Menundukkan Pandangan dari si Cantik | Hadiah dari Allah Ta’ala Bagi yang Menundukkan Pandangan!


Syaikh Muhammad HassaanHafidzahullah- seorang dai dan ulama terkenal dari Mesir bercerita pada salah satu ceramahnya. Beliau bercerita tentang kisah seorang pemuda dari Maroko yang tinggal di Amerika.

Hidup di Amerika seorang pemuda miskin dari Maroko, umurnya sekitar 23 atau 24 tahun. Pada salah satu kunjungan Syaikh ke Amerika, Syaikh mengenal si pemuda. Setelah perjalanan waktu berlalu Syaikh melakukan kunjungan dan kunjungan lagi ke Amerika.

Pada saat beliau di Amerika, beliau teringat pemuda miskin dari Maroko. Syaikh menanyakan tentang dirinya. Dikabarkan kepadanya bahwa pemuda itu telah menjadi kaya raya, memiliki harta miliaran.

Syaikh bertanya : Apakah ia menang undian, atau masuk ke tempat perjudian atau… atau… atau… ?

Di ceritakan kepada syaikh kisahnya :

Pada suatu hari Pemuda Maroko berada pada sebuah gedung tinggi di New York. Ia menaiki lift, satu2 persatu orang-orang keluar dari lift. Akhirnya di dalam lift hanya ada Pemuda Maroko dan seorang gadis Amerika cantik sekali dengan pakaian ala gadis amerika.

Apa yang terjadi ?

Gadis Amerika itu ketakutan, karena takut diganggu si Pemuda Maroko, dan di dalam lift hanya ada mereka berdua.
Gadis itu memperhatikan si Pemuda dan gerak-geriknya.
Si Pemuda hanya menunduk ke lantai.

Akhirnya mereka sama2 keluar pada lantai yang sama.
Si Gadis itu merasa heran, ada apa dengan si Pemuda itu, kenapa ia tidak melihat kepada saya ?

Si Gadis bertanya kepada si Pemuda : Apakah saya tidak cantik ?
Si Pemuda menjawab : Bagaimana saya mengetahui engkau cantik, padahal saya tidak melihat kepada engkau.

Kemudian si Gadis itu bertanya : Kenapa engkau tidak melihat kepada saya, apakah saya tidak cantik ?
Pemuda menjawab : agama saya melarangnya.

Si Gadis berkata : Bahkan saya mengira engkau akan mengganggu saya.
Si Pemuda menjawab : Saya takut kepada Allah.

si Gadis berkata : Agama kamu yang melarang kamu dari melihat kepada saya, pasti tidak mungkin mengizinkanmu untuk menyakiti/mengganggu dalam bentuk apapun.

Si Gadis berkata : Maukah engkau menikahi saya ?
Si pemuda menjawab : Saya muslim, apakah agama engkau ?
Si gadis berkata : Saya bukan muslimah
Si Pemuda berkata : Saya tidak boleh menikah denganmu
Si Gadis bertanya : Saya akan masuk ke dalam agamumu, apakah engkau mau menikahi saya ?
Si pemuda menjawab : Iya.

Si Pemuda Maroko itu menjelaskan kepada gadis itu tentang tata cara masuk Islam, gadis itupun masuk Islam dan menikah dengan si Pemuda. Ternyata gadis itu adalah orang kaya, ia mendapatkan warisan yang sangat banyak dari orang tuanya. Ia-pun menyerahkan seluruh hartanya bagi suaminya tercinta.

Tundukkan pandangan pemuda Maroko menjadi sebab masuk Islamnya gadis Amerika, ini menunjukkan kepada kita bahwa pengamalan kita terhadap agama adalah sebab orang2 non muslim masuk ke dalam agama Islam.

Bonus : Dengan menundukkan pandangan si Pemuda itu mendapatkan istri yang cantik jelita + kaya raya.

Hadiah dari Allah Taala bagi yang menundukkan pandangan!

© Catatan fb STDI Imam Syafi’i – Jember publish kembali olehMoslemsunnah.Wordpress.com

Teman Abdul Wahid bin Zaid (Muda, Kaya Raya, Syahid, Masuk Surga Bersama Al-Aina)


Dalam Al-Wa’dh wa ar-QaqaiqAbdul Wahid bin Zaid menceritakan,

Suatu hari aku berkumpul bersama beberapa orang dalam suatu majlis. Kami sedang bersiap untuk keluar berperang menghadapi musuh. Aku telah memerintahkan para sahabatnku agar segera bersiap untuk membacakan beberapa ayat Alquran.” Maka seorang laki-laki segera membaca Q.S. At-Taubah: 111,

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan jannah.”(Q.S. At-Taubah: 111)

Mendengar bacaan tersebut, ada seorang pemuda kira-kira umurnya lima belas tahun dan ayahnya telah meninggal dengan mewariskan harta yang sangat banyak. Pemuda itu berkata, “Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah telah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan jannah?”

Aku jawab, “Benar.”

Pemuda itu kembali berkata, “Aku bersumpah di hadapanmu bahwa aku telah menjual jiwa dan hartaku dengan jannah.”

Segera kukatakan kepadanya, “Wahai sahabat, sesungguhnya tebasan pedang itu sangat kejam sedangkan engkau masih sangat muda. Aku khawatir engkau tidak mampu bersabar dan akhirnya lemah ketika menghadapi ujian itu.”

Si pemuda menjawab, “Wahai Abdul Wahid, sesungguhnya aku telah menjual jiwaku kepada Allah dengan imbalan jannah, dan aku sangat bergembira bahwa aku telah bersumpah kepada Allah dengan sungguh-sungguh untuk menjual diriku kepada-Nya.”

Abdul Wahid berkata, ‘Mendengar perkataan pemuda itu terasa jiwa kami telah berubah kerdir dan lalai.’

Kami saling berucap, ‘Anak muda itu mempu berpikir sedangkan kita tidak mampu berpikir.’

Setelah mengucapkan kata-katanya, pemuda itu segera mengambil seluruh harta yang dia miliki dan diinfakkan semua kecuali seekor kuda dan persenjataan yang dia miliki. Ketika datang waktu keluar berperang pemuda itulah orang yang pertama kali maju untuk berperang.

Dia berkata kepadaku, “Assalamu’alaika. Wahai Abdul Wahid.”

Aku jawab, “Wa ‘alaika as-salam, wahai orang yang beruntung dalam perniagaan.”

Kami mulai melakukan perjalanan untuk menuju medan perang dan selama itu pula si pemuda selalu memenuhi harinya dengan berpuasa di siang hari serta menegakkan qiyamullail di malam hari. Pemuda tersebut juga yang melayani semua perbekalan kami dan kuda-kuda tunggangan kami. Dia juga yang berjaga ketika kami tidur. Terus menerus pemuda itu melakukan amalnya sampai kami telah bertemu dengan musuh di negeri Romawi.

Di suatu hari kami mendengar dia berujar, “Betapa aku rindu kepada al-Aina al-Mardhiyyah (nama bidadari –pent).”

Salah seorang sahabatku berkata, “Mungkin pemuda ini sedang mengalami godaan di dalam dirinya sehingga pikirannya kacau.”

Aku bertanya kepada si pemuda, “Wahai sahabat, apa yang engkau maksud al-Aina al-Mardhiyyah itu?”

Anak muda itu berkata, “Sesungguhnya aku tadi sempat mengantuk dan tertidur sebentar.” Kemudian kulihat seakan-akan ada seseorang yang mendatangiku. Laki-laki itu berkata kepadaku, “Pergilah menuju al-Aina al-Mardhiyyah.” Dia kemudian membawaku menuju sebuah taman yang di dalamnya terdapat sungai yang alirannya terbuat dari air yang tidak berubah bau dan rasanya. Di pinggir sungai itu terdapat sekelompok gadis yang memakai perhiasan yang keindahannya tidak bisa aku kisahkan. Ketika melihatku para gadis itu menyambutku dengan gembira dan berkata, “Inilah suami al-Aina al-Mardhiyyah!”

Segera aku ucapkan salam dan kukatakan, “Asaalamu’alaikunna, apakah salah seorang di antara kalian ada yang bernama al-Aina al-Mardhiyyah?”

Para gadis itu berkata, “Tidak ada, akan tetapi ini hanyalah para dayang dan pelayannya maka berjalanlah terus ke depan Anda akan bertemu dengannya.”

Aku segera berlalu ketika tiba-tiba aku lihat sebuah sungai yang alirannya terbuat dari air susu yang tidak akan berubah rasanya. Sungai ini terletak di dalam sebuah taman yang berisi perhiasan yang sangat indah. Di dalam taman itu juga terdapat sekelompok gadis yang kecantikan dan keindahan mereka, segera membuatku terlena. Ketika aku melihat para gadis menerimaku dengan hangat sembari berkata, “Demi Allah, inilah suami al-Aina al-Mardhiyyah.” Aku ucapkan, “Assalamu’alaikunna,” dan aku tanyakan, “Apakah salah seorang di antara kalian ada yang bernama al-Aina al-Mardhiyyah?” Para gadis menjawab, “Wa ‘alaika as-salam, wahai waliyullah, kami hanyalah para pelayannya, maka berjalannlah ke depan.”

Aku terus berlalu, sampai kulihat ada sungai yang alirannya terbuat dari khamar. Di pinggir sungai terdapat sekelompok gadis yang begitu kulihat mereka, aku segera lupa dengan kecantikan dan keindahan para gadis terdahulu.

Aku berkata, “Assalamu’alaikunna, adakah di antara kalian yang bernama al-Aina al-Mardhiyyah?” Mereka menjawab, “Tidak ada, akan tetapi kami hanyalah para dayang dan pelayannya, berjalanlah ke depan.”

Aku terus berjalan dan aku temui sebuah sungai yang alirannya terbuat dari madu jernih. Di pinggir sungai terdapat sekelompok gadis yang memancarkan cahaya dan kecantikan sehingga aku lupa dengan kecantikan dan keindahan para gadis terdahulu.

Aku berkata, “Assalamu’alaikunna, adakah di antara kalian yang bernama al-Aina al-mardhiyyah?” Mereka menjawab, “Wahai waliyullah, kami ini hanyalah para dayang dan pelayannya, maka berjalanlah ke depan.”

Maka aku ikuti perkataan mereka dan aku terus berjalan sampai aku bertemu dengan sebuah istana yang terbuat dari mutiara putih. Di depan pintu istana tersebut terdapat seorang gadis cantik, dia menggunakan perhiasan yang begitu mempesona sehingga aku tidak bisa menerangkan keindahannya.

Ketika melihatku gadis itu tersenyum dan berbicara dengan seseorang, “Wahai al-Aina al-Mardhiyyah, suamimu telah datang.”

Aku bergegas mendekati istana dan ketika sampai di dalam aku lihat al-Aina al-Mardhiyyah sedang duduk di atas ranjang emas. Gadis itu mengenakan mahkota yang terbuat dari permata dan Yaquth (mutiara merah). Begitu melihat gadis tersebut aku segera tergoda dengan keindahan dan kecantikannya.

Dia berkata, “Selamat datang, wahai Waliyyurrahman, telah dekat waktu kehadiranmu kepada kami.”

Aku berjalan mendekat untuk memeluknya, akan tetapi gadis itu menolak dengan lembut dan berkata, “Jangan tergesa-gesa, belum tiba waktunya bagimu untuk dapat memelukku. Engkau masih memiliki ruh di dalam jasad, maka berpuasalah esok hari kemudian engkau akan berbuka bersama kami malam harinya, insyaAllah.”

Wahai Abdul Wahid, kemudian aku segera terbangun dan aku tidak sabar untuk segera bertemu dengannya.”

Abdul Wahid berkata, “Belum sempat pemuda itu menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba datang sepasukan musuh menyerang kami. Segera pemuda itu bangun untuk menghadapi serangan dan dia berhasil membunuh sembilan pasukan musuh. Kemudian dialah yang mendapatkan giliran kesepuluh untuk menemui kematian – semoga Allah mencurahkan rahmat kepadanya – segera aku dekati pemuda itu. Kulihat dia bergelimang dengan darah sembari tersenyum sampai ruhnya keluar meninggalkan dunia ini.”

Sumber: Kisah-Kisah Pahlawan Generasi Pilihan, Hilmi bin Muhammad bin Ismail, Wafa Press

 Artikel www.KisahMuslim.com

Al-Barra’ bin Malik Menembus Benteng Musuh


Diriwayatkan dari Ibnu Sirin bahwasanya kaum muslimin tiba di suatu benteng, di dalamnya terdapat beberapa orang musyrik. Al-Barra’ bin Malik duduk di atas sebuah perisai dan berkata, “Angkatlah aku dengan tombak kalian lalu lemparkan aku ke balik benteng ini untuk menyerang mereka.”

Mereka melemparkan Al-Barra’ ke balik dinding dan segera disambut oleh para musuh. Pada akhirnya ia berhasil membunuh 10 orang di antara mereka, sedang ia sendiri terkena lebih dari 80 sabetan pedang dan tusukan tombak di tubuhnya. Dia dirawat oleh Khalid bin al-Walid selama satu bulan hinggal sembuh lukanya.

Sumber: 99 Kisah Orang Shalih, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Darul Haq, Cetakan 5 Shafar 1430/2009

Artikel www.KisahMuslim.com