Jadwal Harian untuk Orang yang Tekun


Jadwal Harian untuk Orang yang Tekun[1]

Oleh Husain Muhammad Syamir

Sesungguhnya penolong yang paling besar setelah petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar dapat tekun dan kontinyu melakukan kesungguhan berbuat baik adalah membuat program dan jadwal aktivitas kehidupan. Kita adalah umat yang aktif bekerja tidak mengenal kemalasan, bekerja dengan penuh disiplin tanpa sikap asal-asalan, bekerja berdasarkan perencanaan yang matang dan teliti, tidak ada tempat untuk melakukan sesuatu yang sia-sia di dalam kehidupan ini.

Kita dapatkan shalat lima waktu benar-benar terinci waktu dan aturannya, setiap shalat memiliki waktu yang telah ditetapkan hingga seandainya shalat dilakukan sebelum waktunya maka shalat itu batal, seandainya dilakukan setelah habis waktunya tanpa udzur maka batal pula, dan begitu pula halnya dengan ibadah-ibadah lainnya. Di antara hal yang dapat membantu seorang muslim untuk bekerja adalah membuat jadwal harian untuk mengatur hidupnya, kecuali jika ada suatu kondisi darurat dan mendadak yang harus menyalahi jadwal yang telah ditetapkan, maka saat itu Allah tidak akan memberatkan seseorang kecuali sebatas kemampuannya. Jadwal program harian yang saya buat ini adalah program usulan, yang boleh jadi cocok bagi orang-orang tertentu dan tidak sesuai (tidak pas) bagi orang lain. Sebab jadwal harian yang saya tawarkan ini hanyalah merupakan pemikiran yang bersumber dari pengalaman, memohon semoga Allah menjadikan program kerja ini bermanfaat.

Alangkah baiknya jika seorang muslim mengatur waktunya serta jadwal hariannya berdasarkan shalat lima waktu.

Setelah Shalat Shubuh:

Setelah seorang muslim melaksanakan shalat Shubuh berjamaah maka hendaknya ia mengingat bahwa kunci-kunci keberkahan dan rizki adalah pada saat ini (di pagi hari), maka berdoa kepada Allah agar memberinya keberkahan pada waktu dan umurnya, dan berusaha sedapat mungkin untuk tetap duduk di masjid hingga matahari terbit, dan waktu ini ia gunakan untuk melakukan beberapa hal di bawah ini, yaitu:

  1. Membaca dzikir pagi hari (adzkarus shabah)
  2. Menghafal satu halaman dari Al-Quran, jika tidak bisa hendaknya menghafal lima ayat saja setiap hari; sesuatu yang sedikit tetapi berlanjut adalah lebih baik daripada banyak dan terputus-putus.
  3. Menghafal dua hadits dari hadits-hadits Al-Arba’in An-Nawawiyah atau hadits-hadits yang ada dalam kitab Bulughul Maram atau kitab ‘Umdatul Ahkam, lalu shalat dua rakaat (setelah matahari terbit) kemudian pergi ke tempat kerja atau sekolah.

Setelah Shalat Zhuhur:

Makan siang, lalu tidur siang (istirahat) khususnya bagi para pekerja karena hal itu akan membantu dalam memperbaharui semangat kerja dan daya serap, dan selain hari libur maka hendaknya ia menyibukkan dirinya untuk membaca buku-buku ringan yang tidak membutuhkan fikiran seperti buku sejarah dan buku biografi tokoh.

Setelah Shalat Ashar:

Maka hendaknya ia melaksanakan beberapa hal di bawah ini, yaitu:

  1. Membaca dzikir sore hari dan inilah waktu yang disyariatkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).” (Qaaf: 39)

  1. Membaca keterangan dua hadits yang telah ia hafal pada pagi hari, jika yang dihafalnya adalah hadits Al-Arba’in An-Nawawiyah maka buku yang dibaca adalah Syarhu Ibnu Daqiq atau Jami’ul Ulum wal Hikam karya Ibnu Rajab, dan jika yang dibacanya adalah hadits-hadits dalam kitab ‘Umdatul Ahkam maka syarah yang dibacanya adalah Taysirul Ahkam karya Al-Bassam, dan jika memiliki kemauan tinggi lagi, maka yang dibaca adalah Fathul Bari dan Syarah Muslim karya Imam An-Nawawi, karena semua hadits-hadits yang ada di dalam kitab ‘Umdatul Ahkam tersebut semuanya muttafaq ‘alaih. Dan jika hadits-hadits yang di hafal adalah dari kitab Bulughul Maram, maka syarah yang dibaca adalah kitab Subulus Salam karya Al-Shan’ani atau kitab Tawdhihul Ahkam karya Al-Bassam. Bacaan yang saya maksud adalah membaca syarah (keterangan) dua hadits yang telah dihafal di pagi harinya saja, karena hal itu tidak membutuhkan waktu lama.
  2. Masih ada sisa waktu untuk membaca buku-buku fiqih dan hadits, maka untuk orang yang sudah masuk pada tingkat lanjutan maka buku-buku yang dibaca adalah Al-Mughni karya Ibnu Al-Qudamah, Al-Muhalli karya Ibnu Hazam, At-Tamhid karya Ibnu Abdul Bar dan Al-Majmu’ karya An-Nawawi; di dalam kitab-kitab tersebut banyak terdapat masalah-masalah fiqih yang sangat menarik.

Sedangkan bagi para pemula maka disamping menghafal dan membaca buku fiqih, alangkah baiknya jika ia membaca kepada seorang syaikh agar menguasai seluruh isinya. Sebagai contoh kitab Fiqih ‘Umdah dalam fiqih madzhab Hambali, lalu beralih kepada kitab Zadul Mustaqni’, sedangkan kitab-kitab hadits sudah disebutkan di atas. Dan di dalam bidang akidah dimulai dari kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah karya Muhammad bin Abdul Wahhab, lalu berpindah kepada kitab Al-Masa’il Al-Arba’ah, setelah itu kitab Fathul Majid, kemudian Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah. Penjelasan monumentalnya adalah syarah (penjelasan) oleh Syaikh Muhammad Khalil Harras Rahimahullah dan syarah oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Seusai anda melakukan program pemula lalu beralih kepada program berikutnya, dan demikian seterusnya. Dan jangan sekali-kali anda tergesa-gesa dalam mencapai hasil, dan dengan tidak terasa masa berlalu maka anda akan semakin mendapat hasil yang banyak.

Setelah Shalat Maghrib:

Mengulang kembali hafalan-hafalan yang telah engkau hafal di pagi hari, sebab waktu ini adalah waktu yang tepat untuk mengulang hafalan dan pelajaran.

Setelah Shalat Isya’:

Jika engkau tidak memiliki kegiatan lain yang bermanfaat maka hendaknya anda berkumpul bersama keluarga anda di rumah sambil membaca buku-buku ringan tentang Raqa’iq (Surga dan Neraka, tazkiyatun nafsi) kemudian tidur dan hindari tidur larut malam (begadang) karena sesungguhnya hal itu adalah musuh bagimu kecuali dalam melakukan ketaatan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Beberapa Kesalahan yang Sering Dilakukan Oleh Sebagian Para Penuntut Ilmu dalam Menghafal:

  1. Tidak tahu cara menghafal.
  2. Anggapan bahwa menghafal bagi sebagian penuntut ilmu adalah hal nisbi adalah keliru, sebab seorang penuntut ilmu harus banyak menghafal.
  3. Ada kebiasaan buruk yang beredar adalah anggapan bahwa zaman hafalan itu sudah berakhir (habis), ini adalah pandangan yang salah, sebab hafalan atau menghafal adalah suatu perkara yang masih berlaku selama manusia ada.
  4. Tidak adanya pilihan dan batasan untuk sesuatu yang dihafal.
  5. Tidak ada kesungguhan dalam menghafal.
  6. Bertumpuknya hafalan yang harus ia tanggung.
  7. Tidak mencatat hafalan di dalam buku catatan.

Cara Menghafal Al-Quran:

  1. Mengkhususkan waktu pada setiap hari untuk menghafal, waktu yang paling baik untuk menghafal adalah waktu Shubuh dan waktu Maghrib.
  2. Memiliki Al-Quran yang terdiri dari tiga puluh jilid setiap jilidnya terdiri dari satu juz Al-Quran, selalu dibawa di dalam saku supaya mudah dihafal.
  3. Menghafal dengan menggunakan mushaf yang tulisan dan bentuknya (rasm) sama.
  4. Mengulang-ulang dan menjaga hafalan setiap saat.
  5. Menjaga bacaan yang telah dihafal saat shalat wajib atau saat shalat sunnah.

Cara Menghafal Hadits:

  1. Membiasakan diri untuk membaca buku-buku hadits khususnya sebelum tidur.
  2. Tidak perlu menyibukkan diri menghafal sanad-sanad hadits sebab hal itu akan menyita banyak waktu.
  3. Selalu mengulang-ulang hafalan.

Sekali-lagi saya ulangi dan saya tekankan bahwa program kerja ini hanya sekedar pemikiran yang didasari pengalaman, maka pemikiran ini dapat dirubah dengan menambah atau menguranginya atau bahkan mungkin sekali ditolak, sebab pemikiran ini bisa sesuai untuk sekelompok manusia dan tidak sesuai untuk sekelompok manusia yang lain, dan semua bisa membuat jadwal program tersendiri, namun yang menjadi sandaran utama adalah rela mengorbankan kemampuan dan kesungguhan untuk belajar dan menambah pengetahuan, membuang jauh-jauh sikap jenuh dan kejumudan dari kamus kehidupan kita.

* * * **

Disalin ulang oleh: Abdurrahman HRD

Malang, 29 Dzulqa’dah 1430 H / 17 November 2009

[1] Disalin dari: 31 Sebab Lemahnya Iman, oleh Husain Muhammad Syamir, terjm Musthafa Aini, judul asli “Al-Ilmam fi Asbab Dha’fil Iman” (Jakarta: Darul Haq, 2006), hlm.169-176.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s