Keagungan Akhlak Abu Hanifah, Memaafkan Orang yang Mencelanya


Abu Yusuf Rahimahullah berkata,

“Saya datang di majelis Abu Hanifah Rahimahullah, saya duduk. Lalu datang seorang laki-laki. Dia berdiri di salah satu sudut masjid. Dia mulai mencemooh dan menjelek-jelekkan Abu Hanifah. Abu Hanifah tidak menghentikan pembicaraannya dan tidak pula mendengarkan ucapannya, dan tidak seorang pun di majlis Abu Hanifah yang menjawab ucapannya. Sehingga ketika Abu Hanifah telah menyelesaikan pelajarannya, beliau berdiri dan menatap laki-laki itu seraya berkata,

“Ini rumahku, aku akan masuk. Jika masih ada ucapanmu yang tersisa yang ingin kamu katakan, maka teruskanlah agar tidak tertinggal.”

Laki-laki itu malu sendiri, dia berkata, “Maafkanlah aku.”

Abu Hanifah menjawab, “Kamu sudah kumaafkan.”

((Min A’lamit Tarbiyah Al-Islamiyyah (1/137-138). Dinukil dari Manaqib Abu hanifah, karya Muwaffaq Al-Makki (249))

Diketik ulang dari: Menjadi Guru yang Sukses dan Berpengaruh, Muhammad Abdullah Ad-Duweisy, hal. 83)

Sifat-sifat Guru


Sifat-sifat positif:

  1. Ikhlas kepada Allah
  2. Takwa dan ibadah
  3. Mendorong dan memicu murid untuk giat mencari ilmu
  4. Berpenampilan baik
  5. Berbicara dengan baik
  6. Berkepribadian matang dan terkontrol
  7. Keteladanan yang baik
  8. Memenuhi janji
  9. Berperan memperbaiki sistem pengajaran
  10. Bergaul secara baik dengan murid

Sifat-sifat negatif:

  1. Menyombongkan diri dengan tidak menerima kebenaran
  2. Hasad kepada murid
  3. Fatwa tanpa ilmu
  4. Banyak bergurau
  5. Memanfaatkan anak didik untuk urusan pribadi
  6. Berada di tempat-tempat yang tidak pantas
  7. Emosional dan mudah mengancam
  8. Mengejek dan merendahkan murid
  9. Menggunjing murid
  10. Membuat murid bosan
  11. Mengajarkan di luar batas kemampuan murid
  12. Menjelek-jelekkan guru lain dan pelajarannya

(Lihat, Menjadi Guru yang Sukses dan Berpengaruh, Muhammad Abdullah Ad-Duweisy, Elba Surabaya)

Buku versi bahasa Arab bisa didownload DI SINI

Terjemah Mandzhumah al-Baiquniyyah


منظومة البيقونية

أَبْـدَأُ بِالحَمْـدِ مُـصَلِّياً علـى * مُحَمَّــدٍ خَيْرِ نَبيِّ أُرْسِـلا

Aku memulai dengan memuji Allah dan bershalawat atas Muhammad, nabi terbaik yang diutus

وَذي مـنْ أقسـامِ الحَديثِ عِدَّهْ * وَكُـلُّ وَاحِـدٍ أَتَى وَعَـدَّهْ

Inilah berbagai macam pembagian hadits.. Setiap bagian akan datang penjelasannya

أَوَّلُهَا الصَّحِيحُ وَهُـوَ مَا اتَّصَـلّْ* إسْنَادُهُ وَلَمْ يَشُـذَّ أَوْ يُعَـلّْ

Pertama hadits shahih yaitu yang bersambung sanad nya, tidak mengandung syadz dan ‘illat

يَرْويهِ عَدْلٌ ضَـابِطٌ عَنْ مِثْلِـهِ  * مُعْتَمَـدٌ فِي ضَبْطِهِ وَنَقْلِـهِ

Perawi nya ‘adil dan dhabith yang meriwayatkan dari yang semisalnya (‘adil dan dhabith juga) yang dapat dipercaya ke-dhabith-an dan periwayatan nya

وَالحَسَنُ المَعْروفُ طُرْقـاً وَغدَتْ * رِجَالَهُ لا كَالصَّحِيحِ اشْتَهَرَتْ

(Kedua) Hadits Hasan yaitu yang jalur periwayatannya ma’ruf.. akan tetapi perawinya tidak semasyhur hadits shahih

وَكُلُّ مَا عَنْ رُتْبَةِ الحُسْنِ قَصُـرْ * فَهُوَ الضَّعِيفُ وَهْوَ أَقْسَامَاً كَثُرْ

Setiap hadits yang lebih rendah dari derajat hadits hasan adalah hadits (ketiga) Dhaif dan terbagi atas banyak bagian

وَمَـا أُضِيفَ لِلنَّبي المَرْفُــوعُ * وَمَـا لِتَابِعٍ هُـوَ المَقْطُـوعُ

Hadits yang disandarkan kepada nabi adalah Hadis Marfu’, dan yang disandarkan kepada Tabi’in adalah Hadits Maqthu’

والمُسْنَدُ المُتَّصِلُ اْلإسْنَادِ مِــنْ * رَاوِيهِ حَتَّى المُصْطَفَى ولَمْ يَبِنْ

Hadits Musnad adalah yang bersambung sanadnya perawinya sampai kepada nabi tanpa terputus

وَمَـا بِسَـمْعِ كُلِّ رَاوٍ يَتَّصِـلْ * إسْنَادُهُ لِلْمُصْطَفَى فَالْمُتَّصِـلْ

Hadits yang setiap perawi nya mendengar satu sama lain dan bersambung sanad nya sampai nabi maka disebut Al Muttashil (bersambung)

مُسَلْسَلٌ قُلْ مَا عَلَى وَصْفٍ أَتَى * مِثْلُ أَمَا وَاللـهِ أَنْبَانِي الْفَتَـى

Hadits  Musalsal adalah hadits yang dibawakan dengan menyertakan sifat (yang selalu sama) seperti perkataan perawi “Ketahuilah, Demi Allah telah memberitahuku seorang pemuda”

كَـذَاكَ قَـدْ حَدَّثَنِيهِ قَائِمــا * أَوْ بَعْـدَ أَنْ حَدَّثَنِـي تَبَسَّـما

Begitu juga seperti “Si Fulan Telah bercerita kepadaku sambil berdiri”atau “setelah bercerita kepadaku, ia tersenyum”

عَزِيزُ مَرْوِي اثْنَينِ أَوْ ثَلاَثَــهْ * مَشْهُورُ مَرْوِي فَوْقَ مَـا ثَلاَثَهْ

Hadits ‘Aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua atau tiga orang perawi sedangkan Hadits Masyhur diriwayatkan oleh lebih dari tiga perawi

مُعَنْعَنٌ كَعَنْ سَعِيدٍ عَـنْ كَـرَمْ * وَمُبْهَمٌ مَـا فيهِ رَاوٍ لَمْ يُسَـمّْ

Hadits  Mu’an’an itu seperti perkataan perawi “dari sa’id, dari Karom” dan Al Mubham itu hadits yang perawinya tidak diberi nama

وَكُـلُّ مـَا قَلَّتْ رِجَالُهُ عَـلاَ * وَضِـدُهُ ذَاكَ الَّذِي قَدْ نَـزَلاَ

Setiap hadits yang sedikit perawinya disebut hadits ‘Aaliy dan kebalikannya disebut hadits Naazil

وَمَا أَضَفْتَهُ إِلى الأَصْحَـابِ مِنْ * قَوْلٍ وَفِعْلٍ فَهْوَ مَوْقُوفٌ زُكِنْ

Perkataan atau perbuatan yang kau sandarkan kepada Sahabat adalah Hadits Mauquf

وَمُرْسَـلٌ مِنْهُ الصَّحَابِيُّ سَقَطْ * وَقُلْ غَرِيبٌ مَا رَوَى رَاوٍ فَقَطْ

Hadits Mursal adalah hadits yang perawinya gugur di tingkat Sahabat dan katakanlah Hadits Gharib itu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi saja

وَكُـلُّ مَا لَـمْ يَتَّصِلْ بِحَـالِ * إِسْـنَادُهُ مُنْقَطِعُ اْلأوْصَـالِ

Setiap hadits yang tidak bersambung sanadnya disebut Hadits Munqathi’

وَالمُعْضَلُ السَّـاقِطُ مِنْهُ اثْنَـانِ * وَمَـا أَتَى مُدَلَّسـاً نَوْعَـانِ

Hadits Mu’dhal adalah hadits yang gugur pada sanadnya dua rawi. Hadits yang ditadlis ada dua macam

الأَوَّلُ الاسْـقَاطُ للشَّيْخِ وَأنْ * يَنْقُـلَ عَـمَّنْ فَوْقَهُ بِعَنْ وَأَنْ

Pertama, menggugurkan syaikhnya dan menukil dari perawi di atas nya dengan kata ” dari (عَنْ) ” dan “bahwa (أَنَّ)”

وَالثَّانِ لا يُسْـقِطُهُ لَكِنْ يَصِفْ * أَوْصَـافَهُ بِمَا بِـهِ لا يَنْعَـرِفْ

Kedua, tidak menggugurkan (syaikh) nya akan tetapi mensifatinya dengan sifat yang tidak dikenal

وَمَا يُخَـالِفْ ثِقَةٌ فِيـه المَـلا * فَالشَّاذُّ وَالمَقْلُوبُ قِسْمَانِ تَـلا

Hadits (tsiqah) yang menyelisihi hadits yang (lebih) tsiqah disebut dengan Hadits Syadz. Hadits Maqlub ada dua jenis

إِبْـدَالُ رَاوٍ مَا بِرَاوٍ قِسْــمُ * وَقَلْبُ إِسْـنَادٍ لِمَتْنٍ قِسْــمُ

Pertama, terganti (terbolak-balik) rawi yang satu dengan yang lain. Kedua, terbolak-baliknya sanad matan tertentu dengan sanad matan yang lain

وَالْفَـرْدُ مَا قَيَّدْتَـهُ بِثِقَــةِ * أَوْ جَمْعٍ أَوْ قَصْرٍ عَلَى رِوَايَـةِ

Hadits Fard adalah hadits yang kau kaitkan dengan periwayatan seorang yang tsiqah, atau periwayatan sebuah kelompok tertentu, atau terbatas/dikhusukan pada riwayatnya saja

وَمَـا بِعِلَّةٍ غُمُوضٍ أَوْ خَفَــا * مُـعَلَّلٌ عِنْدَهُـمُ قَـدْ عُرِفَـا

Hadits yang mengandung cacat yang samar atau tersembunyi dikenal oleh Ahli Hadits dengan Hadits Mu’allal

وَذو اخْتِلافِ سَـنَدٍ أَوْ مَتْـنِ * مُضْطَرِبٌ عِنْدَ أُهَـيْلِ الْفَـنِّ

Hadits yang sanad atau matannya berselilih (memiliki perbedaan) menurut Ahli Hadits disebut Hadits Mudhtharib

وَالمُدْرَجَاتُ في الحَدِيثِ مَا أَتَتْ * مِنْ بَعْضِ أَلْفَاظِ الرُّواةِ اتَّصَلَتْ

Hadits Mudraj yaitu hadits yang datang (ditambahkan) pada (sanad atau matan) nya  sebagian lafaz-lafaz perawi

وَمَا رَوَى كُلُّ قَرِينٍ عَنْ أَخِـهْ * مُدَبَّجٌ فَاعْرِفْهُ حَقَـاً وَانْتَخِـهْ

Hadist yang diriwayatkan oleh setiap teman dari saudaranya disebut Hadits Mudabbaj

مُتَّفِقٌ لَفْظـاً وَخَطـاً مُتَّفِـقُ * وَضِدُّهُ فِيمَــا ذَكَرْنَا المُفْتَرِقْ

Kesesuaian lafaz dan tulisan (nama perawi) nya disebut Muttafiq dan kebalikan dari yang kami sebutkan disebut Muftariq

مُؤتَلِفٌ مُتَّفِقُ الخَطِّ فَقَـــطْ * وَضِدُّهُ مُخْتَلِفٌ فَاخْشَ الغَلَطْ

Mu’talif itu jika sesuai tulisan (nama perawi) nya saja (tidak lafaznya) dan kebalikannya disebut Mukhtalif maka waspadailah kekeliruan

وَالمُنْكَرُ الْفَرْدُ بِهِ رَاو غَــدَا * تَعْدِيلُهُ لا يَحْمِــلُ التَّفَـرُّدَا

Hadits munkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang tidak diterima ta’dil nya dalam keadaan menyendiri

مَتْرُوكُهُ مَا وَاحِدٌ بِهِ انْفَــرَدْ * وَأَجْمَعُوا لِضَعْفِهِ فَهْوَ كَــرَدّْ

Hadits Matruk adalah hadits yang menyendiri perawinya dan mereka (para ahli hadits) menyepakati Kedhaifan Rawi tersebut dan menolaknya

وَالكَــذِبُ المُخْتَلَقُ المَصْنُوعُ * عَلَى النَّبِي فَــذَلِكَ المَوْضُوعُ

Hadits dusta yang dibuat-buat (dipalsukan) atas nama nabi maka itulah Hadits Maudhu’

وَقَــدْ أَتَتْ كَالجَوْهَرِ المَكْنُونِ * سَــمَّـيْتُهَا مَنْظُومَةَ البَيْقُونِي

Sungguh nadzham ini seperti Al Jauhar Al Maknun yang ku beri nama Mandzhumah Al Baiquuniyah

فَـــوْقَ الثَّلاثِينَ بِأَرْبَعٍ أَتَتْ * أَبْيَاتُهـــَا ثُمَّ بِخَيرٍخُـتِمَتْ

Datang dengan 34 bait kemudian ditutup dengan baik.

Via
Ustadz Kholid Syamhudi


1) Apa yang mau kita sombongkan; jika Imam An Nawawi menulis Syarh Shahih Muslim yang tebal itu sedang beliau tak punya Kitab Shahih Muslim?

2) Beliau menulisnya berdasar hafalan atas Kitab Shahih Muslim yang diperoleh dari Gurunya; lengkap dengan sanad inti & sanad tambahannya.

3) Sanad inti maksudnya; perawi antara Imam Muslim sampai RasuluLlah. Sanad tambahan yakni; mata-rantai dari An Nawawi hingga Imam Muslim.

4) Jadi bayangkan; ketika menulis penjabarannya, An Nawawi menghafal 7000-an hadits sekaligus sanadnya dari beliau ke Imam Muslim sekira 9-13 tingkat Gurunya; ditambah hafal sanad inti sekira 4-7 tingkat Rawi.

5) Yang menakjubkan lagi; penjabaran itu disertai perbandingan dengan hadits dari Kitab lain (yang jelas dari hafalan sebab beliau tak mendapati naskahnya), penjelasan kata maupun maksud dengan atsar sahabat, Tabi’in, & ‘Ulama; munasabatnya dengan Ayat & Tafsir, istinbath hukum yang diturunkan darinya; dan banyak hal lain lagi.

7) Hari ini kita menepuk dada; dengan karya yang hanya pantas jadi ganjal meja beliau, dengan kesulitan telaah yang tak ada seujung kukunya.

8) Hari ini kita jumawa; dengan alat menulis yang megah, dengan rujukan yang daring, & tak malu sedikit-sedikit bertanya pada Syaikh Google.

9) Kita baru menyebut 1 karya dari seorang ‘Alim saja sudah bagai langit & bumi rasanya. Bagaimana dengan kesemua karyanya yang hingga umur kita tuntaspun takkan habis dibaca?

10) Bagaimana kita mengerti kepayahan pada zaman mendapat 1 hadits harus berjalan berbulan-bulan?

11) Bagaimana kita mencerna; bahwa dari nyaris 1.000.000 hadits yang dikumpulkan & dihafal seumur hidup; Al Bukhari memilih 6000-an saja?

12) Atas ratusan ribu hadits yang digugurkan Al Bukhari; tidakkah kita renungi; mungkin semua ucap & tulisan kita jauh lebih layak dibuang?

13) Kita baru melihat 1 sisi saja bagaimana mereka berkarya; belum terhayati bahwa mereka juga bermandi darah & berhias luka di medan jihad.

14) Mereka kadang harus berhadapan dengan penguasa zhalim & siksaan pedihnya, si jahil yang dengki & gangguan kejinya. Betapa menyesakkan.

15) Kita mengeluh listrik mati atau data terhapus; Imam Asy Syafi’i tersenyum kala difitnah, dibelenggu, & dipaksa berjalan Shan’a-Baghdad.

16) Kita menyedihkan laptop yang ngadat & deadline yang gawat; punggung Imam Ahmad berbilur dipukuli pagi & petang hanya karena 1 kalimat.

17) Kita berduka atas agal terbitnya karya; Imam Al Mawardi berjuang menyembunyikan tulisan hingga menjelang ajal agar terhindar dari puja.

18) Mari kembali pada An Nawawi & tak usah bicara tentang Majmu’-nya yang dahsyat & Riyadhush Shalihin-nya yang permata; mari perhatikan karya tipisnya; Al Arba’in. Betapa barakah; disyarah berratus, dihafal berribu, dikaji berjuta manusia & tetap menakjubkan susunannya.

19) Maka tiap kali kita bangga dengan “best seller”, “nomor satu”, “juara”, “dahsyat”, & “terhebat”; liriklah kitab kecil itu. Lirik saja.

20) Agar kita tahu; bahwa kita belum apa-apa, belum ke mana-mana, & bukan siapa-siapa. Lalu belajar, berkarya, bersahaja.

Bahaya Kesyirikan


Pembaca yang dirahmati Allah, di edisi bulan yang lalu telah kita bahas bahwa mengenai pengertian dan pembagian Tauhid. Pada edisi ini, penulis akan melanjutkan dengan pembahasan Syirik dan bahaya yang terdapat dalamnya.

PENGERTIAN SYIRIK

Syirik yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah Allah U. Umumnya menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah, yaitu hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah disamping berdo’a kepada Allah, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih (kurban), bernadzar, berdo’a dan sebagainya kepada selain-Nya.

Ibnu Mas’ud t meriwayatkan, aku bertanya kepada Nabi r, “Dosa apakah yang paling besar?” Beliau menjawab: “Yaitu engkau menjadikan tandingan (sekutu) bagi Allah sedangkan Dialah yang menciptakanmu.” (HR Bukhari & Muslim)

BENTUK-BENTUK KESYIRIKAN

  • Mempercayai dan mendatangi dukun, paranormal, tukang sihir, orang pintar, tukang ramal, atau sejenisnya.
  • Meminta-minta ke kuburan Nabi, orang shalih atau yang selainnya.
  • Mempercayai jimat, ramalan bintang, dan lainnya.
  • Mempercayai dan menggunakan jampi-jampi dan pelet, dll.

Continue reading

Makna Mentauhidkan Allah


Saudaraku yang dirahmati Allah..

Mentauhidkan Allah Azza wa Jalla dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan adalah kewajiban setiap muslim. Begitu pula yang termasuk kewajiban adalah mengetahui pengertian tauhid dan pembagiannya.

 

Definisi Tauhid

Tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalam rububiyah-Nya, ikhlas beribadah kepada-Nya dalam Uluhiyyah-Nya, serta menetapkan bagi-Nya nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Pembagian Tauhid

       Tauhid ada tiga macam: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah serta Tauhid Asma’ wa Sifat.

Para ulama membagi tauhid menjadi tiga macam berdasarkan penelitian yang mendalam terhadap nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana ahli fiqh membuat pembagian terhadap rukun, syarat sah, syarat wajib shalat; sebagaimana juga ahli ilmu nahwu membagi kata menjadi tiga macam yaitu: fiil, isim dan huruf. Semua pembagian ini bertujuan untuk  mempermudah bagi yang mempelajarinya.

Pembagian ini adalah masyhur di kalangan ulama Salaf. Diantara ulama yang menjelaskan tentang pembagian tauhid tersebut yaitu Ibnu Baththah (wafat tahun 387 H) dalam kitabnya Al Ibaanah ‘an Syariatil Firqatin Najiyyah wa Mujaanabatil Furuqil Madzmumah dan Ibnu Mandah (wafat 395 H) dalam kitabnya Kitabut-Tauhid wa Ma’arifati Asmaa’Illahi ‘’Azza wa Jalla wa Shifatihi ‘alal Ittifaki wat-Tafarrud. Kedua ulama tersebut hidup pada masa yang berbeda dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat 728 H). Continue reading