Negeri Yang Ditaklukan Kaum Muslimin: Persia


Sudah sejak dahulu kala, negeri Persia adalah sebuah kerajaan yang kuat dan telah melewati fase peradaban yang berbeda-beda. Di antara masa-masa tersebut terdapat masa yang menarik perhatian kita, yaitu masa-masa akhir kerajaan tersebut dimana terdapat persinggungan dengan Islam melalu penaklukan dan jihad. Agama yang dipeluk hampir seluruh masyarakat Persia dan juga menjadi pola pikir disana adalah agama Majusi. Majusi adalah agama yang menitikberatkan pada penyembahan api dan menjadikan api sebagai benda suci. Selain Majusi, di Persia juga berkembang agama Yahudi dan Nashrani. Dua agama ini berkembang khususnya di daerah jajahan Persia seperti Irak, Bahrain, dan lainnya.

Kerajaan Persia telah mengatur seluruh kawasan Persia, Khurasan, Irak dan sebagain besar daerah timur dan selatan Jazirah Arab. Sistem pemerintahan di Persia adalah sistem kerajaan yang otoriter. Masyarakat dibagi-bagi menjadi beberapa golongan yang dibedakan berdasarkan hak, keistimewaan, dan kewajiban mereka.[1]

Seorang Raja Persia dalam pandangan masyarakat Persia adalah orang yang memiliki kekuasaan tuhan. Seorang raja dapat membuat aturan sesuai kemauannya dan juga memberikan hukuman sekehendaknya kepada siapa pun yang menentangnya[2]. Seperti adanya ketentuan raja yang membedakan masyarakat berdasarkan aturan yang harus diikuti, setiap orang yang tidak menaatinya, berarti telah menentang hukuman yang terkadang sampai pada pemancungan. Bahkan, seorang yang telah termasuk dalam keluarga kerajaan tidak boleh melanggar peraturan yang ada. Jika orang tersebut berusaha menikahi seorang dari rakyat biasa, maka dia dinyatakan telah melanggar aturan dan harus dihukum dengan hukuman yang berat. Hal ini dikarenakan orang tersebut telah berani mencampur adukkan darah suci —seperti masyarakat yakini- dengan darah rakyat biasa[3].

Berdasarkan perbedaan ini, terjadilah kesenjangan dan kelaliman di tengah masyarakat di segala penjuru negeri, terutama menimpa kaum papa.

Negeri Persia banyak bergantung pada kekuatan angkatan perang yang kuat dan teratur. Para tentara memiliki hak, kehormatan dan lain sebagainya yang berbeda dengan rakyat biasa.[4]

Aturan raja pada pelaksanannya juga ditopang oleh hukum-hukum wilayah, disokong juga oleh sebagian besar para pemimpin dan penguasa di seluruh daerah kekuasaan Persia. Para umumnya, para pemimpin tesebut adalah penguasa tanah dan desa-desa yang luas. Dalam memimpin, mereka juga menerapkan pajak[5] kepada para pekerja, petani, dan masyarakat umum untuk diserahkan ke kas negara. Pajak tersebut ditujukan untuk menyokong kehidupan mewah para tentara, raja dan kerabatnya yang tiada bandingannya. Para penguasa Persia telah terkenal dengan harta simpanan yang banyak, pakaian dan makanan yang sangat berlebihan hingga tiada yang bisa menyaingi kemewahan mereka[6]. Oleh karena gaya hidup mewah ini mendorong mereka untuk meningkatkan sumbangan dari para petani dan masyarakat umum. Selanjutnya, masyarakat pun semakin merasa teraniaya karena aturan itu, terlebih mereka juga harus memberikan kepada para pemimpin mereka uang yang dapat disebut sebagai upeti.[7]

Menjelang dikuasai oleh kaum muslimin, kerajaan Persia terlibat dalam sebuah peperangan hebat melawan kerajaan Romawi. Perang tersebut memberikan dampak naiknya pajak dari rakyat, sehingga rakyat semakin merasa teraniaya.[8] Hal ini mempermudah bagi kaum muslimin yang adil untuk menguasainya. Juga, berdasarkan apa yang telah disebutkan, kekuatan perang Persia dipusatkan untuk perang melawan Romawi.

[1]. Lihat: Al-Mas’udi, Muruj Adz-Dzahab wa Ma’adin Al-Jauhar (1/284).

[2]. Lihat: Al-Mas’udi, Muruj Adz-Dzahab wa Ma’adin Al-Jauhar (1 /277). DR. Shubhi, Ash-Shalih An-Nuzhum Al-lslamiyyah, Nasy’atuha wa Tathawwuruha (30), Will Durant, Qishshah Al-Hadharah (2/2), Asy-Syarq Al-Adna (415).

[3]. Lihat: Ad-Dinawari, Al-Akhbar Ath-Thiwal (75-76). DR. Yahya Al-Khasysyab, Tafsir Aqdami Nashs An An-Nuzhum Al-Farisiyyah Qabla Al-Islam.

[4] DR. Yahya Al-Kasysyab, Tafsir Aqdami Nashs An An-Nuzhum Al-Farisiyyah Qabla Al-Islam (40)

[5] DR. Shubhi, Ash-Shalih An-Nuzhum Al-lslamiyyah, Nasy’atuha wa Tathawwuruha (35), Will Durant, Qishshah Al-Hadharah (1,2/421)

[6] Lihat: Al-Mas’udi, Muruj Adz-Dzahab wa Ma’adin Al-Jauhar (1/193-194, 303).

[7] DR. Shubhi, Ash-Shalih An-Nuzhum Al-lslamiyyah, Nasy’atuha wa Tathawwuruha (36)

[8] Arthur Kristensen, Iran fi ‘Ahdi as Sasaniyin

Dikutip dari: Penaklukan Dalam Islam, DR.Abdul Aziz bin Ibrahim Al Umari, Penerbit Darussunnah

Dipublikasikan kembali oleh: www.KisahIslam.net

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

Advertisements

Negeri Yang Ditaklukan Kaum Muslimin: Romawi


Telah diketahui bahwasanya Mesir, Syam, Afrika Utara adalah daerahdaerah yang berada di bawah penguasaan kekaisaran Roma, Bizantium. Tampuk kekuasaan dalam kekaisaran adalah seorang Kaisar yang telah menjadikan Konstantinopel sebagai ibu kota negaranya. Kaisar memiliki hak untuk mengambil keputusan. Untuk itu, dia dibantu oleh beberapa orang tim ahli dan para penasehat[1]. Untuk daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Bizantium, umumnya diterapkan hukum militer. Banyak barak-barak militer didirikan di beberapa daerah yang berbedabeda.

Sebelum Islam datang, telah terjadi beberapa kali peperangan yang melibatkan kerajaan Persia dan kekaisaran Romawi. Oleh sebab itu, kekaisaran ini menerapkan hukum militer dan semakin meningkat seiring dengan intensitas peperangan yang dilakukan. Semua itu dilakukan untuk kepentingan umum dan menjaga keselamatan rakyat memiliki potensi besar terkena musibah perang di sejumlah daerah seperti Syam, Mesir, Jazirah Arab[2] dan daerah lainnya. Hal tersebut disesuaikan dengan lingkup daerah konflik antara Persia dan Romawi. Perang antara keduanya pun berlangsung lama sebelum kedatangan Islam. Oleh karena wajib militer ditetapkan atas semua warga di bawah kekuasaan Romawi, mereka semua merasakan terbebani. Mereka juga harus membayar upeti dan pajak atas tanah yang mereka miliki, ternak yang mereka punya, dan juga atas kepemilikan lainnya. Selain tentunya, kewajiban membayar pajak yang dibebankan atas tiap kepala[3], meskipun pemerintah dan rakyatnya sama-sama Nashrani.

Pada masa perang tersebut, muncul aturan dari para penguasa agar rakyat memberikan pajak dan upeti untuk mereka sebagai imbalan dari apa yang telah mereka berikan kepada negara. Dengan demikian bertambahlah kewajiban rakyat membayar upeti. Para penguasa semakin bertindak lalim agar rakyat dapat melunasi kewajiban mereka kepada negara[4].

Agama yang umum dipeluk para penguasa dan rakyat Romawi adalah Nashrani. Oleh karena itu, para pemuka agama Nashrani memiliki kedudukan istimewa baik dalam pemerintahan maupun masyarakat. Selain mendapatkan kedudukan tinggi, mereka juga memiliki hak istimewa dalam interaksi dengan masyarakat, bahkan dalam masalah peribadatan. Seperti fatwa kewajiban untuk memberikan pajak dan upeti demi kebaikan gereja dan pengurus gereja. Bahkan, para pengurus gereja memiliki titah atas masyarakat umum, dan hukuman bagi mereka yang menentang keputusan mereka[5]

Agama Nashrani yang berkembang dalam kekaisaran Romawi memiliki beberapa versi atau sekte dan juga beberapa perbedaan ideologi, yang kemudian memunculkan perselisihan bahkan permusuhan antar beberapa gereja. Perbedaan itu banyak muncul di kota-kota besar, sehingga kemudian menimbulkan sentimen antar wilayah dan juga kesukuan dalam negeri Romawi. Sang kaisar Romawi telah berusaha menyelesaikan masalah tersebut, dengan cara mewajibkan doktrin teologis yang berkembang pesat di Konstantinopel untuk diikuti masyarakat di daerah lainnya[6], terutama di Mesir yang paling keras pergolakannya antara Kristen Koptik dan Kristen Romawi.

Pada kelanjutannya, masyarakat merasa teraniaya dan terpaksa karena campur tangan negara dalam urusan agama ini. Negara mewajibkan suatu aliran dan melarang aliran lainnya dengan dibantu gereja dan pemukanya. Negara juga pada akhirnya, mewajibkan upeti atas nama negara dan juga gereja. Hal inilah yang memudahkan Isla untuk masuk.

Note:

[1] Steven Runciman, Al Hadharah Al Bizanthiyyah (89)

[2] Dr. Asad Rustum, Ar-Rum (1/223).
[3] DR.Shubhi, Ash-Shalih An-Nuzhum Al-Islamiyyah, Nasy’atuha wa Tathawwuruha (24,26); Steven Runciman, Al-Hadharah Al-Bizanthiyyah (112).

[4] Norman Benz, Al-Imbarathuriyyah Al-Bizanthiyyah (135); DR. Shubhi, Ash-Shalih An-Nuzhum AI-Islamiyyah, Nasy’atuha wa Tathawwuruha (43).

[5] Dr. Asad Rustum, Ar-Rum (138).

[6] Abdul Qodir Al Yusuf, Al-Imbarathuriyyah Al-Bizanthiyyah (98), Norman Bens, Al-Imbarathuriyyah Al-Bizanthiyyah (102), Steven Runciman, Al Hadharah Al Bizanthiyyah (128)

Dikutip dari: Penaklukan Dalam Islam, DR.Abdul Aziz bin Ibrahim Al Umari, Penerbit Darussunnah

Dipublikasikan kembali oleh: www.KisahIslam.net

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

Umat Islam di Andalusia Spanyol, Sebuah Napak Tilas Sejarah


Umat Islam di Andalusia Spanyol, Sebuah Napak Tilas Sejarah[1]

Oleh: Rachman Hardiansyah[2]

Bila berbicara tentang Andalusia, tak ‘kan lepas dengan nama Thariq bin Ziyad. Pahlawan Islam yang namanya diabadikan menjadi nama tempat yang terkenal, Giblartar, di Spanyol ini memang begitu fenomenal dan melegenda. Di tempat inilah ia dan pasukan muslim pertama kali menetap untuk melawan Raja Roderic dari Kerajaan Visigothic, Spanyol, yang dzalim.

Ahmad Mahmud Himayah (2004: 67) dalam Kebangkitan Islam di Andalusia, menuliskan bahwa peperangan pasukan Thariq yang berhadapan dengan pasukan Raja Roderic (peperangan Syadzunah), berlangsung tujuh hari dan dimulai tanggal 28 Ramadhan 92 H (7 Juli 711 M). Dan pertempuran ini berujung pada kemenangan pasukan Islam dalam waktu yang sangat singkat untuk menaklukkan sebuah wilayah, yaitu 8 (delapan hari)!!! Apalagi, jumlah pasukan musuh delapan kali lebih banyak.

Pertempuran itulah yang telah membawa kemenangan gemilang dan membuka pintu gerbang kejayaan Islam untuk masa waktu delapan abad lamanya.

Sekilas tentang Andalusia

Nama Andalusia berasal dari nama bahasa Arab “Al Andalus”, yang merujuk kepada bagian dari jazirah Iberia yang dahulu berada di bawah pemerintahan Muslim. Sejarah Islam Spanyol dapat ditemukan di pintu masuk al-Andalus. Continue reading

Potret Kejahatan Syi’ah dalam Sejarah


Berangkat dari akidah yang rusak dan absurd, sekte Syi’ah kerap menebar kekejian dan kebiadaban kepada kaum muslimin. Sejarah mencatat lembaran demi lembaran kelam kejahatan mereka dan tidak ada seorang pun yang dapat mengingkarinya. Berikut adalah diantara sebagian ‘kecil’ catatan sejarah kejahatan mereka yang digoreskan oleh para ahli sejarah Islam. Mudah-mudahan kita dapat mengambil pelajaran dan berhati-hati, karena sejarah seringkali terulang.

Jatuhnya Kota Bagdad

Pada tahun 656 H, Hulagu Khan, Raja Tatar berhasil menguasai kota Baghdad yang saat itu menjadi pusat peradaban Islam di bawah kekuasaan Bani Abbasiyyah. Keberhasilan invansi Tatar ini tidak lepas dari peran dua orang Syi’ah. Yang pertama adalah seorang menteri pengkhianat khalifah Muktashim yang bernama Mu`yyiduddin Muhammad Ibnul Alqamy. Dan yang kedua adalah seorang ahli nujum Nashirudin Ath Thusi penasehat Hulagu. Continue reading