Teladan dalam ‘Menimba’ Ilmu


Mendaftarkan diri pada perkuliahan adalah pilihan ganda yang bebas bagi kita untuk memilihnya. Ada yang memilih kuliah, ada yang kerja, atau ada yang kuliah sembari kerja. Semua itu pilihan.

Tapi tahukah kawan, ada yang memilih pilihan yang menurutku adalah lebih dari sekedar pilihan Pilihan  yang so different. Adalah sebagian hamba Allah yang memilih untuk kuliah sembari kuliah. Kuliah dobel yang kumaksud.
Adakah? Tentu saja ada. Saya juga pernah seperti itu, tapi tidak sehebat para tokoh yang cuplikan kisahnya akan saya bawakan setelah ini, Insya Allah. Tokoh-tokoh yang begitu memotivasi saya, dan Anda. semoga, untuk memacu spirit kerja cerdas dan kerja keras. Memperpanjang nafas untuk menambah rute tempuh kehidupan. Sebuah cita-cita yang tinggi.. Tentu saja J.
Cita-cita yang tinggi bisa kita pelajari dari perjalanan hidup Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir Rahimahullah. Beliau, sebagaimana disebutkan Ustadz Armen Halim Naro dalam  muhadharah (ceramah) “Bahaya Syiah”, kuliah S1 di Universitas Islam Madinah dengan dua jurusan, yaitu jurusan Syariah dan Ushuluddin; kuliah S2 dengan tujuh jurusan, dan S3 dengan tiga jurusan.
Sesampai di kampung halamannya, selepas menuntaskan pendidikan S1, beliau mencermati bahwa masyarakatnya kurang menghargai ilmu agama. Dan menurut mereka, orang yang disebut ulama tidak mempunyai kemampuan untuk meresapi apa yang mereka sebut sebagai “ilmu-ilmu modern”. Syaikh Ihsan ingin membalikkan asumsi tersebut. Dengan ketekunannya, akhirnya beliau mampu mengantongi berbagai gelar master pada ilmu-ilmu bahasa Arab, bahasa Persia, bahasa Urdu dan Inggris, dan master dalam hukum dan politik (As-Sunnah, Edisi 01/Tahun X/2006 M, hal 9, suplemen).
Demikian saya mencoba untuk mencari contoh yang lain. Ketemu. Yaitu ada yang terjadi pada Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i Rahimahullah. Beliau pun kuliah dobel di Universitas Islam Madinah. Tepatnya di Fakultas Da’wah dan Ushuluddin. Ketika dibuka Fakultas Pasca Sarjana di Universitas yang sama, beliau mendaftarkan diri dan diterima. Risalah Magister atau tesis yang beliau tulis adalah tahqiq kitab Iltizamat dan Tatabbu’ oleh Al-Imam Daruquthni.  (Al-Furqon, Edisi 1 Th V / Sya’ban 1426, hal . 50)
Maka, yang bisa kita lakukan adalah melipatgandakan ikhtiar dengan senantiasa berdoa kepada-Nya.

Mendaftarkan diri pada perkuliahan adalah pilihan ganda yang bebas bagi kita untuk memilihnya. Ada yang memilih kuliah, ada yang kerja, atau ada yang kuliah sembari kerja. Semua itu pilihan.

Tapi tahukah kawan, ada yang memilih pilihan yang menurutku adalah lebih dari sekedar pilihan Pilihan  yang so different. Adalah sebagian hamba Allah yang memilih untuk kuliah sembari kuliah. Kuliah dobel yang kumaksud.

Adakah? Tentu saja ada. Saya juga pernah seperti itu, tapi tidak sehebat para tokoh yang cuplikan kisahnya akan saya bawakan setelah ini, Insya Allah. Tokoh-tokoh yang begitu memotivasi saya, dan Anda. semoga, untuk memacu spirit kerja cerdas dan kerja keras. Memperpanjang nafas untuk menambah rute tempuh kehidupan. Sebuah cita-cita yang tinggi.. Tentu saja🙂 ^_^

Cita-cita yang tinggi bisa kita pelajari dari perjalanan hidup Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir Rahimahullah. Beliau, sebagaimana disebutkan Ustadz Armen Halim Naro dalam  muhadharah (ceramah) “Bahaya Syiah”, kuliah S1 di Universitas Islam Madinah dengan dua jurusan, yaitu jurusan Syariah dan Ushuluddin; kuliah S2 dengan tujuh jurusan, dan S3 dengan tiga jurusan.

Sesampai di kampung halamannya, selepas menuntaskan pendidikan S1, beliau mencermati bahwa masyarakatnya kurang menghargai ilmu agama. Dan menurut mereka, orang yang disebut ulama tidak mempunyai kemampuan untuk meresapi apa yang mereka sebut sebagai “ilmu-ilmu modern”. Syaikh Ihsan ingin membalikkan asumsi tersebut. Dengan ketekunannya, akhirnya beliau mampu mengantongi berbagai gelar master pada ilmu-ilmu bahasa Arab, bahasa Persia, bahasa Urdu dan Inggris, dan master dalam hukum dan politik (As-Sunnah, Edisi 01/Tahun X/2006 M, hal 9, suplemen).

Demikian saya mencoba untuk mencari contoh yang lain. Ketemu. Yaitu ada yang terjadi pada Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i Rahimahullah. Beliau pun kuliah dobel di Universitas Islam Madinah. Tepatnya di Fakultas Da’wah dan Ushuluddin. Ketika dibuka Fakultas Pasca Sarjana di Universitas yang sama, beliau mendaftarkan diri dan diterima. Risalah Magister atau tesis yang beliau tulis adalah tahqiq kitab Iltizamat dan Tatabbu’ oleh Al-Imam Daruquthni.  (Al-Furqon, Edisi 1 Th V / Sya’ban 1426, hal . 50)

Maka, yang bisa kita lakukan adalah melipatgandakan ikhtiar dengan senantiasa berdoa kepada-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s