Tiga Mubalig Pahlawan Nasional_Republika 9 Nov 2011


Teguh Firmansyah

Generasi muda belum paham perjuangan pahlawan.

JAKARTA . Pemerintah Indonesia akhirnya meng anugerahkan gelar pahlawan kepada tiga mubalig, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), KH Idham Chalid, dan Sjafruddin Prawiranegara. Empat tokoh lain yang juga mendapat gelar pahlawan adalah Ki Sarmidi Mangunsarkoro (Yogyakarta), I Gusti Ketut Pudja (Bali), Sri Susuhunan Pakubuwono X (Jawa Tengah), dan Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono (Yogyakarta).

Pemberian tanda gelar diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada ahli waris di Istana Negara, Selasa (8/11). Buya Hamka merupakan mubalig yang terjun ke dunia politik bersama Sarekat Islam dan Partai Masyumi, sekaligus penulis yang produktif. Selain menulis buku agama, termasuk tafsir Al-Azhar, dia juga menulis novel seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Menurut anak kesepuluh Hamka, Afif Hamka, Buya Hamka telah menjadi pahlawan bagi keluarga. Dia mengakui usulan agar ayahnya menjadi Pahlawan Nasional sudah banyak dan diajukan sejak lama. Bagaima napun, bagi kami ini merupakan kebanggaan. Kami terima banyak ucapan berbahagia karena tokoh yang dicintai jadi Pahlawan Nasional, kata Afif.

Idham Chalid lebih dikenal sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang menjabat paling lama, dari 1956- 1984, serta pernah menjabat ketua MPR/DPR. Sejarawan LIPI Taufik Abdullah mengatakan, Idham berjasa besar bagi bangsa dan negara. Apa lagi, keanggotaan NU dari sisi jumlah dan sebaran geografis sangat besar di Indonesia.

Saat Idham memimpin NU, gejolak politik Indonesia sedang ha ngat. Ada pergerakan masyarakat di berbagai provinsi menuntut kesetaraan status dan pemerataan pembangunan sehingga banyak yang dianggap makar kepada Jakarta dan dihadapi secara militer. Sebagai ketua NU yang menjabat cukup lama, beliau bisa menenteramkan kegelisahan warga NU, kata Taufik.

Sedangkan, Sjafruddin di kenal sebagai presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatra Barat kala Presiden Soekarno dan Wakil Pre siden Mohammad Hatta ditawan Belanda dalam Agresi Militer Belanda II Desember 1948. Sebenarnya Sjafruddin pernah dua kali masuk dalam nominasi pahlawan nasional di tingkat pusat, namun gagal. Mungkin karena perannya memimpin Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada 1958, gerakan bersenjata di Sumatra dan Sulawesi yang memberontak terhadap Soekarno yang dinilai dekat dengan komunis.

Dukungan terhadap PRRI merupakan sikap resmi Masyumi, tempat Sjafruddin menjatuhkan pilihan politiknya. Setelah perlawanan PRRI berakhir, karier politik Sjafruddin tamat dan dia menghabiskan hari tuanya sebagai mubalig, bahkan me mimpin Korps Mubalig Indonesia.

Putra keempatnya, Farid Prawiranegara, mengatakan, penetapan ini adalah bukti peng akuan pemerintah terhadap langkah perjuangan ayahnya. Selama ini, kata Farid, generasi muda tidak mengerti apa yang dilakukan dan diperjuangkan Sjafruddin. Itu belum menjiwai mereka. Ini warisan pada anak-cucu yang mudah- mudahan bisa dilaksanakan asal mereka mengerti. antara ed: rahmad budi harto

Sjafruddin Prawiranegara
Lahir: Anyer Kidul, Serang, Banten, 28
Februari 1911
Wafat: Jakarta, 15 Februari 1989
Karier:
1945 Anggota Badan Pekerja KNIP
1945 Masuk Partai Masyumi.
1946 Menteri Keuangan
1947 Menteri Kemakmuran
Desember 1948 – 14 Juli 1949 Ketua/Presiden Pemerintah Darurat Republika
Indonesia merangkap Menteri Pertahanan dan Menteri Penerangan
1949 Wakil Perdana Menteri
1949-1950 Menteri Keuangan
1950-1951 Direktur De Javasche Bank
1951-1958 Gubernur Bank Indonesia
1958 Presiden Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)
1980an Menghabiskan masa tua menjadi Ketua Korps Mubalig Indonesia.

Idham Chalid
Lahir: Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921.
Wafat: Jakarta, 11 juli 2010.
Karier:
1950 Ketua Partai Masyumi Kalimantan Selatan
1949-1950 Anggota DPR RIS
1956-1984 Ketua NU
1966 Ketua Presidium Kabinet Ampera
1971-1977 Ketua MPR/DPR

Buya Hamka
Lahir: Maninjau, Sumatra
Barat, 17 Februari 1908
Wafat: Jakarta, 24 Juli 1981
Karier:
1925 Bergabung dengan Partai Sarekat Islam
1928 Ketua Cabang Muhammadiyah Padang Panjang
1931 Konsul Muhammadiyah di Makassar
1946 Ketua Muhammadiyah Sumatra Barat
1953 Penasihat PP Muhammadiyah
1955 Anggota Konstituante lewat Partai Masyumi
1977 Ketua Majelis Ulama Indonesia
1981 Mengundurkan diri dari jabatan Ketua MUI

Sri Susuhunan Pakubuwono X, Raja Surakarta
Lahir: Surakarta, 29 November 1866
Wafat: Surakarta, 1 Februari 1939

I Gusti Ketut Pudja, Anggota BPUPKI Gubernur Sunda Kecil
Lahir: Bali, 19 Mei 1908
Wafat: 4 Mei 1977

IJ Kasimo Hendrowahyono, Ketua Partai Politik
Katolik Indonesia
Lahir: Yogyakarta, 1900
Wafat: Jakarta, 1 Agustus 1986

Ki Sarmidi Mangunsarkoro, Tokoh Pendidikan
Lahir: Surakarta, 23 Mei 1904
Wafat: Yogyakarta, 8 Juni 1957

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s