Hikmah di Balik Sakit yang Mendera


“Seandainya kita berusaha menggali hikmah yang terkandung dalam ciptaan dan perintah-Nya, niscaya akan kita temukan lebih dari 10.000 hikmah. Ini pun berdasarkan pengetahuan dan akal kita yang sangat terbatas dibandingkan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Padahal pengetahuan seluruh makhluk di dunia ini dibandingkan dengan ilmu Allah saja masih lebih rendah daripada perbandingan antara cahaya lampu yang redup dan cahaya matahari. Seperti itulah gambarannya; dan sungguh, hikmah Allah melebihi semua itu.” (Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam Syifa’ul Alil)

 Sakit, secara khusus, mengandung banyak manfaat dan hikmah. Ibnul Qayyim sendiri mengaku pernah mencoba menghitungnya, dan ternyata ditemukan lebih dari seratus manfaat di balik sakit. (Syifa’ul Alil, Ibnul Qayyim)

Syaikh Abdullah bin ‘Ali al-Ju’aitsin dalam Tuhfatul Maridh menyebutkan sembilan manfaat dan hikmah dan diperoleh dari sakit:

1.    Sabar sebagai konsekuensi menghadapi kesusahan dan kesulitan

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk-Nya untuk diuji. Hal itu tidak lain agar di antara mereka ada yang menghadapi ujian kesenangan dengan bersyukur, dan ujian kesusahan dengan bersabar. Allah menyempurnakan ujian-Nya dengan membolak-balikkan keadaan-keadaan yang dihadapi seorang hamba, kadang diberi kesenangan dan kadang diberi kesedihan. Dengan demikian, tampaklah dengan jelas sikap ‘ubudiyah (penghambaan) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jika seorang hamba benar-benar beriman, maka segala urusannya merupakan kebaikan. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur dan ketika kesusahan, ia bersabar. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

((عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.))

“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya. Dan jika mendapat kesusahan, dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim, dari Shuhaib bin Sinan)

2.    Menghapus dosa dan kesalahan

Saudaraku, sakit yang Anda derita merupakan sebab dihapuskannya dosa-dosa, baik itu dosa hati, telinga, mata, lidah dan anggota tubuh lainnya. Sebab sakit terkadang sebagai hukuman atas dosa yang pernah dilakukan seorang hamba. Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuura: 30)

Dipercepatkannya hukuman bagi seorang mukmin di dunia justru baik baginya, sehingga dengan itu Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dan ia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan bersih dan selamat.

            Hadits-hadits yang menjelaskan pengampunan dosa karena adanya musibah dan penyakit sangat banyak, di antaranya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ، فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ، كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا»

“Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu penyakit atau sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya, seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim. Lafazh ini adalah lafazh Muslim)

3.    Dicatat sebagai kebaikan dan mengangkat derajat

Di antara faidah sakit adalah jika seorang hamba bersabar, ia akan diberi pahala dengan dituliskan kebaikan dan diangkat derajatnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً، فَمَا فَوْقَهَا إِلا كُتِبَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ»

“Tidaklah seorang Muslim yang tertusuk duri atau tertimpa bencana yang lebih dari itu, melainkan akan dicatat baginya dengan bencana tersebut satu derajat, serta akan dihapuskan darinya satu dosa kesalahan.” (HR. Muslim)

Adakalanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiapkan kedudukan yang tinggi bagi seorang hamba, namun hamba itu tidak memiliki amalan yang layak mengantarkannya kepada kedudukan tersebut. Lalu Allah mengujinya dengan sesuatu yang tidak disukainya, sehingga dia pun layak mendapatkan kedudukan itu dan sampai kepadanya.

«إِنَّ الرَّجُلَ لِيَكُونُ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ الْمَنْزِلَةُ، فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ فَمَا يَزَالُ اللَّهُ يَبْتَلِيهِ بِمَا يَكْرَهُ، حَتَّى يُبَلِّغَهُ إِيَّاهَا»

“Sesungguhnya seseorang benar-benar memiliki kedudukan di sisi Allah, namun tidak ada satu amal yang bisa menghantarkannya ke sana. Maka Allah senantiasa mencobanya dengan sesuatu yang tidak disukainya, sehingga dia bisa sampai pada kedudukan yang dikehendaki Allah.” (HR. Abu Ya’la. Syaikh al-Albani berkata dalam Shahihul Jami’, “Hadits hasan.”)

4.    Sebagai penyebab masuk surga

Surga tidak bisa diperoleh melainkan dengan sesuatu yang tidak disukai jiwa manusia, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

«حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ»

“Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai dan Neraka itu dikelilingi dengan berbagai macam syahwat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim. Lafazh ini milik Muslim)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan balasan berupa pahala bagi setiap hamba yang bersabar pada saat pertama musibah datang menimpanya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits qudsi, Allah berfirman:

«ابْنَ آدَمَ إِنْ صَبَرْتَ وَاحْتَسَبْتَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى، لَمْ أَرْضَ لَكَ ثَوَابًا دُونَ الْجَنَّةِ»

“Hai anak cucu Adam, jika kamu bersabar dan hanya mengharapkan pahala dari-Ku saat pertama kali terkena musibah, maka Aku tidak akan ridha memberikanmu balasan kecuali Surga.” (HR. Ibnu Majah. Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah berkata, “Hadits ini hasan.”)

5.    Menyelamatkan dari api Neraka

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

«الْحُمَّى حَظُّ الْمُؤْمِنِ مِنَ النَّارِ»

“Demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka.” (HR. al-Bazzar, shahih. Lihat Majma’uz Zawaa’id dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahiihah)

6.    Mengembalikan hamba kepada Rabb-nya

Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (QS. Al-An’aam: 42)

“Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raaf: 168)

Wahab bin Munabbih Rahimahullah berkata, “Ujian diturunkan agar doa dipanjatkan.” (Asy-Syukr, Ibnu Abid Dunya)

7.    Mengingatkan nikmat yang lalu dan yang akan datang

Di antara faidah penyakit adalah mengingat nikmat dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu. Betapa banyak nikmat yang diberikan Allah kepadamu dan betapa banyak malapetaka yang dihindarkan darimu. Betapa tidak terhitung nikmat yang Allah curahkan kepadamu ketika sehat. Namun Anda malah melupakan-Nya karena terlena dan bergelimang dalam kenikmatan tersebut. Lalu ketika Anda dibelenggu suatu penyakit dan menjadi lemah karena berbagai musibah yang menimpa, barulah Anda sadar akan nikmat yang dirasakan sebelum sakit.

Seorang penyair berkata,

“Seseorang tidak mengenal betapa berharganya sehat

Apabila dia belum pernah mengalami sakit

8.    Mengingatkan kepada sesama saudara yang sakit

Tenggelamnya seseorang dalam aktivitas sehari-hari, ditambah kesibukannya mengejar dunia dan kondisinya yang sehat, membuat dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan saudara-saudaranya yang sedang sakit, apalagi melaksanakan apa yang menjadi hak mereka.

Oleh karena itu, di antara hikmah Allah adalah kadang-kadang Dia menguji seorang mukmin dengan sakit agar ingat akan keadaan saudara-saudaranya yang sedang sakit, yang selama ini dia lalaikan tatkala dia dalam keadaan sehat. Sehingga dengan begitu dia merasa terketuk untuk memenuhi hak-haknya, seperti mengunjungi, membantu keperluannya, meringankan musibah yang menimpanya, menghiburnya, membantu mencarikan cara penyembuhannya, serta mendoakannya agar segera sehat dan lain-lain.

9.    Membersihkan hati dari berbagai penyakit

Kesehatan terkadang menjadikan seseorang bersikap angkuh, sombong dan lupa diri. Hal ini dikarenakan dia bisa bersemangat, merasa berfisik kuat, dan jauh dari kegundahan pikiran. Apabila orang seperti ini diuji dengan sakit, niscaya kesombongannya hancur dan hatinya yang keras menjadi lembut.

Dia juga berkesempatan untuk membersihkan diri dari akhlak yang tercela seperti sombong, ujub dan dengki. Kemudian semua penyakit hati tersebut tergantikan oleh sikap tunduk kepada Allah dan tawadhu’ terhadap hamba-hambaNya.

Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam Syifa’ul ‘Alil menjelaskan, “Manfaat yang diperoleh hati dan ruh seseorang dari rasa sakit atau suatu penyakit hanya bisa bisa dirasakan oleh orang yang berhati hidup. Oleh karena itu, kesehatan hati dan ruh sangat berkait dengan sakit yang menimpa anggota badan beserta kepayahan yang dialaminya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s