Kunci Bahagia Hakiki


 

Mencukupkan diri dengan ilmu-ilmu manajemen diri dan semisalnya tidak menjamin kebahagiaan hidup seseorang. Setidaknya demikianlah yang saya pahami dan saya yakini. Setidaknya ada dua hal yang mendukung pendapat saya tersebut.

Pertama, adalah apa yang terjadi pada seorang Dale Carnegie. Sebagaimana yang disebutkan Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Arifi dalam mukaddimah bukunya “Istamti’ bi Hayatika”, bahwa ia (Dale Carnegie) mengakhiri hidupnya dengan cara yang mengenaskan yaitu dengan BUNUH DIRI (Al-Arifi, 2008: 10).

Tentu saja, suatu hal yang aneh dan tak layak terjadi bagi seorang inspirator dan motivator sekaliber dunia seperti Dale Carnegie. Padahal ia menulis dan membimbing banyak orang untuk menggapai kebahagiaan hidup di dunia.

Kedua, adalah apa yang saya dapatkan dari buku “Be a Genius Teacher; Mendidik dengan Kreatif” karya Abdullah Muhammamad Abdul Mu’thi (hal. 30-31).

Yaitu beberapa penelitian tentang kehidupan sebagian para inovator yang mengalami masalah kejiwaan, gangguan akal dan emosi. Diantara penelitian itu adalah apa yang disebutkan oleh Dr. Abdussattar Ibrahim. Beliau (Dr. Abdussattar Ibrahim) pernah menyebut beragam contoh biografi para sastrawan dan penulis inovatif dari kalangan Arab modern. Mereka mengidap penyakit kejiwaan, mengalami gangguan kepribadian dan kekacauan pikiran. Bahkan ada sebagian yang tercatat pernah melakukan upaya bunuh diri atau opname di Rumah Sakit Jiwa. Ia menyebut nama-nama inovator Arab yang bersinar, seperti: Abbas Mahmud Al-Aqqad, Najib Mahfudz, Shalah Abdussobur, Mai Ziyadah, Taufik Al-Hakim dan Anis Manshur (Abdul Mu’thi, 2008: 30-31).

Dari dua hal di atas, dapatlah diambil faedah bahwa, sepandai apapun orang—bila tidak memiliki hubungan yang baik dengan Allah Rabbul ‘Alamin- akan merasakan kegelisahan yang luar biasa dan kegersangan hati yang terperikan.

Maka, cukuplah bagi kita belajar dari pendahulu umat ini. Mereka adalah sebaik-baik generasi yang menikmati indahnya kehidupan dan merasakan kejayaan Islam. Dan yang terpenting, mereka tidak mengalami gangguan kejiwaan mental dan emosi karena mereka memiliki hubungan yang teratur dan rutin dengan Allah, dengan cara bermunajat, doa yang mendalam, sholat yang khusyu, dan bacaan Al-Quran yang penuh dengan tadabbur.

Wallahu a’lam.

 

Malang, 22 Mei 2009

 

Rujukanku:

  • Abdul Mu’thi, Abdullah Muhammad. 2008. Be a Genius Teacher; Mendidik dengan Kreatif. Pustaka Elba: Surabaya.

  • Al-Arifi, Muhammad bin Abdurrahman. 2008. Nikmatilah Hidup Anda. Pustaka Yassir: Surabaya

2 thoughts on “Kunci Bahagia Hakiki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s