Sepuh, Namun Hafal Al-Qur’an


 

Sepuh, Namun Hafal Al-Qur’an
Suatu hari, Madinatul Bu’uts (Asrama Putra) mahasiswa Universitas Al-Azhar kedatangan seorang imam masjid terkenal Mesir. Beliau adalah Syaikh Muhammad Jibril. Ketika selesai shalat, diadakan dialog mengenai metode praktis menghafal Quran. Di Sela-sela dialog itu, seorang mahasiswa dari Afrika bertanya,
“Wahai Syaikh, apakah mungkin orang tua saya yang berumur 50 tahun mampu untuk menghafal Al-Qur’an?”
Beliau pun menjawab, “Setiap muslim mampu dan bisa untuk menghafal Al-Qur’an jika di mempunyai niat yang ikhlas dan ‘azzam yang kuat untuk melaksanakannya, walaupun dia itu seorang kakek yang telah lanjut usia. Akan tetapi, memang kakek itu membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan dengan usia yang jauh lebih muda.” (Syamsudin: 43-44).
Memang benar, bila anda membutuhkan contoh konkretnya bisa membacanya di Nisaa-un laa ya’rifna al-ya’s yang terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan Aqwam Solo dengan judul Seni Menghafal Al-Qur’an. Di buku itu, anda akan mendapati puluhan kisah para penghafal Al-Qur’an yang mereka secara umum adalah para ibu, sudah sepuh dan tidak bisa membaca. Sebuah kesungguhan yang menyala membara. 
Bacaan:
Badwilan, Ahmad Salim. 2008. Seni Menghafal Al-Qur’an. Wacana Ilmiah Press: Solo.
Syamsudin, Achmad Yaman. 2007. Cara Mudah Menghafal Al-Qur’an. Insan Kamil: Solo.
Suatu hari, Madinatul Bu’uts (Asrama Putra) mahasiswa Universitas Al-Azhar kedatangan seorang imam masjid terkenal Mesir. Beliau adalah Syaikh Muhammad Jibril. Ketika selesai shalat, diadakan dialog mengenai metode praktis menghafal Quran. Di Sela-sela dialog itu, seorang mahasiswa dari Afrika bertanya,
“Wahai Syaikh, apakah mungkin orang tua saya yang berumur 50 tahun mampu untuk menghafal Al-Qur’an?”
Beliau pun menjawab, “Setiap muslim mampu dan bisa untuk menghafal Al-Qur’an jika di mempunyai niat yang ikhlas dan ‘azzam yang kuat untuk melaksanakannya, walaupun dia itu seorang kakek yang telah lanjut usia. Akan tetapi, memang kakek itu membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan dengan usia yang jauh lebih muda.” (Syamsudin: 43-44).
Memang benar, bila anda membutuhkan contoh konkretnya bisa membacanya di Nisaa-un laa ya’rifna al-ya’s yang terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan Aqwam Solo dengan judul Seni Menghafal Al-Qur’an. Di buku itu, anda akan mendapati puluhan kisah para penghafal Al-Qur’an yang mereka secara umum adalah para ibu, sudah sepuh dan tidak bisa membaca. Sebuah kesungguhan yang menyala membara. 
Bacaan:
Badwilan, Ahmad Salim. 2008. Seni Menghafal Al-Qur’an. Wacana Ilmiah Press: Solo.
Syamsudin, Achmad Yaman. 2007. Cara Mudah Menghafal Al-Qur’an. Insan Kamil: Solo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s