Faidah Bertebaran Mengenai Tadabbur Al-Quran


Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menganggap Al-Quran sebagai kumpulan surat dari Rabb mereka, oleh karenanya mereka mentadabburinya disaat malam serta mengamalkannya di siang hari. (Al-Hasan Bashri Rahimahullah)

 

Apakah Tadabbur Itu?

Ahmad Salim Badwilan menuliskan bahwa, Tadabbur adalah Anda dapat mengetahui makna-makna dan ibroh saat Anda membaca Al-Qur’an, bukan hanya sekedar ingin membaca dengan cepat agar segera khatam saja.

Al-Maidani mengatakan, “Tadabbur adalah perenungan menyeluruh yang menghubungkan kepada maksud sebuah ungkapan dan makna-maknanya yang sangat mendalam.” (Qawaaid at-Tadabbur al-Amtsal li Kitabillah, hal 10).

Adapun makna Tadabbur Al-Quran, sebagaimana dikatakan Dr. Khalid bin Abdul Karim Al-Laahim, adalah: Perenungan dan percermatan ayat-ayat Al-Quran untuk tujuan dipahami, diketahui makna-maknanya, hikmah-hikmah serta maksudnya.

Abu Hamzah menuturkan, “Aku berkata kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa aku dapat membaca dengan cepat dan menamatkan bacaanku dalam waktu tiga hari. Maka Ibnu Abbas berkata:

“Aku membaca surah Al-Baqarah dengan tartil dalam satu malam dengan mentadabburinya, lebih aku suka daripada membaca seperti Anda membaca.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Lebih aku sukai dari membaca cepat, tanpa mentadabburinya.”

Inilah Salafush Shalih

Salafush shalih seringkali mengulang-ulang bacaan untuk menggapai tadabbur Al-Quran. An-Nasai meriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam qiyamullail, membaca suatu ayat yang beliau ulang-ulang sampai waktu Subuh, yaitu ayat: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau…” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Begitu pula sahabat Tamim Ad-Dariy Radhiyallahu ‘Anhu, yang mengulang-ulang ayat ini sampai Shubuh, yaitu: “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (Al-Jatsiyah 21)

Dari ‘Ibad bin Hamzah berkata, “Saya menemui Asma’ Radhiyallahu ‘Anha sedang membaca, “Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.” (Ath-Thuur 27)

Kemudian ia berhenti dan mengulanginya serta berdo’a dalam waktu yang lama menurut saya. Maka saya pun pergi ke pasar untuk mencari apa yang saya butuhkan. Kemudian saya pulang sedang ia masih saja mengulang-ulang ayat itu dan berdoa.”

Adh-Dhahak bila membaca ayat: “Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api).” (Az-Zumat 16). Beliau terus mengulanginya hingga waktu sahur.

Tips Tadabbur

“Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Bacalah Al-Qur’an dan gunakan untuk menggerakkan hati. Dan janganlah memikirkan akhir surat.”

Abdul Karim Al-Baradi melanjutkan nasehat Ibnu Mas’ud di atas dengan, “Salah satu yang bisa membantu kita membaca Al-Qur’an dengan tadabbur yang dapat menggerakkan hati ialah menjadikan waktu (durasi) membaca sebagai pedoman dan bukan banyaknya ayat yang dibaca. Misalnya daripada membuat jadwal membaca satu juz per hari lebih baik setengah jam per hari. Dengan demikian seorang tidak lagi memikirkan akhir surat.” (SMS Tadabbur al-Quran, hal. 28-29)

Maka bagaimanakah dengan keadaan kita yang mengejar target khatam, sehingga seringkali meninggalkan aspek tadabbur. Sehingga setelahnya tercapainya terget tersebut, kita menjadi pribadi yang tidak mengetahui kandungan dari Al-Qur’an. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

 

Dicari, Lajnah Tadabbur Al-Qur’an!

Prof. Dr. Abdul Karim Bakkar mengatakan, “Kendati menghafal Al-Qur’an sangat penting, namun kita menemukan fakta yang aneh di dunia Islam. Karena kita menjumpai ratusan ribu lembaga pendidikan yang concern pada upaya menghafal Al-Qur’an. Sementara kita nyaris tidak menjumpai lembaga pendidikan yang concern pada upaya merenungkan, memahami dan memikirkan ayat-ayat Al-Qur’an.” (SMS Tadabbur al-Quran, hal. 28)

 

Kendala Tadabbur

“Salah satu kendala tadabbur.., ungkap Ibnul Qoyyim, ..ialah nyanyian. Karena nyanyian, dapat melenakan hati dan membuatnya tidak dapat memahami, merenungkan apalagi mengamalkan isi Al-Qur’an. Al-Qur’an dan nyanyian tidak akan bisa bersatu di dalam hati, karena keduanya bertolak belakang. Sebab, Al-Qur’an melarang mengikuti hawa nafsu dan menyuruh menjaga kehormatan diri dan menjauhi syahwat. Sedangkan nyanyian justru menyuruh sebaliknya dan menghiasinya. Selain itu nyanyian dapat menggerakkan jiwa menuju syahwat dan kejelekan. (Ibnul Qoyyim, Ighatsatul Lahfan, hal. 248)” (SMS Tadabbur al-Quran, hal. 29)

 

Beberapa Contoh Tadabbur Al-Quran

  • Contoh Pertama: Ikhlas, Pemecah Masalah.

“Ada seorang pemuda yang sangat gandrung dengan salah satu perbuatan keji. Ia sangat sulit meninggalkannya. Sampai akhirnya Allah ‘Azza wa Jalla mengizinkan perasaan gandrungnya itu lenyap setelah ia merenungkan firman Allah ‘Azza wa Jalla tentang Yusuf Alaihis Salam: “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24)

Setelah membaca ayat ini ia kembali kepada dirinya dan berkata: “Seandainya aku mau ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, pasti Tuhanku akan menyelamatkan aku sebagaimana Dia menyelamatkan Yusuf.” Lalu, tidak lama kemudian pemuda itu menjadi juru dakwah”. (SMS Tadabbur al-Quran, hal. 146-147)

  • Contoh kedua: I’jaazul Ilmi, Dua Laut yang Berdampingan.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS. Al-Furqaan: 53).

Al-Allamah Asy-Syinqithi mengatakan: “Salah satu lokasi fenomena ini ialah sungai Senegal di Samudera Atlantik di dekat kota St. Louis. Saya pernah mengunjunginya pada tahun 1366 H. Saya pernah mandi di Sungai Senegal satu kali dan di Samudera Atlantik satu kali. Saya belum pernah datang ke tempat di mana air tawar dan air asin bertemu. Namun menurut salah seorang kawan yang bisa dipercaya, ia pernah datang ke sana dan mencoba mengambil air tawar dengan salah satu tangannya dan tangan lainnya mengambil air asin. Semuanya berada di tempat yang sama, tetapi satu sama lain tidak bercampur. Maha Suci, Maha Agung dan Maha Sempurna Tuhan yang Menciptakannya. (Adlwa’ul Bayan, 6/65)” (SMS Tadabbur al-Quran, hal. 239-240).

  • Contoh ketiga: Pilihan Allah Lebih Baik Daripada Pilihan Kita.

SMS yang mengutip perkataan Prof. Dr. Nashir Al-Umar, “Tatkala Qarun amblas ditelan bumi, orang-orang yang ingin seperti dia berkata: “Kalau saja Allah tidak melimpahkan karuniaNya kepada kita, niscaya Dia benar-benar telah membenamkan kita ke dalam tanah” (QS. Al-Qashash: 82)

Padahal kemarin mereka memanjatkan do’a: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar” (QS. Al-Qashash: 79).

Cobalah berpikir dan merenung: Berapa banyak do’a yang membuat anda bersedih hati karena tak kunjung dikabulkan? Bahkan ada yang sempat berburuk sangka kepada Tuhan. Lalu bercampur dengan perasaan bimbang, ragu atau putus asa. Dia tidak tahu bahwa pilihan Allah daripada pilihannya sendiri. Persis seperti ketika Allah menghindarkan teman-teman Qarun dari keburukan. Namun tidak ada yang bisa mendapatkannya selain orang-orang yang sabar.”

SMS ini dikirim pada hari-hari ujian. Kemudian muncul komentar berikut ini dari salah seorang partisipan: “Terima kasih banyak kepada anda. Saya seorang mahasiswa yang telah banyak berdo’a pada waktu ujian agar saya mendapatkan nilai sempurna. Namun setelah hasil ujian diumumkan, ternyata nilai saya banyak yang kurang. Saya pun merasa sedih dan resah karena do’a saya tidak dikabulkan. Kemudian setelah saya membaca SMS anda seputar ayat 82 surat Al-Qashash, saya langsung bersyukur kepada Allah, jiwa saya tenang dan merasa lega. Karena do’a tidak akan sia-sia. Barangkali di balik nilai yang kurang itu terdapat kebaikan. (SMS Tadabbur al-Quran, hal. 261-262).

  • Contoh keempat: Terbuai dengan Urusan Dunia.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia” (QS. Ar-Ruum: 7)

Menurut Hasan Al-Bashri, ada orang yang sangat pandai dalam urusan dunia. Bahkan ia mampu mengetahui berat dirham (coin perak) hanya dengan meletakkannya di kukunya. Tetapi ia tidak pandai melaksanakan shalat (Ad-Durrul Mantsur, 6/484)” (SMS Tadabbur al-Quran, hal. 267)

Bagaimana bila perkataan Hasan Al-Bashri di atas dianalogikan dengan keadaan sekarang—dimana ada orang yang begitu hafal tipe HP dengan berbagai merk dan harganya—namun dalam masalah wudhu, ia tidak tahu tata cara wudhu yang dituntunkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?

  • Contoh kelima: Diadzab dengan Sesuatu yang Mereka Banggakan.

“Fir’aun pernah membanggakan dirinya dengan kata-kata: “Dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku” (QS. Az-Zukhruf: 51)

Karenanya Allah ‘Azza wa Jalla menghukumnya dengan sesuatu yang menjadi kebanggaannya, yakni dengan menenggelamkannya di laut. Sedangkan kaum ‘Aad diadzab dengan sesuatu yang paling lembut –yaitu angin— tatkala mereka membanggakan kekuatan mereka dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” (QS. Fushshilat: 15). (Ibnu Utsaimin)” (SMS Tadabbur al-Quran, hal. 306).

Akhirnya, kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dengan segala nikmat dan keutamaan-Nya semoga Allah memudahkan kita untuk membaca dan mentadabburi Kalam-Nya. Dan hanya Allah-lah yang memberi taufiq dan hidayah untuk meniti jalan yang lurus. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarga serta sahabatnya.

 

Daftar Pustaka

Al-Laahim, Khalid bin Abdul Karim. tt. Kunci-kunci Tadabbur Al-Quran. Terj. Abu Hudzaifah. Judul asli “Mafatih Tadabbur Al-Quran wa An-Najah fi Al-Hayah”. Surakarta: Pustaka An-Naba’.

Al-Umar, Nashir bin Sulaiman, dkk. 2009. SMS Tadabbur Al-Qur’an; Renungan Ayat-ayat Al-Quran dari 120 Ulama dan Penuntut Ilmu. Surabaya: Elba.

Badwilan, Ahmad Salim. 2008. Seni Menghafal Al-Quran; Resep Manjur Menghafal Al-Quran yang Telah Terbukti Keampuhannya. Terj. Abu Hudzaifah. Judul asli “Nisaa-un laa ya’rifnal ya’s”.  Solo: Wacana Ilmiah Press.

Karzun, Anis Ahmad. 2006. Nasihat kepada Pembaca Al-Quran. Terj. Ahmad Nawawi & Furqonul Haq. Judul asli “Warattilil Qurana Tartila, Washaya wa Tanbihat fit Tilawah wal Hifzh wal Murajaah”. Solo: Pustaka Arafah.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s