Memanfaatkan Waktu Luang


Oleh: Abdurrahman

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia-lah yang menurunkan Al-Quran sebagai bentuk kasih sayang kepada hamba-Nya. Di dalamnya terdapat rahmat, petunjuk, dan obat bagi segala penyakit.
Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada khoirul ibad, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau adalah al-basyir (pemberi kabar gembira) dan an-nadzir (pemberi peringatan), pendidik terbaik sepanjang masa, penuh kasih sayang kepada umatnya, dan akhlaknya adalah Al-Quran. Semoga shalawat dan salam terus tercurah kepada beliau, kepada keluarga, shahabat, dan umat yang tegak di atas kebenaran hingga hari ketika tidak bermanfaat lagi harta dan anak, melainkan yang datang dengan hati yang saliim (selamat).

Dalam lintasan kehidupan kita, waktu terbagi menjadi dua, waktu produktif dan waktu luang. Waktu produktif adalah ketika kita menunaikan apa yang menjadi kewajiban seperti bekerja, menuntut ilmu, berdagang, dan berbagai bentuk profesi lainnya. Adapun waktu luang adalah waktu yang berada di selain waktu produktif. Kadang ia berada sebelum waktu produktif seperti waktu yang kita gunakan untuk perjalanan ke tempat bekerja, bisa juga berada di sela-sela waktu produktif yaitu waktu istirahat, dan juga kadang ada setelah waktu produktif. Liburan akhir pekan dapat juga kita golongkan sebagai waktu luang.

Waktu luang mendapat perhatian khusus dalam Islam. Sebagai contoh adalah sabda nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, “Dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai terhadapnya, yaitu kesehatan dan waktu luang” (HR. Al-Bukhari).
Kebanyakan manusia lalai terhadap dua hal di atas, kecuali yang dirahmati oleh-Nya. Mereka baru menyadari kelalaian tersebut ketika datang apa yang menjadikan lawan dari dua hal tersebut. Yaitu sakit, sebagai lawan dari kesehatan dan kesibukan, sebagai lawan dari waktu luang.

Lalu, bagaimanakah mengisi waktu luang yang kita miliki?
1. Dzikrullah

Diantara kegiatan yang dapat kita manfaatkan untuk mengisi waktu luang adalah dengan berdzikir. Berdzikir kepada Allah memiliki banyak keutamaan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan beberapa keutamaan tersebut dalam Al-Quran. Diantaranya:

“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan). Dan bersyukurlah kepadaKu, serta jangan ingkar (pada nikmatKu)”. (QS. Al-Baqarah: 152).

“Hai, orang-orang yang beriman, berdzikirlah yang banyak kepada Allah (dengan menyebut namaNya)”. (QS. Al-Ahzaab: 42).

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah menyediakan untuk mereka pengampunan dan pahala yang agung”. (QS. Al-Ahzaab: 35).

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksaanNya), serta tidak mengeraskan suara, di pagi dan sore hari. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. (QS. Al-A’raaf: 205).

Selain itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga menyebutkan keutamaan dzikrullah. Diantaranya:
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Perumpamaan orang yang ingat akan Rabbnya dengan orang yang tidak ingat Rabbnya laksana orang yang hidup dengan orang yang mati (HR Bukhari). Imam Muslim meriwayatkan dengan lafazh sebagai berikut, “Perumpamaan rumah yang digunakan untuk dzikir kepada Allah dengan rumah yang tidak digunakan untuk dzikir, laksana orang hidup dengan yang mati”. (Shahih Muslim 1/539).
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda: “Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci di sisi Rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari infaq emas atau perak, dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?” Para sahabat yang hadir berkata: “Mau (wahai Rasulullah)!” Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah Yang Maha Tinggi” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hambaKu kepadaKu, Aku bersamanya (dengan ilmu dan rahmat) bila dia ingat Aku. Jika dia mengingatKu dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika dia menyebut namaKu dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Bila dia mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepadaKu sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepadaKu dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat” (HR Al-Bukhari dan Muslim, namun lafazh hadits ini adalah lafazh Al-Bukhari)

Dari Abdullah bin Busr Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata: Bahwa ada seorang lelaki berkata: “Wahai, Rasulullah! Sesungguhnya syari’at Islam telah banyak bagiku, oleh karena itu, beritahulah aku sesuatu buat pegangan”. Beliau bersabda: “Tidak hentinya lidahmu basah karena dzikir kepada Allah (lidahmu selalu mengucapkannya).” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
2. Membaca Al-Quran

Membaca Al-Quran memiliki keutamaan yang tidak sedikit. Cukuplah sabda Rasulullah berikut ini mewakilinya. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an, akan mendapatkan satu kebaikan. Sedang satu kebaikan akan dilipatkan sepuluh semisalnya. Aku tidak berkata: Alif laam miim, satu huruf. Akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR At-Tirmidzi)
Orang-orang terdahulu yang shaleh (salafush shaleh) telah memberikan teladan bagi kita bagaimana bermuamalah dengan Al-Quran. Berikut ini adalah sebagian dari pengamalan mereka (lihat Abul Qa’qa: 241, 244-247).
Usman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Seandainya hati kalian suci, niscaya ia tidak akan pernah merasa kenyang dari Kalam Rabb kalian.”

Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Banyak orang dari kalangan Salaf yang mengkhatamkan Al-Quran dalam seminggu. Ini dinukil dari usman, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab dan beberapa tabiin” (Al-Adzkar, I/229).

Tatkala maut menjemput seorang hamba shalih, Abdullah bin Idris Rahimahullah, putrinya menangis. Dia berkata kepada putrinya, “Jangan menangis. Sungguh saya telah mengkhatamkan Al-Quran di rumah ini sebanyak empat ribu kali.”

Ketika seorang hamba shalih, Abu Bakar bin Ayyasy Rahimahullah dijemput kematiannya, saudara perempuannya menangisinya. Dia berkata kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis? Lihatlah sudut rumah itu. Di situ saya telah mengkhatamkan Al-Quran sebanyak delapan belas ribu kali.”

Inilah mereka yang telah melaju kencang meninggalkan kita. Bagaimana dengan keadaan kita? Saudaraku, putus asa bukanlah solusi, akan tetapi bersegera untuk beramal sebelum nyawa melayang dan berlomba-lomba dalam kebaikan adalah jawaban.
3. Menghafal al-Quran

Diantara kegiatan lain yang dapat kita manfaatkan untuk mengisi waktu luang adalah menghafal Kitabullah. Keutamaan yang diperoleh bagi penghafalnya sangatlah agung.

Mereka yang menghafalkan Al-Quran tergolong manusia yang paling tinggi derajatnya di Surga. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Akan dibacakan kepada shohibul Qur’an, ‘Bacalah, naiklah, dan bacalah secara tartil sebagaimana engkau telah membacanya secara tartil di dunia. Sesungguhnya derajatmu adalah di akhir ayat yang engkau baca” (HR Tirmidzi, Ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”) dalam Badwilan (2008: 185-186).

Penghafal al-Quran mendapat perhiasan yang lebih agung dari apa yang dikenakannya saat ini. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Pada hari kiamat Al-Quran akan datang dan berkata, ‘Wahai Rabb-ku, berilah ia perhiasan.” Maka dikenakan untuk orang tersebut mahkota kemuliaan. Lalu Al-Qur’an berkata, “wahai Rabb-ku, tambahkanlah.” Maka orang tadi diberi pakaian kemuliaan. Al-quran berkata lagi, “Wahai Rabb-ku, ridhoilah ia.” Maka, Allah ridho kepadanya, lalu dikatakan padanya, “Bacalah dan naiklah.” Dengan setiap ayat bertambah satu kebaikan.” (HR Tirmidzi no 2839, ia berkata, “Hadits ini hasan shohih”)

4. Belajar Ilmu Syar’i

Mempelajari agama merupakan kewajiban atas setiap muslim. Nash-nash yang menunjukkan keutamaan ilmu dan orang yang berilmu adalah sebagai berikut (Al-Qasim: 127-129).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengangkat kedudukan orang yang berilmu di antara para hamba yang dikehendakinya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak pernah memerintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk meminta tambahan sesuatu kecuali meminta ditambahkannya ilmu kepadanya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “..dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan’.” (QS Thaha: 114)

Rasulullah r menjelaskan adanya pahala yang besar bagi orang yang mencari ilmu dan menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Siapa yang menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga” (HR. Ahmad).

Bersegeralah bergabung ke dalam kafilah yang dikehendaki kebaikannya oleh Allah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Siapa yang dikehendaki kebaikannya oleh Allah baginya, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama” (HR. Al-Bukhari).

Demikianlah beberapa kegiatan yang dapat kita manfaatkan untuk mengisi waktu luang yang kita miliki. Bagi Saudara –semoga Allah merahmati Anda- yang ingin memperluas pembahasan ini dapat membaca buku “Sepuluh Menit yang Menentukan; Strategi Jitu Membiasakan Amal Shalih”, buah karya Abdul Malik Al-Qasim.

Akhirnya, semoga tulisan ini dicatat sebagai amal sholeh dan dapat memperberat timbangan kebaikan penulis, diampuni dosa-dosanya yang disengaja maupun yang tidak, dan dimasukkan ke dalam Surganya yang seluas langit dan bumi. Allahumma Amin.

Malang, 26 November 2008

Sumber Rujukan:

  • Al-Qasim, Abdul Malik. 2005. Sepuluh Menit yang Menentukan; Strategi Jitu Membiasakan Amal Shalih. Pustaka Arafah: Solo
  • Abul Qa’qa’, Muhammad bin Sholeh. 2006. 125 Kiat Salaf Menjadikan Waktu Produktif. Pustaka Elba: Surabaya
  • Al-Qahthani, Sa’id bin ‘Ali Wahf. 2003. Hisnul Muslim. Pustaka At-Tibyan: Solo
  • Badwilan, Ahmad Salim. 2008. Seni Menghafal Al-Quran. Solo: Wacana Ilmiah Press

One thought on “Memanfaatkan Waktu Luang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s