Renungan Pasca Ramadhan


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Saudaraku seiman, bulan Ramadhan yang penuh dengan keutamaan telah meninggalkan kita. Berbagai amal kebaikan telah kita kerjakan, baik itu puasa Ramadhan, shalat Tarawih, membaca al-Quran dan selainnya. Menjadi pertanyaan bagi kita sekarang, akankah kita tetap beramal sholeh selepas Ramadhan? Ataukah kita malah menjadi hamba Allah di bulan Ramadhan saja?

Hakikat Id

Hasan al-Bashri mengungkapkan tentang hakikat Id:

كُلُّ يَوْمٍ لاَ يُعْصَى اللهُ فِيْهِ فَهُوَ عِيْدٌ، كُلُّ يَوْمٍ يَقْطَعُهُ المُؤْمِن في طَاعَة مَوْلاَهُ وَذكره وشُكْره فَهُوَ لَهُ عِيْدٌ.

“Setiap hari yang tidak dilakukan kemaksiatan kepada Allah padanya, maka hari itu adalah hari Id. Setiap hari yang dijalani seorang mukmin dengan ketaatan, zikir, dan syukur kepada Allah, maka hari itu adalah hari Id untuknya.” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaa’iful Ma’aarif, hlm. 485)

Maka, setiap hari yang seorang hamba dalam keadaan tidak bermaksiat dan mengisi dengan ketaatan kepada Allah, itulah hakikat Id sebenarnya.

Jadilah Hamba Allah yang Rabbani, Bukan Ramadhani

Saudaraku seiman, para ulama telah mewasiatkan agar kita menjadi hamba-hamba Allah di sepanjang tahun (Rabbani) dan mewanti-wanti kita agar tidak menjadi hamba-hamba Allah di bulan Ramadhan saja (Ramadhani). Jadilah hamba yang Robbani, yaitu hamba Allah yang senantiasa beramal sholeh seperti yang tertuang dalam firman-Nya:

{وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ} [الحجر: 99]

“Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

Janganlah pula kita seperti permisalan yang disebutkan dalam al-Quran,

{وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا} [النحل: 92]

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…” (QS. An-Nahl: 92)

Syaikh Muhammad Husain Ya’qub mengatakan, “Apakah Anda pernah melihat seorang wanita yang memintal benang, ia sibuk dengan usahanya untuk memintal benang tersebut hingga menjadi pakaian. Akan tetapi, begitu menyelesaikannya, dia lantas menguraikannya kembali. Dia membuat pakaiannya kembali menjadi benang-benang seperti semula. Apakah ini dilakukan oleh orang yang berakal sehat?”

Beliau kembali menambahkan, “Demikian keadaan Anda; ketika sebelumnya Anda mengerjakan shalat malam 11 rakaat setiap hari pada bulan Ramadhan, sekarang Anda meninggalkan semua itu dan tidak mengerjakan shalat malam lagi, walaupun hanya empat rakaat. Lantas di mana pengaruh shalat malam pada diri Anda bila demikian?” (Muhammad Husain Ya’qub, Powerful Ramadhan, hlm. 324)

Menjaga Amal Sholeh Pasca Ramadhan

Tiga amal utama selama Ramadhan, yaitu puasa wajib, sholat Tarawih dan tilawah al-Quran hendaklah tetap kita jaga keistiqomahannya. Janganlah kita meninggalkan amal-amal tersebut begitu saja.

  1. Menjaga Puasa Sunnah

Selepas Ramadhan, disunnahkan untuk berpuasa enam hari di bulan Syawwal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“من صام رمضان ثم أتبعه سِتًا من شوال؛ كان كصيام الدهر”

“Siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka itu seperti puasa satu tahun.” (HR. Muslim)

Begitu pula terdapat puasa-puasa sunah yang lain seperti puasa Senin-Kamis, puasa Daud, puasa ayyamul bidh dan puasa-puasa yang lain.

  1. Qiyamullail

Kebiasaan shalat malam 11 rakaat selama Ramadhan hendaklah kita lazimkan. Janganlah menjadi hamba Allah yang dulunya menjaga shalat malam kemudian meninggalkan begitu saja. ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku:

ياَ عَبْـدَ اللهِ لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ.

‘Wahai ‘Abdullah, janganlah kamu seperti si Fulan, dahulunya ia suka melakukan shalat Tahajjud, lalu tidak melakukannya lagi.” (HR. Al-Bukhari)

  1. Tilawah al-Quran

Kebiasaan tilawah al-Quran selama bulan Ramadhan merupakan perkara yang patut kita syukuri. Bentuk syukur kita yang tepat adalah menjaga kebiasaan tilawah tersebut di bulan Ramadhan, minimal tiap harinya satu juz al-Quran.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memudahkan kita dalam ketaatan kepada-Nya. Allahumma amin.

Referensi:

Ibnu Rajab al-Hanbali. Lathaa-iful Ma’aarif. Damaskus: Daar Ibn Katsir, cet. V – 1999.

Muhammad Husain Ya’qub. Powerful Ramadhan. Judul asli “Asrarul Muhibbin di Ramadhan”. Terjemahan oleh Muhammad Muhtadi. Surakarta: Insan Kamil, 2008.

 @MSI

Malang, 5 Syawwal 1435 H / 1 Agustus 2014

Advertisements

Shalat Tarawih Nabi dan Salaf as-Shalih


Oleh:

Abu Hamzah Agus Hasan Bashori

Shalat tarawih adalah bagian dari shalat nafilah (Tathawwu’) yang disunnahkan untuk dikerjakan secara berjama’ah di bulan Ramadhan, ia adalah sunnah muakkadah, ia disebut tarawih karena mereka duduk untuk istirahat setiap selesai dari empat rakaat.

Tarawih adalah bentuk jama’ dari tarwihah, menurut bahasa berarti jalsah (duduk). Kemudian duduk pada bulan Ramadhan setelah selesai dari empat rakaat disebut tarwihah, karena dengan duduk itu orang-orang bisa istirahat dari lamanya melakasanakan Qiyam Ramadhan, bahkan para salaf bertumpu pada tongkat karena terlalu lama berdiri shalat. Dari situ kemudian setiap empat rakaat, disebut satu tarwihah dan kesemuanya disebut tarawih secara majaz.

Aisyah radiyallahu ‘anha ditanya: ”Bagaimana sahabat Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadhan?” Dia menjawab: ”Beliau tidak pernah menambah –di Ramadhan atau di luarnya- lebih dari 11 rakaat. Beliau shalat empat rakaat, maka jangan ditanya tentang bagusnya dan lamanya. Kemudian beliau shalat 3 rakaat.” (HR. Bukhori). Kata ثمّadalah kata penghubung yang memberikan makna berurutan dan adanya jedah waktu.

Rasul Allah shalallahu ‘alaihi wasallam shalat empat rakaat dengan dua kali salam, kemudian beristirahat. Hal ini berdasarkan keterangan Aisyah radiyallahu ‘anha sendiri :”adalah Rasul Allah melakukan shalat pada waktu setelah selesainya shalat isya’ hingga waktu fajar sebanyak 11 rakaat, mengucapkan salam pada setiap dua rakaat, dan melakukan witir dengan satu rakaat (HR Muslim).

Juga berdasarkan keterangan Ibn Umar radiyallahu ‘anhu, bahwa seseorang bertanya: ”Wahai Rasul Allah bagaimana shalat malam itu?” Beliau menjawab :

(( مَثْنَى مَثْنَى فَاِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ ))

“Yaitu dua rakaat, dua rakaat, maka apabila kamu khawatir shubuh, berwitirlah dengan satu rakaat.” (HR Bukhori).

Dalam hadits ibn Umar yang lain disebutkan:

(( صَلاَةُ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ ))

“Shalat malam dan siang itu dua rakaat dua rakaat” (HR Ibn Abi Syaibah)

(al-Shalah, 309; al-Tauhid, 5/251; al-Hawadits, 140-143; Fath al-Bari, 4/250; al-Ijabat al-Bahiyyah, 18; al-Muntaqa, 4/49-51)

FADILAH QIYAM RAMADHAN

  1. Hadits Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu:

(( مَنْ قَاَم رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ ِمنْ ذَنْبِهِ ))

“Barang siapa melakukan qiyam (lail) pada bulan Ramadhan, karena iman dan mencari pahala maka diampuni untuknya apa yang telah lau dari dosanya”.

Maksud qiyam ramadhan secara khusus, menurut imam Nawawi adalah shalat tarawih. Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih itu bisa mendatangkan maghfirah dan bisa menggugurkan semua dosa, tetapi dengan syarat karena motif iman; membenarkan pahala-pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala tersebut dari Allah. Bukan karena riya’ atau sekedar adat kebiasaan. (Fath al-Bari 4/251; Tanbih al-Ghafilin 357-458; Majelis Ramadhan, 58; al-Tauhid, 3/320; al-Ijabat al-Bahiyyah, 6)

Hadits ini dipahami oleh para salaf shaleh, termasuk oleh Abu Hurairah ra sebagai anjuran yang kuat dari Rasul Allah saw untuk melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih, tahajud, dan lain-lain). (al-Tauhid, 3/311-317; Sunan Abi Daud, 166).

  1. Hadits Abd al-Rahman ibn Auf:

(( إِنَّ رَمَضَانَ شَهْرٌ فَرَضَ اللهُ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسْلِمِيْنَ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيْمَاناً وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ الذُّنُوْبِ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ ))

“Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan dimana Allah mewajibkan puasanya dan sesungguhnya aku menyunnahkan Qiyamnya untuk orang-orang Islam, maka barang sipa puasa Ramadhan dan Qiyam ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosan-dosanya sebagaimana bayi yang dilahirkan oleh ibunya.” (HR Ahmad, ibn Majah, al-Bazzar, Abu Ya’la dan Abd Razzaq meriwayatkannya dari Abu Hurairah ra). Al-Albani berkata : Yang Shahih hanya kalimat yang kedua saja, yang awal dhaif (Sunan ibn Majah, 146-147; al-Ijabat al-Bahiyyah, 8-10).

  1. Hadits Abu Dzar radiyallahu ‘anhu:

(( مَنْ قاَمَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ ))

“Barang siapa melakukan qiyam al-lail (shalat tarawih) bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) qiyam satu malam (penuh)”. (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, ibn Majah, Nasai, dan lain-lain, Hadits Shahih). (lihat al-Ijabat al-Bahiyyah, 7).

Hadits ini sekaligus juga memberikan anjuran agar melakukan shalat tarawih secara berjamaah dan mengikuti imam hingga selesai.

SHALAT TARAWIH DI JAMAN NABI

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah melaksanakan dan memimpin shalat tarawih, beliau malah menjelaskan fadhilahnya dan menyetujui jama’ah tarawih yang dipimpin oleh sahabat Ubay bin Ka’ab. Berikut ini adalah dalil-dalinya:

  1. Hadits Nu’man bin Basyir, ia berkata :”Kami melaksanakan qiyam lail (tarawih) bersama Rasul Allah shalallahu ‘alaihi wasallam pada malam 23 bulan Ramadhan, sampai sepertiga malam, kemudian kami shalat lagi bersama beliau pada malam 25 Ramadhan (berakhir) sampai separoh malam, kemudian beliau memimpin lagi pada malam 27 Ramadhan sampai kami menyangka tidak akan sempat mendapati sahur (falah). (HR Nasa’i, Ahmad, al-Hakim, shahih).

  2. Hadits Abu Dzar radiyallahu ‘anhu, ia berkata: ”Kami puasa, tetapi Nabi saw tidak memimpin kami untuk melakukan shalat (tarawih), hingga Ramadhan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasul Allah mengimami kami shalat sampai hilang sepertiga malam, kemudian beliau tidak keluar lagi pada malam keenam. Dan pada malam kelima beliau memimpin shalat lagi sampai hilang separuh malam, lalu kami berkata kepada Rasul Allah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Seandainya engkau menambah lagi untuk kami sisa malam kita ini? maka beliau bersada:

(( مَنْ قاَمَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ ))

“Barang siapa shalat (tarawih) bersama imam sampai selesai, maka ditulis untuknya shalat semalam (suntuk)”.

Kemudian beliau tidak memimpin shalat lagi hingga Ramadhan tinggal tiga hari lagi, maka beliau memimpin kami shalat pada malam ketiga, beliau mengajak keluarga dan istrinya. Beliau mengimami sampai kami khawatir tidak mendapat falah, saya (Rowi) bertanya, apa itu falah? Dia (Abu Dzar) berkata : (Yaitu) Sahur. (HR Nasai, Tirmidzi, ibn Majah, Abu Daud, Ahmad, Shahih).

  1. Tsa’labash bin Abi Malik al-Qurazhi berkata: ”Rasul Allah shalallahu ‘alaihi wasallam pada suatu malam keluar rumah di malam Ramadhan kemudian beliau melihat sekumpulan orang di sebuah pojok masjid sedang melaksankan shalat, beliau lalu bertanya: “Apa yang sedang mereka lakukan? Seseorang menjawab: Ya Rasul Allah sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak membaca al-Qur’an, sedang Ubay bin Ka’ab ahli membaca al-Qur’an, maka mereka shalat (ma’mum) dengan shlatnya Ubay. Beliau lalu bersabda:

(( قَدْ أَحْسَنُوْا وَقَدْ أَصَابُوْا ))

“Mereka telah berbuat baik dan telah berbuat benar”. Beliau tidak membencinya. (HR Abu Daud dan al-Baihaqi), ia berkata: Mursal Hasan. Syekh al-Albani berkata: telah diriwayatkan secara mursal dari jalan lain dari Abu Hurairah dengan sanad yang tidak bermasalah (bisa diterima). (Shalat al-Tarawih, 9).

SHALAT TARAWIH DI ZAMAN KHULAFAUR ROSYIDIN

  1. Para sahabat Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam, shalat tarawih di masjid Nabawi pada malam-malam Ramadhan secara awza’an (berpencar-pencar) orang yang bisa membaca al-Qur’an ada yang mengimami 5 orang, ada yang 6 orang, ada yang lebih sedikit dari itu dan ada yang lebih banyak. Az-Zhuhri berkata: ketika Rasul Allah saw wafat, orang-orang shalat tarawih dengan cara seperti itu, kemudian pada masa Abu Bakar caranya tetap seperti itu, begitu pula awal masa khalifah Umar.

  2. Abd al-Rahman bin Abdul Qari’ berkata: Saya keluar ke masjid bersama Umar ra pada bulan ramadhan, ketika itu orang-orang pada berpencaran, ada yang shalat sendirian, dan ada yang shalat dengan jama’ah yang kecil (kurang dari sepuluh orang), Umar berkata: “Demi Allah saya melihat (berpandangan), seandainya mereka saya satukan di belakang satu imam tentu lebih utama”. Kemudian beliau bertekad dan mengumpulkan mereka di bawah pimpinan Ubay bin Ka’ab, kemudian saya keluar lagi bersama beliau pada malam lain, ketika itu orang-orang sedang shalat di belakang imam mereka, maka Umar ra berkata : “Ini adalah sebaik-baik hal baru”. Dan shalat akhir malam nanti lebih utama dari shalat yang mereka kerjakan sekarang. Kejadian ini terjadi pada tahun14 H.

  3. Umar radiyallahu ‘anhu mengundang para Qari’ di bulan ramadhan lalu memberi perintah kepada mereka agar yang paling cepat bacaanya membaca 30 ayat (3 halaman) dan yang sedang agar membaca 25 ayat (+ 2 halaman).

  4. Al-A’raj (seoran tabi’in) berkata: “Kami tidak mendapati orang-orang melainkan mereka sudah melaknat orang kafir (dalam do’a) di bulan Ramadhan, ia berkata: “sang qari’ (imam) membaca surat al-Baqarah (hampir 2,5 juz) dalam 8 rakaat, jika ia telah memimpin 12 rakaat barulah orang-orang merasa kalau iman meringankan”.

  5. Abdullah bin Abi Bakr berkata: “Saya mendengar bapak saya berkata: kami sedang pulang dari shalat (tarawih) di malam Ramadhan, menyuruh pelayan agar cepat-cepat menyiapkan makanan karena takut tidak mendapat sahur”.

  6. Saib bin Yazid berkata: “Umar ra memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Dari ra agar memimpin shalat tarawih pada bulan Ramadhan dengan 11 rakaat, maka sang qori’ membaca dengan ratusan ayat hingga kita bersandar pada tongkat karena saking lamanya berdiri, maka tidak pulang dari tarawih melainkan sudah di ujung fajar”.

(Fath al-Bari, 4/250-254; Shalah al-Tarawih, 11; al-Ijabat al-Bahiyyah, 15-18; al-Majmu’, 4/34).

BERAPA RAKAAT SHALAT TARAWIH DAN SHALAT WITIR

Mengenai masalah ini para ulama salaf telah berselisih dengan perselisihan yang cukup banyak (fariasinya) hingga mencapai belasan pendapat sebagaimana di bawah ini:

  1. 11 rakaat (8 + 3 witir), riwayat Malik dan Said bin Manshur

  2. 13 rakaat (2 rakaat ringan + 8 + 3 Witir), riwayat Ibnu Nashr dan Ibnu Ishaq, atau (8 + 3 + 2 atau 8 + 5 menurut riwayat Muslim)

  3. 19 rakaat (16 + 3)

  4. 21 rakaat (20 + 1), riwayat Abdur Razzaq

  5. 23 rakaat (20 + 3), riwayat Malik, ibn Nashr dan al-Baihaqi, ini adalah madzhab Abu Hanifah, Syafi’i, Ats-Tsauri, Ahmad, Abu Daud dan Ibnul Mubarak

  6. 29 rakaat (28 + 1)

  7. 39 rakaat (36 + 3), Madzhab malik atau (38 + 1)

  8. 41 rakaat (38 + 3), riwayat ibn Nashr dari persaksian Shalah Mawla

BERAPA RAKAAT TARAWIHNYA RASUL?

Rasul Allah shalallahu ‘alaihi wasallam telah melakukan dan memimpin shalat tarawih, dan shalat tarawihnya Nabi terdiri dari 11 rakaat (8 + 3) dalilnya adalah:

  1. Hadits Aisyah radiyallahu ‘anhu: ia ditanya oleh Abu Salamah Abdur Rahman tentang qiyamul lainya Rasul pada bulan ramadhan, ia menjawab:

(( إِنَّهُ كاَنَ لاَ يَزِيْدُ فِي رَمضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَي إِحْدَى عَشَرَةَ))

 

“sesungguhnya beliau tidak pernah menambah di bulan Ramadhan atau di bulan lainnya, lebih dari 11 rakaat”. (HR Bukhori, Muslim)

Ibn Hajar berkata: Jelas sekali bahwa hadits ini menunjukkan shalatnya Rasul sama semua di sepanjang tahun.

  1. Hadits Jabir bin Abdillah ia berkata: “Rasul Allah shalallahu ‘alaihi wasallam shalat dengan kita pada bulan ramadhan 8 rakaat dan witir, ketika malam berikutnya kami berkumpul di masjid dengan harapan beliau shalat dengan kami, maka kami terus berada di masjid hingga pagi kemudian kami masuk bertanya: Ya Rasul Allah kami tadi malam berkumpul di masjid berharap Anda shalat bersama kami, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya aku khawatir diwajibkan atas kalian”. (HR Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah, di Hasankan oleh Albaniy). (Shalat al-Tarawih, 18; Fath al-Aziz, 4/265)

  2. Pengakuan Nabi terhadap 8 rakaat dan 3 witir. Ubay bin Ka’ab datang kepada Rasul shalallahu ‘alaihi wasallamlalu berkata: Ya Rasul Allah ada sesuatu yang saya kerjakan tadi malam –Ramadhan- beliau bertanya: Apa itu wahai Ubay? Ia menjawab: Para wanita itu di rumahku berkata: Sesungguhnya kami ini tidak membaca al-Qur’an bagaimana kalau kami shalat dengan shalatmu? Ia berkata: maka saya shalat dengan mereka 8 rakaat dan witir, maka hal itu menjadi sunnah yang diridhai, beliau saw tidak mengatakan apa-apa. (HR Abu Ya’la, Thabrani dan Ibn Nashr, di Hasankan oleh al-Haitsami dan al-Albaniy). (Shalat al-Tarawih, 68).

Adapun hadits-hadits (marfu’) yang menjelaskjan bahwa Rasul Allah saw shalat tarawih dengan 20 rakaat, maka haditsnya tidak ada yang shahih. (Fath al-Bari, 4/254; al-Hawi, 1/413; al-Fatawa al-Haditsiyah, 1.195; Shalat al-Tarawih, 19-21).

BERAPA RAKAAT TARAWIH SAHABAT DAN TABI’IN

Di samping ibn Khudzaifah, ada rawi lain yaitu al-Harits ibn Abd al-Rahman ibn Abi Dzubab yang meriwayatkan dariSaib ibn Yazid bahwa Shalat Tarawih pada masa Umar 23 rakaat. (HR Abd al-Razzaq). (Lihat al-Tauhid, 3/518-519).

Selanjutnya 23 rakaat juga diriwayatkan dari Yazid ibn Ruman secara mursal karena ia tidak menjumpai zaman Umar.

Yazid ibn Ruman adalah mawla (mantan budak) sahabat Zubair ibn al-Awam (36 H), ia salah seorang Qurra’ Madinah yang tsiqat tsabt (meninggal pada tahun 120 H atau 130). Ia memberi pernyataan bahwa masyarakat (Madinah) pada zaman Umar telah melakukan qiyam ramadhan dengan bilangan 23 rakaat (HR Malik, al-Firyabi, ibn Nashr dan al-Baihaqi).

(Shalat al-Tarawih, 53; al-Ijabat al-Bahiyyah, 16; al-Tauhid, 9/332; 3/519; al-Hawadits, 141).

BAGAIMANA JALAN KELUARNYA?

Jumhur ulama mendekati riwayat-riwayat di atas dengan metode al-Jam’u bukan metode al-Tarjih sebagaimana yang dipilih oleh syekh al-Albaniy.

Dasar pertimbangan jumhur adalah:

  1. Riwayat 20 (21, 23) adalah Shahih

  2. Riwayat 8 (11, 13) adalah Shahih

  3. Fakta sejarah menurut penuturan beberapa tabi’in dan ulama salaf

  4. Menggabungkan riwayat-riwayat tersebut adalah mungkin, maka tidak perlu pakai tarjih, yang konsekuensinya adalah menggugurkan salah satu riwayat yang shahih.

BEBERAPA KESAKSIAN PELAKU SEJARAH

  1. Imam Atho’ ibn Abi Rabah yang lahir pada masa khilafah Utsman radiyallahu ‘anhu (antara tahun 24 H sampai 35 H), yang mengambil ilmu dari Ibn Abbas, Aisyah radiyallahu ‘anhu dan yang menjadi mufti Makkah setelah ibn Abbas hingga tahun wafatnya 114 H memberikan kesaksian bahwa: “Saya telah mendapati orang-orang (masyarakat Makkah) pada malam ramadhan shalat 20 rakaat dan 3 rakaat witir”. (Fath al-bari, 4/235)

  2. Imam Nafi’ al-Qurasyi, mawla (mantan budak) ibn Umar radiyallahu ‘anhu (w. 73 H) mufti Madinah, yang mengambil ilmu dari Ibn Umar, Abu Said, Rafi’ ibn khadij, Aisyah, Abu Hurairah dan Ummu Salamah, yang dikirim oleh khalifah Umar bin Abd al-Aziz ke Mesir sebagai da’i dan meninggal di Madinah pada tahun 117 H. telah memberikan kesaksian sebagai berikut: “Saya mendapati orang-orang (masyarakat Madinah), mereka shalat di bulan Ramadhan 36 rakaat dan witir 3 rakaat”. (Al-Hawadits, 141; al-Hawi, 1/415)

  3. Imam Malik ibn Anas yang menjadi murid Nafi’ berkomentar: “Apa yang diceritakan oleh Nafi’ itulah yang tetap dilakukan oleh penduduk Madinah, yaitu apa yang dulu ada pada zaman Utsman ibn Affanradiyallahu ‘anhu”. (al-Hawadits, 141)

  4. Imam Syafi’i, murid imam Malik yang hidup antara tahun 150 hingga 204 H, mengatakan: “Saya menjumpai orang-orang di Makkah, mereka shalat 23 rakaat. Dan saya melihat penduduk Madinah mereka shalat 39 rakaat dan tidak ada masalah sedikitpun tentang hal itu”. (Sunan Tirmidzi, 151; Fath al-Aziz, 4/266; Fath al-Bari, 4/253).

BEBERAPA PEMAHAMAN ULAMA DALAM MENGGABUNGKAN RIWAYAT-RIWAYAT SHAHIH DI ATAS

  1. Imam Syafi’i setelah meriwayatkan shalat di Makkah 23 rakaat dan di Madinah 39 rakaat berkomentar: “seandainya mereka memanjangkan bacaan dan menyedikitkan bilangan sujudnya, maka itu bagus. Dan seandainya mereka memperbanyak sujud dan meringankan bacaan, maka itu juga bagus, tetapi yang pertama lebih aku sukai”. (Fath al-Bari, 4/253)

  2. Ibn Hibban berkata: “Sesungguhnya tarawih itu pada mulanya adalah 11 rakaat dengan bacaan yang sangat panjang hingga memberatkan mereka, kemudian mereka meringankan bacaan dan menambah bilangan rakaat menjadi 23 rakaat dengan bacaan sedang. Setelah itu mereka meringankan bacaan dan menjadikan tarawih dalam 36 rakaat tanpa witir”. (Fiqh al-Sunnah, 1/174)

  3. Al-Kamal ibn al-Humam mengatakan: “Dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa dari 20 rakaat itu, yang sunnah adalah apa yang pernah dilakukan oleh Nabi saw, sedangkan sisanya adalah mustahab”. (ibid, 1/175)

  4. Al-Subki berkata: “Tarawih adalah termasuk nawafil, terserah kepada masing-masing, mau shalat sedikit atau banyak. Boleh jadi mereka terkadang memilih bacaan panjang dengan bilangan sedikit, yaitu 11 rakaat. Dan terkadang mereka memilih bilangan rakaat banyak yaitu 20 rakaat dari pada bacaan panjang, lalu amalan ini yang terus berjalan. (Al-hawi, 1/417)

  5. Ibn Taimiyah berkata: “Ia boleh shalat tarawih 20 rakaat sebagaimana yang mashur dalam madzhab Ahmad dan Syafi’i. Boleh shalat 36 rakaat sebagaimana yang ada dalam madzhab Malik. Boleh shalat 11 rakaat, 13 rakaat. Semuanya baik. Jadi banyaknya rakaat atau sedikitnya tergantung lamanya bacaan dan pendeknya”. Beliau juga berkata: “Yang paling utama berbeda-beda sesuai dengan perbedaan orang yang shalat. Jika mereka kuat 10 rakaat ditambah witir 3 rakaat sebagaimana yang diperbuat oleh Rasul saw –di Ramadhan dan di luar ramadhan- maka ini yang lebih utama. Kalau mereka kuat 20 rakaat, maka itu afdhol dan inilah yang dikerjakan oleh kebanyakan kaum muslimin, karena ia adalah pertengahan antara 10 dan 40.. Dan jika ia shalat dengan 40 rakaat maka boleh, atau yang lainnya juga boleh. Tidak dimaksudkan sedikitpun dari hal itu, maka barang siapa menyangka bahwa qiyam Ramadhan itu terdiri bilangan tertentu, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang, maka ia telah salah”. (Majmu’ al-Fatawa, 23/113; al-Ijabat al-Bahiyyah, 22; Faidh al-Rahim al-Rahman, 132; Durus Ramadhan, 48)

  6. al-Tharthusi berkata: “Para sahabat kami (Malikiyah) menjawab dengan jawaban yang benar yang bisa menyatukan semua riwayat. Mereka berkata, “Mungkin Umar pertama kali memerintahkan kepada mereka 11 rakaat dengan bacaan yang amat panjang, pada rakaat pertama, imam membaca 200-an ayat, karena berdiri lama adalah yang terbaik dalam shalat. Tatkala masyarakat tidak lagi kuat menanggung hal itu, maka Umar memerintahkan 23 rakaat demi meringankan lamanya bacaan, ia menutupi kurangnya keutamaan dengan tambahan rakaat, maka mereka membaca surat al-Baqarah dalam 8 rakaat atau 12 rakaat sesuai dengan hadits al-A’raj tadi.

Telah dikatakan bahwa imam pada waktu itu membaca antara 20 ayat hingga 30 ayat. Hal ini berlangsung terus hingga yaum al-Harrah (penyerangan terhadap Madinah oleh Yazid ibn Mu’awiyyah tahun 60 H),maka terasa berat bagi mereka lamanya bacaan, akhirnya mereka mengurangi bacaan dan menambah bilangannya menjadi 36 rakaat ditambah 3 witir. Dan inilah yang berlaku kemudian.

Umar ibn Abd al-Aziz pada zamannya (98-101 H) memerintahkan agar imam membaca 10 ayat pada tiap rakaat,….inilah yang dilakukan oleh para imam dan disepakati oleh jamaah kaum muslimin, maka ini yang paling utama dari segi Takhfif (meringankan). (al-Hawadits, 143-145).

  1. Ada yang mengatakan bahwa Umar radiyallahu ‘anhu memerintahkan kepada dua sahabat: “Ubay bin Ka’ab dan Tamim al-Dari radiyallahu ‘anhu agar Shalat memimpin tarawih sebanyak 11 rakaat tetapi kedua sahabat tersebut memilih untuk shalat 21 atau 23 rakaat. (Durus Ramadhan 47).

  2. Al-Hafidz ibn Hajar berkata: “Hal tersebut dipahami sebagai variasi sesuai dengan situasi kondisi dn kebutuhan manusia, kadang-kadang 11 rakaat, atau 21, atau 23 rakaat, tergantung kesiapan dan kesanggupan mereka, kalu 11 rakaat mereka memanjangkan bacaan hingga bertumpu pada tongkat, jika b23 rakaat mereka meringankan bacaan supaya tidak memberatkan jamaah. (Fath al-Bari, 4/253).

  3. Imam Abd al-Aziz ibn Bazz mengatakan:

Di antara perkara yang terkadnag samar bagi sebagaian orang adalah shalat tarawih. Sebagaian mereka mengira bahwa tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat, sebagian lain mengira bahwa tarawih tidak boleh lebih dari 11 rakaat atau 13 rakaat. Ini semua adalah persangkaan yang tidak pada tempatnya, bahkan salah bertentangan dengan dali-dalill. Hadits-hadits shahih dari Rasul Allah saw telah menunjukkan bahwa shsalat malam itu adalah muwassa’ (leluasa), tidak ada batasan tertentu dan kaku yang tidak boleh dilanggar. Bahkan telah shahih dari Nabi saw bahwa beliau shalat malam 11 rakaat, terkadang 13 rakaat, terkadang lebih sedikit dari itu, di Ramadhan maupun di luar ramadhan. Ketika ditanya tentang sifat shalat malam, beliau menjelaskan: dua rakaat-dua rakaat, apabila salah seorang kamu khawatir subuh, maka shalatlah satu rakaat witir, menutup shalat yang ia kerjakan. (HR Bukhori Muslim).

Beliau tidak membatasi dengan rakaat-rakaat tertentu, tidak di Ramadhan ataupun di luar Ramadhan. Karena itu para sahabat ra, pada masa Umar ra di sebagian waktu shalat 23 rakaat dan di waktu yang lain 11 rakaat. Semua itu shahih dari Umar ra dan para sahabat ra pada zamannya.

Dan sebagaian salaf shalat tarawih 36 rakat ditambah witir 3 rakaat, sebagian lagi shalat 41 rakaat. Semua itu dikisahkan dari mereka oleh syekh al-Islam ibn Taimiyah dan ulama lainnya. Sebagaimana beliau juga menyebut bahwa masalah ini adalah luas (tidak sempit), juga beliau sebutkan bahwa yang afdhal bagi orang yang memanjangkan bacaan, ruku’, sujud adalah menyedikitkan bilangan rakaat, dan bagi yang meringankan bacaan, ruku’ dan sujud adalah menambah rakaat. Ini adalah makna ucapan beliau rh.

Barang siapa merenungkan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, dia pasti mengetahui bahwa yang paling afdhal dari semua itu adalah 11 rakaat atau 13 rakaat, di Ramadhan atau di luar ramadhan, karena hal itu yang sesuai dengan perbuatan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam kebiasaannya, dan juga karena lebih ringan bagi jamaah, lebih dekat kepada khusyu’ dan tuma’ninah. Namun barang siapa menambah, maka tidak mengapa dan tidak makruh, seperti yang telah lalu”. (al-Ijabat al-Bahiyyah, 17-18; lihat juga Fatawa Lajnah Daimah, 7/194-198).

 

KESIMPULAN

Maka berdasarkan ucapan ulama seperti Imam Syafi’i, Ibnu Hibban, Ibn Hajar, Ibn Taimiyah dan yang lainnya, saya mengambil kesimpulan:

  1. Sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam adalah yang lebih utama, maka bilangan 11 rakaat adalah yang lebih baik. Seperti ucapan Imam Malik radiyallahu ‘anhu: “Yang saya pilih untuk diri saya dalam qiyan Ramadhan adalah shalat yang diperintahkan oleh Umar ra, yaitu 11 rakaat yaitu shalatnya Nabi salallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan 11 adalah dekat dengan 13”. (al-Hawadits, 141)

  2. Perbedaan tersebut adalah bersifat variasi, lebih dari 11 rakaat adalah boleh dan 23 rakaat lebih banyak diikuti oleh jumhur ulama karena ada asalnya dari para sahabat di jaman khlafaur Rasyidin dan lebih ringan berdirinya dibanding dengan 11 rakaat.

  3. Yang lebih penting adalah adanya (prakteknya) harus khusyu’, tuma’ninah kalau bisa sama panjangnya dengan tarawih ulama salaf.

Ya Allah bimbinglah kami kepada kecintaan dan ridhomu. Ya Allah sampaikanlah kami kepada ramadhan dengan penuh aman dan iman dan keselamatan dan Islam.

واخر دعوانا ان الحمد لله رب العالمين

 

Malang, 5 Jumada al-Tsani 1424

6 Agustus 2003

Abu Hamzah al-Sanuwi

 

*************************

Maraji’:

 

  1. Shahih Bukhori

  2. Shahih Muslim

  3. Sunan Abu Daud, Bait al-Afkar al-Dauliyah, Amman, Yordan

  4. Sunan Tirmidzi, Bait al-Afkar al-Dauliyah, Amman, Yordan

  5. Sunan Ibn Majah, Bait al-Afkar al-Dauliyah, Amman, Yordan

  6. Sunan Nasa’i, Bait al-Afkar al-Dauliyah, Amman, Yordan

  7. Al-Majmu’, al-Nawawi, Dar al-Fikr

  8. Fath al-Aziz, al-Rafi’i, Dar al-Fikr, (dicetak bersama al-Majmu’)

  9. Al-Tauhid, ibn Abd al-Barr, Tahqiq Muhammad Abd al-Qadir Atha, Maktabah Abbas Ahmad al-Bazz, Mekah

  10. Fath al-Bari, ibn Hajar, Tarqim Muhammad Fuad Abd al-Baqi

  11. Al-Syarh al-Kabir, ibn Qudamah, Tahqiq Dr. Abd Allah al-Turqiy, Hajar, Jizah

  12. Al-Hawadits wa al-Bida’, Abu Bakar al-Tharthusiy, Tahqiq Abd al-Majid Turqi, Dar al-Gharb al-Islami

  13. Tanbih al-Ghafilin, al-Samarqandi, Tahqiq Abd al-Aziz al-Wakil, Dar al-Syuruq, Jedah

  14. Al-Hawi Li al-Fatawa, al-Suyuthi, Dar al-Fikr, Beirut

  15. Shalah al-Tarawih, al-Albaniy, Al-Maktab al-Islami, Beirut

  16. Fatwa Lajnah Daimah, Tartib Ahmad al-Duwaisiy, Tartib Adil al-Furaidan

  17. Al-Muntaqa Min Fatawa al-Fawzan

  18. Al-Ijabat al-Bahiyyah, al-jibrin, Dar al-Ashimah, Riyadh

  19. Majelis Ramadhan, Ibn Utsaimin

  20. Faidh al-Rahim, al-Thayyar, Maktabah al-Taubah, Riyadh

  21. Al-Shalah, al-Thayyar, Dar al-Wathan, Riyadh

  22. Durus Ramadhan, Salman al-Audah, Dar al-Wathan, Riyadh

Sumber: http://www.binamasyarakat.com/?p=2397

Wasiat Pasca Ramadhan


Umumnya manusia tidak mengenal Allah kecuali pada bulan Ramadhan. Mereka mengisinya dengan shalat baik yang wajib maupun yang nafilah, membaca Al-Quran, dan mengoptimalkannya dengan ketaatan-ketaatan yang lain. Dengan selesainya Ramadhan terputuslah semua amalan tersebut.. Ketahuilah ia berada dalam bencana yang besar..

Bertakwalah wahai kaum muslimin, baik ketika sendirian maupun bersama manusia.. Beribadahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.. Jika tidak mampu, maka beribadahlah seakan-akan kalian diawasi oleh-Nya..

 “Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Asy-Syuara 217-220)

Saudaraku..

Sesungguhnya manusia sejak diciptakannya hingga seterusnya adalah menjadi seorang musafir. Dan tidaklah berhenti keadaannya sebagai seorang musafir melainkan pada terminal terakhir: surga atau neraka.

Ketahuilah bahwa pergantian siang dan malam yang begitu cepat adalah merupakan salah satu tanda diantara tanda-tanda hari kiamat, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Ash-Shadiqul Mashduq yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Oleh karenanya, pergantian waktu yang begitu cepat ini merupakan momen terbaik yang hanya bisa dimanfaatkan oleh orang yang cerdas untuk ketaatan dan sebagainya. Allah berfirman, “Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS Al-Furqon 62)

Sebagaimana yang telah berlangsung pada beberapa waktu lalu, telah hadir kepada kita bulan mulia yang telah membagi kebahagiaan dan keutamaan kepada kita sebulan penuh lamanya. Sehingga mayoritas kaum muslimin berlomba-lomba untuk ibadah baik itu sholat, dzikir, shodaqoh dan tilawah Al-Quran. Akan tetapi, waktu berjalan begitu cepat, seakan Ramadhan baru datang kepada kita pekan kemarin.

Saudaraku.. Jika kita bandingkan kondisi manusia pada bulan Ramadhan dan setelah bulan Ramadhan, kita mendapat perbedaan yang luar biasa jauhnya. Adalah sudah menjadi fenomena bahwa umat Islam selepas Ramadhan menampakkan kemalasan dan futur. Mereka meninggalkan ketaatan dalam bentuk yang  amat jelas. Tidak salah bila ada yang berucap, “Sesungguhnya ibadah dan taubat serta seluruh ketaatan yang lain tidaklah ada melainkan hanya di bulan Ramadhan. Padahal tujuan dari puasa Ramadhan adalah, “Agar kalian bertakwa..” (QS Al-Baqarah 183) Continue reading

Sebab-sebab Kerugian di Bulan Ramadhan


Sebab-sebab Kerugian di Bulan Ramadhan[1]

وربما سأل سائل: كيف يخسر رمضان؟ وما هي أسباب خسارتنا لرمضان؟ فاسمع رعاك الله:

أسباب خسارة رمضان عند المرأة

أولاً: عشرون سبباً أخاطب فيها المرأة وربما شاركها الرجل في بعضها.

وأول هذه الأسباب لخسارة رمضان: 1/ الغفلة عن النية، وعدم احتساب الأجر، وأنك تركت الطعام والشراب، وابتعدت عن المعاصي، والشهوات لله وحده؛ طلباً لرضاه، واستجابةً لأمره، لا يهمك ولا يهمكِ أحد من الناس علم أو لم يعلم، فصومكِ وصومك لله، وخوفكِ وخوفك لله، ولهذه المعاني الجميلة قال الله عز وجل في الحديث القدسي: (إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به، ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي) كما في حديث أبي هريرة وهو متفق عليه.

إذاً: فالصيام عبادة خفية بينكِ وبين الله لا يعلم بها إلا الله؛ فقد تشربين وتأكلين كيفما شئت لا يعلم بكِ أو بكَ أحد من الناس، ولكن: {وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ} [البقرة:74] فمن صام بهذه المعاني وجد حلاوة الصيام، وشعر بلذة رمضان، فأقدم على الأعمال أيما إقدام (ومن صام رمضان إيماناً واحتساباً؛ غفر له ما تقدم من ذنبه) .

2/ ومن الأسباب: إهمال الصلوات الخمس، وتأخيرها عن وقتها، وأداؤها بكسل وخمول، وهذا من أعظم أسباب خسارة رمضان عند الرجال والنساء، فمن لم يحرص على الفرائض ولم يقم بالواجبات فكيف يرجى منه النوافل؟ بل كيف يرجى منه استغلال رمضان؟ ربما صلت المرأة في آخر وقت الصلاة فنقرتها نقر الغراب، فكيف يرجى لمن كان هذا حالها استغلال رمضان والفوز فيه! بل هذه يخشى على صيامها ألا يقبل والعياذ بالله.

3/ ومن الأسباب: السهر، فهو من أعظم أسباب خسارة رمضان! وكيف يرجى لمن سهرت طوال ليلها أن تفوز برمضان؟ والسهر -أيها الأحبة- مكروه حتى وإن كان على مباح، فكيف بمن سهرت على حرام؟ أكثر النساء يجلسن طوال الليل للسمر مع الأخوات والقريبات، وتذهب الساعات بالقيل والقال، وربما جلسن حتى وقت السحر خمس ساعات أو أكثر، ليس فيها قراءة للقرآن، أو موضوع لفقه أحكام الصيام، أو استماع لشريط مفيد، أو قراءة من كتاب، فأسألك بالله أليست خسارةً أن تضيع هذه الساعات الطوال من رمضان في كل ليلة بمثل هذه الجلسات؟! أيتها الأخت المباركة! اعلمي أن العين تصوم، وصيامها غضها عن المحارم، ومشاهدة الفواحش والآثام {وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ} [النور:31] وكم من نظرة كانت سبباً لجريمة وكانت سبباً لشقاء أسرة، فاتقي الله! في ليالي رمضان واعلمي أن الله معك يراك في كل حال.

4/ كثرة النوم والخمول والكسل: وهو حصيلة أكيدة لسهر الليل، ولو نامت بالليل ساعات؛ لجلست بعد صلاة الفجر في مصلاها تذكر الله وتقرأ القرآن، ولأصبحت نهارها طيبة النفس نشيطةً.

5/ ومن الأسباب لخسارة رمضان: ضياع الوقت في التفنن في المأكولات عند المرأة، والمرأة مأجورة مشكورة ولا شك لقيامها على الصائمين وإعداد طعامهم، وهذا فضل عظيم لها تختص به دون الرجال، ولكن يمكنها اختصار الوقت في مطبخها بدون إسراف ولا تبذير، ثم وأنت تعملين يا أمة الله! عليك بكثرة ذكر الله، وبالتسبيح والتحميد، قال تعالى: {وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيراً وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً} [الأحزاب:35] .

وقال صلى الله عليه وسلم: (سبق المفردون، قالوا: وما المفردون يا رسول الله؟! قال: الذاكرون الله كثيراً والذاكرات) كما في صحيح مسلم.

قال ابن القيم: وفي ذكر الله أكثر من مائة فائدة: يرضي الرحمن، ويطرد الشيطان، ويزيل الهمّ، ويجلب الرزق، ويكسب المهابة والحلاوة، ويورث محبة الله إلى قوله: ويحط الخطايا، ويرفع الدرجات إلى آخر كلامه.

وأما كثرة الأكل في رمضان وما فيه من خسارة فحدث ولا حرج.

قال الثوري: إن أردت أن يصح جسمك ويقل نومك؛ فأقلل من الأكل.

وقيل لـ أحمد بن حنبل: هل يجد الرجل من قلبه رقةً وهو شبع؟ فأجاب: ما أرى.

وقال محمد بن واسع: من قل طعامه فهم وأفهم وصفا ورق، وإن كثرة الطعام لتغل صاحبها عن كثير مما يريد.

وصدق رحمه الله.

6/ من الأسباب: سماع الغناء: فالأذن تصوم وصيامها عن سماع الفواحش والحرام، وإني لأعجب والله كيف ينتشر الغناء في كثير من بيوت المسلمين، وخاصةً خلال هذا الشهر، شهر القرآن؟!! ثم هل يعقل أن يجتمع في بيت واحد صوت الرحمن وصوت الشيطان؟! وإن اجتمعا، فكيف حال القلب؟ وهل سيتأثر بهذا أو بذاك؟ ولكِ أن تتصوري أيتها المسلمة! الهموم والقلق كيف تمزق القلب وتشتته؛ فهو تارةً يستجيب لنداء الفطرة، لنداء الرحمن وحلاوته، وتارةً يطرب ويسكر للأوتار ومزامير الشيطان، فأي ضياع وأي خسران لسامعة الغناء؟! فكيف حالها في رمضان؟ وكيف تتلذذ بسماع القرآن وهي تسمع قرآن الشيطان ومنبت النفاق في القلب ورقية الزنا؟

أسماؤه دلت على أوصافه تباً لذي الأسماء والأوصاف

قال ابن القيم رحمه الله: فمن خواصه -أي الغناء- أنه يلهي القلب، ويصده عن فهم القرآن وتدبره، والعمل بما فيه، فإن القرآن والغناء لا يجتمعان في القلب أبداً لما بينهما من التضاد إلى أن قال: وهو جاسوس القلوب، وسارق المروءة، وسوس العقل، يتغلغل في مكامن القلوب، ويطلع على سرائر الأفئدة، ويدب إلى محل التخيل فيثير ما فيه من الهوى والشهوة والسخافة والرقاعة والرعونة والحماقة إلى آخر ما قال.

برئنا إلى الله من معشر بهم مرض من سماع الغنا

وكم قلت يا قوم أنتم على شفا جرف ما به من بنا

شفا جرف تحته هوة إلى درك كم به من عنا

وتكرار ذا النصح منا لهم لنعذر فيهم إلى ربنا

فلما استهانوا بتنبيهنا رجعنا إلى الله في أمرنا

فعشنا على سنة المصطفى وماتوا على تنتنا تنتنا

7/ ومن الأسباب وهو مثل الغناء: مشاهدة التلفاز والأفلام والدشوش، وسهر ليالي رمضان عليها، وصدق الله يوم قال: {إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً} [الإسراء:36] فكيف برمضان وأيامه ولياليه؟ 8/ ومن الأسباب: قراءة المجلات والروايات والجرائد وما شابهها، أفلا نحرص على ترك هذه الفتن وهذه الوسائل على الأقل ولو في رمضان؟! تعالوا واسمعوا لحال السلف، إنهم يتركون طلب الحديث وطلب العلم في رمضان؛ من أجل التفرغ لقراءة القرآن، وليس ترك الجرائد والروايات، ومشاهدة المسلسلات والأفلام.

كان السلف الصالح رضوان الله تعالى عنهم يكثرون من تلاوة القرآن في رمضان في الصلاة وغيرها، وكان الزهري رحمه الله إذا دخل رمضان يقول: إنما هو تلاوة القرآن وإطعام الطعام.

وكان مالك رحمه الله إذا دخل رمضان؛ ترك قراءة الحديث، ومجالس العلم، وأقبل على تلاوة القرآن من المصحف.

وكان قتادة رحمه الله يختم القرآن في كل سبع ليال دائماً، وفي رمضان في كل ثلاث، وفي العشر الأخير منه في كل ليلة.

وكان إبراهيم النخعي رحمه الله يختم القرآن في رمضان في كل ثلاث ليال، وفي العشر الأواخر في كل ليلتين.

وكان الأسود رحمه الله يقرأ القرآن كله في ليلتين في جميع الشهر؛ فاقتدوا رحمكم الله بهؤلاء الأخيار، واتبعوا طريقهم تلحقوا بالبررة الأطهار.

9/ ومن الأسباب: التسويف، وقد قطع هذا المرض أعمارنا، حتى في أفضل الأيام والشهور، حتى ونحن نعلم أننا قد لا ندرك رمضان الآخر، حتى ونحن نعلم أن رمضان شهر المغفرة والتوبة، حتى ليلة القدر التي هي خير من ألف شهر -بثلاث وثمانين سنة وتزيد- لم تسلم من التسويف، فلا حول ولا قوة إلا بالله! ومثال التسويف في رمضان -مثلاً- قراءة القرآن، تريد المرأة أن تقرأه بعد صلاة الفجر؛ ولكنها متعبة من السهر، ثم بعد الظهر؛ ولكنها مرهقة، ثم بعد العصر؛ ولكنها في المطبخ منشغلة، وربما في الليل؛ ولكنها مع القريبات والجلسات ملتزمة، وهكذا فيخرج رمضان ولم تستطع أن تختمه ولو لمرة واحدة؛ فمسكينة تلك المرأة.

أرأيت كيف يكون التسويف من أعظم أسباب خسارة رمضان؟ إنه لمن الخسارة والحرمان أن تمر هذه الليالي المباركة على الإنسان وهو يسرح ويمرح.

قل للذي ألف الذنوب وأجرما وغدا على زلاته متندما

لا تيأسن واطلب كريماً دائماً يولي الجميل تفضلاً وتكرما

يا معشر العاصين جود واسع عند الإله لمن يتوب ويندما

يا أيها العبد المسيء إلى متى تفني زماناً في عسى ولربما

بادر إلى مولاك يا من عمره قد ضاع في عصيانه وتصرما

10/ ومن الأسباب -أيضاً-: الخروج للأسواق: وهو ضياع لليالي رمضان الفاضلة، وفيه فتن عظيمة لا يعلم مداها إلا الله، وقد تضيع فيه الحسنات التي جمعتها تلك المرأة في رمضان من صلاة وقيام، وصدقة وقراءة للقرآن بخروجها للأسواق، فهي خراجة ولاجة، يستشرفها الشيطان؛ فخسرت رمضان وعرضت نفسها للعنة الرحمن.

11/ ومن الأسباب: التبرج والسفور، فالمرأة تدخل وتخرج لوظيفتها، وتخرج للسوق لحاجة، وتذهب لأداء العمرة، فهي في طريقها للحرم وربما نزلت لأسواق مكة، فانظر للباسها؛ فالعباءة ناعمة رقيقة، والثوب ملون، والنقاب ساحر، والعينان كحيلتان، والروائح زكية.

فما رأيكم بقبول صيامها؟ بل ما رأيكم بقبول عمرتها وصدقتها وعبادتها؟ وهل هذه رابحة في رمضان أم خاسرة؟ فيا أمة الله! احرصي على الستر والعفاف، فالشيطان حريص، وشياطين الإنس كثيرون، واعلمي أن الله معك يراك.

12/ ومن الأسباب: الهاتف، نعم.

فقد يكون الهاتف سبباً لخسارة رمضان لدى بعض الأخوات؛ إذ تقضي الأخت الصائمة وقتاً طويلاً في مكالماتها، لا لأجل تهنئة أخواتها بدخول شهر رمضان، أو لأجل مناقشة في مسائل فقهية في رمضان؛ وإنما للسؤال عن أنواع الأكلات، وأنواع الموديلات، وكيف يقضين ليلهن، وربما تعرضن لف

أسباب خسارة رمضان عند الرجل

هنا أيضاً عشرون سبباً أخاطب فيها الرجل، وربما شاركته المرأة في بعضها: 1/ وأول هذه الأسباب: عدم أداء الصلاة مع الجماعة، والنوم عنها، أو التأخر عنها، والتساهل فيها، وقضاء الفائت منها على عجل، وهذا أمر مشاهد ملموس، وربما شاركه فيه كثير ممن انتسبوا للخير، ومن كان للفرائض مضيعاً أو متساهلاً فهو لما سواها أضيع، وكيف يريد هذا الإنسان أن يفوز برمضان؟ وإنك لتعجب من أمر الصائم، كيف أمسك عن الطعام والشراب وجاهد نفسه، ولم يستطع أن يجاهد نفسه على الحرص على الفرائض والواجبات! وصدق صلى الله عليه وسلم: (رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطش) .

2/ من أسباب خسارة رمضان للرجال: الرياضة، نعم الرياضة، سحرت الكبير والصغير، الصالح والطالح، وغريب أن تنشط الدورات الرياضية الرباعيات والسداسيات خلال رمضان، وكان الأولى بالأندية الرياضية أن ترسم البرامج لاستغلال طاقات الشباب وتوجيههم في رمضان، وأن تكون عوناً لهم على طاعة الله عز وجل، وقل مثل ذلك في الاستراحات والأرصفة والطرقات، ونحن نقول: إذا كان ولا بد فساعة أو ساعتين -أي: للرياضة- ثم تنظم المسابقات لتلاوة القرآن وحفظه وفهم معانيه، والاستفادة من الوقت في باقي الأوقات، فإن رمضان شهر القرآن وليس شهر الرياضة.

والمصيبة أن تستمر الرياضة وبرامجها حتى في العشر الأواخر من رمضان، فمتى يصلي التراويح؟ ومتى يصلي القيام؟ ومتى يقرأ القرآن؟ ومتى ينام؟ نعوذ بالله من الخسران، ومن موت القلب وشدة الغفلة.

أخي! ما بال قلبك ليس ينقى كأنك لا تظن الموت حقا

أيا ابن الذين فنوا وبادوا أما والله ما بادوا وتبقى

وما أحد بزادك منك أحصى وما أحد بزادك منك أشقى

وما للنفس عندك مستقر إذا ما استكملت أجلاً ورزقا

3/ ومن الأسباب: الاستراحات والجلسات والملاحق، فبدل أن تستغل للاجتماع على استغلال رمضان والتعاون على البر والتقوى، أصبحت -وللأسف- عند البعض من أسباب خسارة رمضان، وضياع الزمان، حتى الصالحين -وللأسف- حتى معلمي الخير، نبحث عن الشباب ومشاركاتهم في أعمال البر والخير، وفي أمور الدعوة والتوجيه، فإذا بهم تجمعوا شللاً وأحزاباً في الاستراحات، وإذا بالقيل والقال والغيبة والنميمة؛ فضاعت ليالي رمضان وضاع رمضان، أما أهل الغفلة والضياع فأصبحت الاستراحات بالنسبة لهم مواخير للفساد بأنواعه، بدءاً بالدش ونهايةً بالرذيلة -عافانا الله وإياكم- إلا من رحم الله، نسأل الله لنا ولهم الهداية والصلاح يقول الله تعالى: {أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ} [الأعراف:99] .

4/ ومن أسباب خسارة رمضان: التسكع في الشوارع والأسواق، وإيذاء الناس، والجلوس على الأرصفة.

غفل كثير من الناس عن أولادهم؛ فتركوهم يسرحون ويمرحون في الشوارع، ويسهرون للعب والسفه، ولا أقول هنا سوى: أين الآباء والأمهات؟ أين التوجيه؟ أين حمل الأمانة؟! أي قلب لك أيها الأب! وأي حنان هذا الذي تدعينه أيتها الأم! والأولاد في الشوارع، وعلى الأرصفة بدون رقيب ولا حسيب، ولا سؤال ولا جواب؟ والله ليأتين يوم يوقف فيه الابن أباه، ويحاسبه على تفريطه وتقصيره في تربيته.

5/ المعاكسات سواءً في الأسواق أو عبر الهاتف، ويعلم الله ما كنت لأضع هذا سبباً من أسباب خسارة رمضان؛ لولا أني سمعت من رجال الحسبة عجباً، ومن التائبين أعجب العجب، والله إن القلب ليحزن، وإن العين لتدمع؛ أن أصبح بعض شبابنا ذئاباً بشرية لا يهمهم سوى شهواتهم، بدون تفكير في مصير ضحيته وحالها، وبدون مراقبة لله عز وجل، جريمة أن يصبح رمضان موسماً للصوص الأعراض، تخرج المرأة بحجة الذهاب إلى السوق، أو بحجة صلاة التراويح، ثم يكون ما يكون على غفلة من الأب المسكين، والأم الحانية، فأي موت للقلب هذا، وأي عبودية للشهوة؟! إن أهل الفضيلة ما حسبوا أن مثل هذا يقع، بل ولا دار -والله- في خلدهم، أما أهل الرذيلة فهم يتفننون ويخططون ويرسمون {وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ} [الأنفال:30] .

سبحان الله! حتى في رمضان؟ بل وفي العشر الأواخر منه -وللأسف- وما كنت لأوجع قلوبكم بمثل هذا؛ لولا الحقائق المرة المؤلمة، فالحذر الحذر قبل وقوع الفأس بالرأس.

6/ ومن الأسباب: جلساء السوء وأصحاب الهمم الدنيئة، وهم من أعظم أسباب خسارة رمضان.

وألخص الأمر لك بكلمة: قل لي: من تجالس أقل لك من أنت، وهل ربحت أم خسرت؟ قال مالك بن دينار: [إنك إن تنقل الأحجار مع الأبرار خير لك من أن تأكل الخبيص مع الفجار] والخبيص: نوع من أنواع الحلوى يصنع من التمر مخلوطاً بالسمن.

وقال موسى بن عقبة: إن كنت لألقى الأخ من إخواني فأكون بلُقيه عاقلاً أياماً.

أي متأثراً به.

فكم من إنسان صالح فيه خير كثير ضاع عليه رمضان بسبب جلسائه، والواقع يشهد بذلك.

7/ ومن الأسباب لخسارة رمضان للرجال: الدخان والشيشة، وهما من الأمور المحرمة التي اعتادها الناس واستمرءوها.

فقم بزيارة خاطفة للمقاهي في ليالي رمضان، ففيها ضياع المال الذي سيسأل عنه، وفيها ضياع للصحة التي سيسأل عنها، وفوق ذلك إثم ووزر؛ فهي مغضبة للرب، منجسة للفم والصحة.

والمضحك المبكي أن بعض المدخنين فور سماعه للأذان يفطر على سيجارة بدل التمرة، نعوذ بالله من غضب الله، ومن الخسران! 8/ ومن الأسباب: أكل الحرام ومنه الربا والغش والسرقة، وفيه حديث أبي هريرة الذي ذكر في آخره قول النبي صلى الله عليه وسلم: (ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء: يا رب! يا رب! ومطعمه حرام، ومشربه حرام، وملبسه حرام، وغذي بالحرام؛ فأنى يستجاب له) كما في صحيح مسلم في كتاب الزكاة.

كيف يريد الربح في رمضان وهو إن تصدق لم تقبل، وإن دعا رد دعاؤه! والله ما قست القلوب، ولا ضاعت البركة، ولا فسد الأولاد؛ إلا بسبب أكل الحرام، وانطمس النور لما فقدت اللقمة الحلال.

9/ التزييف والخداع والنجش والحلف الكاذب من بعض التجار في رمضان، فرمضان موسم تجاري كبير، ولا بأس بهذا، لكن بعض البائعين غفل عن أنه صائم، أو ظن أن الصيام مجرد إمساك عن الطعام والشراب؛ فوقع في كثير من منكرات البيع والشراء وسوء المعاملة، ومن ذلك ما نجده في الدعايات والإعلانات المبالغ فيها، وربما المكذوب فيها، والملبس فيها على كثير من المسلمين.

10/ ومن الأسباب: الانسياق واللهثان وراء التجارة وطلب المال، والإفراط في ذلك إلى حد التقصير في الواجبات، فهو في السوق منذ الصباح إلى المساء، وربما في ساعات طويلة من الليل أيضاً، أليست هذه خسارة لرمضان؟ وربما صاحب هذا الجلوس إطلاق العنان للبصر ومحادثة النساء، وربما الغيبة.

ففي العشر الأواخر أفضل الأيام، الناس في صلاة وقيام، وقراءة للقرآن، ودعاء واستغفار، وبكاء وخشوع.

صيام العارفين له حنين إلى الرحمن رب العالمينا

تصوم قلوبهم في كل وقت وبالأسحار هم يستغفرونا

بينما البائع المسكين في السوق يعرض نفسه لكل فتنة فتنة المال والنساء والبصر، فكان الله في عونهم وغفر لنا ولهم.

11/ ومن الأسباب -أيضاً-: الإهمال في العمل الوظيفي، والتأخر عنه، والخروج قبل نهاية الدوام.

كيف يسوغ لمسلم صائم أن يستحل ساعة أو ساعتين من دوامه؟ أو أن يترك عمله، أو يهمل فيه وهو يعلم أن هذا خيانةً للأمانة، ونقصاً للعهد الذي بينك وبين المؤسسة التي تعمل فيها؟ ولهذا فإنك ترى في أمثال هؤلاء قلة البركة والتوفيق، وكثرة الديون، هذا في الدنيا وما عند الله يعلمه الله.

ألا تخشى وقد قصرت في عملك وأهملت، أن يرد عليك صيامك أو أن ينقص أجره؟ فالله الله بإتقان العمل وأداء الأمانة، فكلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته.

أيها الموظف! اسمع هذا الحديث: (جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فقال: يا رسول الله! ادع الله أن يجعلني مجاب الدعوة، فقال له صلى الله عليه وسلم: أطب مطعمك تكن مجاب الدعوة) .

إذاً: فربما خسرت رمضان، أو إجابة الدعاء؛ بسبب إهمالك أو تقصيرك في عملك، فاتق الله، وخف منه، واعلم أن الله يراك ومطلع عليك في كل حال.

12/ ومن الأسباب -أيضاً- لخسارة رمضان: التهاون ببعض الذنوب والتعود عليها من غير ندم ولا استغفار ولا تجديد توبة، فالإسبال -مثلاً- وحلق اللحية، وسماع الغناء، وغيرها، هذه ذنوب تتكرر مع البعض مرات ومرات؛ حتى أصبح ذلك المسكين لا يعدها ذنباً، وهي محسوبة عليه كلما عاد إليها، فكان الأولى به تجديد التوبة وكثرة الاستغفار والندم، وأنه وقع فيها عن ضعف نفس وإيمان، وليس عن تكبر وعصيان، وهذه الذنوب كم تؤثر على رمضان وعلى الصيام، وقد تكون سبباً في خسارته لرمضان وهو لا يشعر.

لا تحتقروا هذه الذنوب وتتهاونوا فيها، فإنها تجتمع على العبد حتى تهلكه، والنبي صلى الله عليه وسلم يقول: (إياكم ومحقرات الذنوب) .

13/ ومن الأسباب آفات اللسان: كالسباب والشتام، والغيبة وبذاءة اللسان والكذب.

فيا أيها الصائم! حتى لا تخسر رمضان أمسك عليك لسانك، واسمع لهذه الآية: {مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ} [ق:18] وفي الحديث: (المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده) وفيه -أي في الحديث-: (وإن العبد ليتكلم بالكلمة ما يتبين فيها يزل بها في النار أبعد مما بين المشرق والمغرب) .

فاللسان إذن يوردك الجنة أو يقذف بك إلى النار، فقد يخسر العمر كله وليس رمضان فحسب، فلنحذر من آفات اللسان في كل وقت وخاصة في رمضان.

14/ ومن الأسباب: التساهل وعدم الجدية، ويتضح هذا في كثرة المزاح، والضحك والتعليق، وربما السخرية والاستهزاء.

15/ ومن الأسباب لخسارة رمضان: الظلم، مهما كان لك من أعمال صالحة، ومهما حرصت على رمضان فما دمت ظالماً؛ أخذت منك هذه الأعمال الصالحة بقدر مظلمتك، وإن لم يكن

مقياس الفوز والخسارة في رمضان

لعل البعض يتساءل: إذن فما هو العلاج؟ ولا أطيل في العلاج، ولكني أقول: انظر وانظري إلى كل سبب من الأسباب السابقة، ولنحاول الابتعاد عنه هنا يكون العلاج.

وإذا أردنا رجالاً ونساءً أن نرى عظيم خسارتنا لرمضان، فلنجب على هذه الأسئلة السريعة بصراحة تامة ومحاسبة للنفس، فإننا سنقف أمام علام الغيوب الذي يعلم حقيقة القلوب: هل تقرأ القرآن بكثرة؟ وهل تختمه في رمضان بكثرة.

على الأقل ولو مرةً واحدةً في رمضان؟ هل تحرص على أداء الصلوات في وقتها بطمأنينة وخشوع، ومع جماعة المسلمين؟ هل تحافظ على السنن الرواتب القبلية والبعدية؟ هل تستحضرين النية في إعداد الطعام والشراب لأهلك، وتحتسبين الأجر على الله عز وجل؟ هل تصدقت وأطعمت الطعام؟ وإذا كانت الإجابة بنعم.

فبكم؟ وهل يساوي أو على الأقل يقارب ما يصرف على اللباس والزينة خاصةً في شهر رمضان؟ وأنت أيها الرجل! كم أنفقت في سبيل الله؟ وهل تحمل هم المسلمين والمساكين في كل مكان؟ وهل تحرص على أداء صلاة التراويح بآدابها؟ وأنت أيتها الأخت! هل تحرصين على صلاة التراويح مع المصلين في المساجد، أو حتى لوحدك في البيت؛ فإن خير صلاة المرأة في قعر دارها؟! كم ساعة تنام وكم ساعة تنامين في اليوم في رمضان، في موسم الخيرات والحسنات؟ كم شريطاً نافعاً من قراءة قرآن أو محاضرة سمعتها من خلال رمضان؟ كم ساعة تسهرين، وكم ساعة تسهر، وعلى أي شيء تسهر؟ كم عدد تلك الدقائق التي نقضيها في التسبيح والتحميد والتكبير والتهليل والاستغفار؟ هل وقفنا يوماً من الأيام في ظلمة ليل أو في مكان خالٍ، ورفعنا أكف الضراعة للدعاء في وقت السحر أو في أي وقت من أوقات رمضان؟ هل تستغلين الزيارات والجلسات بالمناصحة والتفقه والدعوة إلى الله عز وجل؟ هل تجتهدين في طاعة زوجك ورعاية أولادك خلال هذا الشهر؟ هل طهرنا بيوتنا من المنكرات؟ هل طهرنا أموالنا من الربا والحرام؟ الأسئلة كثيرة، ومن خلال الإجابة على هذه الأسئلة وغيرها سنعرف مدى الخسارة والربح الذي ينالنا في هذا الشهر، فاصدق مع نفسك ما دام في العمر فسحة، وقبل أن تندم فلا ينفع الندم.

عليك بما يفيدك في المعاد وما تنجو به يوم التناد

فما لك ليس ينفع فيك وعظ ولا زجر كأنك من جماد

ستندم إن رحلت بغير زاد وتشقى إذ يناديك المناد

فلا تفرح بمال تقتنيه فإنك فيه معكوس المراد

وتب مما جنيت وأنت حي وكن متنبهاً من ذا الرقاد

يسرك أن تكون رفيق قوم لهم زاد وأنت بغير زاد؟!

هذه أربعون سبباً لخسارة رمضان، يشترك فيها الرجال والنساء، جمعتها تنبيهاً للغافل، وإعانةً للذاكر، وتعليماً للجاهل، وهي عرضة للخطأ والنسيان والتقصير، ولا شك أنها بحاجة إلى المزيد من الترديد والتأكيد؛ لينتفع بها القريب والبعيد، والنبيه والبليد.

فكن لها شاهراً وناشراً وناصحاً وذاكراً، واحذر هذه الأسباب، وتنبه لشرورها، ولا تحرم نفسك الخير ومواسم الطاعة، فكن من الفائزين برمضان، فلو رأيتهم وقد هجروا لذيذ المنام، وأداموا لربهم الصيام، وصلوا بالليل والناس نيام، يتسابقون كل يسأل حاجته، أحدهم العفو عن زلته، وآخر يسأل التوفيق لطاعته، وثالث يستعيذ به من عقوبته، ورابع يرجو منه جميل مثوبته، وخامس يشكو إليه ما يجد من لوعته، وسادس شغله ذكره عن مسألته، فسبحان من وفقهم! وغيرهم خاسر محروم.

فإذا أردت المزيد من وصفهم ومعرفة حالهم، فاحرص على سماع الشق الآخر لهذا الموضوع وهو بعنوان: (الفائزون في رمضان) لتعلم أن الخير ما زال في هذه الأمة، لتعلم حال الخير في الخلف كما أن الخير أيضاً في حال السلف رضوان الله تعالى عليهم أجمعين، وإن كنا نسمع ونرى ونقرأ حال الخاسرين الغافلين وما أكثرهم، فإن هناك الصالحين الفائزين الذين تكتحل العيون لرؤيتهم، وتطرب الآذان لأخبارهم، وتنشرح النفوس لأحوالهم، ليسوا من السلف بل هم بقية من السلف من إخواننا وأخواتنا ممن يعيشون بيننا.

ولعلك اشتقت لسماع أخبارهم ومعرفة أحوالهم، فارجع لذلك الدرس؛ لتعلم الفرق الكبير بين الربح والخسارة.

جعلنا الله وإياك من الفائزين برمضان، وجنبنا وإياك الخسران.

سبحانك اللهم وبحمدك نشهد أن لا إله إلا أنت نستغفرك ونتوب إليك.

اللهم صلِّ وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين.

اللهم يا حي يا قيوم! يا ذا الجلال والإكرام! يا عارفاً بالحال والشأن، اللهم ارحم ضعفنا، وتب علينا توبة صادقة نصوحاً، اللهم بلغنا رمضان، واجعلنا من أهل الصلاة والصيام والقيام، اللهم وفقنا لاستغلال رمضان، اللهم اجعلنا فيه من الفائزين ولا تجعلنا فيه من الخاسرين.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.


[1] Asbab Khosaaroh Ramadhan, Durus li Asy-Syaikh Ibrahim Ad-Duwaisy, Maktabah Syamilah.

Kajian Spesial Ramadhan “101 Adab Penuntut Ilmu” Bersama Ustadz Abdullah Shaleh Hadrami


Berkata Abdullah Ibnu Mubarak rahimahulloh:
“Aku belajar adab tiga puluh tahun, dan aku belajar ilmu dua puluh tahun dan mereka dulu (salafus sholeh) belajar adab dulu sebelum belajar ilmu (ghayatun nihayah fi thabaqaatil Qurra’ 1/198)

Daftar dan Ikutilah Kajian Kitab Selama Bulan Romadhon 1433 H

Pemateri : Ustadz Abdullah Saleh Al Hadrami
Judul Kitab:

” An-Nubadz Fi Adab Thalabil ‘Ilmi”
(101 Adab Penuntut Ilmu)

Penulis:
Fadiilatusy Syaikh DR. Hamd bin Ibrahim Al-Ustman Hafidhahulloh
(Ulama terkemuka dari Kuwait dan murid Syaikh Utsaimin Rahimahulloh)

Acara diselenggarakan pada:
Tanggal : 1 Romadhon sampai dengan akhir Romadhon 1433 H
Waktu : Jam 16.00 – 17.00 WIB
Tempat : Masjid An Nur Jagalan, Jl. Kapten Piere Tendean 1c/1 Malang

Peserta terbatas
Pendaftaran dimulai tanggal 11 Sya’ban 1433 H (1 Juli 2012 M)
Daftar ulang pada tanggal 27-29 Sya’ban 1433 H (17-19 Juli 2012 M)

Tersedia takjil dan berbuka bagi peserta terdaftar

Tempat pendaftaran : Studio Radio Dakwah Islamiah 100.5 FM
Jl. Kapten Piere Tendean 1c/7c Jagalan Saleyer Malang

Kitab bisa pesan ke panitia, atau download di SINI

Kajian Umum Fiqh Ramadhan Bersama Ustadz Abdullah Shaleh Hadrami


Ikutilah Kajian Umum Fiqh Ramadhan bersama:
Ustadz Abdullah Shaleh Hadrami

Insya Allah akan dilaksanakan pada:
Hari : Ahad
Tanggal : 25 Sya’ban 1433 H/ 15 Juli 2012 M
Jam : 9.00 – Dhuhur
Tempat : Masjid An – Nur
Alamat : Jl. Jagalan Saleyer IC/7C (belakang Rumah Makan Cairo) – Malang.
Tema : Penjelasan Ringkas Mengenai Hukum-Hukum dan Amalan-Amalan di Bulan Ramadhan
Info : (0341) 336476 atau 081334183554

Kajian ini terbuka untuk umum bagi kaum muslimin dan muslimat, ajaklah seluruh keluarga,karib kerabat dan rekan-rekan anda.

Insya Allah LIVE di Radio Dakwah Islamiyah (RDI) FM 100.5

Bagi antum yang tidak bisa menangkap siaran Radio Dakwah Islamiyah insya Allah bisa mengikuti melalui raduo streaming di http://www.kajianislam.net/ atau melalui telpon Flexi ketik *55*571005

Mari kita sebarkan info ini..