Membebaskan Diri dengan Menulis


Oleh: Rachman Hardiansyah

 

Menulis itu gampang, sangat gampang malahan. Demikian kira-kira kalimat yang meluncur dari seorang Ersis, seorang akademisi yang juga penulis lepas. Menulis adalah merangkai huruf menjadi kata, merangkai kata menjadi kalimat, merangkai kalimat menjadi paragraf dan merangkai paragraf menjadi sebuah artikel yang baik. Maaf, tidak ada istilah “benar-salah” dalam kepenulisan, yang ada adalah “baik-kurang baik”..

Tulisan ini tidak lebih hanyalah respon saya atas apa yang telah dibacakan oleh seorang Pramuji Wibowo di lab PLS tanggal 16 Juli 2008. waktu itu dia membaca sebuah artikel yang ditulis A. Chaedar Alwasilah (jika tidak salah) tentang pendidikan di negara ini yang tertinggal oleh negara-negara tetangga. Ini terbukti dengan peringkat universitas-universitas negeri ini yang tidak terdeteksi dalam Top 100 Chart University (jika tidak salah, lagi).

Yang bisa saya rasakan tulisan pak A. Chedar tersebut berupaya membangunkan para akademisi yang notabene tulang punggung sekaligus otak, gerbong sekaligus lokomotif, penumpang sekaligus sopir bagi perkembangan dunia akademik. Menggugah untuk bersaing dengan negara yang lain, khususnya dalam hal menulis.

Sebenarnya saya sendiri bukanlah penulis ulung, walaupun demikian saya tidak mau dianggap tak punya bakat menulis🙂 . Semoga Anda bertanya mengapa? Karena saya sudah mencanangkan dengan target khatam membaca satu buku dalam rentang waktu satu pekan. Tentunya buku yang tidak terlalu tebal dan juga tak terlalu tipis, sekitar 150-250 halaman. Korelasinya adalah setiap pembaca pasti ingin menulis. Demikian juga saya.

Saya kurang suka dengan kritikus karya orang namun tidak bisa berkarya seperti itu. Bak komentator sepak bola yang sok ahli main bola tapi kalau diminta bola bisa jadi tidak lebih baik daripada suporter bola. Demikian juga kritikus dalam kepenulisan. Jika memang kritikus itu berani mengkritik tulisan orang namun dia juga seorang penulis, maka jempol empat baginya. Adapun jika dia mengkritik tulisan orang namun dia tidak pernah menghasilkan sebuah karya yang layak disebut karya, maka dia ibarat pemateri pelatihan kepenulisan tapi tidak pernah menulis buku. Weleh..weleh..

Untuk menggenapkan paragraf di atas, saya mengutip perkataan seorang musikus Finlandia yang bernama Shiphilius. Ia mengatakan sebuh perkataan yang barangkali jauh lebih terkenal daripada musik ciptaannya. Dia mengatakan kepada salah seorang muridnya yang takut menghadapi kritikan dan ucapan orang-orang yang iri, “Wahai anakku, jangan sampai hal ini membuatmu cemas. Ingatlah, sampai sekarang tidak ada satu bangsa pun yang mendirikan patung untuk salah seorang kritikus, dan tidak pernah ada salah seorang yang iri mendapatkan penghargaan dalam bentuk apa pun. Dan, bisa jadi hal ini disebabkan oleh karena para kritikus dalam berbagai aliran yang berbeda, lebih banyak menghancurkan daripada membangun, meskipun mereka mengklaim kritikan yang membangun. Atau, barangkali karena mereka dalam kritikannya lebih banyak menyalahkan dibandingkan memperbaiki. Akan tetapi, yang hanya saya katakan adalah tinggalkan mereka itu semua di belakang Anda, dan arahkan pandanganmu ke depan, agar ambisimu dapat tercapai” (Wujudkan Mimpi Anda, 167-168)

Maaf, saya tidak sedang mendukung musik beserta musikusnya, dan bukan berarti saya apabila dikritik tidak mau menerima. Akan tetapi hanya untuk memotivasi para penulis anyar yang takut menghadapi kritik-kritik yang belum tentu datang.

Sedikit solusi konkret yang dapat saya berikan untuk para dosen beserta mahasiswanya untuk menciptakan atmosfer kepenulisan di lingkungan universitas:

  1. Mewajibkan mahasiswa membaca sebuah atau beberapa text-book beserta penulisan resumenya. Mengapa harus membaca? Karena membaca adalah ibarat minum, dan menulis adalah ibarat (maaf) kencing. Maka orang yang banyak membaca pasti ingin menulis sebagaimana orang yang banyak minum ingin untuk kencing.

  2. Untuk meningkatkan kuantitas karya tulis maka menulis dapat dimasukkan sebagai tugas. Mengapa demikian? Karena selama ini mahasiswa menulis hanya ketika mengusulkan diri sebagai penerima beasiswa dan ketika skripsi, walaupun ada sebagian dosen yang menekankan karya tulis sebagai tugas.

 

Dua saran di atas terkesan memaksa mahasiswa, namun betapa sering kita menemukan suatu ketrampilan baru dibawah ancaman dosen yang mengatakan, “Bagi yang tidak mengerjakan silakan mengulang semester depan”🙂.

Akhirnya, bebaskan diri anda dengan tulisan. Ekspresikan diri dengan kata. Hancurkan beban pikiran dengan menuangkannya ke dalam lembaran kertas. Ekspresikan! Tuliskan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s