Makna Mentauhidkan Allah


Saudaraku yang dirahmati Allah..

Mentauhidkan Allah Azza wa Jalla dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan adalah kewajiban setiap muslim. Begitu pula yang termasuk kewajiban adalah mengetahui pengertian tauhid dan pembagiannya.

 

Definisi Tauhid

Tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalam rububiyah-Nya, ikhlas beribadah kepada-Nya dalam Uluhiyyah-Nya, serta menetapkan bagi-Nya nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Pembagian Tauhid

       Tauhid ada tiga macam: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah serta Tauhid Asma’ wa Sifat.

Para ulama membagi tauhid menjadi tiga macam berdasarkan penelitian yang mendalam terhadap nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana ahli fiqh membuat pembagian terhadap rukun, syarat sah, syarat wajib shalat; sebagaimana juga ahli ilmu nahwu membagi kata menjadi tiga macam yaitu: fiil, isim dan huruf. Semua pembagian ini bertujuan untuk  mempermudah bagi yang mempelajarinya.

Pembagian ini adalah masyhur di kalangan ulama Salaf. Diantara ulama yang menjelaskan tentang pembagian tauhid tersebut yaitu Ibnu Baththah (wafat tahun 387 H) dalam kitabnya Al Ibaanah ‘an Syariatil Firqatin Najiyyah wa Mujaanabatil Furuqil Madzmumah dan Ibnu Mandah (wafat 395 H) dalam kitabnya Kitabut-Tauhid wa Ma’arifati Asmaa’Illahi ‘’Azza wa Jalla wa Shifatihi ‘alal Ittifaki wat-Tafarrud. Kedua ulama tersebut hidup pada masa yang berbeda dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat 728 H).

  1. Tauhid Rububiyyah

Yaitu mentauhidkan Allah I dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya, mengimani bahwa sesungguhnya Dia adalah Sang Pencipta, Pemberi Rizki, Pengatur urusan hamba-Nya, Pengurus urusan-urusan hamba baik di dunia dan juga di akhirat. Dia adalah Dzat yang tiada sekutu bagi-Nya. Allah berfirman:

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS.Az-Zumar: 62)

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan…” (QS. Yunus: 3)

Allah menciptakan semua makhluk-Nya di atas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya. Bahkan orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah dalam ibadah juga mengakui keEsaan rububiyah-Nya, sebagaimana firman-Nya:

“Katakanlah: “Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka Apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (QS. Al-Mu’minuun: 86-89)

Walaupun demikian, pengakuan orang-orang musyrik terhadap tauhid Rububiyyah tidaklah menjadikan mereka muslim karena mereka masih syirik dalam ibadah dan penyembahan kepada patung-patung dan berhala-berhala, serta tidak mengimani kerasulan Muhammad r.

  1. Tauhid Uluhiyyah

Tauhid Uluhiyyah adalah mengesakan Allah dengan melakukan berbagai macam ibadah yang disyariatkan, seperti berdoa, memohon pertolongan, thawaf, menyembelih binatang kurban, bernadzar dan berbagai macam ibadah lainnya.

Tauhid ini adalah inti dakwah para nabi dan rasul, sebagaimana firman-Nya:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’…” (QS.An-Nahl: 36)

  1. Tauhid asma’ wa sifat

Yaitu, mengimani nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya r tanpa tahrif, ta’thil, takyif dan tamtsil, sebagaimana firman-Nya :

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Maha melihat.” (QS.Asy-Syuuro: 11)

Tahrif adalah mengubah dan menyelewengkan. Tahrif ada dua macam yaitu tahriful lafzh (mengubah lafazhnya) dan tahriful ma’na (menyelewengkan maknanya).

Ta’thil adalah menafikan atau mengingkari sifat-sifat Allah I secara keseluruhan atau sebagiannya. Perbedaan antara ta’thil dengan tahrif adalah; jika tahrif mengubah lafazh suatu nash baik Al-Qur’an maupun hadits atau memberikan tafsiran yang menyimpang dari makna yang sebenarnya terkandung oleh nash tersebut; sedang ta’thil adalah mengingkari makna sebenarnya yang dikandung oleh nash tersebut tanpa menggantinya dengan makna lain.

Takyif adalah mereka-reka dengan mempertanyakan ‘bagaimana’ sifat Allah I itu, atau menentukan bahwa sifat Allah itu hakekatnya begini.

Tamtsil adalah mempersamakan atau menyerupakan sifat Allah I dengan sifat makhluk-Nya.

Semoga Allah memudahkan kita dalam mempelajari agama-Nya, serta mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari. Allahumma Amin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s