Kalau Kamu


Kalau Kamu….

Kalau kamu lelah, cobalah tilawah.
Kalau kamu resah, segeralah tilawah.
Kalau kamu gelisah, hilangkan dengan tilawah.
Kalau kamu susah, mulailah tilawah.
Kalau kamu gundah, jangan lupa tilawah.
Kalau badanmu lemah, kuatkan dengan tilawah.
Kalau imanmu tergugah, lakukan tilawah.
Kalau jiwamu gerah, perbanyak tilawah.
Kalau matamu basah, segera tilawah.
Kalau pikiranmu cerah, cepatlah tilawah.
Kalau hatimu patah, teruslah tilawah.
Kalau kamu marah, redakan dengan tilawah.
Kalau kamu merasa gagal, jangan lupakan tilawah.

Kalau kamu kalah, harus banyak tilawah.
Kalau kamu tidak mau kalah, harus makin banyak tilawah.

Kalau kamu tabah, seringlah tilawah.

Kalau tanganmu tengadah, mulailah tilawah.

Kalau kakimu melangkah, lantunkan tilawah.

Kalau hatimu berseri bak bunga merekah, seringlah tilawah.

Kalau perasaanmu begitu indah, segeralah tilawah.

Kalau ingin keluarga sakinah, ajak mereka tilawah.
Kalau ingin anak-anak salih dan salihah, ajari tilawah.

Kalau ingin rejeki melimpah, rajinlah tilawah.
Kalau ingin hidup penuh berkah, rutinkan tilawah.

Kalau ingin mengunjungi Ka’bah, lantunkan tilawah.
Kalau anganmu tengah membuncah, perbanyak tilawah.

Kalau kamu malas tilawah, paksalah untuk tilawah.

Kalau kamu rajin tilawah, lanjutkan terus tilawah.

Kalau kamu tilawah, itulah jalan menuju jannah.

Advertisements

Berbenah Diri Untuk Penghafal Al-Qur’an


Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjamin kemurnian Al-Qur‘ân telah memudahkan umat ini untuk menghafal dan mempelajari kitab-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan para hamba-Nya agar membaca ayat-ayat-Nya, merenungi artinya, dan mengamalkan serta berpegang teguh dengan petunjukNya. Dia Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan hati para hamba yang shalih sebagai wadah untuk memelihara firman-Nya. Dada mereka seperti lembaran-lembaran yang menjaga ayat-ayat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Sebenarnya, Al-Qur‘ân itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zhalim … (Qs al-Ankabût/29:49).

Dahulu, para sahabat Radhiallahu’anhum yang mulia dan Salafush-Shalih, mereka berlomba-lomba menghafal Al-Qur‘ân, generasi demi generasi. Bersungguh-sungguh mendidik anak-anak mereka dalam naungan Al-Qur‘ân, baik belajar maupun menghafal disertai dengan pemantapan ilmu tajwid, dan juga mentadabburi yang tersirat dalam Al-Qur‘ân, (yaitu) berupa janji dan ancaman.

Berikut ini adalah nasihat yang disampaikan oleh Dr. Anis Ahmad Kurzun diangkat dari risalah beliau Warattilil Qur’âna Tartîla, dan diterjemahkan oleh al-Akh Zakariyya al-Anshari. Pembahasan ini menyangkut metode-metode, sebagai bekal dalam meraih kemampuan untuk dapat menghafal Al-Qur‘ân secara baik.

Karena, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali Rahimahullah , bahwasanya dahulu, para salaf mewasiatkan agar betul-betul memperbagus dan memperbaiki amalan (membaca dan menghafal Al-Qur‘ân, Red.). Bukan hanya sekedar memperbanyak (membaca dan menghafalnya, Red.), karena amalan yang sedikit disertai dengan memperbagus dan memantapkannya, itu lebih utama daripada amalan yang banyak tanpa disertai dengan pemantapan. Lihat Risalah Syarah Hadits Syaddâd bin Aus, karya Ibnu Rajab, hlm. 35.

Mudah-mudahan dengan kedatangan bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan ini, dapat kita manfaatkan untuk meningkatkan perhatian kita kepada Al-Qur‘ân, mempelajarinya,mentadabburi, memperbaiki bacaan, dan menghafalnya.

SATU Ikhlas, Kunci Ilmu dan Pemahaman

Jadikanlah niat dan tujuan menghafal untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan selalu ingat bahwasanya yang sedang Anda baca ialah Kalamullah. Berhati-hatilah Anda dengan faktor yang menjadi pendorong dalam menghafal, apakah untuk meraih kedudukan di tengah-tengah manusia, ataukah ingin memperoleh sebagian dari keuntungan dunia, upah dan hadiah? Allah tidak menerima sedikit pun dari amalan melainkan apabila ikhlas karena-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dan (menjalankan) agama dengan lurus. (Qs al-Bayyinah/98:5).

DUA Menjauhi Maksiat dan Dosa

Hati yang penuh dengan kemaksiatan dan sibuk dengan dunia, tidak ada baginya tempat cahaya al-Qur’ân. Maksiat merupakan penghalang dalam menghafal, mengulang dan mentadabburi Al-Qur‘ân. Adapun godaan-godaan setan dapat memalingkan seseorang dari mengingat Allah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. (Qs al-Mujâdilah/58:19).

‘Abdullah bin Al-Mubarâk meriwayatkan dari adh-Dhahhak bin Muzâhim, bahwasanya dia berkata;”Tidak seorang pun yang mempelajari Al-Qur`ân kemudian dia lupa, melainkan karena dosa yang telah dikerjakannya. Karena Allah berfirman Subhanahu wa Ta’ala : (Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri) –Qs asy- Syûra/42 ayat 30- . Sungguh, lupa terhadap Al-Qur`ân merupakan musibah yang paling besar.1

Ketahuilah, Imam asy-Syafi’i yang terkenal dengan kecepatannya menghafal, pada suatu hari ia mengadu kepada gurunya, Waqi‘, bahwa hafalan Al-Qur‘ânnya lambat. Maka gurunya memberikan terapi mujarab, agar ia meninggalkan maksiat dan mengosongkan hati dari segala hal yang dapat memalingkannya dari Rabb. Imam asy-Syafi’i berkata:

Saya mengadu kepada Waqi’ buruknya hafalanku,

maka dia menasihatiku agar meninggalkan maksiat.

Dan ia mengabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya,

dan cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diberikan kepada pelaku maksiat.

Imam Ibnu Munadi berkata,”Sesungguhnya menghafal memiliki beberapa sebab (yang membantu). Di antaranya, yaitu menjauhkan diri dari hal-hal yang tercela. Hal itu dapat terwujud, apabila seseorang mencegah diri (dari keburukan, Pent.) Pent.), menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ridha, memasang telinganya, dan pikirannya bersih dari ar-râin.”2

Yang dimaksud dengan ar-râ‘in, ialah sesuatu yang menutupi hati dari keburukan maksiat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. (Qs al-Muthaffifin/83:14).

Barang siapa menjauhkan dirinya dari kemaksiatan, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan hatinya untuk selalu mengingat-Nya, mencurahkan hidayah kepadanya dalam memahami ayat-ayat-Nya, memudahkan baginya menghafal dan mempelajari Al-Qur‘ân, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Qs al-’Ankabût/29:69).

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah telah membawakan perkataan Ibnu Abi Hâtim berkaitan dengan makna ayat ini: “Orang yang melaksanakan apaapa yang ia ketahui, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberinya petunjuk terhadap apa yang tidak ia ketahui”.3

TIGA Memanfaatkan Masa Kanak-Kanak dan Masa Muda

Saat masih kecil, hati lebih fokus karena sedikit kesibukannya. Dikisahkan dari al-Ahnaf bin Qais, bahwasanya ia mendengar seseorang berkata:

“Belajar pada waktu kecil, bagaikan mengukir di atas batu”. Maka al-Ahnaf berkata,”Orang dewasa lebih banyak akalnya, tetapi lebih sibuk hatinya.”4

Seharusnya siapa pun yang telah berlalu masa mudanya supaya tidak menyia-nyiakan waktu untuk menghafal. Jika ia konsentrasikan hatinya dari kesibukan dan kegundahan, niscaya ia akan mendapatkan kemudahan dalam menghafal Al-Qur‘ân, yang tidak dia dapatkan pada selain Al-Qur‘ân. Allah berfirman Subhanahu wa Ta’ala:

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur‘ân untuk pelajaran, maka adakah yang mau mengambil pelajaran? (Qs al-Qomar/54:17).

Demikianlah di antara keistimewaan Al-Qur‘ân. Perlu Anda ketahui, tatkala manusia telah mencapai usia tua, saraf penglihatannya akan melemah. Kadangkala dia tidak mampu membaca Al-Qur‘ân yang ada di mushaf. Dengan demikian, yang pernah dihafal dalam hatinya, akan dia dapatkan sebagai perbendaharaan yang besar. Dengannya ia membaca dan bertahajjud. Tetapi jika sebelumnya ia tidak pernah menghafal Al-Qur‘ân sedikit pun, maka alangkah besar penyesalannya.

EMPAT Memanfaatkan Waktu Semangat dan Ketika Luang

Tidak sepantasnya bagi Anda, wahai pembaca, menghafal pada saat jenuh, lelah, atau ketika pikiran Anda sedang sibuk dalam urusan tertentu. Karena hal itu dapat mengganggu kosentrasi menghafal. Tetapi pilihlah ketika semangat dan pikiran tenang. Alangkah bagus, jika waktu menghafal (dilakukan) ba’da shalat Subuh. Saat itu merupakan sebaik-baik waktu bagi orang yang tidur segera.

LIMA Memilih Tempat yang Tenang

Yaitu dengan menjauhi tempat-tempat ramai, bising. Sebab, hal itu akan mengganggu dan membuat pikiran bercabang-cabang. Maka ketika Anda sedang berada di rumah bersama anakanak, atau (sedang) di kantor, di tempat bekerja, di tengah teman-teman, jangan mencoba-coba menghafal sedangkan suara manusia di sekitar Anda. Atau di tengah jalan ketika sedang mengemudi, di tempat dagangan ketika transaksi jual beli. Ingatlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya … (Qs al-Ahzab/33:4).

Sebaik-baik tempat yang Anda pilih untuk menghafal ialah rumah-rumah Allah (masjid) agar mendapatkan pahala berlipat ganda. Atau di tempat lain yang tenang, tidak membuat pendengaran dan penglihatan Anda sibuk dengan yang ada di sekitar Anda.

ENAM Kemauan dan Tekad yang Benar

Kemauan yang kuat lagi benar sangat mempengaruhi dalam menguatkan hafalan, memudahkannya, dan dalam berkonsentrasi. Adapun seseorang yang menghafal karena permintaan orang tua atau gurunya tanpa didorong oleh kemauannya sendiri, ia tidak akan mampu bertahan. Suatu saat pasti akan tertimpa penyakit futur (penurunan semangat).

Keinginan bisa terus bertambah dengan motivasi, menjelaskan pahala dan kedudukan para penghafal Al-Qur‘ân, orang yang selalu bersama Al-Qur‘ân, dan membersihkan jiwa yang berlomba dalam halaqah, di rumah atau di sekolah. Tekad yang benar akan menghancurkan godaan-godaan setan, dan dapat menahan jiwa yang selalu memerintahkan keburukan.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali berkata:

Barang siapa memiliki tekad yang benar, setan pasti akan putus asa (mengganggunya). Kapan saja seorang hamba itu ragu-ragu, setan akan mengganggu dan menundanya untuk melaksanakan amalan, serta akan melemahkannya.5

TUJUH Menggunakan Panca Indra

Kemampuan dan kesanggupan seseorang dalam menghafal berbeda-beda. Begitu juga kekuatan hafalan seseorang dengan yang lainnya bertingkat-tingkat. Akan tetapi, memanfaatkan beberapa panca indra dapat memudahkan urusan dan menguatkan hafalan dalam ingatan.

Bersungguh-sungguhlah, wahai Pembaca, gunakanlah indra penglihatan, pendengaran dan ucapan dalam menghafal. Karena masing-masing indra tersebut memiliki sistem tersendiri yang dapat mengantarkan hafalan ke otak. Apabila metode yang digunakan itu banyak, maka hafalan menjadi semakin kuat dan kokoh.

Adapun caranya, yaitu Anda mulai terlebih dahulu membacanya dengan suara keras, apa yang hendak dihafalkan, sedangkan Anda melihat ke halaman yang sedang Anda baca. Dengan terus melihat dan mengulanginya sampai halaman tersebut terekam dalam memori Anda. Sertakan pendengaran Anda dalam mendengarkan bacaan, lalu merasa senang. Apalagi jika Anda membaca dengan suara senandung yang disukai oleh jiwa.

Seseorang yang menghafal Al-Qur‘ân dengan melihat mushaf, sedangkan ia diam, atau dengan cara mendengarkan kaset murottal tanpa melihat mushaf, atau merasa cukup ketika menghafal hanya membaca dengan suara lirih, maka semua metode ini tidak mengantarnya mencapai tujuan dengan mudah.

Perlu Anda ketahui, bahwasanya (dalam menghafal) manusia ada dua macam.

  1. Orang yang lebih banyak menghafal dengan cara mendengar daripada menghafal dengan melihat mushaf. Ingatannya ini disebut Sam’iyyah (pendengaran).
  2. Orang yang lebih banyak menghafal dengan cara melihat. Apabila ia membaca satu penggal ayat Al-Qur‘ân (akan) lebih bisa menghafal daripada (hanya dengan) mendengarkannya. Ingatannya ini disebut Bashariyyah (penglihatan).

Apabila Anda termasuk di antara mereka, maka sebelum menghafal, perbanyaklah membaca ayat dengan melihat mushaf dalam waktu yang lebih lama. Kemudian tutuplah mushaf dan tulis ayat-ayat yang baru saja Anda hafal dengan tangan. Setelah itu cocokkan yang Anda tulis dengan mushaf, agar Anda mengetahui mana yang salah, dan tempattempat hafalan yang lemah, sehingga Anda dapat mengulangi untuk memantapkannya.

Jika Anda memperhatikan bahwa Anda selalu salah dalam satu kalimat tertentu atau lupa setiap kali mengulangnya, maka tanamkan kalimat tersebut dalam memori Anda dengan membuat kalimat serupa yang Anda ketahui. Dengan demikian, Anda akan mengingat kalimat tersebut dengan kalimat yang Anda buat.

Imam Ibnu Munadi telah menunjukkan kepada kita masalah ini dengan perkataannya: “Seorang guru hendaklah mempraktekkan metode ini kepada murid. Yaitu memerintahkannya agar mengingat nama, atau sesuatu yang dia ketahui yang serupa dengan kalimat al-Qur`ân yang ia selalu lupa, sehingga akan menjadikannya ingat, insya Allah.”6

Kemudian beliau berdalil dengan perkataan Ali Radhiallahu’anhu kepada Abu Musa Radhiallahu’anhu : “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan agar aku memohon petunjuk dan kebenaran kepada Allah. Lalu aku mengingat kalimat (petunjuk) dengan (petunjuk jalan), dan aku mengingat (kebenaran) dengan (membetulkan busur)”.7

DELAPAN Membatasi Hanya Satu Cetakan Mushaf

Bagi para penghafal, utamakan memilih cetakan mushaf, yang diawali pada tiap-tiap halamannya permulaan ayat dan diakhiri dengan akhir ayat. Ini memiliki pengaruh sangat besar dalam menanamkan bentuk halaman dalam memori (ingatan), dan mengembalikan konsentrasi terhadap halaman tersebut ketika mengulang. Jika cetakan mushaf berbeda-beda, akan menimbulkan ingatan halaman dalam otak berbeda-beda, dan akan membuyarkan hafalannya, serta tidak bisa konsentrasi.

Begitu pula saya wasiatkan kepada saudaraku agar bersungguh-sungguh menggunakan mushaf saku, atau mushaf yang terdiri dari beberapa bagian, sesuai dengan cetakan mushaf yang sedang Anda hafal. Ini merupakan hal yang sangat baik. Setiap kali Anda mendapatkan waktu luang dan semangat, dimana pun Anda berada, supaya segera memanfaatkan waktu tersebut untuk menghafal hafalan baru, atau mengulang hafalan lama.

SEMBILAN Pengucapan yang Betul

Setelah Anda memilih waktu, tempat yang sesuai dan membatasi hanya satu cetakan mushafyang hendak Anda hafal, maka wajib bagi Anda membetulkan pengucapan dan mengoreksi kalimat-kalimat Al-Qur‘ân kepada seorang guru yang mutqin (ahli) sebelum mulai menghafal. Atau dengan cara mendengarkannya melalui kaset murattal seorang qari‘. Hal ini supaya Anda terjaga dari kekeliruan. Karena apabila kalimat yang telah Anda hafal itu salah, akan sulit bagi Anda membetulkannya setelah terekam dalam memori.

Imam Ibnu Munadi berkata,”Ketahuilah, menghafal itu memiliki beberapa sebab. Di antaranya, seseorang membaca kepada orang yang lebih banyak hafalannya, karena orang yang dibacakan kepadanya lebih mengetahui kesalahan daripada orang yang membaca.”8

Wahai saudaraku, bersungguh-sungguhlah menghadiri majlis-majlis tahfizhul-Qur‘ân, bertatap muka dengan para hafizh dan guru-guru yang mutqin, agar Anda terhindar dari kesalahan dan dapat menghafal dengan landasan yang kokoh.

Saya wasiatkan juga kepada saudaraku para pengajar Al-Qur‘ân, di masjid-masjid, di sekolah-sekolah agar bersungguh-sungguh membetulkan bacaan para murid pada ayat-ayat yang hendak mereka hafal, dan mengarahkan mereka supaya betul-betul mengoreksi kalimatkalimat Al-Qur‘ân yang sering terjadi padanya kesalahan. Begitu juga seorang guru meminta kepada para muridnya agar selalu mengulangulang hafalan kepada sesama teman untuk menjaga mereka dari kemungkinan terjadinya kesalahan.

SEPULUH Hafalan yang Saling Bersambung

Jangan lupa, wahai saudaraku! Jadikanlah hafalan Anda saling berkaitan. Setiap kali Anda menghafal satu ayat kemudian merasa telah lancar, maka ulangilah membaca ayat tersebut dengan ayat sebelumnya. Kemudian lanjutkan menghafal ayat berikutnya sampai satu halaman dengan menggunakan metode ini.

Disamping itu, apabila Anda telah menghafal satu halaman, maka harus membacanya kembali sebelum meneruskan ke halaman berikutnya. Begitu pula apabila hafalan Anda sudah sempurna satu surat, hendaklah menggunakan metode tadi, agar rangkaian ayatayat itu dapat teringat dalam memori Anda. Sungguh, jika tidak menggunakan metode ini, membuat hafalan Anda tidak terikat. Dan ketika menyetor hafalan, Anda akan membutuhkan seorang guru yag selalu mengingatkan permulaan tiap-tiap ayat. Begitu juga akan membuat Anda mengalami kesulitan ketika muraja‘ah hafalan.

SEBELAS Memahami Makna Ayat

Di antara yang dapat membantu Anda menggabungkan ayat dan mudah dalam menghafal, yaitu terus-menerus meruju‘ kepada kitab-kitab tafsir yang ringkas, sehingga Anda memahami makna ayat meskipun global. Atau paling tidak, Anda menggunakan kitab Kalimatul Qura’ni Tafsiiru wa Bayan karya Syaikh Hasanain Muhammad Makhlûf. Dengan mengetahui makna-makna kalimat, dapat membantu Anda memahami makna ayat secara global.

DUA BELAS Hafalan yang Mantap

Sebagian pemuda membaca penggalan ayat, dua sampai tiga kali saja. Lalu menyangka bahwa ia telah hafal. Lantas pindah ke penggalan ayat berikutnya karena ingin tergesagesa disebabkan waktunya sempit, atau karena persaingan di antara temannya, atau disebabkan desakan seorang guru kepadanya. Perbuatan ini, sama sekali tidak benar dan tidak bermanfaat. Sedikit tetapi terus-menerus itu lebih baik, daripada banyak tetapi tidak berkesinambungan. Hafalan yang tergesa-gesa mengakibatkan cepat lupa.

Fakta ini tersebar di kalangan para penghafal. Penyebabnya, kadangkala seseorang merasa puas dan tertipu terhadap dirinya ketika hanya mencukupkan membaca penggalan ayat beberapa kali saja. Apabila ia merasa penggalan ayat tadi sudah masuk dalam ingatannya, maka ia beralih ke ayat berikutnya. Dia menyangka, semacam ini sudah cukup baginya.

Faktor yang mendukung fakta ini, karena sebagian pengampu hafalan mengabaikan persoalan ini ketika penyetoran hafalan. Padahal semestinya, seorang penghafal tidak boleh berhenti menghafal dan mengulang dengan anggapan bahwa ia telah hafal ayat-ayat tersebut. Bahkan ia harus memantapkan hafalannya secara terus-menerus mengulang ayat-ayat yang dihafalnya. Karena setiap kali mengulang kembali, akan lebih memperbagus hafalannya, dan meringankan bebannya ketika muraja‘ah.

TIGA BELAS Terus-Menerus Membaca

Tetaplah terus membaca Al-Qur‘ân setiap kali Anda mendapatkan kesempatan. Karena banyak membaca, dapat memudahkan menghafal dan membuat hafalan menjadi bagus. Banyak membaca termasuk metode paling utama dalam muraja‘ah.

Cobalah Anda perhatikan, sebagian surat dan ayat yang sering Anda baca dan dengar, maka ketika menghafalnya, Anda tidak perlu bersusah payah. Sehingga apabila seseorang telah sampai hafalannya pada ayat-ayat tersebut, maka dengan mudah ia akan menghafalnya. Contohnya surat al-Wâqi‘âh, al-Mulk, akhir surat al-Furqân, apalagi juz ‘amma dan beberapa ayat terakhir dari surat al-Baqarah.

(Dengan sering membaca), dapat dibedakan antara seorang murid (yang satu) dengan murid lainnya. Barang siapa yang memiliki kebiasaan setiap harinya selalu membaca dan memiliki target tertentu yang ia baca, maka menghafal baginya (menjadi) mudah dan ringan. Hal ini dapat dibuktikan dalam banyak keadaan. Ayat mana saja yang ingin dihafal, hampir-hampir sebelumnya seperti sudah dihafal. Akan tetapi yang sedikit membaca dan tidak membuat target tertentu setiap harinya untuk dibaca, ia akan mendapatkan kesulitan yang besar ketika menghafal.

Perlu diketahui, wahai saudaraku! Membaca Al-Qur‘ân termasuk ibadah paling utama dan mendekatkan diri kepada Allah. Setiap huruf yang Anda baca mendapatkan satu kebaikan, dan kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Sama halnya dengan banyak membaca surat-surat yang telah dihafal, ia dapat menambah kemantapan hafalan dan tertanamnya dalam memori. Khususnya pada waktu shalat, maka bersungguh-sungguhlah Anda melakukan muraja‘ah yang telah dihafal dengan membacanya ketika shalat. Ingatlah, qiyamullail (bangun malam) dan ketika shalat tahajjud beberapa raka’at, Anda membaca ayat-ayat yang Anda hafal merupakan pintu paling agung di antara pintu-pintu ketaatan, dan membuat orang lain yang sulit menghafal menjadi iri terhadap apa yang Anda hafal.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membimbing kita kepada metode ini, yang merupakan kebiasaan orangorang shalih, supaya hafalan Al-Qur‘ân kita menjadi kuat melekat, dan selamat dari penyakit lupa. Dari Sahabat ‘Abdullâh bin ‘Umar Radhiallahu ’anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dan apabila shahibil-Qur‘ân (penghafal Al-Qur‘ân) menghidupkan malamnya, lalu membaca Al-Qur‘ân pada malam dan sianganya, niscaya ia akan ingat. Dan apabila dia tidak bangun, maka niscaya dia akan lupa. (HR Muslim).

EMPAT BELAS Menghafal Sendiri

Sedikit Manfaatnya Karena kebiasaan manusia itu menundanunda amalan. Setiap kali terlintas dalam pikirannya bahwa ia harus segera menghafal, datang kepadanya kesibukan-kesibukan dan jiwa yang mendorongnya untuk menunda amalan. Akibatnya membuat tekadnya cepat melemah. Adapun menghafal bersama seorang teman atau lebih, mereka akan membuat langkah-langkah tertentu. Masing-masing saling menguatkan antara yang satu dengan lainnya, sehingga menumbuhkan saling berlomba di antara mereka, serta memberi teguran kepada yang meremehkan. Inilah metode yang dapat mengantarkan kepada tujuan, Insya Allah.

Cobalah perhatikan, betapa banyak pemuda telah menghafal sekian juz di halaqah tahfizhul- Qur’ân di masjid, kemudian mereka disibukkan dari menghadiri halaqah ini. Mereka menyangka akan (mampu) menyempurnakan hafalan sendirian saja, dan tidak membutuhkan halaqah lagi. Tiba-tiba keinginan itu menjadi lemah lalu )ia pun) berhenti menghafal. Yang lebih parah lagi, orang yang seperti mereka kadang-kadang disibukkan oleh berbagai urusan dan pekerjaan. Kemudian mereka tidak mengulang hafalan yang telah dihafalnya. Hari pun berlalu, sedangkan semua hafalan mereka telah lupa. Mereka telah menyia-nyiakan semua yang telah mereka peroleh.

Menghafal sendiri bisa membuka peluang pada diri seseorang terjerumus ke dalam kesalahan saat ia mengucapkan sebagian kalimat. Tanpa ia sadari, kesalahan itu terkadang terus berlanjut dalam jangka waktu yang lama. Tatkala ia memperdengarkan hafalannya kepada orang lain atau kepada seorang ustadz di halaqah, maka kesalahannya akan nampak.

Oleh karena itu, wahai saudaraku! Pilihlah menghafal bersama mereka apa yang mudah bagi Anda untuk menghafalnya dari Kitabullâh, mengulang hafalan Anda bersama mereka. Ini merupakan sebaik-baik perkumpulan orangorang yang saling mencintai karena Allah Subhanallahu wa Ta’ala.

LIMA BELAS Teliti Terhadap Ayat-Ayat Mutasyabihat

Sangat penting untuk memperhatikan ayat-ayat mutasyabih (serupa) di sebagian lafazh-lafazhnya, dan membandingkan ayat-ayat mutasyabih itu di tempat-tempat (lainnya). Ketika Anda menghafalnya, alangkah baik jika ayat-ayat mutasyabih itu disalin di buku yang khusus. Supaya letak ayat-ayat mutasyabih itu dapat Anda ingat ketika mengulangi membacanya.

Dapat dilihat pada sebagian penghafal yang tidak memperhatikan letak ayat-ayat mutasyabih yang satu dengan lainnya. Sehingga mereka terjatuh dalam kesalahan ketika menyetor hafalan, disebabkan tidak memperhatikan letak ayat-ayat mutasyabih itu. Dalam hal ini, suatu ayat tertentu membuat mereka menjadi ragu dikarenakan menyerupai dengan ayat pada surat lain. Ketika membaca ayat-ayat tersebut, ternyata berpindah ke surat berikutnya tanpa mereka sadari. Bisa jadi ketika menyetor hafalan, kadangkala berpindah ke ayat mutasyabih yang ketiga atau keempat apabila ayat mutasyabih itu ada di beberapa tempat. Oleh karena itu, metode yang paling baik agar hafalan menjadi mantap, yaitu memusatkan perhatian terhadap ayat-ayat yang sama antara satu dengan lainnya. Curahkan kesungguhan dan fokuskan diri Anda dalam mencermatinya.

Para ulama telah menyusun berbagai kitab dalam masalah ini. Di antara kitab yang paling bagus. ialah kitab Mutasyabihul Quranil ‘Azhim karya Imam Abi al-Hasan bin al-Munadi wafat pada tahun 366 H, dan kitab Asraru Tikrari fil Quran karya seorang qari‘ handal, Muhammad bin Hamzah al-Karmani, seorang ulama abad kelima Hijriyah. Sebagian ulama juga menyusunMandzumah Syi’riyyah (susunan bait-bait sya’ir) dalam masalah ini, untuk memudahkan para penuntut ilmu menghafalnya. Di antaranya, kitab Nudzhmu Mutasyabihil Quran karya Syaikh Muhammad at-Tisyiti, (ia) termasuk ulama abad kesebelas Hijriyah.

Imam Ibnu Munadi dalam menjelaskan pentingnya mengetahui letak (tempat-tempat) ayat-ayat Al-Qur‘ân yang mutasyabih, (beliau) berkata: “Mengetahui tempat-tempat ayat-ayat mutasyabih, sesungguhnya dapat membantu menambah kekuatan hafalan seseorang, dan melatih orang yang masih menghafal. Sebagian ahli qiraat telah membukukan hal ini, lalu menyebutnya dengan al-mutasyabih, penolak dari buruknya hafalan”.9

Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah, wahai saudaraku dengan wasiat dan bimbingan ini. Segeralah menghafal Kitabullâh, merenungi ayat-ayatnya, dan berpegang teguh dengan petunjuknya, sebab Kitabullâh merupakan cahaya yang nyata dan jalan yang lurus. Allah berfirman Subhanahu wa Ta’ala :

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seidzin- Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Qs al-Mâidah/5:15-16).

(1) Fadha‘ilul-Qur‘ân, karya Ibnu Katsir, hlm. 147.

(2) Mutasyabihul- Qur‘ânil-’Azhim, karya Imam Ibnu Munadi, hlm. 25.

(3) Tafsir Ibnu Katsir (3/432).

(4) Adabud-Du-nya wad-Dîn, karya al Mawardi, hlm. 57.

(5) Risalah Syarah Hadits Syaddâd bin Aus, karya Imam Ibnu Rajab, hlm. 37.

(6) Mutasyabihul- Qur‘ânil-Azhim, karya Ibnu Munadi, hlm. 56, secara ringkas.

(7) Mutasyabihul- Qur‘ânil-Azhim, hlm. 55, dan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Shahîhnya, no. 2725.

(8) Mutasyabihul- Qur‘ânil-Azhim, hlm. 25.

(9) Mutasyabihul-Qur‘ânil-Azhim, hlm. 59, secara ringkas.

Majalah As-sunnah Edisi Ramadhan (06-07)/Tahun XI/1428H/2

Sumber:http://bukhari.or.id

http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/07/26/berbenah-diri-untuk-penghafal-al-quran/

CARA MUDAH MENGHAFAL AL-QUR’AN


الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد ، وعلى آله وصحبه أجمعين

Berikut adalah metode untuk menghafal Al-Quran yang memiliki keistimewaan berupa kuatnya hafalan dan cepatnya proses penghafalan. Kami akan jelaskan metode ini dengan membawa contoh satu halaman dari surat Al-Jumu’ah:

1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali :

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali:

وَآَخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali:

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

5. Bacalah keempat ayat ini dari awal sampai akhir sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut

6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali:

قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali:

وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

10. Bacalah ayat kelima sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut

11. Bacalah ayat pertama sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk menguatkan/meng-itqankan hafalan untuk halaman ini

Demikianlah ikuti cara ini dalam menghafal setiap halaman Al-Qur’an. Dan janganlah menghafal lebih dari seperdelapan juz dalam setiap hari agar tidak berat bagi anda untuk menjaganya.

Bagaimana cara menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah?

Janganlah anda menghafal Al-Quran tanpa proses muraja’ah/pengulangan. Hal ini dikarenakan jika anda terus menerus menambah hafalan Al-Quran lembar demi lembar hingga selesai kemudian anda ingin untuk mengulang kembali hafalan anda dari awal maka hal itu akan berat dan anda dapati diri anda telah melupakan hafalan yang lalu. Oleh karena itu, jalan terbaik (untuk menghafal) adalah dengan menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah.

Bagilah Al-Quran menjadi 3 bagian dimana setiap bagian terdiri dari 10 juz. Jika anda menghafal satu halaman setiap hari, maka ulangilah 4 halaman sebelumnya sampai anda menghafal 10 juz. Jika anda telah mencapai 10 juz, maka berhentilah selama sebulan penuh untuk muraja’ah dengan cara mengulang-ngulang 8 halaman dalam setiap harinya.

Setelah sebulan penuh muraja’ah, maka mulailah kembali untuk menambah hafalan yang baru baik satu atau dua halaman setiap harinya tergantung kemampuan serta barengilah dengan muraja’ah sebanyak 8 halaman dalam sehari. Lakukan ini sampai anda menghafal 20 juz. Jika anda telah mencapainya, maka berhentilah dari menambah hafalan baru selama 2 bulan untuk mengulang 20 juz. Pengulangan ini dilakukan dengan mengulang 8 halaman setiap hari.

Setelah 2 bulan, mulailah kembali menambah hafalan setiap hari sebanyak satu sampai dua halaman dengan dibarengi muraja’ah/pengulangan 8 halaman sampai anda menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.

Jika anda telah selesai menghafal seluruh Al-Qur’an, ulangilah 10 juz pertama saja selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz. Kemudian ulangilah 10 juz kedua selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama. Kemudian ulangilah 10 juz terakhir selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

Bagaimana cara memuraja’ah/mengulang Al-Quran seluruhnya jika saya telah menyelesaikan system muraja’ah diatas?

Mulailah dengan memuraja’ah Al-Qur’an setiap hari sebanyak 2 juz. Ulangilah sebanyak 3 kali setiap hari hingga anda menyelesaikan Al-Qur’an setiap 2 minggu sekali. Dengan melakukan metode seperti ini selama satu tahun penuh, maka –insya Allah- anda akan dapat memiliki hafalan yang mutqin/kokoh.

Apa yang harus dilakukan setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dalam satu tahun?

– Setelah setahun mengokohkan hafalan Al-Qur’an dan muraja’ahnya, jadikanlah Al-Qur’an sebagai wirid harian anda sampai akhir hayat sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjadikannya sebagai wirid harian. Adalah wirid Rasulullah dengan membagi Al-Qur’an menjadi 7 bagian sehingga setiap 7 hari Al-Qur’an dapat dikhatamkan. Berkata Aus bin Hudzaifah رحمه الله: Aku bertanya pada sahabat-sahabat Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – tentang bagaimana mereka membagi Al-Qur’an (untuk wirid harian). Mereka berkata: 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan dari surat Qaf sampai selesai. (HR. Ahmad). Yaitu maksudnya mereka membagi wirid Al-Quran sebagai berikut:

– Hari pertama: membaca surat “al fatihah” hingga akhir surat “an-nisa”,

– Hari kedua: dari surat “al maidah” hingga akhir surat “at-taubah”,

– Hari ketiga: dari surat “yunus” hingga akhir surat “an-nahl”,

– Hari keempat: dari surat “al isra” hingga akhir surat “al furqan”,

– Hari kelima: dari surat “asy syu’ara” hingga akhir surat “yaasin”,

– Hari keenam: dari surat “ash-shafat” hingga akhir surat “al hujurat”,

– Hari ketujuh: dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-naas”.

Wirid Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – di singkat oleh para ulama dengan perkataan: فمي بشوق (famii bisyauqi). Dimana setiap huruf dari kata ini merupakan surat awal dari kelompok surat yang dibaca setiap hari.

Bagaimana membedakan antara ayat-ayat mutasyaabih/mirip di dalam Al-Qur’an?

Cara yang paling afdhal jika anda mendapati 2 ayat yang mirip adalah dengan membuka mushaf pada setiap ayat yang mirip tersebut, lalu perhatikanlah perbedaan diantara kedua ayat tersebut kemudian berikanlah tanda yang dapat mengingatkan anda akan perbedaan itu. Lalu ketika anda memuraja’ah, perhatikanlah perbedaan yang anda tandai sebelumnya beberapa kali hingga anda mantap menghafal tentang kemiripan dan perbedaan diantara keduanya.

Kaidah-kaidah dan batasan-batasan dalam menghafal Al-Qur’an

  • Wajib bagi anda menghafal dengan bantuan seorang ustadz/syeikh untuk membenarkan bacaan anda
  • Hafallah 2 halaman setiap hari. Satu halaman setelah Subuh, dan satu halaman lagi sesudah Ashar atau sesudah Maghrib. Dengan cara ini, maka anda akan mampu menghafal Al-Qur’an seluruhnya dengan mutqin/kokoh dalam waktu satu tahun. Adapun jika anda menambah hafalan diatas 2 halaman setiap hari maka hafalan anda akan lemah disebabkan semakin banyaknya ayat yang harus dijaga..
  • Hendaklah menghafal dari surat An-Naas sampai Al-Baqarah karena hal tersebut lebih mudah. Namun setelah selesai menghafal seluruh Al-Quran, hendaklah muraja’ah anda dimulai dari surat Al-Baqarah sampai An-Naas
  • Hendaklah menghafal dengan menggunakan satu cetakan mushaf karena hal ini dapat menolong anda dalam memantapkan hafalan dan meningkatkan kecepatan dalam mengingat posisi-posisi ayat serta awal dan akhir setiap halaman Al-Qur’an.
  • Setiap orang yang menghafal dalam 2 tahun pertama biasanya masih mudah kehilangan hafalannya. Masa ini dinamakan dengan Marhalah Tajmi’ (fase pengumpulan). Janganlah bersedih atas mudahnya hafalan anda hilang atau banyaknya kekeliruan anda. Karena memang fase ini merupakan fase cobaan yang sulit. Dan waspadalah, karena syaithan akan mengambil kesempatan ini untuk menggoda anda agar berhenti dari menghafal Al-Qur’an. Maka janganlah perdulikan rasa was-was syaithan tersebut dan teruskan menghafal karena sesungguhnya itu adalah harta yang sangat berharga yang tidak diberikan pada setiap orang.

Sumber: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=342445 [mirror]

Artikel: www.salafiyunpad.wordpress.com

Download file Word-nya di Cara Mudah Menghafal al-Quran

Daftar Isi Buku “Hukum Fikih Seputar Al-Quran”


hukum_fikih_seputar_al_quran_b

Penulis : Dr Ahmad Salim

Deskripsi : 480 hal, 17,5 x 24,5 cm (HC)

Penerbit : Ummul Qura’ (Aqwam Group)

 

Berikut daftar isinya:

BERSUCI UNTUK MEMBACA AL-QUR’AN

Bersuci Sebelum Membaca Al-Qur’an

  • Membaca Al-Qur’an Bagi Yang Berhadats
    • Membaca al-qur’an secara hafalan bagi yang berhadts kecil
    • Membaca al-qur’an bagi perempuan yang istihadhah
    • Membaca al-qur’an bagi orang junub dan perempuan haid
    • Membaca satu ayat atau penggalan ayat Al-Qur’an bagi orang junub dan perempuan haid
    • Membaca al-qur’an di kamar mandi, wc, dan memasukinya sambilmembaca al-qur’an
      • Membaca al-qur’an di kamar mandi
      • Membaca mushaf ke kamar mandi
      • Membaca al-qur’an di wc
      • Membaca mushaf di wc
      • Membaca al-qur’an bagi orang yang bertayamum

BERSUCI SEBELUM MENYENTUH MUSHAF AL-QUR’AN

  • Hukum orang yang berhadats menyentuh Al-Qur’an
  • Hukum orang yang berhadast menyentuh kitab yang memuat ayat Al-Qur’an
    • Menyentuh kitab tafsir
    • Menyentuh kitab hadits, fikih, dan lainnya
    • Hukum orang yang berhadats menyentuh uang atau pakaian yang bertuliskan ayat Al-Qur’an
    • Hukum orang yang berhadats menyentuh terjemah Al-Qur’an
    • Hukum anak kecil berhadats menyentuh mushaf mushaf atau lembaran yang bertuliskan ayat Al-Qur’an  untuk belajar
    • Hukum orang yang bertayamum menyentuh mushaf
    • Hukum orang yang berhadast membawa mushaf
    • Hukum musafir kenegeri kafir dengan membawa mushaf

MEMBACA AL- QUR’AN DALAM SHALAT 

Hukum Membacal Al-Qur’an Dalam Shalat

  • Membaca Al- Qur’an dalam shalat
  • Membaca Al-Qur’an pada setiap rakaat

 Membaca Al-fatihah dan Ayat Lain Sesudahnya Bagi Imam, Makmum, dan Munfarid

  • Membaca Al- Qur’an dengan bacaan yang tidak mutawatir
  • Membaca Al-Qur’an dengan selain bahasa arab
  • Membaca Al-Qur’an dengan urutan surat  yang terbolak balik
  • Membaca Al-Qur’an dengan urutan ayat yang terbolak balik
    • Membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara tidak urut dalam dua rakaat
    • Membaca Al-Qur’an pada saat rukuk, sujud, dan duduk

Membaca Al-Fatihah Dan Sesudahnya Bagi Imam

  • Bacaan yang di-sirr-kan dan di-jahr-kan
  • Kadar jahr dan sirr
  • Jahr dan sirruntuk yang dikerjakan tidak pada waktunya
  • Hukum imam salah baca syakal (harakat) ayat  Al-Qur’an
  • Hukum imam imam yang tidak dapat melafalkan sebagian huruf hijaiyah
  • Hukum imam gagap

Membaca Al-Fatihah Sesudahnya Bagi Makmum

  • Membaca Al-Fatihah dan surat lain sesudahnya dalam shalat jahr
  • Membaca Al-Fatihah dan sesudahnya dalam shalat sir
  • Jika berpendapat Al-Fatihah wajib bagi makmum
  • Jika berpendapat Al- Fatihah tidak wajib bagi makmum
  • Mengingatkan bacaan imam yang keliru atau lupa suatu ayat
    • Men-jahr-kan bacaan bagi makmum

Membaca Al-Fatihah Dan Sesudahnya Bagi Munfarid (Orang Yang Mengerjakan Shalat Sendiri)

  • Men-jahr-kan bacaan bagi laki-laki
  • Men-jahr-kan bacaan bagi perempuan

Membaca Isti’adzah Dan Basmalah Ketika Membaca Al-Fatihah Dalam Shalat

  • Hukum membaca isti’adzah  ketika  membaca al-fatihah  dalam shalat
    • Hukum isti’adzah
    • Sifat isti’adzah
    • Mengeraskan isti’adzah ketika shalat jahr
    • Wakti membaca isti’adzah
    • Mengulang isti’adzah di setiap rakaat
    • Hukum basmalah untuk membaca al-fatihah dalam shalat
    • Hukum basmalah
    • Mengeraskan bacaan basmalah dalam shalat jahriyah
    • Mengulangi bacaan basmalah ketika membaca Al-Fatihah dalam shalat

Hukum-Hukum Membaca Al-Fatihah Dalam Shalat

  • Hukum membaca Al-Fatihah dalam shalat bagi imam dan munfarid (orang yang shalat sendirian)
  • Pertama, perbedaan pendapat fuqoha tentang hukum membaca Al-Fatihah dalam shalat bagi imam dan munfarid
  • Kedua, batasan minimal surat yang harus dibaca menurut fuqoha seperti fuqoha madzab Hanafi, sebagian Maliki, dan Ahmad yang berpendapat bahwa Al-Fatihah bukan merupakan rukun shalat
    •  Hukum mengulangi Al-Fatihah dalam satu rakaat
    • Mengucapkan Amin setelah Al-Fatihah dalam shalat
      • Hukum membaca Amin setelah Al-Fatihah dalam shalat
      • Mengeraskan bacaan Amin dalam shalat jahr
      • Waktu membaca Amin setelah Al-Fatihah bagi makmum bersama imam menurut pendapat yang mengatakan sunnahnya membaca Amin dengan keras
      • Hukum orang yang tidak mampu membaca Al-Fatihah dalam shalat
        • Tidak mampu membaca sebagian Al-Fatihah, tetapi bisa membaca sebagian ayat yang lain
        • Mampu membaca surat Al-Fatihah  dan ayat yang lain
        • Tidak mampu membaca surat Al-Fatihah tapi bisa membaca surat yang lainya
          • Yang wajib dibaca oleh orang yang shalat
          • Kadar bacaan yang harus dibaca sebagi ganti Al-Fatihah
          • Kadar bacaan yang di akui menurut fuqoha’ yang berpendapat  wajibnya mengganti Al-Fatihah dengan bacaan setara denganya
          • Tidak mampu membaca Al-Fatihah  sama sekali, dan tidak mampu membaca surat yang lainya
            • Apakah dia harus membaca dzikir atau diam?
            • Zikir apa saja yang harus dibaca menurut pendapat yang mewajibkanya
            • Kadar zikir menurut fuqoha yang mewajibkan membaca zikir
            • Kadar berhenti menurut pendapat yang tidak mewajibkan membaca zikir
            • Tidak mampu membaca sama sekali, baik Al-Fatihah, surat dalam Al-Qur’an maupun zikir
      • Membaca Al-Fatihah setelah rukuk pertama dalam shalat kusuf (gerhana matahari)
      • Membaca Al-Fatihah dalam shalat jenazah

Hukum-Hukum Yang Berlaku Untuk Imam, Makmum, Dan Munfarid (Orang Yang Shalat Sendirian)

  • hukum membaca Al-Qur’an setelah Al-Fatihah
    • hukum membaca A-Qur’an setelah Al-Fatihah pada dua rakaan pertama dalam shalat lima waktu.
    • Hukum membaca Al-Qur’an setelah Al-Fatihah setelah dua rakaat terakhir dalam shalat yang empat rakaat dan rakaat terakhir dalam shalat yang tiga rakaat.
    • Kadar bacaan setelah Al-Fatihah dalam shalat lima waktu
      • Al-Mufasshal
      • Batasan Al-Mufasshal
      • Bacaan Al-Qur’an paling minim yang harus dibaca setelah Al-Fatihah dalam shalat
      • Bacaan yang di sunnahkan dalam shalat Dhuhur
      • Bacaan yang di sunnahkan dalam shalat Asyar
      • Bacaan yang di sunnahkan dalam shalat Maghrib
      • Bacaan yang di sunnahkan dalam shalat Isya’
      • Bacaan yang di sunnahkan dalam shalat Fajar (Shubuh)
        • Kadar bacaan yang di sunnahkan dalam shalat Fajar
        • Bacaan yang disunnahkan dalam shalat Fajar pada hari Jum’at
      • Hukum membaca sebagian surat setelah Al-Fatihah dalam satu rakaat
      • Hukum membaca lebih dari satu surat setelah Al-Fatihah dalam satu rakaat
      • Mengulang bacaan surat setelah Al-Fatihah dalam shalat
        • Hukum mengulangi satu surat setelah al-Fatihah dalam satu rakaat
      • Hukum mengulang satu surat setelah Al-Fatihah dalam dua rakaat atau lebih
      • Hukum memanjangkan bacaan setelah Al-Fatihah pada rakaat pertama melebihi bacaan pada rakaat kedua
      • Membaca Al-Qur’an dengan melihat Mushaf dalam shalat

Hukum-Hukum Khusus Imam Tentang Bacaan Setelah Al-Fatihah

  • Waktu diamnya imam dalah shalat jahriyah
    • Diamnya imam di antara takbiratul ihram dan Al-Fatihah
    • Diamnya imam setelah Al-Fatihah dan sebelum Amin
    • Diamnya imam di antara Al-Fatihah dan surat
    • Diamnya imam setelah bacaan Al-Qur’an dan sebelum rukuk
    • Bacaan dalam dua khutbah dan shalat Jum’at
      • Bacaan dalam dua khotbah Jum’at
        • Hukum Al-Qur’an dalam dua khotbah Jum’at
        • Kadar minimal bacaan Al-Qur’an dalam dua khutbah Jum’at.
        • Bacaan dalam shalat Jum’at
          • Bacaan surat yang disunnahkan dalam shalat Jum’at
          • Mengeraskan bacaan Al-Qur’an dalam shalat Jum’at
      • Bacaan setelah Al-Fatihah dalam dua shalat Id
        • Bacaan yang disunnahkan dalam dua shalat Id
        • Mengeraskan bacaan dalam dua shalat Id
      • Bacaan setelah Al-Fatihah dalam shalat gerhana
        • Ketentuan bacaan yang dibaca setelah Al-Fatihah dalam shalat gerhana
        • Mengeraskan bacaan dalam shalat gerhana
      • Bacaan shalat Al-Fatihah dalam shalat istisqo’
        • Bacaan yang disunnahkan setelah Al-Fatihah dalam shalat istisqo’
        • Mengeraskan bacaan setelah Al-Fatihah dalam shalat istisqo’
      • Bacaan setelah Al-Fatihah dalam shalat tarawih dan witir
        • Kadar bacaan yang disunnahkan setelah Al-Fatihah dalam shalat tarawih dan witir
        • Bacaan yang disunnahkan dalam shalat witir
        • Mengeraskan bacaan bacaan dalam shalat tarawih dan shalat witir
      • Bacaan setelah Al-Fatihah dalam shalat jenazah
        • Hukum bacaan setelah A-Fatihah dalam shalat jenazah
        • Mengeraskan bacaan setelah Al-Fatihah dalam shalat jenazah

Hukum-Hukum Khusus Bagi Munfarid Tentang Bacaan Setelah Al-Fatihah

  • Bacaan setelah Al-Fatihah pada dua rakaat shalat fajar
    • Kadar bacaan setelah Al-Fatihah pada dua rakaat rakaat shalat fajar menurut fuqoha yang menghukumi sunnah
    • Mengeraskan dan memelankan bacaan dalam shalat-shalat sunnah pada singa hari yang tidak di syari’atkan berjamaah
    • Mengeraskan dan melemahkan bacaan dalam dalam shalat-shalat sunnah malam hari yang tidak disyariatkan berjamaah
    • Mengeraskan dan melemahkan bacaan dalam shalat-shalat sunnah malam hari yang tidak disyariatkan berjamaah
    • Bacaan yang disunnahkan dalam dua rakaat Thawaf

MEMBACA, MENULIS, DAN MENGAJARKAN AL-QUR’AN

Membaca Isti’adzah

  • Hukum isti’adzah (membaca Ta’awudz) sebelum membaca Al-Qur’an
  • Hukum mengulangi isti’adzah ketika bacaan Al-Qur’an di pertengahan surat
  • Mengulangi basmallah di setiap membaca surat

Membaca Basmallah

  • Hukum membaca basmallah  sebelum membaca Al-Qur’an
  • Hukum membaca tatkala memulai bacaan Al-Qur’an di pertengahan surat
  • Mengulangi basmallah di setiap membaca surat

Membaca Al-Qur’an Dengan Tartil

  • Membaca Al-Qur’an dengan tartil
  • Memperbagus bacaan Al-Qur’an
  • Melagukan bacaan Al-Qur’an

Membacakan Al-Qur’an Untuk Orang Yang Sekarat Dan Meninggal

  • Membacakan Al-Qur’an untuk orang yang sekarat
  • Membacakan Al-Qur’an untuk orang mati sebelum dikuburkan
  • Membacakan Al-Qur’an untuk orang mati ketika dikuburkan
  • Membaca Al-Qur’an di kuburan
  • Membaca Al-Qur’an di upacara pemakaman
  • Apakah pahala membaca Al-Qur’an sampai pada si mayit

Membaca Al-Qur’an Secara Bersama-Sama

  • Membaca AL-Qur’an bersama-sama
  • Memr’baca Al-Qur’an dengan bergantian

Mengkhatamkan Al-Qur’an Dan Sunnah-Sunnahnya

  • Rentang waktu mengkhatamkan Al-Qur’an
  • Batas waktu mengkhatamkan Al-Qur’an
    • Waktu yang di sunanahkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an
    • Hal-hal yng dilakukan ketika selesai mengkhatamkan Al-Qur’an
    • Berdo’a ketika mengkhatamkan Al-Qur’an
    • Mengundang keluarga dan teman ketika mengkhatamkan Al-Qur’an
    • Mengulang surat Al-Ikhlas ketika mengkhatamkan Al-Qur’an
    • Berpuasa ketika mengkhatamkan Al-Qur’an
    • Melanjutkan dalam menkhatamkan Al-Qur’an dengan khataman berikutnya
      • Menyambung khatam Al-Qur’an

Hukum-Hukum Lain Yang Berkaitan Dengan Membaca Al-Qur’an

  • Adab membaca Al-Qur’an
  • Manakan yang utama membaca Al-Qur’an dengan Jahr (keras) atai sir (lirih)
  • Manakah yang lebih utama membaca Al-Qur’an dengan mushaf atau hafalan
  • Mempermainkan Al-Qur’an
  • Membaca Al-Qur’an ketika berthawaf
  • Membuka dan menutup majelis dengan bacaan Al-Qur’an
  • Membaca shadaqallahul ‘adhim setelah membaca Al-Qur’an
  • mencium mushaf setelah membaca Al-Qur’an

Hukum-Hukum Yang Berkaitan Dengan Penulisan Al-Qur’an

  • Hal-hal yang harus dijaga ketika menulis Al-Qur’an
    • Menulis ayat dan menggantunkanya di dinding atau semisalnya
    • Non muslim menulis Al-Qur’an
    • Menulis Al-Qur’an dengan benda najis
    • Menerjemahkan Al-Qur’an
      • Menerjemahkan Al-Qur’an secara lafdhiyah (kata per kata)
      • Menrjemahkan Al-Qur’an secara maknawi
      • Syarat-syarat penerjemah Al-Qur’an

Belajar Dan Mengejarkan Al-Qur’an

  • Mempelajari Al-Qur’an bagi setiap muslim
  • Mengajarkan Al-Qur’an kepada kaum muslimin
  • Mengajarkan Al-Qur’an kepada non muslim

SUJUD TILAWAH

Hukum, jumlah (ayat), dan tempat sujud tilawah

  • Hukum sujud tilawah
    • Hukum sujud tilawah bagi yang membaca Al-Qur’an (ayat sajadah)
    • Hukum sujud tilawah bagi yang mendengarkan Al-Qur’an (ayat sajadah)
    • Syarat membaca ayat sajadah sehingga yang mendengarnya disyariatkan untuk bersujud bersamanya
    • Hukum sujud tilawah bagi yang mendengar (ayat sajadah) tanpa sengaja atau sami’
    • Jumlah ayat sajadah dan tempat-tempatnya
    • Perincian pendapat mengenai ayt-ayat sajadah yang diperselisihkan
      • Ayat sajadah pertama dalam surat Al-Hajj
      • Ayat sajadah kedua dalam surat Al-Hajj
      • Ayat sajadah pada surat Shad
      • Ayat sajadah pada surat-surat Mufashshal
      • Tempat-tempat sujud sajadah dalam Al-Qur’an
        • Tempat-tempat ayat sajadah yang disepakati untuk sujud tilawah dan tempat-tempatnya
        • Letak ayat sajadah yang disepakati untuk sujud tilawah namun  diperselisihka tempatnya
          • Letak ayat sajadah surat An-Naml
          • Letak ayat sajadah surat Fushillat
          • Ayat sajadah yang diperselisihkan untuk sujud tilawah namun disepakati tempatnya
            • Ayat sajadah pertama surat Al-Hajj
            • Ayat sajadah kedua surat Al-Hajj
            • Ayat sajadah surat An-Najm dan Al-‘Alaq
            • Ayat sajadah yang diperselisihkanuntuk sujud tilawah dan tempatnya
              • Letak ayat sajadah surat Shad
              • Letak ayat sajadah surat Al-Insyiqoq

Hukum-Hukum Seputar Sujud Tilawah

  • Hukum-hukum seputar sujud tilawah di dalam dan di luar shalat
  • Bacaan yang disunahkan ketika sujud tilawah
  • Sujud tilawah diatas kendaraan
  • Mencukupkan membaca ayat sajadah saja
  • Tidak melanjutkan bacaan ayat sajadah saat membaca Al-qur’an
  • Sujud ketika membaca atau mendengar terjemahan ayat sajadah
  • Sujud tilawah dalam shalat
  • Hukum sujud tilawah dalam shalat jahriyah bagi imam
  • Hukum membaca ayat sajadah dalam shalat sirriyah bagi imam
  • Hukum sujud tilawah dalam shalat sirriyah bagi imam (menurut fuqoha yang memakruhkan bacaan ayat sajadah  bagi imam dalam shalat sirriyah)
  • Takbir ketika sujud dan bangkit dari sujud
  • Mengangkat kedua tangan ketika sujud dan bangkit dari sujud tilawah
  • Mengganti sujud tilawah dalam shalat dengan rukuk
  • Sujud tilawah bagi makmum jika membaca ayat sajadah
  • Mengulangi sujud tilawah ketika mengulangi bacaan ayat sajadah dalam shalat
  • Sujud tilawah bagi makmum ketika mendengar ayat sajadah yang tidak berasal dari imam
  • Sujud tilawah diluar shalat
  • Syarat sujud tilawah
  • Berdiri terlebih dahulu sebelum sujud tilawah bagi yang duduk
  • Takbir ketika sujud tilawah
  • Takbiratul ihram ketika sujud tilawah
  • Takbir ketika sujud dan bangkit dari sujud tilawah
  • Menangkat kedua tangan ketika takbir untuk sujud dan bangkit dari sujud tilawah
  • Mengganti sujud tilawah dengan rukuk
  • Tasyahud setelah sujud tilawah
  • Salam setelah sujud tilawah
  • Hukum shalat setelah sujud tilawah
  • Jumlah salam menurut fuqoha yang berpendapat disyariatkan salam
  • Mengulangi sujud tilawah ketika mengulangi bacaan ayat sajaadah
  • Membaca ayat sajadah kemudia sujud tilawah ketika khutbah di atas mimbar
  • Sujud tilawah pada waktu-waktu yang dilarang shalat

HUKUM-HUKUM TARKAIT AL-QUR’AN DALAM AKAD, HAD, DAN SUMPAH

Hukum Yang Berkaitan Dengan Al-Qur’an Dalam Masalah Akad

  • Hukum-hukum yang berkaitan dengan Al-Qur’an dalam masalah jual beli
  • Menjual mushaf kepada orang muslim
  • Menjual mushaf kepada orang kafir
  • Hukum-hukum yang berkaitan dengan Al-Qur’an dalam masalah pegadaian
  • Menggadaikan mushaf kepada orang muslim
  • Menggadaikan mushaf kepada orang kafir
  • Hukum-hukum yang berkaitan dengan Al-Qur’an dalam masalah sewa-menyewa\ijarah
  • Menyewakan mushaf
  • Upah dari menghafal Al-Qur’an
  • Jasa menulis Al-Qur’an dan upah darinya
  • Hukum-hukum berkaitan dengan Al-Qur’an dalam masalah pinjam-meminjam
  • Meminjamkan mushaf kepada orang muslim
  • Meminjamkan mushaf kepada orang non muslim
  • Hukum yang berkaitan dengan Al-Qur’an dalam masalah wakaf
  • Mewakafkan Al-Qur’an kepada orang muslim
  • Mewakafkan Al-Qur’an kepada non muslim
  • Hukum yang berkaitan dengan Al-Qur’an dalam masalah wasiat
  • Mewasiatkan mushaf kepada orang muslim
  • Mewasiatkan mushaf kepada non muslim
  • Hukum-hukum berkaitan yang berkaitan dengan Al-Qur’an dalam masalah akad nikah
  • Mengajarkan Al-Qur’an sebagai mahar
  • Ayat Al-Qur’an yang disyariatkan untuk dibaca ketika khutbah nikah
  • Membaca Al-fatihah ketika akad nikah

Hukum Yang Berkaitan Dengan Al-Qur’an Dalam Masalah Had Dan Sumpah

  • Hukum yang berkaitan dengan Al-Qur’an dalam masalah had pencurian
  • Potong tangan karena mencuri mushaf
  • Potong tangan karena mencuri mushaf yang diberi hiasan (emas atau perak) menurut fuqoha yang berpendapat tidak ada potong tangan karena mencuri mushaf
  • Hukum yang berkaitan dengan Al-Qur’an dalam masalah sumpah
  • Bersumpah dengan Al-Qur’an, sebagianya, atau dengan mushaf
  • Bersumpah dengan hak (kebenaran) Al-Qur’an
  • Kafarah orang bersumpah dengan Al-Qur’an, sebagianya, dengan mushaf, atau dengan hak keduanya jika mengingkarinya
  • Memperkuat sumpah dengan meletakkan tangan di atas mushaf

 

Jazahullahu khoiron kepada Akh Najah atas bantuan pengetikannya.

Lima Tips Hafal Alquran dari Imam Masjidil Haram


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menghafal kitab suci Alquran merupakan hal yang paling mulia. Selain memiliki banyak keutamaan di akhirat, Allah juga berjanji akan meninggikan derajat mereka yang hafal Alquran dibanding para hamba-Nya yang lain.

Imam Masjid Nabawi, Syaikh Sa’ad Al Ghamidi memberikan lima tips yang harus diperhatikan bagi penghafal Alquran. Tips tersebut harus diperhatikan, khususnya bagi orang yang sama sekali tak bisa berbahasa Arab. Pertama, harus mempunyai tujuan yang jelas. “Teman-teman Indonesia harus memiliki tujuan yang jelas, apa tujuan antum menghafal Alquran,” katanya, Ahad (31/3) malam.

Kedua, ujar Sa’ad, harus ada lembaga yang menyelenggarakan program menghafal Alquran. Lembaga ini berfungsi untuk mengkoordinasi mereka yang ingin menghafal Alquran agar nantinya tidak patah dan berhenti di tengah jalan.

Ketiga, harus ada metode yang digunakan dan tak asal begitu saja. Jika memang ingin sungguh-sungguh, maka mesti ada metode yang dipakai. “Metode yang digunakan harus efektif dan bisa digunakan bagi seluruh kalangan. Sebab, kemampuan masing-masing orang dalam menghafal berbeda-beda. Ada yang bisa menghafal satu halaman per hari, namun ada juga yang hanya bisa menghafal satu ayat saja per hari,” jelasnya.

Keempat, harus ada mu’allim (guru) yang menjadi rujukan dan mempunyai kemampuan membaca Alquran dengan baik dan benar. “Jadi mu’allim harus dilihat juga, apakah bacaannya fasih? Apakah hafalan Alqurannya baik? Apakah dia bisa menjadi qudwah (tauladan) dari kepribadian dan akhlaknya? Jadi memang diperlukan seleksi yang ketat dalam menentukan mu’allim itu,” jelas Syaikh.

Kelima, harus ada follow-up setelah menyelesaikan hafalan Alquran. Jadi, mereka yang telah merampungkan hafalan Alquran mereka tidak dibiarkan begitu saja. “Bagi sebahagian madrasah Tahfidz Alquran hanya menfokuskan santrinya bagaimana mencetak para hafiz Quran. Namun yang tak kalah pentingnya, apa yang akan mereka lakukan setelah mereka menjadi hafiz Quran?” paparnya.

Sumber: Republika.Co.Id

Video

مشاري العفاسي تلاوة خاشعة لسورة القيامة من أستراليا 2013


Published on Mar 18, 2013

تلاوة خاشعة لسورة القيامة
للشيخ / مشاري راشد العفاسي
من مؤتمر السلام باستراليا 2013

Recitation of Suret “Al-Qeyamah”
By Shikh /Mishari Rashid Alafasy
This recording was
at Islamic Peace Conference at Melbourne Showgrounds! IREA 2013

Follow US
http://www.alafasy.me/
http://www.facebook.com/AlafasyOffici…
http://twitter.com/mishari_alafasy
http://twitter.com/Alafasy_TV
http://www.youtube.com/alafasychannels