Umat Islam di Andalusia Spanyol, Sebuah Napak Tilas Sejarah


Umat Islam di Andalusia Spanyol, Sebuah Napak Tilas Sejarah[1]

Oleh: Rachman Hardiansyah[2]

Bila berbicara tentang Andalusia, tak ‘kan lepas dengan nama Thariq bin Ziyad. Pahlawan Islam yang namanya diabadikan menjadi nama tempat yang terkenal, Giblartar, di Spanyol ini memang begitu fenomenal dan melegenda. Di tempat inilah ia dan pasukan muslim pertama kali menetap untuk melawan Raja Roderic dari Kerajaan Visigothic, Spanyol, yang dzalim.

Ahmad Mahmud Himayah (2004: 67) dalam Kebangkitan Islam di Andalusia, menuliskan bahwa peperangan pasukan Thariq yang berhadapan dengan pasukan Raja Roderic (peperangan Syadzunah), berlangsung tujuh hari dan dimulai tanggal 28 Ramadhan 92 H (7 Juli 711 M). Dan pertempuran ini berujung pada kemenangan pasukan Islam dalam waktu yang sangat singkat untuk menaklukkan sebuah wilayah, yaitu 8 (delapan hari)!!! Apalagi, jumlah pasukan musuh delapan kali lebih banyak.

Pertempuran itulah yang telah membawa kemenangan gemilang dan membuka pintu gerbang kejayaan Islam untuk masa waktu delapan abad lamanya.

Sekilas tentang Andalusia

Nama Andalusia berasal dari nama bahasa Arab “Al Andalus”, yang merujuk kepada bagian dari jazirah Iberia yang dahulu berada di bawah pemerintahan Muslim. Sejarah Islam Spanyol dapat ditemukan di pintu masuk al-Andalus.

SK Dewan Suci Gereja Katholik Roma

Dr. Muhammad Al-Husaini Isma’il (2004: 53-54) menuliskan cuplikan kejadian di Andalusia,

“Pada tanggal 16 Februari 1568, Dewan Suci Gereja Katholik Roma mengeluarkan surat keputusan berisi kutukan terhadap seluruh penghuni bumi Spanyol dan penetapan vonis hukuman mati atas mereka dengan tuduhan heurestik (melanggar agama Kristen). SK ini mengecualikan beberapa orang yang nama-nama mereka tertulis dalam SK tersebut. Dan setelah 10 hari sejak dikeluarkannya keputusan itu, Philip II, Raja Spanyol –yang dididik dengan pendidikan agama yang militan di bawah asuhan kaum agamawan Katholik, sekaligus putera kaisar Roma yang Suci, Charles V– menyatakan keabsahan surat keputusan itu dengan menginstruksikan pelaksanaannya sesegera mungkin. Maka, sesuai dengan riwayat sejarawan Leakey, jutaan laki-laki, perempuan, dan anak-anak pun diseret ke guillotine [alat pemenggal kepala].

Hanya dalam hitungan 8 tahun saja setelah kejatuhan Dinasti Islam di Spanyol, populasi muslim Spanyol langsung musnah dari muka bumi. 8 juta Muslim dihabisi dalam tempo 8 tahun saja tanpa menyisakan seorang pun yang menyandang predikat muslim dan berbicara Bahasa Arab. Masjid-masjid dibumihanguskan secara brutal dan tidak ada lagi yang disisakan kecuali yang dirasa pantas untuk diubah menjadi gereja.” (Isma’il, 2004: 53-54)

Inkuisisi, Kekejaman tak Terperi

Alwi Alatas (2009) mendefinisikan Inkuisisi sebagai, “..sebuah lembaga gerejawi (ecclesiastical institution), sekaligus lembaga kehakiman gereja Katholik (Roman Catholic tribunal) yang bertujuan untuk menyelidiki dan menghukum penyimpangan teologi Kristen (heresy, bid’ah). Lembaga ini dibentuk langsung oleh lembaga kepausan (papal), terutama setelah dikeluarkannya Excommunicamus oleh Paus Gregory IX pada tahun 1231. Dewan inkuisisi ketika itu dibentuk untuk membersihkan Kekristenan dari bahaya penyimpangan kaum Cathar dan Albigensian. Sejak itu, dewan yang didominasi ordo Dominikan dan Fransiskan ini menjadi suatu alat yang ampuh untuk menghancurkan aliran-aliran teologi yang berseberangan dengan gereja Katholik.”

Inkuisisi berkembang di negara-negara yang menganut Katholik. Namun tidak ada yang lebih bersemangat dalam menerapkan inkuisisi ketimbang Spanyol. Spanyol memiliki tempat yang sangat spesial dalam sejarah inkuisisi.

Bentuk-bentuk Siksaan dalam Inkuisisi di Spanyol

Setidaknya ada tiga bentuk siksaan utama pada inkuisisi (Alatas, 2009) : garrucha, toca, dan potro.

Garrucha berarti kerekan yang diikatkan ke pinggang tertuduh yang mengangkatnya ke langit-langit ruangan. Kaki tertuduh diikat dengan pemberat besi. Korban diangkat ke atas dan dijatuhkan ke bawah secara mengejutkan dan berulang-ulang. Hal ini bisa menyebabkan otot tangan dan kaki putus.

Toca adalah kain linen yang dimasukkan ke mulut tertuduh secara paksa. Kemudian air dituangkan secara pelahan-lahan ke dalam perut tertuduh melalui kain linen tersebut hingga ia merasa tersiksa karenanya.

Potro adalah bentuk siksaan di mana tubuh tertuduh diikat kuat-kuat ke sebuah tiang. Kemudian para algojo menarik tali yang melilit tubuh korban dari arah berlawanan secara bertahap hingga tali-tali itu menembus daging.

Pada semua bentuk penyiksaan ini, para tertuduh, baik laki-laki maupun perempuan, selalu ditelanjangi.

Robert Held, dalam bukunya, “Inquisition”, memuat foto-foto dan lukisan-lukisan yang sangat mengerikan tentang kejahatan Inquisisi yang dilakukan tokoh-tokoh Gereja ketika itu. Dia paparkan lebih dari 50 jenis dan model alat-alat  siksaan yang sangat brutal, seperti pembakaran hidup-hidup, pencungkilan mata, gergaji pembelah tubuh manusia, pemotongan lidah, alat penghancur kepala, pengebor vagina, dan berbagai alat dan model siksaan lain yang sangat brutal. Ironisnya lagi, sekitar 85 persen korban penyiksaan dan pembunuhan adalah wanita.

Pengkhianat Terbesar dalam Sejarah Andalusia

Ketika membicarakan Andalusia, kita akan mendapati banyaknya pengkhianatan yang terjadi pada masa itu. Namun tidak ada pengkhianat yang paling mencoreng sejarah Islam dan menusuk hati kaum muslimin selain penguasa Granada yang bernama Abu Abdillah Muhammad. Nama yang sama sekali tidak sesuai dengan sikapnya sebagai seorang muslim sejati.

Dr. Ahmad Syalabi menulis tentang peristiwa yang terjadi pada tahun 897 H/1492 M dalam Mawsu’ah At-Tarikh Al-Islami bahwa Abu Abdillah Muhammad, penguasa Islam terakhir di Andalusia sangatlah disesalkan dan menyedihkan. Orang ini telah menjual segala idealismenya demi mewujudkan ambisi pribadinya. Dia berperang melawan ayahnya sendiri, Abu Al-Hasan Ali bin Sa’ad karena merasa bahwa ayahnya lebih memilih saudaranya sendiri, Muhammad bin Sa’ad yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Zaghl, sebagai penggantinya daripada dia, anaknya sendiri. Demikianlah, akhirnya terjadi perseteruan berdarah yang menyebabkan sang ayah meninggal dunia karena menyesal dan sedih, ketika pengkhianat ini, Abu Abdillah Muhammad menjalin kesepakatan dengan Fernando serta istrinya Isabella, untuk menjatuhkan Muhammad bin Sa’ad Al-Zaghl.

Pasukan pengkhianat ini, Abu Abdillah Muhammad Al-Kha’in, terus menerus menghalangi pamannya, Muhammad bin Sa’ad Al-Zaghl, setiap kali pasukannya berusaha untuk melindungi benteng-benteng Islam. Dan, ketika kemenangan dapat dicapai oleh pihak Kristen, pengkhianat ini melakukan kecerobohan dan pengkhianatannya yang paling keji di mana dia mengucapkan selamat atas kemenangan kepada Fernando dan Isabella yang baru saja berhasil menguasai Malaga yang sebelumnya dikuasai umat Islam.

Akan tetapi Fernando berbalik arah dengan menyerangnya serta merampas semua harta benda yang dimilikinya. Akhirnya pengkhianat ini pun menyerahkan kunci akhir kota Islam di Andalusia yaitu Granada kepada Fernando. Dia meratapi tahta yang telah dihilangkannya dengan pengkhianatan yang tidak akan pernah dilupakan sejarah dan umat Islam selama-lamanya. Dia kemudian mengungsi ke Afrika dan di sana dia hidup dari hasil mengemis, pengkhianat ini memang pantas untuk menjadi peminta-minta dan pengemis. (dalam Al-Fiqi, 2009: 185-186)

Daftar Bacaan:

[1] 1. Diikutsertakan dalam lomba kepenulisan yang diselenggarakan oleh Majalah El-Fata.

2.Disampaikan dalam acara Diskusi Buku (DISBUK) Remaja Masjid Manarul Islam Sawojajar Malang, pada tanggal 27 Februari 2010.

[2] Penulis adalah kontributor www.percikankehidupan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s