Potret Kejahatan Syi’ah dalam Sejarah


Berangkat dari akidah yang rusak dan absurd, sekte Syi’ah kerap menebar kekejian dan kebiadaban kepada kaum muslimin. Sejarah mencatat lembaran demi lembaran kelam kejahatan mereka dan tidak ada seorang pun yang dapat mengingkarinya. Berikut adalah diantara sebagian ‘kecil’ catatan sejarah kejahatan mereka yang digoreskan oleh para ahli sejarah Islam. Mudah-mudahan kita dapat mengambil pelajaran dan berhati-hati, karena sejarah seringkali terulang.

Jatuhnya Kota Bagdad

Pada tahun 656 H, Hulagu Khan, Raja Tatar berhasil menguasai kota Baghdad yang saat itu menjadi pusat peradaban Islam di bawah kekuasaan Bani Abbasiyyah. Keberhasilan invansi Tatar ini tidak lepas dari peran dua orang Syi’ah. Yang pertama adalah seorang menteri pengkhianat khalifah Muktashim yang bernama Mu`yyiduddin Muhammad Ibnul Alqamy. Dan yang kedua adalah seorang ahli nujum Nashirudin Ath Thusi penasehat Hulagu. Continue reading

Urgensi Belajar Sejarah


Imam As-Sakhawi Rahimahullah menulis sebuah kitab khusus untuk menjelaskan urgensi dan menyanggah orang-orang yang meremehkan dan mengecilkan arti penting ilmu sejarah Islam. Kitab beliau itu berjudul “Al-I’lanu bit Taubikhi lim Dzamat Tarikh” (Mengumumkan celaan terhadap orang-orang yang meremehkan sejarah)

Faidah ini didapat dari artikel Ustadz Abdullah Taslim, MA yang berjudul Pentingnya Belajar dari Sejarah (majalah As-Sunnah edisi 7 thn XV)

*****

Dalam novelnya Ketika Cinta Bertasbih (hal 243), Habiburrahman El Shirazy menuliskan dialog antara Furqon dan Fujita. Ketika itu Furqon ditanya latar belakang ketertarikannya menekuni sejarah. Ia pun menjawab,

“Sejarahlah yang memberitahu kepada kita siapa sebenarnya kedua orang tua kita. Siapa nama kakek nenek kita. Sejarah jugalah yang memberitahu kepada kita tempat dan tanggal lahir kita. Sejarah juga yang akan memberitahukan kepada generasi mendatang bahwa mereka ada sebab kita lebih dulu ada. Jika mereka maju, maka sejarah yang akan memberitahukan kepada mereka bahwa kemajuan yang mereka capai tidak lepas dari keringat kita dan orang-orang yang lebih dulu ada. Orang yang tidak memperhatikan sejarah masa lalu sangat memungkinkan jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali, bahkan mungkin berkali-kali. Dan itu sungguh suatu kecelakaan yang pasti sangat menggelikan. Kira-kira itulah jawaban sederhana atas pertanyaan Anda, Nona Fujita.”