10 Tanda Kekurangan Fisik Al-Ahnaf bin Qais, Tidak Menghalanginya dari Kemuliaan Ilmu


Saya menemukan sifat-sifat fisik beliau yang sangat jauuh bila dibandingkan dengan keutamaan beliau. Seperti yang dituliskan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamad (2007: 117) tentang al-Ahnaf bahwa ia, “..telah mencapai kedudukan dengan pujian dan kepemimpinan yang tinggi, karena kelembutannya, keberaniannya, akhlaknya yang terpuji dan keindahan penjelasannya.”

So, bagaimana fisik beliau? Al-Haitsam bin Adi meriwayatkan dari Abu Ya’kub Ats-Tsaqafi dari Abdul Malik bin ‘Umair, beliau berkata: “Al-Ahnaf mengunjungi kami di Kufah bersama dengan Mush’ab bin Az-Zubair. Tidaklah saya melihat ada fisik yang menjadi sebab celaan pada diri seseorang kecuali saya telah melihatnya saat itu,

  1. kepala yang kecil,
  2. hidung yang menukik turun,
  3. telinga lunak,
  4. gigi yang tidak beraturan,
  5. bibir yang bengkok,
  6. dagu yang miring,
  7. pelipis yang menonjol,
  8. mata yang pecak,
  9. kurus lebar,
  10. kedua kaki yang kering,

Akan tetapi ketika beliau berbicara maka nampaklah siapa dirinya yang sebenarnya.”[1]

*****

Buku yang kupegang:

  • Al-Hamad, Muhammad bin Ibrahim. 2007. Akhlak-akhlak yang Buruk; Fenomena, Sebab Terjadinya, Cara Mengatasinya. Terjemah oleh Pustaka Darul Ilmi. Judul asli “Suul Khuluq; Madzoohiruhu, Asbabuhu, ‘Ilaajuhu”. Bogor: Pustaka Darul Ilmi.

Malang, 19 Rabiul Awal 1431 H/5 Maret 2010

[1] Al-Bayaan wa At-Tabayyun karya Al-Hafidz 1/56, lihar Zuhar Al-Adab karya Al-Hushari Al-Qairawani 3/199 dan Siyar A’lam An-Nubala’ karya Adz-Dzahabi 4/94

Agenda Praktis Bagi Pencari Ilmu Tingkat Pemula


Agenda Praktis Bagi Pencari Ilmu Tingkat Pemula[1]

Oleh Dr. Aidh al-Qarni

NO WAKTU KEGIATAN
 1. Setelah shalat Shubuh hingga terbit matahari Menghafal (cukup dengan menghafal lima ayat Al-Quran, satu hadits Nabi saw, dan satu penggal matan)
 2. Dari terbit matahari hingga shalat Zhuhur Belajar formal (bagi yang sekolah atau kuliah), bekerja di kantor atau mencari nafkah dan berdagang
 3. Setelah shalat Zhuhur Menelaah buku-buku sejarah dan sastra, makan serta tidur siang
 4. Setelah shalat Ashar Menelaah kitab-kitab induk yang telah kami sebutkan di atas
 5. Setelah shalat Maghrib hingga Isya’ Mengulang kembali (muraja’ah) hafalan; baik Al-Quran, hadits, maupun matan
 6. Setelah shalat Isya’ Membaca brosur-brosur keislaman, majalah-majalah yang berguna, serta buku-buku wawasan, lalu makan malam dan tidur
 7. Hari Kamis[2] Berkunjung dan rekreasi
 8. Hari Jumat[3] Tadabbur Al-Quran, dzikir, berdoa, mengerjakan amalan-amalan nafilah, banyak membaca shalawat kepada Nabi saw, introspeksi diri (muhasabah) dan merenung (ta’ammul)

[1] Dikutip dari: Tips Belajar Para Ulama. Solo: Wacana Ilmiah Press, hal 144-145. Sebenarnya buku ini berasal dari dua buku yang berbeda, yaitu: Adabu Tholibil ‘Ilmi, karya Dr. Anas Ahmad Karzun dan Kaifa Tathlubul ‘Ilm, karya Dr. ‘Aidh Al-Qorni, M.A. Namun oleh penerbit dijadikan satu. Sehingga saya (Abdurrahman HRD) merasakan kesulitan dalam mengutipnya. Untuk tabel di atas adalah dari Dr. ‘Aidh Al-Qorni.

[2] Di mayoritas negara-negara Arab, hari Kamis adalah hari akhir pekan. Sedangkan, di Indonesia akhir pekan rata-rata jatuh hari Sabtu, —ed.

[3] Di mayoritas Negara-negara Arab, hari Jumat adalah hari libur. Sedangkan, di Indonesia hari libur rata-rata jatuh pada hari Ahad, —ed.

Jadwal Harian untuk Orang yang Tekun


Jadwal Harian untuk Orang yang Tekun[1]

Oleh Husain Muhammad Syamir

Sesungguhnya penolong yang paling besar setelah petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar dapat tekun dan kontinyu melakukan kesungguhan berbuat baik adalah membuat program dan jadwal aktivitas kehidupan. Kita adalah umat yang aktif bekerja tidak mengenal kemalasan, bekerja dengan penuh disiplin tanpa sikap asal-asalan, bekerja berdasarkan perencanaan yang matang dan teliti, tidak ada tempat untuk melakukan sesuatu yang sia-sia di dalam kehidupan ini.

Kita dapatkan shalat lima waktu benar-benar terinci waktu dan aturannya, setiap shalat memiliki waktu yang telah ditetapkan hingga seandainya shalat dilakukan sebelum waktunya maka shalat itu batal, seandainya dilakukan setelah habis waktunya tanpa udzur maka batal pula, dan begitu pula halnya dengan ibadah-ibadah lainnya. Di antara hal yang dapat membantu seorang muslim untuk bekerja adalah membuat jadwal harian untuk mengatur hidupnya, kecuali jika ada suatu kondisi darurat dan mendadak yang harus menyalahi jadwal yang telah ditetapkan, maka saat itu Allah tidak akan memberatkan seseorang kecuali sebatas kemampuannya. Jadwal program harian yang saya buat ini adalah program usulan, yang boleh jadi cocok bagi orang-orang tertentu dan tidak sesuai (tidak pas) bagi orang lain. Sebab jadwal harian yang saya tawarkan ini hanyalah merupakan pemikiran yang bersumber dari pengalaman, memohon semoga Allah menjadikan program kerja ini bermanfaat.

Alangkah baiknya jika seorang muslim mengatur waktunya serta jadwal hariannya berdasarkan shalat lima waktu. Continue reading

39 Nasehat Syaikh Abdul Aziz As-Sadhan untuk Para Penuntut Ilmu


Nasehat ke-1     : Ikhlash karena Allah dalam menuntut ilmu

Nasehat ke-2     : Bacalah buku tentang ilmu dan etika menuntut ilmu

Nasehat ke-3     : Utamakan yang paling penting dalam menuntut ilmu

Nasehat ke-4     : Hindari sikap sok tahu

Nasehat ke-5     : Memuji Allah ta’ala ketika menyebutkan nama-Nya

Nasehat ke-6     : mengucapkan shalawat dan salam ketika menyebut nama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Nasehat ke-7     : Mendoakan keridhoan ketika menyebut nama sahabat Radhiyallahu ‘Anhum

Nasehat ke-8     : Mendoakan kerohmatan ketika mneyebutkan nama ulama

Nasehat ke-9     : Cermat dan teliti dalam mengutip referensi

Nasehat ke-10   : Tidak menisbatkan hadits pada selain Shohihain jika ia ada pada kitab itu

Nasehat ke-11   : Teliti dan cermat dalam mengutip

Nasehat ke-12   : Menghubungkan ungkapan kepada pemiliknya

Nasehat ke-13   : Jangan anggap kecil pelajaran sedikit pun

Nasehat ke-14   : Jangan menyembunyikan ilmu

Nasehat ke-15   : Hati-hati berdalil dengan hadits lemah dan palsu

Nasehat ke-16   : Jangan dhoifkan suatu hadits kecuali setelah meneliti dan bertanya

Nasehat ke-17   : Jangan mengabaikan pertanyaan orang

Nasehat ke-18   : Gunakan buku tulis untuk mencatat pelajaran dan pertanyaan

Nasehat ke-19   : Berusaha membaca pada setiap momentum

Nasehat ke-20   : Waspadai kesibukan dengan hal-hal mubah

Nasehat ke-21   : Jangan sibukan diri dengan suatu yang kurang utama

Nasehat ke-22   : Kunjungi perpustakaan dan bacalah semampunya

Nasehat ke-23   : Menengok koleksi pustaka pribadi

Nasehat ke-24   : Jangan samaratakan  istilah keilmuan yang mirip

Nasehat ke-25   : Bacalah penjelasan istilah para penulis, metode penulisan dan resensi buku

Nasehat ke-26   : Jangan tergesa-gesa memahami perkataan

Nasehat ke-27   : Perbanyaklah membaca buku fatwa

Nasehat ke-28   : Jangan cepat menampik sesuatu secara umum

Nasehat ke-29   : Jika meriwayatkan hadits secara makna, maka jelaskan!

Nasehat ke-30   : Jangan gunakan ungkapan yang memuji diri sendiri

Nasehat ke-31   : Terimalah kritik dan nasihat dengan lapang hati

Nasehat ke-32   : Jangan pedulikan sedikitnya orang yang memperhatikan pelajaran

Nasehat ke-33   : Jangan sia-siakan waktu untuk membahas perkara yang tak bermanfaat

Nasehat ke-34   : Jangan menyibukkan diri dengan pembahasan yang keluar dari konteks

Nasehat ke-35   : Tidak berpindah-pindah buku ketika membaca

Nasehat ke-36   : Jangan berlebihan dalam memilih kata-kata

Nasehat ke-37   : Waspadai berbicara tanpa ilmu

Nasehat ke-38   : Jangan terpengaruh dengan hinaan yang bersifat pribadi

Nasehat ke-39   : Waspadai rasa bosan menuntut ilmu

Penjelasan masing-masing nasehat dapat dibaca dalam buku Ma’alim fi Thariq Thalab al-Ilmi, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Bimbingan Menuntut Ilmu”

Gambar

 

Kajian Spesial Ramadhan “101 Adab Penuntut Ilmu” Bersama Ustadz Abdullah Shaleh Hadrami


Berkata Abdullah Ibnu Mubarak rahimahulloh:
“Aku belajar adab tiga puluh tahun, dan aku belajar ilmu dua puluh tahun dan mereka dulu (salafus sholeh) belajar adab dulu sebelum belajar ilmu (ghayatun nihayah fi thabaqaatil Qurra’ 1/198)

Daftar dan Ikutilah Kajian Kitab Selama Bulan Romadhon 1433 H

Pemateri : Ustadz Abdullah Saleh Al Hadrami
Judul Kitab:

” An-Nubadz Fi Adab Thalabil ‘Ilmi”
(101 Adab Penuntut Ilmu)

Penulis:
Fadiilatusy Syaikh DR. Hamd bin Ibrahim Al-Ustman Hafidhahulloh
(Ulama terkemuka dari Kuwait dan murid Syaikh Utsaimin Rahimahulloh)

Acara diselenggarakan pada:
Tanggal : 1 Romadhon sampai dengan akhir Romadhon 1433 H
Waktu : Jam 16.00 – 17.00 WIB
Tempat : Masjid An Nur Jagalan, Jl. Kapten Piere Tendean 1c/1 Malang

Peserta terbatas
Pendaftaran dimulai tanggal 11 Sya’ban 1433 H (1 Juli 2012 M)
Daftar ulang pada tanggal 27-29 Sya’ban 1433 H (17-19 Juli 2012 M)

Tersedia takjil dan berbuka bagi peserta terdaftar

Tempat pendaftaran : Studio Radio Dakwah Islamiah 100.5 FM
Jl. Kapten Piere Tendean 1c/7c Jagalan Saleyer Malang

Kitab bisa pesan ke panitia, atau download di SINI

Pengalaman Hidup Ibnul Jauzi Rahimahullah


Syaikh Ibnul Jauzi rahimahullah.

”Aku pernah merasa tertekan dengan masalah yang telah menjadikanku selalu dalam kegelisahan. Aku berusaha sekuat tenaga agar terlepas dari jeratan kegelisahan itu. Tapi usaha yang kulakukan itu sia-sia. Lalu aku membaca firman Allah ini : ”Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka ia akan diberikan jalan keluar dan diberi rizki dari arah yang tidak diduga-duga.” (Ath Thalaq)

”Aku mengerti bahwa ketaqwaan merupakan jalan keluar dari seluruh kegelisahan. Maka selama aku ada di jalan menuju taqwa, pasti kudapati jalan keluar dalam menghadap masalah apapun. Seorang makhluk tidak boleh menyandarkan diri kecuali pada Allah. Allah lah yang akan mencukupinya. Seseorang bisa melakukan usaha apapun, akan tetapi hatinya tidak boleh bergantung pada usaha itu. Hati-hatilah melanggar batasan Allah sehingga engkau menjadi hina dihadapan Allah dan kecil dihadapan makhlukNya”

Aku menemukan orang yang usianya disumbangkan untuk ilmu hingga ia tua. Tapi ia melanggar larangan Allah, maka jadilah ia dihinakan oleh Allah dan dikecilkan oleh makhluk Allah. Mereka tidak menoleh padanya meskipun ia orang yang luas ilmunya, kuat argumentasi dalam berdebat. Aku juga melihat ada orang yang berhati-hati dan merasa diawasi oleh Allah dalam hidupnya. Ia juga mengutamakan tuntunan Allah meski ia tdak sebanding ilmunya dengan orang alim tadi. Tapi Allah meninggikan kehormatannya dalam hati makhluk-Nya sehingga ia dicintai banyak orang yang karena kebaikannya.

”Aku pernah mengalami kesulitan dan kepayahan. Kemudian aku perbanyak do’a untuk memohon keselamatan dan ketenangan, tapi tampaknya do’aku tak kunjung dikabulkan sebagaimana harapanku. Jiwaku gelisah, lalu kukatakan padaNya dengan keras : ”Celakalah engkau, periksalah keadaanmu. Apakah engkau ini budak atau raja ? Tidakkah engkau tahu bahwa dunia adalah tempat ujian ? Jika engkau ingin mendapat apa yang kau inginkan kemudian tidak bersabar tatkala engkau belum mencapainya, dimanakah ujian hidup itu jadinya ? Engkau telah menginginkan sesuatu yang engkau tidak tahu akibatnya. Padahal bisa saja sesuatu itu justru membahayakanmu. Allah berfirman : ”Bisa saja engkau membenci sesuatu padahal itu baik bagimu dan bisa saja engkau mencintai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Dan Allah yang Maha Mengetahui sedangkan engkau tidak mengetahui.” (Al Baqarah : 216)

”Aku mengambil manfaat dari pengalaman hidup, bahwa seseorang hendaknya tidak menampakkan permusuhan pada orang lain, sebisa mungkin. Karena seseorang mungkin tidak menyangka bila ia memerlukan orang itu untuk memberi manfaat bagi kita, setidaknya ia bisa menghindarkan bahaya.”

Saudaraku, demikianlah petikan pengalaman hidup seorang yang shalih. Betapa banyak dan dalam makna yang diungkapkan dalam perkataan Imam Ibnul Jauzi rahimahullah. Sungguh inilah wasita dan peninggalan yang tak ternilai. Inilah sebagian cahaya yang seharusnya kita pegang dalam meniti hidup.

Al Imam Ibnul Jauzi Abu Al Faraj, yang nasabnya terhubung dengan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yakni Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu anhu, wafat pada malam Jum’at tanggal 12 Ramadhan 597 H / 1201 M pada usianya hampir mencapai 90 tahun. Ia dimakamkan di Babul Harb dekat dengan makam Imam Besar Ahmad bin Hanbal.

Semoga Allah memberikan balasan padanya karena berbagai ilmu yang ia tinggalkan. Semoga kita diberi kekuatan tekad dan mampu mengikuti jejak para salafussholeh. [Shaidul Khatir]

Sumber: http://alqiyamah.wordpress.com/