Kefasihan dan Kepandaian Mengolah Kata Bukanlah Syarat dalam Berdakwah


Nabi Musa mengalami kesulitan dalam memberi penjelasan kepada umatnya, sehingga beliau berdoa kepada Allah dengan perkataannya,

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي (27) يَفْقَهُوا قَوْلِي (28)

“Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS Thaha 27-28)

Sementara Firaun jauh lebih fasih dalam berbicara dibanding Musa a.s, sebagaimana diceritakan oleh Allah:

أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ (52)

“Bukankah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?” (QS Az-Zukhruf 52)

Meski demikian kondisi ini tidak menjadikan penghalang bagi Musa a.s untuk menyampaikan risalah Rabbnya, sehingga pengikut Nabi Musa merupakan umat terbesar kedua setelah umat nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, sampaikanlah ilmu yang telah kamu miliki! Adapun kemampuan mengolah kata-kata, maka sesuai dengan kemampuanmu. Janganlah rasa malumu menjadi penghalang untuk menyampaikan kebaikan kepada orang lain, karena Allah berfirman:

وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya.” (QS al-Mukminuun 62)

(Diangkat dari al-Khuthabul Minbariyah, Syaikh Abdul Muhsin Al-Qasim; yang dikutip dari majalah As-Sunnah edisi 7 th XV, hal 40-41)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s