Bahaya Kesyirikan


Pembaca yang dirahmati Allah, di edisi bulan yang lalu telah kita bahas bahwa mengenai pengertian dan pembagian Tauhid. Pada edisi ini, penulis akan melanjutkan dengan pembahasan Syirik dan bahaya yang terdapat dalamnya.

PENGERTIAN SYIRIK

Syirik yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah Allah U. Umumnya menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah, yaitu hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah disamping berdo’a kepada Allah, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih (kurban), bernadzar, berdo’a dan sebagainya kepada selain-Nya.

Ibnu Mas’ud t meriwayatkan, aku bertanya kepada Nabi r, “Dosa apakah yang paling besar?” Beliau menjawab: “Yaitu engkau menjadikan tandingan (sekutu) bagi Allah sedangkan Dialah yang menciptakanmu.” (HR Bukhari & Muslim)

BENTUK-BENTUK KESYIRIKAN

  • Mempercayai dan mendatangi dukun, paranormal, tukang sihir, orang pintar, tukang ramal, atau sejenisnya.
  • Meminta-minta ke kuburan Nabi, orang shalih atau yang selainnya.
  • Mempercayai jimat, ramalan bintang, dan lainnya.
  • Mempercayai dan menggunakan jampi-jampi dan pelet, dll.

Continue reading

Advertisements

Makna Mentauhidkan Allah


Saudaraku yang dirahmati Allah..

Mentauhidkan Allah Azza wa Jalla dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan adalah kewajiban setiap muslim. Begitu pula yang termasuk kewajiban adalah mengetahui pengertian tauhid dan pembagiannya.

 

Definisi Tauhid

Tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalam rububiyah-Nya, ikhlas beribadah kepada-Nya dalam Uluhiyyah-Nya, serta menetapkan bagi-Nya nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Pembagian Tauhid

       Tauhid ada tiga macam: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah serta Tauhid Asma’ wa Sifat.

Para ulama membagi tauhid menjadi tiga macam berdasarkan penelitian yang mendalam terhadap nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana ahli fiqh membuat pembagian terhadap rukun, syarat sah, syarat wajib shalat; sebagaimana juga ahli ilmu nahwu membagi kata menjadi tiga macam yaitu: fiil, isim dan huruf. Semua pembagian ini bertujuan untuk  mempermudah bagi yang mempelajarinya.

Pembagian ini adalah masyhur di kalangan ulama Salaf. Diantara ulama yang menjelaskan tentang pembagian tauhid tersebut yaitu Ibnu Baththah (wafat tahun 387 H) dalam kitabnya Al Ibaanah ‘an Syariatil Firqatin Najiyyah wa Mujaanabatil Furuqil Madzmumah dan Ibnu Mandah (wafat 395 H) dalam kitabnya Kitabut-Tauhid wa Ma’arifati Asmaa’Illahi ‘’Azza wa Jalla wa Shifatihi ‘alal Ittifaki wat-Tafarrud. Kedua ulama tersebut hidup pada masa yang berbeda dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat 728 H). Continue reading

Tauhid, Hakikat dan Kedudukannya


Tauhid merupakan kewajiban utama dan pertama yang diperintahkan Allah  Subhanahu wa Ta’ala kepada setiap hamba-Nya. Oleh karenanya, setiap muslim wajib untuk mengetahui hakikat dan kedudukannya. Kedudukan tauhid tersebut antara lain:

  1. Hakikat tujuan penciptaan jin dan manusia

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tujuan penciptaan manusia dan jin, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [الذاريات/56]

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu” (QS. Adz Dzaariyaat : 56).

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan mengatakan, ‘Allah mengabarkan bahwa Allah tidaklah menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada-Nya, maka ayat ini adalah penjelasan tentang hikmah penciptaan manusia dan jin. Allah tidak menginginkan apapun dari mereka sebagaimana keinginan seorang tuan dari budaknya, berupa bantuan rezeki dan makanan, kecuali bahwa keinginan Allah hanyalah kemaslahatan untuk mereka.”

  1. Hakikat tujuan pengutusan para rasul dan materi dakwah mereka

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para rasul kepada setiap umat, tujuannya adalah untuk mengajak mereka kepada tauhid. Allah berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ [النحل/36]

“Dan sungguh-sungguh telah Kami utus kepada setiap ummat seorang rasul (yang berkata kepada kaumnya) : Sembahlah Allah dan jauhilah thaaghuut (segala sesembahan selain Allah)” (QS. An Nahl: 36)

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan mengatakan, “Allah telah mengabarkan bahwa Dia telah mengutus seorang rasul pada setiap kelompok dan kurun manusia, yang mengajak kepada manusia untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Allah terus mengutus para rasul-Nya kepada manusia sejak terjadinya kesyirikan pada bani Adam pada zaman Nabi Nuh hingga Allah menutup para nabi dengan nabi Muhammad.”

  1. Kewajiban pertama bagi manusia dewasa lagi berakal

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua (ibu dan bapak), karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.” (QS. An-Nisaa’: 36)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk bertauhid sebelum memerintahkan mereka untuk melakukan kebaikan yang lainnya.

  1. Pelanggaran tauhid (syirik) adalah keharaman yang terbesar

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua…” (QS. Al-An’aam: 151)

Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala mendahulukan penyebutan keharaman syirik sebelum menyebutkan keharaman yang lainnya. Karena keharaman syirik adalah keharaman yang terbesar.

  1. Materi dakwah yang pertama kali harus diserukan

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau berwasiat:

إِنّكَ تَأْتِي قَوْما مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاّ الله وَأَنّي رَسُولُ اللّهِ

 “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari golongan Ahli Kitab, maka serulah mereka untuk bersyahadat bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan bahwasanya aku (Muhammad) adalah utusan Allah…” (HR Al Bukhari  dan Muslim).

Demikian sekilas tentang hakikat dan kedudukan tauhid. Insya Allah di edisi berikutnya akan dilanjutkan pembahasan rincian mengenai tauhid. Wallahu a’lam.