikatakan, tidak ada jiwa yang terbebas dari dengki. Namun orang yang mulia menyembunyikannya, sedangkan orang yang tercela menampakkannya” (Kasy al-Khafa’, I/272).

Definisi Dengki
Terdapat tiga pengertian dengki yang disebutkan berdasarkan pada tingkat kekronisannya, dari kronis yang rendah ke tingkat kronis yang tinggi, yaitu:
1. Membenci nikmat yang ada pada orang lain.
2. Menginginkan nikmat hilang dari orang lain.
3. Menginginkan nikmat berpindah dari orang lain kepada dirinya.
Ibnu Rajab Rahimahullah mengatakan, “Dalam hal ini, manusia terbagi ke dalam beberapa kelompok. Di antara mereka, ada yang berusaha menghilangkan nikmat orang yang ia dengki dengan cara berbuat dzalim kepadanya, dengan perkataan dan perbuatan. Di antara mereka, ada yang berusaha memindahkan nikmat tersebut kepada dirinya, atau berusaha menghilangkan nikmat tersebut dari orang yang ia dengki dan memindahkan nikmat tersebut kepada dirinya. Dengki terakhir merupakan dengki paling buruk dan brengsek, karena itulah dengki yang tercela, dilarang, dan dengki iblis yang dengki kepada Nabi Adam Alaihis-Salam ketika melihat beliau mengunggguli para malaikat, karena Allah menciptakan beliau dengan Tangan-Nya sendiri, menyuruh para malaikat sujud kepada beliau, mengajarkan nama segala hal kepada beliau, dan menempatkan beliau di dekat-Nya. Iblis tidak henti-hentinya berusaha mengeluarkan Nabi Adam Alaihis-Salam dari Surga hingga akhirnya beliau dikeluarkan darinya.”

Bahaya Dengki
Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin menyebutkan sebelas bahaya dengki, yaitu:
1. Dengki adalah dosa besar.
2. Dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. Namun hadits ini dha’if.
3. Dengki termasuk akhlak orang Yahudi.
4. Dengki bertentangan dengan persaudaraan sesama umat Islam.
5. Dalam dengki ada indikasi ketidakrelaan dengan takdir Allah Ta’ala.
6. Dengki jalan menuju kesengsaraan.
7. Orang yang dengki mengikuti jalan-jalan syaitan.
8. Dengki mengakibatkan permusuhan dan pertentangan antara manusia.
9. Kadang-kadang dengki mengakibatkan tindak kejahatan pada orang lain.
10. Orang yang dengki meremehkan nikmat Allah padanya.
11. Dengki menyibukkan hati dari ingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Terdapat pula bahaya dengki yang lain yaitu:
12. Dengki menolak kesempurnaan iman, karena sabda Nabi: “Tidak beriman salah seorang kamu hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya.” (HR Bukhari dan Muslim).
13. Orang yang dihasadi (didengki) nanti di hari kiamat akan mengambil kebaikan-kebaikan orang yang dengki kepadanya, jika kebaikannya masih ada. Jika tidak, maka dosa-dosanya dipikulkan kepadanya.

Dengki yang Boleh?
Ada jenis manusia yang dengki namun tidak menginginkan hilangnya nikmat dari orang yang didengki, namun ia menginginkan nikmat yang sama dan ingin seperti dia yang didengki.
Jika nikmat tersebut adalah nikmat dunia, maka tidak ada kebaikan di dalamnya, seperti yang disebutkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar” (QS Al-Qashash: 79).
Namun jika nikmat itu adalah nikmat akhirat, maka itulah kebaikan. Dan inilah yang disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tidak ada dengki kecuali dalam dua perkara. Orang yang  diberi Al-Qur’an oleh Allah lalu dia membacanya menjelang malam dan menjelang siang. Dan seseorang yg diberi harta oleh Allah, lalu dia menafkahkannya dalam kebenaran menjelang malam dan menjelang siang” (HR Bukhari Muslim).
Dengki yang diperbolehkan kepada kedua kelompok ini dinamakan ghibthah. Ghibthah adalah menginginkan nikmat yang sama dengan orang lain tanpa menginginkan hilangnya tersebut dalam urusan akhirat.

DENGKI DI KALANGAN PENUNTUT ILMU
Patut disayangkan jika sifat yang buruk ini didapatkan pada sesama penuntut ilmu, padahal mereka adalah orang yang lebih patut dan lebih utama untuk menjauhi akhlak yang buruk ini serta seharusnya menjadi teladan bagi umumnya manusia dalam meninggalkannya.

Tanda-tanda Dengki
Tanda-tanda yang disebutkan di sini hanyalah yang berkaitan dengan dengki di antara penuntut ilmu, antara lain:
1. Senang dengan kesalahan temannya
2. Senang dengan ketidakhadiran temannya
3. Senang dan puas bila temannya dicela
4. Menjelekkan temannya apabila ditanya tentangnya
5. Hatinya terasa sakit dan dadanya terasa sempit, apabila ada pertanyaan dilontarkan kepada orang lain, atau kepada temannya padahal ia ada
6. Tidak menghargai manfaat atau ilmu yang dimiliki temannya
7.  Mencoba menyalahkan pembicaraan temannya dan mengkritiknya apabila temannya menjawab
8. Tidak menisbatkan keutamaan dan pelajaran yang ia dapatkan kepada yang menunjukkannya

Solusi..
1. Mendoakan teman tanpa sepengetahuannya
2. Berusaha mencintainya, menanyakan keadaannya dan keluarganya
3. Mengunjungi dan mengakui keutamaannya
4. Tidak rela dengan ketidakhadiran temannya, ejekan dan celaan yang diarahkan kepadanya
5. Mendahulukannya daripada dirinya sendiri
6. Meminta pendapat dan nasehatnya

TINGGALKAN SIFAT DENGKI, MERAIH SURGA

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata:
“Saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, ‘Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni Surga’. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari kaum Anshar yang datang sementara bekas air wudhu masih mengalir di jenggotnya, sedang tangan kirinya memegang terompah. Keesokan harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan seperti perkataannya yang kemarin. Lalu mun-cullah laki-laki itu lagi persis seperti kedatangannya perta-ma kali. Di hari ketiga Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya lagi dan datanglah laki-laki itu lagi seperti kedatangannya pertama kali. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beranjak, Abdullah bin Amr bin Ash membuntuti laki-laki tadi sampai ke rumahnya. Lalu Abdullah berkata, ‘Aku telah bertengkar dengan ayahku, kemudian aku bersumpah untuk tidak mendatanginya selama tiga hari. Bila kau setuju, aku mau tinggal bersamamu sampai tiga hari.’ Dia menjawab, ‘Ya, boleh.'”
Anas berkata: “Abdullah menceritakan bahwa dia telah menginap di tempat laki-laki itu selama tiga hari. Dia lihat orang itu sama sekali tidak bangun malam (tahajjud). Hanya saja, setiap kali dia terjaga dan menggeliat di atas ranjangnya, dia selalu membaca dzikir dan takbir sampai dia bangun untuk melaksanakan shalat subuh. Selain itu -kata Abdullah-, ‘aku tidak pernah mendengarnya berbicara kecuali yang baik-baik. Setelah tiga malam berlalu dan hampir saja aku menyepelekan amalnya, aku terusik untuk bertanya, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran dan tak saling menyapa antara aku dengan ayahku, aku hanya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang dirimu tiga kali, bahwa akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni Surga dan sebanyak tiga kali itu kaulah yang datang. Maka aku pun ingin bersamamu agar aku bisa melihat apakah amalanmu itu dan nanti akan aku tiru. Tetapi ternyata kau tidak terlalu banyak beramal. Apakah sebenarnya yang membuatmu bisa mencapai apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’. Maka dia menjawab, ‘Aku tidak mempunyai amalan kecuali yang telah kau lihat sendiri’. Ketika aku hendak berpaling pergi, dia memanggilku, lalu berkata, ‘Benar amalanku hanya yang kau lihat sendiri, hanya saja aku tidak mendapatkan pada diriku sifat curang terhadap seorang pun dari kaum muslimin. Aku juga tidak iri pada seseorang atas karunia yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya’. Maka Abdullah bin Amr berkata, ‘Inilah amalan yang telah menyampaikanmu pada derajat tinggi dan inilah yang berat untuk kami lakukan.'” (Abdurrahman)

Daftar Rujukan:

As-Sadhan, Abdul Azis bin Muhammad. 1999. Bimbingan Menuntut Ilmu: Tahapan, Adab, Motivasi, Solusi. Terjemahan oleh Nur Alim dan Beni Sarbeni. 2006. Jakarta: Pustaka At-Tazkia.
Ibnu Qudamah. 1989. Minhajul Qashidin; Jalan Orang-orang yang Mendapat Petunjuk. Terjemahan oleh Katur Suhardi. 2005. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.
Al-‘Utsaimin, Syaikh Muhammad bin Sholeh. 2003. Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu. Terjemahan oleh Ahmad Sabiq. 2005. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i.
Ibnu Rajab. Tanpa Tahun. Panduan Ilmu dan Hikmah; Jami’ul Ulum wal Hikam. Terjemahan oleh Fadhli Bahri. 2002. Jakarta: Darul Falah.
Ibnu Qomari, Abu Hamzah. 2007. Prinsip Ke-2; Mencari Ilmu yang Bermanfaat (bag. 11). Qiblati, II (07): 16-19, 51-52.
http://www.alsofwah.or.id. 1999. Tinggalkan Sifat Dengki, Meraih Surga, (Online).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s