Percetakan Islam pada Era Modern (Republika, 4 Desember 2011)


Oleh Heri Ruslan

Percetakan Islam mulai dikembangkan di Timur Tengah oleh Ibrahim Muteferrika (1674-1754 M). 

Dunia penerbitan Islam memang telah berkembang dari abad pertengahan. Saat itu, manuskrip atau buku ditulis dengan tangan. Ketika zaman telah memasuki abad ke-18 M, penerbitan buku mulai berubah seiring berkembangnya teknologi percetakan.

Sayangnya, dunia Islam mengalami keterlambatan dalam penggunaan teknologi percetakan. John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford mengungkapkan, salah satu alasan terlambatnya perkembangan percetakan di dunia Islam karena adanya penolakan dari kalangan pemuka agama.

Percetakan Islam mulai dikembangkan di Timur Tengah oleh Ibrahim Muteferrika (1674-1754 M). Selama lebih dari 10 tahun, Ibrahim mencoba meyakinkan Kesultanan Usmaniyah atau Turki Usmani dan para syekhnya agar tak menolak kehadiran percetakan Islam.

Ibrahim meyakinkan bahwa penggunaan mesin cetak tak berbahaya bagi budaya Islam. Menurut dia, penggunaan mesin cetak untuk menerbitkan buku dan risalah justru dapat mendorong kemajuan Kesultanan Turki Usmani dalam menghadapi kekuatan Eropa.

“Percetakan sangat bermanfaat dalam penyebaran ilmu di kalangan kaum Muslim,” tutur Ibrahim dalam sebuah risalah yang ditulisnya dan dicetak pada 1726 M. Dengan hadirnya percetakan, kata dia, harga buku menjadi lebih murah, lebih mudah penyebarannya, serta lebih awet dan mudah dibaca.

Upaya Ibrahim untuk meyakinkan Kesultanan Usmaniyah dan para syekhnya itu akhirnya membuahkan hasil. “Sultan Usmaniyah mengambil langkah untuk memperkenalkan manfaat percetakan itu kepada kaum Muslimin sekaligus membersihkan naskah-naskah menyimpang yang dicetak di Eropa,” ungkap Esposito.

Namun, tak semua buku bisa dicetak menggunakan mesin. Kitab Suci Alquran, hadis, dan kitab-kitab fikih tak diizinkan dicetak, tetapi harus tetap ditulis dengan tangan. Esposito berpendapat, larangan itu berdampak pada perkembangan usaha percetakan dan penerbitan Islam selama lebih dari satu abad.

Para syekh dan ulama ketika itu menganggap percetakan masih belum diperlukan. “Mereka menganggap khotbah Jumat, madrasah, dan naskah-naskah yang ditulis tangan cukup mampu melestarikan ilmu-ilmu yang dikaji dan membentuk wacana kesalehan,” papar guru besar Studi Islam pada Georgetown University, Washington DC, Amerika Serikat, ini.

Lalu, sejak kapan percetakan karya-karya bertema Islam mulai berkembang? Percetakan buku-buku bertema agama Islam baru terjadi pada paruh kedua abad ke-19 M. Geliat aktivitas percetakan Islam itu mulai terjadi di Kesultanan Usmaniyah di Turki dan Iran. Bahasa Arab, Persia, dan Turki menjadi bahasa utama yang digunakan dalam mencetak buku-buku keislaman.

Menurut Esposito, fenomena serupa juga terjadi di Mesir. Di Negeri Piramida itu, percetakan lebih fokus dalam mencetak karya-karya bertema teknik modern. “Karya bertema sejarah dan sastra juga dicetak,” kata Esposito.

Pada 1822 M, Muhammad Ali Pasha (1770-1849) mendirikan percetakan Bulaq. Lewat percetakannya itu, ia tak lagi bergantung kepada Istanbul, cenderung praktis, dan tak berorientasi teologis. Ali Pasha menggunakan teknologi percetakan untuk membangun sebuah negara yang modern agar mampu menghadapi kekuatan Eropa serta sultan.

Percetakan Bulaq tak mencetak buku bertema Islam. Hanya karya-karya yang berorientasi nilai-nilai praktis saja yang dicetak di penerbitan yang berjaya selama 18 tahun dari 1822-1840 M itu.

Fenomena yang lebih menarik muncul di Iran. Di negeri para Mullah itu, percetakan buku-buku keislaman berlangsung lebih awal dibandingkan di Turki dan Mesir. Menurut sejumlah sarjana, percetakan buku di Iran sudah dimulai sejak 1812 M.

“Ada bukti bahwa seseorang yang bernama Manuchihr Khan sudah mencetak buku-buku keislaman di Teheran pada 1820-an,” ungkap Esposito. Selain itu, ada pula buku panduan shalat dan ritual berjudul Zad Al-Ma’ad karya Muhammad Baqir al-Majlisi, pemimpin Syiah abad ke-17 yang produktif, dicetak sebanyak 20 kali selama abad ke-19 di Tabriz dan Teheran, Irak, serta di Lucknow, India.

Meski begitu, industri penerbitan buku di Iran dinilai berkembang sangat lamban. Bahkan, penerbitan buku baru mulai bergerak setelah berdirinya sekolah pertama yang memakai kurikulum Eropa, Dar Al-Funub, pada 1851. Penerbitan dan percetakan buku di dunia Islam bertambah marak ketika mesin cetak litografis diperkenalkan pada 1850 M. Sehingga, percetakan dan penerbitan buku menjadi lebih murah. Pada masa itulah, di Iran, Turki, dan Mesir, penerbitan buku-buku bertema agama berkembang pesat.

“Percetakan-percetakan yang ada pada saat itu mencetak buku-buku bertema agama dengan format yang sederhana,” papar Esposito. Tak heran jika kemudian buku-buku agama itu laris di pasaran. Sedangkan, buku-buku tebal dan besar yang diterbitkan pemerintah hanya dicari untuk koleksi perpustakaan.

Penerbitan modern di dunia Islam muncul dan berkembang berkat keinginan kaum Muslim untuk menyiarkan agama. Ketika itu, ada sebuah kesadaran bahwa pengetahuan dan praktik agama umat sangat lemah.

Terlebih pada saat itu, buku-buku bertema dakwah sangat sedikit. Yusuf al-Bustani, seorang pemilik toko buku terkemuka di Kairo, pada katalog 1934 membuktikan fakta tersebut. Saat itu, yang banyak terbit adalah buku-buku cetak ulang dari karya-karya klasik dalam ilmu-ilmu Islam.

Seiring waktu, dunia penerbitan Islam berkembang semakin pesat. Buku-buku karya klasik dan bertema dakwah mulai dicetak secara besar-besaran. Penerbit-penerbit di Beirut mulai menggunakan teknologi percetakan yang lebih canggih. Kini, di setiap negara Muslim banyak terdapat penerbit Islam yang menerbitkan buku-buku klasik dan bertema dakwah.
Bahkan, di Indonesia, saat ini, penerbit Islam tumbuh dengan begitu pesat.


Kertas Penopang Industri Buku

Oleh Heri Ruslan

Kertas adalah bahan utama yang dibutuhkan untuk penulisan buku pada era keemasan Islam. Berkembangnya industri buku pada zaman itu sangat ditopang oleh bahan tersebut. Teknologi industri kertas mulai berkembang pesat di dunia Islam setelah terjadinya Pertempuran Talas pada 751 M. Kaum Muslim berhasil menawan orang Cina yang ulung membuat kertas. “Para tahanan itu segera diberi fasilitas untuk memperlihatkan keterampilan mereka,” papar Ziauddin Sardar dalam Kembali ke Masa Depan.

Sayangnya, proses pembuatan kertas yang diperkenalkan orang-orang Cina itu tak bisa dilanjutkan lantaran tak ada kulit pohon murbei di negeri Islam. Para sarjana Muslim pun memutar otak. Sebuah terobosan spektakuler akhirnya tercipta. Mereka memperkenalkan penemuan baru dan inovasi yang mengubah keterampilan membuat kertas menjadi sebuah industri. Kulit pohon murbei diganti dengan pohon linen, kapas, dan serat.

Selain itu, para sarjana Islam pun memperkenalkan bambu yang digunakan untuk mengeringkan lembaran kertas basah dan memindahkan kertas ketika masih lembap. Inovasi lainnnya proses fermentasi untuk mempercepat pemotongan linen dan serat dengan menambahkan pemutih atau bahan kimiawi lainnya.

Proses pembuatan kertas juga menggunakan palu penempa besar untuk menggiling bahan-bahan yang akan dihaluskan. Awalnya, proses ini melibatkan para pekerja ahli. Namun, seiring ditemukannya kincir air di Jativa, Spanyol, pada 1151, palu penempa tak lagi digerakkan tenaga manusia. Sejak itu, penggilingan bahan-bahan menggunakan tenaga air.

Tak lama kemudian, orang-orang Muslim memperkenalkan proses pemotongan kertas dengan kanji gandum. Proses ini mampu menghasilkan permukaan kertas yang cocok untuk ditulis dengan tinta. Sejak saat itu, industri kertas menyebar dengan cepat ke negeri-negeri Muslim.

Percetakan kertas pertama di Baghdad didirikan pada 793 M, era Khalifah Harun al-Rasyid dari Daulah Abbasiyah. Setelah itu, pabrik-pabrik kertas segera bermunculan di Damaskus, Tiberia, Tripoli, Kairo, Fez, Sicilia Islam, Jativa, Valencia, dan berbagai belahan dunia Islam lainnya.

Wazir Dinasti Abbasiyah Ja’far Ibnu Yahya mulai mengganti perkamen dengan kertas di kantor-kantor pemerintahan. Pada abad ke-10, berdiri pabrik kertas yang mengapung di Sungai Tigris. Kertas pun begitu populer di dunia Islam dari India sampai Spanyol.

Karena sangat populernya kertas, seorang petualang Persia pada 1040 mencatat, di Kairo, “Para pedagang sayuran dan rempah-rempah sudah menggunakan kertas untuk membungkus semua dagangannya.” Padahal, pada saat itu, Eropa sama sekali belum mengenal kertas. Eropa yang tengah dicengkeram kegelapan masih memakai parkemen.

Asal Mula Tinta di Dunia Islam

Oleh Heri Ruslan

Tinta dan zat warna merupakan bahan yang sangat penting untuk menopang aktivitas keilmuan dan seni. Karena itulah, umat Muslim pada zaman kekhalifahan memberi perhatian khusus terhadap ketersediaan tinta dan zat warna.

Perkembangan industri tinta dan zat warna direkam secara khusus oleh al-Muzz Ibnu Badis (wafat 416 H/1025 H) dalam bukunya bertajuk Umdat Al-Kuttab (Keahlian Menulis dan Peralatan Orang-Orang Arif).

Will Kwiatkowski dalam bukunya berjudul Ink and Gold: Islamic Calligraphy menuturkan, produksi tinta di dunia Islam telah dimulai 1.000 tahun yang lalu. Pada masa itu, tinta digunakan untuk menulis kaligrafi.

Produksi tinta sama pesatnya dengan pencapaian dunia Islam di bidang seni kaligrafi. Produksi tinta berkembang di setiap kekhalifahan, seperti Abbasiyah (749-1258), Seljuk (1055-1243), Safawiyah (1520-1736), dan Mughal (1526-1857).

Ahmad Y al-Hassan dan Donald R Hill dalam bukunya bertajuk Islamic Technology: An Ilustrated History mengungkapkan, pada era kejayaannya, peradaban Muslim telah mampu memproduksi tinta hitam. Pada masa itu, terdapat dua tipe utama tinta permanen. Pertama, tinta permanen yang dihasilkan dari partikel-partikel halus karbon, kedua tinta hitam yang berasal dari besi tanat.

Dalam bukunya berjudul Keahlian Menulis dan Peralatan Orang-Orang Arif, Ibnu Badis juga mengungkapkan keberhasilan umat Islam dalam memproduksi tinta berwarna, cat minyak, dan pernis. Zat warna seperti ini digunakan dengan pena atau sikat dan digunakan untuk menulis, melukis miniatur pada kertas, kulit, kayu, dan permukaan-permukaan lain.

Ibnu Badis, seperti dikutip al-Hassan dan Hill, memaparkan, pewarna hitam berasal dari karbon yang diperoleh dari jelaga lampu atau arang khusus seperti yang diterangkan sebelumnya. “Pewarna putih dihasilkan dari timah (isfidaj), bahkan terkadang dicampur dengan putih tulang,” paparnya.

Lalu, bagaimana dengan pewarna merah? Menurut al-Hassan dan Hill, pewarna merah yang ditemukan dunia Islam terdapat dalam berbagai nuansa. Unsur pokoknya adalah cinabar (zanifar), kristal merkuri sulfida dan timah merah (isribj), kadang juga digunakan lempung batu besi yang mengandung lapisan merah.

Menurut al-Hassan dan Hill, pewarna biru didapat dari mineral lapis lazuli. Selain itu, azurit (suatu bentuk tembaga karbonat) dan indigo juga digunakan sebagai pewarna biru. Pewarna hijau diperoleh dari verdigris tembaga karbonat basa (zinjar) dan dari mineral malasit. Untuk nuansa hijau yang lain, termasuk warna tanaman, dibuat dengan mencampur berbagai zat warna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s