Buku dalam Peradaban Islam (Republika, Minggu 04 Desember 2011)



Oleh Heri Ruslan

Pada era keemasan Islam, sarjana dan ulama menjadikan masjid sebagai tempat untuk menyusun buku.

Tradisi menulis dan menerbitkan buku telah dikembangkan peradaban Islam sejak abad ke-8 M. Penulisan dan penerbitan buku semakin gencar dilakukan para sarjana dan ulama setelah peradaban Islam berhasil menemukan teknologi pembuatan kertas dan tinta.

Jika dunia Barat baru mengenal pabrik kertas pada 1276 di Fabrino, Italia, dan seabad kemudian berdiri pabrik kertas di Nuremberg, Jerman, dunia Islam telah mengembangkan kertas sebagai bahan utama untuk memproduksi buku sejak 793 M. Percetakan kertas pertama di Baghdad didirikan pada 793 M, era Khalifah Harun al-Rasyid dari Daulah Abbasiyah. Setelah itu, pabrik-pabrik kertas segera bermunculan di Damaskus, Tiberia, Tripoli, Kairo, Fez, Sicilia Islam, Jativa, Valencia dan berbagai belahan dunia Islam lainnya.

“Pembuatan kertas telah menciptakan revolusi kultural,” papar Ahmad Y al-Hasan dan Donald R Hill dalam Islamic Technology: An Islamic History. Betapa tidak, sejak saat itulah produksi buku berkembang begitu pesat di dunia Islam.

Pada masa itu, buku terdapat di mana-mana. Tak cuma itu, profesi penjual buku pun menjamur. “Produksi kertas tak hanya memberi rangsangan luar biasa untuk menuntut ilmu, tetapi juga membuat harga buku semakin murah dan mudah diperoleh. Hasil akhirnya adalah revolusi budaya,” cetus Ziauddin Sardar dalam Distorted Imagination.

Penulisan dan penerbitan buku secara besar-besaran telah membuat kota-kota Muslim menjadi pusat peradaban. Masyarakat Muslim pun begitu gemar membaca buku. Hal itu menyebabkan permintaan buku menjadi sangat tinggi, bahkan di Kota Timbuktu, Mali, dan Afrika Barat sekalipun.

Setiap orang berlomba membeli dan mengoleksi buku. Sehingga, perdagangan buku menjanjikan keuntungan yang lebih besar dibanding bisnis lainnya. Pada abad ke-12, misalnya, buku menjadi tiga komunitas unggulan, setelah garam dan emas.

Proses penulisan dan penerbitan buku pada era kekhalifahan boleh dibilang sangat unik. Pada era itu, sarjana dan ulama menjadikan masjid sebagai tempat untuk menyusun buku. Sebelum sebuah buku diterbitkan, seorang penulis atau ilmuwan harus mempresentasikan isi bukunya kepada publik di masjid.

Sayangnya, perkembangan penerbitan buku di dunia Islam dimatikan secara sistematis oleh penjajah dari Eropa. Ketika teknologi cetak berkembang, ada semacam penolakan di dunia Islam. Hal itu menyebabkan perkembangan percetakan Islam tertinggal jauh dibandingkan dunia Barat yang telah memulainya sejak abad ke-17 M.

Percetakan buku-buku bertema agama Islam baru terjadi di dunia Islam pada paruh kedua abad ke-19 M. Geliat aktivitas percetakan Islam itu mulai terjadi pada Kesultanan Usmaniyah di Turki dan Iran.

Penerbitan dan percetakan buku di dunia Islam bertambah marak ketika mesin cetak litografis diperkenalkan pada 1850 M. Sehingga, percetakan dan penerbitan buku menjadi lebih murah. Pada masa itulah, di Iran, Turki, dan Mesir, penerbitan buku-buku bertema agama berkembang pesat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s