Masjid Al-Umari Bushrah, Saksi Tumbangnya Romawi di Suriah (Republika, Minggu 04 Desember 2011)


Konstruksi masjid ini menggunakan material dari puing-puing bangunan Romawi.

Di mana Islam berkibar, di situ masjid berdiri. Tak lama setelah pasukan tentara Islam di era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab berhasil menumbangkan dominasi Kekaisaran Romawi di kota Bushrah, Syam (kini Suriah), berdiri sebuah masjid di kota itu.

Masjid bersejarah yang terletak sekitar 140 km arah selatan dari Damaskus-ibu kota Suriah-itu bernama Masjid Al-Umari. Masjid tersebut merupakan satu dari beberapa masjid tertua dalam sejarah Islam yang masih bertahan hingga saat ini.

Masjid Al-Umari pertama kali dibangun pada era kepemimpinan Umar bin Khattab (586/590-644). Pembangunan masjid itu barus selesai pada 720 M oleh khalifah dari Bani Umayyah, Yazid bin Abdul Malik (687-724), yang berkuasa sejak 720 M hingga wafat.

Soal asal mula nama masjid itu, para sejarawan tak bisa memastikannya. Bisa jadi, nama masjid itu diambil dari Umar bin Khattab. Namun, bisa pula dari khalifah Umayyah bernama Umar II yang berkuasa pada 717-720 M.

Masjid ini terbilang unik. Betapa tidak, bangunan rumah ibadah kaum Muslim itu dibangun dengan batu-batu serta tiang-tiang dari puing beberapa bangunan Romawi di Kota Busra, termasuk dari puing kuil kafir yang lebih dahulu ada di kota itu. Karena itu, di sekitar Masjid Al-Umari sekarang dapat ditemukan sejumlah bangunan kuno yang menyisakan puing-puing reruntuhan.

Ketika Amir Ayyubiyah, Nashiruddin Usman bin Ali, berkuasa, masjid itu mengalami renovasi dan perluasan pada 1253 M. Proses renovasi tersebut menyertakan pembangunan sebuah menara masjid berbentuk prisma persegi setinggi 25 meter di sudut selatan bangunan masjid.

Selain merenovasi Masjid Al-Umari, Dinasti Ayyubiyah juga melakukan pembentengan bangunan teater dan pemandian Romawi di sekitar lokasi Masjid Al-Umari. Seiring waktu, Masjid Al-Umari ditinggalkan sehingga tidak terawat dan runtuh di beberapa bagiannya.

Baru pada 1938, masjid tersebut dibuka kembali sebagai tempat shalat setelah mengalami tiga fase restorasi atau pemulihan. Selama beberapa lama, masjid ini menjadi satu-satunya masjid di Busra. Kini masjid yang memiliki nama lain Jami’ al-Arus itu menjadi masjid utama Busra sekaligus madrasah bagi anak-anak.

Di sepanjang bagian depan bangunan masjid, tempat sebuah pintu masuk berada, terdapat serangkaian tiang-tiang ionik (tiang dengan ukuran ramping dan memiliki hiasan berupa lengkungan-lengkungan spiral) yang menopang sudut-sudut lengkungan dindingnya. Konstruksi dinding masjid ini menggunakan susunan batu yang dipotong menyerupai bentuk batu bata, yang diambil dari puing reruntuhan di sekitarnya.

Pun bagian interiornya juga menampilkan material daur ulang. Meski demikian, interior Masjid Al-Umari menghadirkan suasana yang tenteram serta ruang lapang yang indah. Dalam laman virtualtourist.com dijelaskan bahwa bagian utama masjid yang berfungsi sebagai ruang shalat utama adalah sebuah halaman persegi.

Halaman ini dikelilingi tiang-tiang yang menyangga sudut-sudut lengkungan dinding pembatas ruang utama dengan koridor di sekelilingnya. Koridor tersebut masing-masing berjumlah satu buah di sisi timur dan baratnya. Sementara dua koridor lainnya berada di sebelah selatan dengan ujung yang mengarah ke ruang shalat utama.

Halaman tersebut mulanya digunakan sebagai pasar dan tempat tidur para kafilah yang sedang melakukan perjalanan perdagangan melalui Suriah. Dengan demikian, masjid itu dulunya menjadi semacam rest area, terutama pada momen haji ketika para peziarah melakukan perjalanan menuju Makkah.

Menara persegi yang memperlengkap bangunan Masjid Al-Umari merupakan percontohan awal arsitektur menara Umayyah, namun bagian atasnya menampilkan pengaruh Ayyubiyah. Bentuk menara seperti pada Masjid Al-Umari banyak ditemukan pada masjid-masjid penting peninggalan Umayyah lainnya di Damaskus dan Aleppo (dua kota terbesar di Suriah).  Tiang-tiang beraneka ukuran itu di antaranya terbuat dari batuan basal dan marmer. Sebagian dipasang dalam tahap pembangunan awal dan sebagian lainnya pada tahap restorasi.

Di sisi barat terdapat sebuah pintu lain yang menjadi akses menuju ruang utama masjid. Sementara itu, di dinding utara masjid terlihat beberapa bagian yang terbuat dari batuan basal daur ulang diletakkan secara horizontal pada pahatan batu sebagai penguat. Pola konstruksi ini diperkirakan dibuat saat perluasan masjid pada abad ke-13.

Hingga saat ini, dinding bagian luar masjid masih terpelihara, menaranya masih utuh, dan beberapa tiang di bagian interiornya masih berdiri. Rencana konstruksinya sebenarnya berbentuk persegi dengan panjang sisi sekitar 34 meter. Namun, dinding-dinding Masjid Al-Umari memiliki panjang yang tidak merata sehingga menghasilkan sudut-sudut yang tidak sama besar.

Kebanyakan tiang koridornya merupakan bentuk klasik dengan motif berbeda-beda di bagian atasnya, yang memperkuat konsep daur ulang pada proses pembangunannya. Tiang-tiang itu diperkirakan diambil dari bangunan teater Romawi yang berada tidak jauh dari lokasi masjid.Tiang-tiang itu berukuran pendek dan tidak biasa. Ketinggiannya tertolong oleh susunan batu yang membentuk tembok melengkung yang menghubungkan tiang-tiang tersebut.

Saat dilakukan penggalian pada jalan utama di sisi utara dan selatan masjid, tersingkap serangkaian lengkungan dari susunan bata yang masih dapat dilihat hingga sekarang. Lengkungan-lengkungan itu diperkirakan sebagai peninggalan sebuah kuil Romawi, dan Masjid Al-Umari dibangun di atas kuil kuno tersebut.

Di bagian interior masjid, tiang-tiang dan lengkungan dinding diatur sedemikian rupa untuk menopang atap dari asbes bergelombang yang menaungi ruangan utama. Atap tersebut dipasang di atas penyangga batu yang berjumlah dua buah di setiap sisi bangunan.  Dengan begitu, atap tidak langsung bersinggungan dengan dinding keempat sisi bangunan dan memberikan ruang lapang selebar hampir satu meter yang menjadi akses ventilasi serta cahaya dari luar.

Kombinasi antara tembok antarjendela yang rendah dan tiang yang tinggi, di mana lengkungan besar bertemu dengan lengkungan-lengkungan kecil di kedua sisinya, menjadi salah satu bagian dari desain masjid yang menarik. Di sebelah selatan dan utara koridor terdapat koridor dengan desain serupa namun memiliki lengkungan-lengkungan yang sedikit runcng serta tiang-tiang yang terbuat dari basal.

Sayangnya, koridor di sebelah selatan menghalangi jendela-jendela yang ada di dinding bagian selatan. Sedangkan, koridor di sebelah utara telah runtuh dan hanya menyisakan puing.  c15/berbagai sumber, ed: heri ruslan


Penaklukan Suriah dan Kepemimpinan Umar

Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, khilafah Islam berhasil menaklukkan seluruh wilayah Suriah. Wilayah pertama yang takluk adalah Damaskus pada 635 M. Sedangkan, penaklukan kedua berhasil membuat Yerusalem berlutut di hadapan kepemimpinan Islam.

Kedua penaklukan tersebut dicapai dengan pertempuran yang dipimpin panglima Khalid bin Walid. Saat Damaskus menyerah, penduduknya memperoleh jaminan keamanan dalam hal harta, nyawa, bahkan tempat ibadah mereka (gereja) dengan syarat mereka membayar upeti atau jizyah.

Ketika Kaisar Romawi, Heraklius, mengetahui kemenangan pasukan Islam, ia mengerahkan empat pasukan besar untuk menghadapi mereka. Di tempat terpisah, laskar Islam menghadapi kesulitan yang berat sehingga para panglimanya bermusyawarah untuk mencari jalan keluar.

Dalam musyawarah tersebut, Amru bin al-‘Ash mengusulkan agar pasukan Islam berkumpul di suatu tempat untuk menghadapi perlawanan Romawi secara bersama-sama di bawah pimpinan Khalid bin Walid. Tempat yang dimaksud adalah tepi Sungai Yarmuk (anak Sungai Sei, Yordania) yang bernama Wakusah.

Pendapat tersebut disetujui oleh Umar. Maka, berkumpullah 40 ribu pasukan Islam di Wakusah guna menghadapi Romawi. Pertempuran berlangsung hebat karena pasukan Romawi yang berjumlah enam kali lebih banyak dari pasukan Islam. Meski demikian, pertempuran berakhir dengan kekalahan Romawi pada 636 M.

Pasukan Islam akhirnya berhasil merebut kembali wilayah Damaskus dan Yerusalem pada 640 M, yang sekaligus menjadi momen berakhirnya penaklukan Suriah secara total. Khalifah Umar kemudian membagi Suriah menjadi empat distrik, yakni Damaskus, Hims, Yordania, dan Palestina. Ia memerintahkan seluruh tentara Islam agar tetap tinggal di barak-barak militer sehingga kehidupan masyarakat lokal tidak terganggu.

Setelah itu, banyak di antara masyarakat yang telah lama menetap di Suriah beralih memeluk Islam. Mereka terdiri atas berbagai suku Arab dan juga suku Ghassan. Umar juga memberlakukan toleransi beragama sehingga menciptakan citra positif Islam di mata umat Kristen dan Yahudi mengingat mereka kerap dianiaya pada masa kekuasaan Romawi.

 Pemungutan jizyah secara berlebihan dan dengan pemaksaan dihindari, petani diminta membayar zakat dengan penyesuaian terhadap hasil panen mereka. Hal-hal tersebut diyakini menjadi faktor penting suksesnya pemerintahan Islam menata wilayah kekuasaannya.

Setelah Islam berhasil menaklukkan Suriah yang terletak di wilayah barat, pasukan Islam dapat memfokuskan diri untuk penaklukan ke wilayah Timur, yakni Kekaisaran Sassaniyah Persia. Setelah Sassaniyah takluk, pasukan Islam menargetkan penaklukan Provinsi Bizantium, Aegiptus.c15/berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s