Ulama yang Berwajah Ceria


Setiap perjalanan untuk mencari pokok pikiran dalam menulis buku, yang kulakukan adalah mencatat poin penting yang bisa dikutip untuk menjadi artikel singkat. Tapi yang seperti ini barusan saja.. Dan ketemulah sub bab “Wajah yang ceria dan berseri-seri dan menghindarkan sikap masam dan dahi berkerut” dalam buku Akhlak-akhlak Buruk karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamad (hal. 131-133). Diantara yang bisa kukutipkan adalah:

Perkataan Ibnu Hibban, “Wajah yang ceria adalah santapan para ulama, sanubari para ahli hikmah. Dikarenakan keceriaan akan memadamkan api pertentangan, akan menghanguskan hujaman kebencian. Dan dengan keceriaan maka akan terlindungi dari seorang yang jahat dan keselamatan bagi seorang yang melakukannya.” (Raudhah Al-‘Uqala’ hal. 75)

Abu Ja’far Al-Manshur mengatakan, “Apabila anda ingin mendapatkan banyak pujian indah bagi diri anda dari manusia tanpa berusaha menggapainya, maka perbanyaklah wajah berseri-seri yang baik.” (‘Uyuun Al-Adab wa As-Siyasah karya Ali bin Abdurrahman bin Hudzail hal. 154)

Al-‘Uttabi ditanya, “Sesungguhnya engkau menjumpai semua orang dengan keceriaan!” Beliau pun berkata, “Menghalau dendam dengan usaha yang mudah, dan mendapat teman dengan pengeluaran yang sedikit.” (Bahjah Al-Majalis 2/665)

Ibnu Aqil Al-Hanbali Rahimahullah mengatakan, “Keceriaan akan menjadi pendamping orang-orang yang berakal, dan menjadi sebab diterimanya. Sementara wajah yang masam adalah sebaliknya.” (Kitab Al-Funun karya Ibnu ‘Aqil 2/635)

Seakan beberapa perkataan di atas adalah bentuk kecintaan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang bersabda, “Senyumanmu dihadapan wajah saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. At-Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Dan sabda beliau pula, “Janganlah engkau meremehkan perbuatan yang ma’ruf, walau perjumpaan dengan saudaramu dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim)

Malang, 19 Rabiul Awal 1431 H/5 Maret 2010

Daftar Isi Buku “Kiat Sukses Bergaul”


Kiat_Sukses_Berg_4d350f38c38e2

Kiat Sukses Bergaul

Meluruskan kekeliruan dalam berbicara dan berkumpul

  1. Mengobrol
  2. Memonopoli pembicaraan
  3. Berbicara tentang diri sendiri untuk membanggakan diri
  4. Lalai tehadap konsekuensi perkataan
  5. Kurang menjaga perasaan orang lain
  6. Mencela semuanya
  7. Banyak pertanyaan dan sengaja melecehkan orang lain
  8. Terburu-buru dalam menjawab
  9. Berusaha selalu memberikan pendapat dalam semua masalah, besar maupun kecil
  10. Berteman dengan orang yang rendah akhlaknya dan bodoh
  11. Pembicaraan yang tidak proporsional
  12. Berbicara dengan orang yang tidak senang
  13. Mengulang-ulang pembicaraan
  14. Merasa paling pintar (sombong) di antara para pendengar
  15. Tidak mendengarkan pembicara
  16. Meremehkan pembicaraan orang lain
  17. Tergesa-gesa menyempurnakan pembicaraan orang lain
  18. Meninggalkan majlis sebelum pembicara menyempurnakan perkataannya
  19. Tergesa-gesa mendustakan pembicara
  20. Berbicara singkat terhadap anak-anak kecil
  21. Meng-ghibah (menfitnah)orang
  22. Terburu-buru dalam menyebarkan berita sebelum cross check tentang kebenarannya dan seberapa penting untuk disebarkan
  23. Bohong/dusta
  24. Mendengarkan perkataan sebagian orang dan menerimanya tanpa klarifikasi atau verifikasi
  25. Mengeraskan suara
  26. Berbicara dengan keras
  27. Menegur dengan keras
  28. Melalaikan tatakrama bertelepon
  29. Lalai dalam tatakrama dialog
  30. Debat, perselisihan pendapat, dan pertengkaran
  31. Senang membantah dan berselisih pendapat
  32. Lidah yang kotor dan kata-kata yang buruk
  33. Berbicara dengan gaya yang mempesona
  34. Membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat
  35. Banyak mencela
  36. Banyak mengadu kepada orang
  37. Banyak membicarakan tentang perempuan
  38. Banyak bergurau/bercanda
  39. Banyak bersenda gurau
  40. Banyak besumpah
  41. Mencari-cari kesalahan sesama kawan duduk
  42. Menampakkan kebosanan terhadap kawan duduk
  43. Menyuruh kawan duduk melayani dirinya
  44. Berbisik berduaan saja tanpa seorang kawan lainnya
  45. Melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perasaan dalam majlis/pertemuan
  46. Melakukan perbuatan munkar dalam sidang
  47. Menghadiri majlis omong kosong dan mengikuti mereka
  48. Duduk dengan cara yang kurang sopan
  49. Duduk di tengah lingkaran
  50. Memisahkan antara dua orang yang duduk berdampingan tanpa izin
  51. Menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya, dan ia duduk di tempat tersebut
  52. Duduk di tempat orang lain ketika dia melaksanakan keperluannya
  53. Mendahului orang-orang besar
  54. Tidak melapangkan tempat untuk orang lain dalam majlis
  55. Masuk rumah orang lain tanpa izin
  56. Tidak memberi salam ketika masuk dan keluar majlis pertemuan
  57. Melanggar amanah majlis
  58. Tajassus dan tahassus (memata-matai)
  59. Duduk-duduk di jalan tanpa melakukan kewajibannya terhadap pengguna jalan
  60. Hilangnya kasih sayang dan kejernihan hati serta meratanya kebencian dan kemarahan
  61. Semakin sedikitnya dzikir kepada Allah dalam majlis pertemuan
  62. Semakin sedikitnya perhatian untuk mengucapkan do’a kaffarotul majlis (doa penutup majlis pertemuan)

Penutup

Jazahullahu khoiron kepada akhuna Eko Wahyu atas bantuan dalam pengetikannya.