SMS yang Menyejukkan_Sebuah Resensi Buku


Oleh: Mas_Abdurrahman

Judul Buku

:

SMS Tadabbur Al-Qur’an; Renungan Ayat-ayat Al-Quran dari 120 Ulama dan Penuntut Ilmu

Penulis

:

Prof. Dr. Nashir bin Sulaiman Al-Umar

Dr. Umar bin Abdullah Al-Muqbil

Dr. Muhammad bin Abdul Aziz Al-Khudhairi, dkk

Tahun Terbit

:

Januari 2009

Penerbit

:

Elba Surabaya

Harga

:

Tebal

:

430 halaman

Buku yang menjadi obyek saya kali ini adalah buku yang saya temukan ketika diselenggarakannya Islamic Book Fair di kota Malang awal Februari 2009 yang lalu.

Buku ini adalah kumpulan surat-surat pendek (Short Message Service) yang dikirim melalui program SMS TADABBUR AL-QUR’AN. Begitu program ini diluncurkan pada awal bulan Ramadhan 1428 H, penyelenggara program langsung kebanjiran agar mnghimpun seluruh isi SMS ini dalam sebuah buku. Jadi, buku yang ada di tangan saya ini adalah kumpulan pertama dari SMS-SMS tersebut.

Khusus untuk risalah yang saya tulis ini, dalam penyajiannya saya tidak terlepas dari beberapa langkah praktis berikut:

  1. Mengutip SMS yang menarik perhatian saya untuk dinukil, disertai nomor halamannya.

  2. Memberi judul di atas SMS yang saya kutipkan.

  3. Terkadang memberikan sedikit penjabaran sebagai penambah penjelasan. Akan tetapi untuk langkah yang terakhir ini sangat jarang.

Adapun manfaat yang bisa diperoleh adalah kita dapat menikmati perenungan-perenungan dari sebagian ayat dalam Al-Qur’an. Terkadang perenungan-perenungan itu berupa kutipan dari penafsiran ulama salaf dan seringkali disesuaikan dengan keadaan riil kehidupan kita. Sebuah upaya yang layak diberi apresiasi yang “lebih” untuk mendekatkan umat ini kepada Al-Qur’an.

Surat-surat yang Tidak Tercantum

Penyusun buku ini tidak menyajikan semua surat dalam Al-Quran. Sejauh pengamatan saya, surat-surat yang tidak tersaji adalah: surat Yaasin, surat Al-Fath, surat Al-Hadid, surat Al-Mumtahanah, surat Ash-Shaff, surat Al-Ma’aarij, surat Al-Mursalat, surat An-Naba’, surat At-Takwir, surat Al-Insyiqaaq, surat Asy-Syams, surat At-Tiin, surat Al-Bayyinah, surat Al-Zalzalah, surat Al-Qaari’ah, surat Al-‘Ashr, surat Al-Fill, surat Quraisy, surat Al-Kaafiruun, surat An-Nashr, dan surat Al-Lahab.

Dicari, Lajnah Tadabbur Al-Qur’an!

“Kendati menghafal Al-Qur’an sangat penting, namun kita menemukan fakta yang aneh di dunia Islam. Karena kita menjumpai ratusan ribu lembaga pendidikan yang concern pada upaya menghafal Al-Qur’an. Sementara kita nyaris tidak menjumpai lembaga pendidikan yang concern pada upaya merenungkan, memahami dan memikirkan ayat-ayat Al-Qur’an. (Prof. Dr. Abdul Karim Bakkar)” (hal. 28)

Tips Tadabbur

“Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Bacalah Al-Qur’an dan gunakan untuk menggerakkan hati. Dan janganlah memikirkan akhir surat.” Salah satu yang bisa membantu kita membaca Al-Qur’an dengan tadabbur yang dapat menggerakkan hati ialah menjadikan waktu (durasi) membaca sebagai pedoman dan bukan banyaknya ayat yang dibaca. Misalnya daripada membuat jadwal membaca satu juz per hari lebih baik setengah jam per hari. Dengan demikian seorang tidak lagi memikirkan akhir surat. (Abdul Karim Al-Baradi)” (hal. 28-29)

Maka bagaimanakah dengan keadaan kita yang mengejar target khatam, sehingga seringkali meninggalkan aspek tadabbur. Sehingga setelahnya tercapainya terget tersebut, kita menjadi pribadi yang tidak mengetahui kandungan dari Al-Qur’an. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

Kendala Tadabbur

“Salah satu kendala tadabbur ialah nyanyian. Karena nyanyian dapat melenakan hati dan membuatnya tidak dapat memahami, merenungkan apalagi mengamalkan isi Al-Qur’an. Al-Qur’an dan nyanyian tidak akan bisa bersatu di dalam hati, karena keduanya bertolak belakang. Sebab, Al-Qur’an melarang mengikuti hawa nafsu dan menyuruh menjaga kehormatan diri dan menjauhi syahwat. Sedangkan nyanyian justru menyuruh sebaliknya dan menghiasinya. Selain itu nyanyian dapat menggerakkan jiwa menuju syahwat dan kejelekan. (Ibnul Qoyyim, Ighatsatul Lahfan, hal. 248)” (hal. 29)

Ikhlas, Pemecah Masalah

“Ada seorang pemuda yang sangat gandrung dengan salah satu perbuatan keji. Ia sangat sulit meninggalkannya. Sampai akhirnya Allah ‘Azza wa Jalla mengizinkan perasaan gandrungnya itu lenyap setelah ia merenungkan firman Allah ‘Azza wa Jalla tentang Yusuf :

كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

“Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24)

Setelah membaca ayat ini ia kembali kepada dirinya dan berkata: “Seandainya aku mau ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, pasti Tuhanku akan menyelamatkan aku sebagaimana Dia menyelamatkan Yusuf.” Lalu, tidak lama kemudian pemuda itu menjadi juru dakwah”. (hal. 146-147)

Resep Bagi yang Belum Dikaruniai Momongan

“Salah satu partisipan mengatakan: “Ketika saya tidak kunjung dikarunia momongan selama 6 tahun, dan saya sudah mendatangi berbagai rumah sakit, tetapi hasilnya nihil, saya teringat ucapan Nabi Zakariya :

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

“Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik” (QS. Al-Anbiyaa’: 89)

Lalu saya pun membaca ayat ini secara terus-menerus disertai dengan do’a, istighfar dan ruqyah. Sampai akhirnya saya dikaruniai dua orang anak. Alhamdulillah.” (hal. 214)

Ciri Orang Beriman: Profesional dan Rutin

“Bacalah awal surat Al-Mukminuun dengan merenungkan maknanya maka anda akan menemukan bahwa salah satu sifat utama orang-orang mukmin yang beruntung ialah mengerjakan ssesuatu dengan sempurna (profesional) dan rutin (kontinyu). Kedua hal ini merupakan rahasia kesuksesan dan keberuntungan. Kekhusyukan di dalam shalat mengisyaratkan pentingnya profesionalisme. Dan pemeliharaan shalat lima waktu tidak mungkin terjadi tanpa rutinitas dan kontinyuitas. (Dr. Muhammad Al-Qahthani)” (hal. 227)

Zina Mata

“Tatkala Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan perintah menundukkan pandangan mata bagi orang-orang mukmin dan mukminah, Dia menutupnya dengan firman-Nya:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. An-Nuur: 31).

Pencantuman kata “semua” di sini seakan-akan memberikan isyarat bahwa nyaris tidak ada satu orang pun yang benar-benar selamat dari dosa ini.” (Hal. 235)

I’jaazul Ilmi, Dua Laut yang Berdampingan

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS. Al-Furqaan: 53).

Al-Allamah Asy-Syinqithi mengatakan: “Salah satu lokasi fenomena ini ialah sungai Senegal di Samudera Atlantik di dekat kota St. Louis. Saya pernah mengunjunginya pada tahun 1366 H. Saya pernah mandi di Sungai Senegal satu kali dan di Samudera Atlantik satu kali. Saya belum pernah datang ke tempat di mana air tawar dan air asin bertemu. Namun menurut salah seorang kawan yang bisa dipercaya, ia pernah datang ke sana dan mencoba mengambil air tawar dengan salah satu tangannya dan tangan lainnya mengambil air asin. Semuanya berada di tempat yang sama, tetapi satu sama lain tidak bercampur. Maha Suci, Maha Agung dan Maha Sempurna Tuhan yang Menciptakannya. (Adlwa’ul Bayan, 6/65)” (hal. 239-240).

Bedakan Hujan Adzab dengan Hujan Rahmat

“Anda tidak akan menemukan kata المَطَرُ (hujan) di dalam Al-Qur’an selain dalam konteks hukuman dan adzab. Berbeda dengan kata الْغَيْثَ (hujan yang digunakan oleh Al-Qur’an dalam konteks kebaikan dan kasih sayang. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ

“Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu” (QS. An-Naml: 58)

Di sisi lain Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ

“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya” (QS. Asy-Syuuraa: 28) (Dr. Fadil As-Samurra’iy, At-Ta’bir Al-Qur’ani, 15)” (hal. 252-253).

Pilihan Allah Lebih Baik Daripada Pilihan Kita

“Tatkala Qarun amblas ditelan bumi, orang-orang yang ingin seperti dia berkata:

َوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا

“Kalau saja Allah tidak melimpahkan karuniaNya kepada kita, niscaya Dia benar-benar telah membenamkan kita ke dalam tanah” (QS. Al-Qashash: 82)

Padahal kemarin mereka memanjatkan do’a:

يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar” (QS. Al-Qashash: 79).

Cobalah berpikir dan merenung: Berapa banyak do’a yang membuat anda bersedih hati karena tak kunjung dikabulkan? Bahkan ada yang sempat berburuk sangka kepada Tuhan. Lalu bercampur dengan perasaan bimbang, ragu atau putus asa. Dia tidak tahu bahwa pilihan Allah daripada pilihannya sendiri. Persis seperti ketika Allah menghindarkan teman-teman Qarun dari keburukan. Namun tidak ada yang bisa mendapatkannya selain orang-orang yang sabar (Prof. Dr. Nashir Al-Umar)1)” (hal. 261-262).

Bila Ilmu Diamalkan Maka…

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS. Al-Ankabut: 69)

Abbas bin Ahamad mengtakan: “Artinya orang-orang yang mengamalkan ilmu yang mereka ketahui akan Kami tunjukkan kepada mereka apa-apa yang tidak mereka ketahui” (Iqtidla’ul Ilmi Al-Amal, hal. 30)” (hal. 265).

Terbuai dengan Urusan Dunia

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia” (QS. Ar-Ruum: 7)

Menurut Hasan Al-Bashri, ada orang yang sangat pandai dalam urusan dunia. Bahkan ia mampu mengetahui berat dirham (coin perak) hanya dengan meletakkannya di kukunya. Tetapi ia tidak pandai melaksanakan shalat (Ad-Durrul Mantsur, 6/484)” (hal. 267)

Tafsir Al-Qur’an bil Qur’an

“Salah satu keunikan Tafsir Nabi ialah beliau menafsirkan dua ayat pada surat Al-An’aam dengan dua ayat pada surat Luqman. Beliau menafsirkan ayat:

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik)” (QS. Al-An’aam: 82).

Dengan ayat:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqman: 13)

Dan beliau menafsirkan ayat:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib” (QS. Al-An’aam: 59).

Dengan ayat:

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Luqman: 34).

Dan saya tidak menemukan tafsir lain dari beliau selain itu. (Dr. Musa’id Ath-Thayyar)” (hal. 271-272).

Tolaklah Kejahatan dengan Cara yang Lebih Baik (1)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik” (Fushshilat: 34).

Subhanallah! Ada orang yang bermusuhan dengan anda dan berlaku buruk kepada anda, lalu dikatakan kepada anda: “Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.” Jika anda mau melaksanakan perintah Allah dan menolak kejahatan dengan cara yang lebih baik, anda akan mendapatkan pahala:

فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushshilat: 34).

Siapakah yang mengatakan hal itu? Dia adalah Allah Yang Maha Membolak-balik hati. Setiap hati manusia berada di antara dua jari di antara jari-jari Allah Yang Maha Penyayang. Dia mengaturnya menurut kehendakNya. (Ibnu Utsaimin, Syarah Riyadhush Shalihin, 1/278)” (hal. 302-303).

Tolaklah Kejahatan dengan Cara yang Lebih Baik (2)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushshilat: 34).

Ini adalah efek akhlak yang baik terhadap orang yang bermusuhan dengan anda. Bagaimanakah efeknya terhadap orang yang tidak bermusuhan dengan anda. Bahkan bagaimanakah efeknya terhadap orang yang akrab dengan anda, seperti suami/istri atau saudara? Maka, hendaknya kita memberikan akhlak yang baik bahkan akhlak yang lebih baik. Dan jadikan hal itu sebagai watak kita dalam berbagai kondisi.” (hal. 303).

Diadzab dengan Sesuatu yang Mereka Banggakan

“Fir’aun pernah membanggakan dirinya dengan kata-kata:

وَهَذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي

“Dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku” (QS. Az-Zukhruf: 51)

Karenanya Allah ‘Azza wa Jalla menghukumnya dengan sesuatu yang menjadi kebanggaannya, yakni dengan menenggelamkannya di laut. Sedangkan kaum ‘Aad diadzab dengan sesuatu yang paling lembut –yaitu angin— tatkala mereka membanggakan kekuatan mereka dan berkata:

مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً

“Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” (QS. Fushshilat: 15). (Ibnu Utsaimin)” (hal. 306).

Upaya Menggapai Husnul Khotimah

“Salah satu berkah mengkaji Al-Qur’an secara tekun ialah husnul khotimah (meninggal dunia dengan cara yang baik). Ibnu Taimiyah Rahimahullah meninggal dunia ketika berhenti membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (54) فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ (55)

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa” (QS. Al-Qomar: 54-55).

Dan ayat terakhir yang ditafsirkan oleh Asy-Syinqithi ialah:

أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ

Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka” (QS. Al-Mujadilah: 22)

Dan banyak lagi contoh kasus lainnya. Mudah-mudahan kita mendapatkan husnul khotimah.” (hal. 334-335)

Takut kepada Allah

“Ada orang yang berkata: “Betapa banyak maksiat di kala sunyi yang urung saya kerjakan karena dicegah oleh firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga” (QS. Ar-Rahman: 46).

Sesungguhnya ayat ini cukup mewakili banyak nasihat.” (hal. 338)

Ayat yang mirip dengan ayat di atas adalah firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41)

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya)” (QS. An-Naa’ziaat: 40-41)

“Berkunjung” di Alam Barzakh

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Sampai kamu masuk (berkunjung) ke dalam kubur.” (QS. At-Takaatsur: 1)

Kalau tinggal di dalam kubur itu hanyalah sekedar berkunjung, padahal rentang waktunya bisa mencapai ribuan tahun, bagaimanakah kita menyebut masa tinggal kia di dunia yang tidak lebih dari beberapa tahun saja?

Simaklah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ

Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” (QS. Al-Mukminuun: 113).

Alangkah panjangnya penyesalan orang-orang yang lalai (Prof. Dr. Nashir Al-Umar).” (hal. 422-423)

Penutup

Akhirnya, sampai di sini perjumpaan kita pada kesempatan ini. Semoga apa yang telah saya sajikan –walau sederhana— dapat memberikan pencerahan dan menyegarkan kembali nuansa keimanan di dalam hati kita.

Malang, 6 Rabi’ul Awwal / 3 Maret 2009

Kunjungi kami di: www.percikankehidupan.wordpress.com

Disampaikan dalam acara “Diskusi Buku Malam Minggu (DISBUK MaeM)”

yang dulunya bernama “Kupas Tuntas Buku (KUTUB)”,

pada tanggal 8 Rabiul Tsani 1430 H / 4 April 2009,

diselenggarakan oleh Remaja Masjid Manarul Islam (REMMAIS) Sawojajar Malang

1 SMS ini dikirim pada hari-hari ujian. Kemudian muncul komentar berikut ini dari salah seorang partisipan: “Terima kasih banyak kepada anda. Saya seorang mahasiswa yang telah banyak berdo’a pada waktu ujian agar saya mendapatkan nilai sempurna. Namun setelah hasil ujian diumumkan, ternyata nilai saya banyak yang kurang. Saya pun merasa sedih dan resah karena do’a saya tidak dikabulkan. Kemudian setelah saya membaca SMS anda seputar ayat 82 surat Al-Qashash, saya langsung bersyukur kepada Allah, jiwa saya tenang dan merasa lega. Karena do’a tidak akan sia-sia. Barangkali di balik nilai yang kurang itu terdapat kebaikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s