Renungan Pasca Ramadhan


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Saudaraku seiman, bulan Ramadhan yang penuh dengan keutamaan telah meninggalkan kita. Berbagai amal kebaikan telah kita kerjakan, baik itu puasa Ramadhan, shalat Tarawih, membaca al-Quran dan selainnya. Menjadi pertanyaan bagi kita sekarang, akankah kita tetap beramal sholeh selepas Ramadhan? Ataukah kita malah menjadi hamba Allah di bulan Ramadhan saja?

Hakikat Id

Hasan al-Bashri mengungkapkan tentang hakikat Id:

كُلُّ يَوْمٍ لاَ يُعْصَى اللهُ فِيْهِ فَهُوَ عِيْدٌ، كُلُّ يَوْمٍ يَقْطَعُهُ المُؤْمِن في طَاعَة مَوْلاَهُ وَذكره وشُكْره فَهُوَ لَهُ عِيْدٌ.

“Setiap hari yang tidak dilakukan kemaksiatan kepada Allah padanya, maka hari itu adalah hari Id. Setiap hari yang dijalani seorang mukmin dengan ketaatan, zikir, dan syukur kepada Allah, maka hari itu adalah hari Id untuknya.” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaa’iful Ma’aarif, hlm. 485)

Maka, setiap hari yang seorang hamba dalam keadaan tidak bermaksiat dan mengisi dengan ketaatan kepada Allah, itulah hakikat Id sebenarnya.

Jadilah Hamba Allah yang Rabbani, Bukan Ramadhani

Saudaraku seiman, para ulama telah mewasiatkan agar kita menjadi hamba-hamba Allah di sepanjang tahun (Rabbani) dan mewanti-wanti kita agar tidak menjadi hamba-hamba Allah di bulan Ramadhan saja (Ramadhani). Jadilah hamba yang Robbani, yaitu hamba Allah yang senantiasa beramal sholeh seperti yang tertuang dalam firman-Nya:

{وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ} [الحجر: 99]

“Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

Janganlah pula kita seperti permisalan yang disebutkan dalam al-Quran,

{وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا} [النحل: 92]

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…” (QS. An-Nahl: 92)

Syaikh Muhammad Husain Ya’qub mengatakan, “Apakah Anda pernah melihat seorang wanita yang memintal benang, ia sibuk dengan usahanya untuk memintal benang tersebut hingga menjadi pakaian. Akan tetapi, begitu menyelesaikannya, dia lantas menguraikannya kembali. Dia membuat pakaiannya kembali menjadi benang-benang seperti semula. Apakah ini dilakukan oleh orang yang berakal sehat?”

Beliau kembali menambahkan, “Demikian keadaan Anda; ketika sebelumnya Anda mengerjakan shalat malam 11 rakaat setiap hari pada bulan Ramadhan, sekarang Anda meninggalkan semua itu dan tidak mengerjakan shalat malam lagi, walaupun hanya empat rakaat. Lantas di mana pengaruh shalat malam pada diri Anda bila demikian?” (Muhammad Husain Ya’qub, Powerful Ramadhan, hlm. 324)

Menjaga Amal Sholeh Pasca Ramadhan

Tiga amal utama selama Ramadhan, yaitu puasa wajib, sholat Tarawih dan tilawah al-Quran hendaklah tetap kita jaga keistiqomahannya. Janganlah kita meninggalkan amal-amal tersebut begitu saja.

  1. Menjaga Puasa Sunnah

Selepas Ramadhan, disunnahkan untuk berpuasa enam hari di bulan Syawwal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“من صام رمضان ثم أتبعه سِتًا من شوال؛ كان كصيام الدهر”

“Siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka itu seperti puasa satu tahun.” (HR. Muslim)

Begitu pula terdapat puasa-puasa sunah yang lain seperti puasa Senin-Kamis, puasa Daud, puasa ayyamul bidh dan puasa-puasa yang lain.

  1. Qiyamullail

Kebiasaan shalat malam 11 rakaat selama Ramadhan hendaklah kita lazimkan. Janganlah menjadi hamba Allah yang dulunya menjaga shalat malam kemudian meninggalkan begitu saja. ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku:

ياَ عَبْـدَ اللهِ لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ.

‘Wahai ‘Abdullah, janganlah kamu seperti si Fulan, dahulunya ia suka melakukan shalat Tahajjud, lalu tidak melakukannya lagi.” (HR. Al-Bukhari)

  1. Tilawah al-Quran

Kebiasaan tilawah al-Quran selama bulan Ramadhan merupakan perkara yang patut kita syukuri. Bentuk syukur kita yang tepat adalah menjaga kebiasaan tilawah tersebut di bulan Ramadhan, minimal tiap harinya satu juz al-Quran.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memudahkan kita dalam ketaatan kepada-Nya. Allahumma amin.

Referensi:

Ibnu Rajab al-Hanbali. Lathaa-iful Ma’aarif. Damaskus: Daar Ibn Katsir, cet. V – 1999.

Muhammad Husain Ya’qub. Powerful Ramadhan. Judul asli “Asrarul Muhibbin di Ramadhan”. Terjemahan oleh Muhammad Muhtadi. Surakarta: Insan Kamil, 2008.

 @MSI

Malang, 5 Syawwal 1435 H / 1 Agustus 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s