Sarana Menggapai Cinta Allah


Oleh: Abdurrahman

Segala puji hanya bagi Allah, Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan pengikut mereka yang setia sampai hari kiamat; amma ba’du:

Sifat Cinta bagi Allah
Cinta merupakan sifat bagi Allah. Kita menetapkan sifat tersebut sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya tanpa tahriif (perubahan lafazh), ta’thiil (penolakan makna), takyiif (membayangkan cara atau bentuk), dan tamtsil (menyamakan dengan makhluk). Sifat itu sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya sebagaimana sifat-sifat yang lain.
Ketika menetapkan sifat Mahabbah dan Mawaddah (cinta Allah) kepada para wali-Nya, Syaikhul Islam dalam Aqidah Wasithiyyah menyebutkan beberapa ayat yang menunjukkan sifat tersebut. Ayat-ayat itu adalah QS. Al-Baqarah: 195 dan 222, QS. Al-Hujurat: 9, QS. At-Taubah: 7, QS. Ali-Imran: 31, QS. Al-Maa’idah: 31 dan 54, dan QS. Ash-Shaff: 4.
Dalam ayat-ayat tersebut terdapat beberapa sifat hamba yang dicintai oleh-Nya yaitu bertakwa, berlaku adil, berbuat baik, mensucikan diri (yaitu mensucikan diri dari kotoran lahir dan kotoran batin), dan berperang di jalan-Nya.

Kiat-kiat Menggapai Kecintaan Allah
Syaikhul Islam Rahimahullah menyebutkan, bahwa sebab-sebab yang dapat mendatangkan kecintaan-Nya ada sepuluh macam:
1. Membaca Al-Qur’an dengan menghayati dan memahami arti dan apa yang dimaksudkannya.
2. Mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melakukan sunnah setelah melakukan fardhu.
3. Selalu berdzikir pada setiap keadaan, dengan lisan, hati, perbuatan dan perilaku. Maka, kecintaan Allah kepadanya sebesar kecintaannya kepada Allah.
4. Mendahulukan apa yang dicintai Allah atas apa yang disenangi dirinya sendiri pada saat hawa nafsu menguasai.
5. Membiasakan hati untuk selalu memahami dan menghayati nama-nama dan sifat-sifat-Nya, juga selalu menghadrikan diri dalam masalah ma’rifat (pengetahuan) ini.
6. Selalu mengakui dan bersyukur atas kebaikan dan nikmat-nikmat-Nya, baik yang zhahir maupun yang batin.
7. Inilah yang paling mengagumkan, yaitu berendah hati di hadapan-Nya.
8. Berkhalwat (hubungan batin dengan Allah) pada waktu turunnya Tuhan (yaitu waktu sepertiga malam terakhir) dan membaca kitab-Nya, kemudian menutupnya dengan beristighfar dan bertaubat.
9. Berkumpul bersama orang-orang yang cinta Allah dengan kejujuran dan selalu mengambil hikmah dari perkataan mereka. Tidak berbicara kecuali dengan perkataan yang membawa maslahat dan yang diyakininya dapat membawa peningkatan dirinya dan dapat mendatangkan manfaat bagi orang lain.
10. Menjauhi segala sebab yang dapat menghalangi antara hati dan Allah Azza wa Jalla.
Maka dengan kesepuluh sarana ini, orang-orang yang mencintai Allah akan sampai pada derajat kecintaan yang paling tinggi dan dapat masuk mendekat keharibaan Allah yang menjadi tumpuan cintanya (Fathul Madjid: 629-630).

Untuk melengkapi apa yang telah disebutkan Syaikhul Islam di atas, maka penulis menambahkan dari penjelasan Dr. Falih bin Muhammad bin Falih Ash-Shughayyir (2002: 19-40) ketika beliau menyebutkan beberapa amalan yang dapat menimbulkan kecintaan Allah pada seorang hamba. Amalan tersebut diantaranya:
11. Iman yang kuat
Sebagaimana sabda Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan keduanya memiliki kebaikan…” (HR Muslim).

12. Melaksanakan kewajiban-kewajiban
13. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan amalan-amalan sunnah
Poin 12 dan 13 di atas merupakan pemahaman hadits qudsi berikut ini. Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya. Hamba-Ku senantiasa (bertaqorrub) mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (perbuatan) yang Aku sukai seperti bila ia melakukan yang fardhu yang Aku perintahkan kepadanya. Hamba-Ku senantiasa (bertaqorrub) mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka jadilah Aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, sebagai tangannya yang ia gunakan untuk memegang, sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti akan Aku berikan kepadanya.” (HR. Bukhari)
14. Menjaga shalat lima waktu dengan melaksanakan pada waktunya dengan berjamaah.
15. Menjalin hubungan silaturrahim, khususnya berbuat baik kepada kedua orang tua
16. Berjuang di jalan Allah dengan berbagai tingkatan dan macamnya.
Ketiga poin di atas (14, 15 dan 16) merupakan pemahaman yang diambil dari hadits Abdullah bin Mas’ud, yaitu katanya, “Aku bertanya kepada –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah? Nabi –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam menjawab, Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada orang tua ketiga jihad di jalan Allah” [HR. Bukhari dan Muslim)

17. Senantiasa melakukan ketaatan, walaupun ketaatan tersebut kecil menurut pandangannya.
Sebagaimana sabda Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam, “Dan urusan agama yang paling Allah cintai adalah yang dilakukan secara terus-menerus oleh pelakunya” (HR. Bukhari). Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Dan sesungguhnya amal yang paling Allah cintai adalah yang dilakukan secara terus-menerus walaupun hanya sedikit, dan adalah keluarga Muhammad jika melakukan suatu amalan mereka terus menekuninya”.

18. Banyak berdzikir (mengingat) Allah dengan lisan, hati dan anggota badan.
Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits shahih dari Abu Hurairah –Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata, “Nabi –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya salama ia mengingat-Ku, dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingat-Nya di dalam diri-Ku, jika ia menyebutku di hadapan manusia, maka Aku pun akan menyebutnya dihadapan makhluk yang lebih baik daripada mereka. jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepada-Nya sejauh satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sepenjang satu depa, jika ia mendekat kepadaKu dengan berjalan, maka Aku akan mendekat kepadanya dengan berlari-lari kecil.’” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadits di atas selaras dengan firman Allah, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

19. Mencintai Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam
Diungkapkan  di dalam Ash-Shahiihain dari Anas bin Malik, ia berkata, “Bahwasanya ada seseorang bertanya kepada Nabi, ‘Wahai Rasulullah, kapankah terjadinya hari Kiamat?’ Beliau menjawab, ‘Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?’ Ia berkata, Aku sama sekali belum mempersiapkannya dengan banyaknya shalat, puasa, dan tidak pula dengan banyaknya shadaqah, akan tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya. ‘ Rasulullah bersabda, ‘Engkau bersama orang yang engkau cintai.’”

20. Mencintai para Sahabat Nabi dan keluarganya, karena hal tersebut dapat menimbulkan kecintaan Allah padanya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah di salah satu pasar Madinah, lalu beliau pergi dan aku pun pergi. Beliau berkata, ‘Kemana si kecil (beliau menyebutkan sebanyak tiga kali), panggilkan Hasan bin ‘Ali!’ lalu Hasan bin ‘Ali berjalan dengan kalung di lehernya. Kemudian Nabi berkata dengan isyarat tangannya seperti ini, setelah itu mereka berdua berpelukan, Rasulullah bersabda, ‘Ya Allah sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah ia dan cintailah orang yang mencintainya.’” Abu Hurairah berkata, “Setelah itu tidak ada seorangpun yang lebih aku cintai daripada Hasan bin Ali.’”(HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagai amalan terakhir pada tulisan ini, walaupun sebenarnya masih banyak amalan yang lain, kiranya hadits ke 31 dalam Arbain An-Nawawiyyah layak untuk disertakan dalam pembahasan ini, yaitu:
21. Zuhud
Berdasarkan hadits dari Abul ‘Abbas, Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi –Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang jika aku mengerjakannya, maka aku dicintai Allah dan dicintai manusia’. Maka sabda beliau : ‘Zuhudlah engkau pada dunia, pasti Allah mencintaimu dan zuhudlah engkau pada apa yang dicintai manusia, pasti manusia mencintaimu”. (HR. Ibnu Majah dan yang lainnya, Hadits hasan)
Inilah akhir dari perjumpaan kita dalam upaya menggapai kecintaan Allah. Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang mendengarkan suatu kebaikan dan mengikuti (mengamalkan) kebaikan tersebut dengan sebaik-baiknya. Allahumma Amin.

Malang, 21 Juni 2008

Sumber Rujukan:
Abdullah Shaleh Hadrami. 2005. Syarh Aqidah Wasithiyyah; bag. 17-18. Malang: Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah.
Falih bin Muhammad bin Falih Ash-Shughayyir. 2002. Jadilah Mukmin yang Kuat; Lebih Baik dan Lebih Dicintai Allah. Bogor: Pustaka Ibnu Katsir.
Syaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh. 2003. Fathul Majid; Penjelasan Kitab Tauhid. Jakarta: Pustaka Azzam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s